.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Friday, 2 November 2012

M855A1 – Peluru ramah lingkungan

US Army



Seolah tak kapok-kapok, Pentagon lagi-lagi mengeluarkan kebijakan kontroversial. Bukannya tunduk pada tekanan berbagai pengamat dan pemerhati kemiliteran, jutaan dolar pun dikucurkan hanya untuk menyempurnakan peluru standar NATO M855 yang digunakan di seluruh kecabangan militer Amerika Serikat.


Adalah benar bahwa AS adalah negara pertama yang mengembangkan peluru berkaliber 5,56mm M193 yang digunakan untuk senapan serbu M16. Saat pertama kali keluar, peluru ini memang revolusioner; kecil, bisa diisikan dalam jumlah yang banyak ke dalam magasin, tembakannya dalam mode otomatis jauh lebih terkontrol daripada peluru 7,62x51mm NATO yang digunakan pada saat itu. Akan tetapi, dalam perjalanannya, NATO membalas dan membalikkan kedudukan saat munisi SS109 buatan FN Herstal Belgia akhirnya ditetapkan sebagai peluru standar, dan AS mengikutinya dengan munisi M855.


 Peluru munisi M855A1 EPR - hasil sebuah penyempurnaan



Seiring berjalannya waktu, suara-suara sumbang pun mulai bermunculan terhadap M855, terlebih lagi setelah Angkatan Darat AS resmi mengadopsi senapan serbu M4 Carbine dengan laras 14,5” yang lebih pendek. Terminal balistik yang tentunya lebih inferior ditambah dengan jarak efektif yang lebih pendek membuat M855 dianggap “kurang ideal” untuk munisi militer. Belum lagi ditambah dengan cerita dari medan pertempuran itu sendiri, mengenai kapabilitas stopping power dari munisi M855. Beberapa kisah menyebutkan, bahkan setelah ditembus oleh 5-8 butir peluru, lawan masih bisa bergerak dan bahkan menerjang ke arah pasukan AS.

Sebenarnya Pentagon tak tinggal diam. Beberapa kali telah mengeluarkan penyempurnaan namun tetap di dalam kaliber yang sama, 5,56mm. Mk262 Mod 1 dan Mk318 SOST (Special Operations & Science Technology) Mod 0 (62 grain)/ Mod 1 (77 grain) adalah dua yang paling umum diadopsi. Awalnya dikembangkan untuk komando pasukan elite US-SOCOM yang para personelnya rata-rata menggunakan karbin/senapan serbu dengan laras 14,5” ke bawah, dua peluru tersebut mengoptimalkan akurasi dan terminal balistik munisi 5,56mm pada kecepatan yang lebih rendah.

Kedua peluru tersebut, yang telah dibahas, juga sudah mulai diadopsi oleh kesatuan reguler, Korps marinir menggunakan Mk318 SOST mulai Januari 2010 dan menemukan bahwa kedua peluru memang meningkat performanya dibandingkan dengan munisi M855 biasa. Namun ada lagi masalahnya; Mk262 yang dibuat oleh Black Hills dan Mk318 buatan Federal/ATK adalah peluru closed source, alias hak patennya masih dipegang kedua perusahaan tersebut. Banderol per butirnya tentu lebih mahal ketimbang M855 biasa yang sudah di sub-kontrakkan ke berbagai perusahaan.

Oleh karena itu, banyak lagi yang menyarankan agar AS sekalian beralih ke kaliber munisi baru seperti 6,8mm SPC, atau yang paling murah tentunya kaliber 7,62x51mm NATO. Pilihan itu tentu tak salah, mengingat tipikal medan pertempuran yang dilakoni AS saat ini adalah wilayah Afghanistan atau wilayah-wilayah di timur tengah yang jarak baku tembak berkisar antara 200 hingga 400 meter, tentunya jarak tembak tersebut sudah diambang batasan munisi M855 namun mudah dijangkau oleh peluru kaliber dengan ukuran di atasnya.




M855A1


Akan tetapi bukan Pentagon dan AD AS namanya jika mereka tetap bersikeras alias keras kepala. Bukannya memikirkan untuk mencari senapan baru atau peluru baru, mereka lebih memilih untuk berkutat di sekitar munisi M855. AD terus mencoba dan mencoba untuk meningkatkan kemampuan senapan yang dianggapnya mampu untuk bersaing dan menjadi munisi yang lebih baik. AD juga mencoba untuk mengikuti tren green army, yaitu Angkatan Bersenjata yang hanya meninggalkan sedikit jejak karbon atau pencemar lain yang merusak lingkungan. Walau Nammo yang membuat peluru hijau untuk Norwegia sudah mengalami kendala terlebih dahulu, namun AS tetap jalan terus, dengan peluru ramah lingkungan mereka. Akhirnya lahir dengan kode munisi M855A1, atau lengkapnya 5,56mm, 62 grain, ball, M855A1 Enhanced Performance Round (EPR), bahkan telah meraih penghargaan Army Greatest Inventions 2011.

