.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Monday, 3 December 2012

LATIHAN GABUNGAN GULTOR KE-7

Pasukan Khusus TNI (Special Forces)











Mabes TNI kembali menggelar Latihan Gabungan Penanggulangan Anti-Teror Ke-7 di Pulau Sangiang. Dibandingkan Latihan terdahulu, ada yang berbeda pada Latihan kali ini. Latihan kali ini dilaksanakan secara gabungan oleh Unit Anti-Teror SAT-81 (Gultor), Denjaka, dan Unit elite Bravo 90.


Gerombolan kelompok teroris bergerak dari Filipina dan masuk ke wilayah Indonesia secara diam-diam. Kelompok ini masuk melalui Nunukan (Kalimantan Timur), lalu menyeberang ke Makassar dan terus merangsek masuk ke Surabaya, tempat dimana mereka mengkonsolidasikan diri. Setibanya di Surabaya, kelompok teroris ini lalu melakukan aksi perampokan. Setelah sel-sel nya mulai bekerja, kelompok ini berpindah ke Solo. Melakukan aksi yang lebih berani dengan aksi pelemparan granat dan melakukan serentetan tembakan terhadap aparat Kepolisian.

Setelah puas dengan aksinya, kelompok teroris ini berangkat ke Jakarta, menyiapkan aksi teror yang lebih besar lagi. Di Jakarta, kelompok ini kembali melakukan perampokan terhadap beberapa Bank, modus yang mudah ditebak yaitu dalam rangka mengumpulkan dana demi keperluan operasi teror mereka selanjutnya. Setelah menebar teror hampir di sebagian wilayah Jawa, kelompok ini menyeberang ke wilayah Kep. Seribu dan memilih Pulau Sangiang sebagai tempat mengkonsolidasikan diri. Di pulau inilah, kelompok teroris ini Link-Up dengan sebuah kartel narkoba. Mereka menawan pengusaha asing di Villa Batu Mandi yang tengah menjajaki investasi di bidang pariwisata. Dengan sel-sel nya yang semakin berkembang, mereka mendapatkan kekuatan dari Poso, Palembang, dan Banten.

Kejadian ini sontak mengagetkan Pemerintah Indonesia, terlebih lagi aparat TNI. Apalagi, teroris mengajukan tuntutan untuk segera membebaskan Umar Patek. Mencermati situasi yang berkembang, Panglima TNI memerintahkan Komandan Jenderal Kopassus untuk segera membentuk Unit Siaga untuk Satuan Tugas Penanggulangan Teror (Gultor) TNI dan menunjuk Komandan Satuan 81 Gultor Kopassus sebagai Komandan Satgas. Perintah pun dengan cepat dieksekusi, dan diterima oleh Komandan Detasemen Jalamengkara (Denjaka) dan Komandan Detasemen Bravo 90. Ketiga Unit elite TNI tersebut melebur menjadi satu dan dengan segera melaksanakan persiapan dalam rangka memberantas para teroris yang semakin merajalela. Melihat persiapan TNI, para teroris kemudian kembali memperkuat penjagaan di seluruh tempat yang telah mereka kuasai.

Setelah tidak sabar menunggu, akhirnya Panglima TNI memerintahkan Satgas Gultor untuk bergerak. Pada H-1 pukul 3 dini hari, dilaksanakanlah infiltrasi udara melalui penerjunan free fall. Sementara dari laut juga dilakukan hal yang sama, infiltrasi melalui laut dengan menggunakan Combat Boat dan dilanjutkan dengan renang rintis. Kedua Unit elite ini lalu membentuk 3 tim yang akan melakukan penyerbuan ke markas teroris.

Pada Hari “H” Jam “J” (istilah yang digunakan TNI), pukul 04.30 (17 Oktober 2012), tiba-tiba suara tembakan pun memecah keheningan pagi di Sangiang, proyektil dari penembak runduk Satgas melumpuhkan para teroris yang menjaga pos. Dentuman keras membahana ketika satu regu Pasukan Elite TNI masuk menyerbu Villa Batu Mandi. Bersamaan satu regu lain berpakaian selam keluar dari sampan yang ditambatkan di pinggir pantai. Suara tembakan pun pecah dan teriakan saling bersahut-sahut yang terdengar dari dalam Villa.

Tak lama kemudian juga terdengar ledakan di kejauhan, menandakan tower navigasi laut sudah berhasil dikuasai Pasukan Elite Gultor TNI. Teroris yang menguasai tower sebelumnya juga telah dilumpuhkan oleh penembak runduk. Beberapa teroris yang berusaha melarikan diri, dikejar oleh Satgas dan berhasil dilumpuhkan satu per satu. Lokasi yang dikuasai teroris lalu “dibersihkan” oleh Tim Jihandak sampai dinyatakan aman. Berselang kemudian, sandera yang berhasil diselamatkan dievakuasi dengan menggunakan Heli Bell-412 Penerbad dengan Teknik STABO (Stabilized Tactical Airbone Body Operations). Evakuasi dilaksanakan oleh satu regu dari Grup 1 Kopassus.




Grup Pasukan Khusus Kopassus TNI (Gultor)





HINDARI EGO

Begitulah gambaran singkat Latihan Gabungan Gultor TNI ke-7 tahun 2012 yang dilaksanakan di pulau Sangiang, Kep. Seribu, Provinsi Banten. Latihan yang diikuti oleh 358 prajurit khusus ini ditutup oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan dihadiri KSAU, KSAL, dan para Panglima Kotama TNI dan para pejabat TNI lainnya.


 Upacara Penutupan Latgab Gultor TNI ke-7





Dalam sambutannya, Panglima TNI menyampaikan beberapa poin yang menarik. Diantaranya adalah permintaan Panglima kepada para pasukan khusus TNI untuk menyamakan visi dan misi mereka dalam menghadapi ancaman terorisme di darat, laut maupun di udara. Panglima juga menegaskan dipelihara komunikasi yang harmonis dan hindari ego sektoral yang bisa menghambat tugas pokok. Dengan terciptanya keharmonisan diantara unit-unit Pasukan Khusus TNI, maka diharapkan tercipta sinergitas dan solidaritas trimatra terpadu yang efektif dan efisien.

Ditanya soal peran Tentara Nasional Indonesia dalam operasi penanggulangan teroris di Tanah Air bersama POLRI, Panglima mengatakan bahwa di dalam UU No.34 disebutkan bahwa TNI diberi kewenangan dalam Operasi Militer selain perang dalam penanggulangan terorisme. “Memang penjabaran dari UU itu belum ada, oleh karena itu saat ini yang kami lakukan adalah menyiapkan pasukan manakala diperlukan oleh Satuan lain semisal POLRI atau perintah dari pimpinan tertinggi negara (Presiden), ya kami lakukan. Namun saya berharap ke depannya ada pengembangan dan penjabaran tugas TNI dalam operasi militer selain perang, yaitu dalam menghadapi ancaman terorisme,” beber Panglima.



Pasukan elite TNI - Detasemen Bravo 90







Pasukan Khusus Maritim - Detasemen Jaka Mengkara (Denjaka)








Sumber:
Majalah COMMANDO Volume VIII / Edisi No.5 / Tahun 2012

No comments:

Post a Comment