Satu hal yang mencolok adalah biaya pengembangan M855A1 EPR, untuk mencapai produk finalnya, biaya pengembangan yang dikeluarkan senilai 32 juta dolar AS. Dengan jumlah sebanyak itu, satu negara bisa membeli ranpur sekelas BMP-3. Lalu apa yang membuat peluru ini begitu mahal??

Kemampuan M855A1 diluar dugaan mampu mengalahkan peluru kaliber 7,62x51mm M80 dalam hal menembus pelat baja dari jarak 300 meter. Project Manager dari AD AS mengatakan, ia mengklaim bahwa M80 akan dihentikan oleh pelat baja, namun munisi M855A1 dapat menembusnya. Pendapat ini pun didukung oleh seorang user website (www.ar15.com) dengan user id combat_jack, seorang mantan advisor dari Afghan National Army. Dirinya yang iseng menggunakan M855A1 untuk menembak rongsokan hull BMP-1 AD Irak, mendapati bahwa tembakannya mampu menembus satu sisi ranpur tersebut.

Setiap hal baik pasti memiliki sisi buruknya, persis seperti dua sisi mata uang. Dengan tekanan besar yang dihasilkannya, dijamin seluruh komponen yang dilintasi peluru mulai dari kamar peluru, laras, dan crown/pangkal flash hider, akan mengalami keausan yang jauh lebih cepat. Bahkan dikatakan bahwa laras senapan serbu M4 yang digunakan untuk menembak, kehilangan setengah dari umur pakainya apabila M855A1 dipakai terus-menerus. Beberapa orang juga mempertanyakan tekanan puncak, 62.000 psi yang mendekati atau bahkan melampaui tekanan dari munisi proofing/test yang digunakan untuk menguji senapan baru di pabrik. Apabila tekanan puncak ini terus terlewati, dan kualitas senapan serbu M4 yang dibuat saat ini tidak terjaga/tidak terawat, maka tinggal menunggu waktu saja untuk mendengar kasus senapan meledak akibat peluru yang terlalu hot & high.



 Prajurit AD AS saat menguji munisi M855A1 dalam senapan serbu M4 nya.





Hal kedua, terkait biaya pembuatan. Munisi M855 hanya membutuhkan dua metode pembuatan, yaitu pressing antara proyektil dan selongsong yang telah diisikan bubuk mesiu. Pada M855A1, karena memiliki keunikan pada bagian proyektil yang tampil terbuka, metode pemasangan kepala proyektil dan slug ke dalam selubung jaket membutuhkan proses ekstra yang lebih yang berarti lebih banyak biaya yang digelontorkan. Namun mengingat AS merupakan negara adidaya, nampaknya mereka tak menganggap hal ini sebagai masalah yang berarti.

Buktinya, ketika M855A1 pertama kali dioperasikan pada pertengahan tahun 2010, AS sudah memiliki 1,1 juta butir peluru yang dikirimkan ke Irak dan Afghanistan. Kelemahan ketiga dan juga tidak dibahas dalam rilisan AD AS adalah, bahwa M855A1 sama mandulnya saat harus menghadapi pelat keramik SAPI Level IV. Padahal jika ditarik relevansinya, rompi Anti-peluru dengan hard insert sudah menjadi lumrah dalam dunia kemiliteran. Bahkan Rusia sebagai satu negara yang memimpin dalam dunia rompi Anti-peluru memiliki pelat keramik, yang dikombinasikan dengan titanium sehingga makin sulit saja untuk ditembus penetrasi peluru.

Munisi M855A1 memang masih penuh kontradiksi. Laporan awal dari garis depan di lapangan menyebutkan bahwa peluru ini memiliki lintasan lurus dan penetrasi yang baik. Di sisi lain, beberapa juga menemukan bahwa senapan mereka menjadi sangat kotor dan sering macet saat diisi dengan M855A1, nampaknya satu masalah klasik era Vietnam kembali terulang. Sementara korps marinir yang diberi sampel M855A1 tidak menyukainya, walaupun notabene performanya dari M16A4 yang berlaras 20” pasti lebih baik ketimbang digunakan pada senapan serbu M4.

Angkatan Darat AS dengan segala kebijakannya yang kontroversial, seperti mempertahankan senapan M4, pada akhirnya memang mengikuti nalar mereka yang berkeras hati berpindah ke munisi M855A1. 


 hasil penembakan dari munisi M855A1 saat ditembakkan ke pelat baja








Disadur dari Majalah Commando Volume VIII / Edisi No.2 / Tahun 2012







 

No comments:

Post a Comment