.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Friday, 25 January 2013

Recherche Assistance Intervention Dissuasion (RAID) – Mantap Hadapi Teroris

Polisi Khusus Perancis





Terbentuk                  : 3 Oktober 1985
Kesatuan Induk         : Kepolisian Nasional Perancis
Penanggung Jawab     : Menteri Dalam Negeri
Moto                         : To Serve Without Failure (Menangani tanpa kegagalan)
Komandan pertama   : Ange Mancini
Kekuatan Personel    : Sekitar 180 Personel
Persenjataan              : SMG HK-MP5K, FN P90, HK-G36C, Sniper Rifle SIG SG553, dan berbaga jenis senjata Sniper, pistol dan shotgun.
Markas                    : Bievres (Essonne), Perancis
Misi Utama              : Kontra-Teror, Pembebasan sandera, Pengawalan dan perlindungan pejabat Penting (VIP), Pengamanan dan Penjagaan objek-objek vital Perancis






 Para personel RAID- turun ke lapangan dan melebur dengan unit-unit khusus lainnya (GIGN dan GIPN), di tengah-tengah aksi mereka menghadapi banyaknya ancaman teroris di Perancis.





Lazimnya di banyak negara, keamanan sipil di Perancis merupakan ranah tugas kepolisian. Ketika level ancaman terhadap keamanan sipil meningkat, sah-sah saja jika untuk menghadapinya, dibentuklah unit khusus kepolisian. Perancis, memiliki lebih dari satu unit khusus penanganan Anti-Teror dan Anti-kejahatan beresiko tinggi (high-risk armed crimes).


Polisi ParaMiliter nasional Perancis (Gendarmerie Nationale), memiliki unit serupa yang disebut GIGN (Groupe d'Intervention de la Gendarmerie Nationale) untuk penanganan terhadap ancaman terorisme, bisa anda lihat di ulasan berikut; , di sisi lain, Kepolisian Nasional (Police Nationale) Perancis memiliki counterpart yang dikenal dengan GIPN (Groupe d'Intervention de la Police Nationale). Unit khusus ini masih memiliki saudara yang kerap membantunya, yakni RAID (Recherche Assistance d'Intervention Dissuasion). Berbeda dengan GIGN yang unitnya bersifat paramiliter, GIPN dan RAID sejatinya lebih merupakan unit khusus kepolisian reguler yang dilatih khusus menangani aksi teror.


 Unit Khusus GIPN- terlihat sedang menangkap seorang pelaku kriminal





RAID tak bisa dibilang hanya sekedar pendukung GIPN, lantaran memiliki ruang lingkup tugas yang luas, tak melulu intervention layaknya menu utama GIPN. Secara singkat misi RAID bisa langsung tergambarkan sesuai arti akronimnya dalam bahasa Inggris; RAID (Research, Assistance, Intervention, Deterrence). RAID bisa juga melakukan tugas-tugas reserse kriminal layaknya polisi reguler, bisa pula memberikan bantuan (nasehat maupun perencanaan taktis lapangan). RAID juga bisa terjun langsung (intervensi), sementara kehadirannya diharapkan mampu memberikan efek tangkal atau penggetar. Meski RAID bukanlah bagian dari polisi paraMiliter, namun kemampuan RAID tidak bisa dianggap remeh, seperti yang dibuktikan baru-baru ini.

Salah satu pembeda yang paling kentara antara Unit khusus RAID dan GIGN adalah kewenangan teritorialnya. Unit khusus GIGN dapat beroperasi di luar wilayah nasional Perancis karena dapat menerima perintah dari Kementerian Pertahanan meski secara tata organisasi tetap berada dibawah naungan Gendarmerie Nationale. Sementara RAID, hanya berwenang melakukan aksinya di wilayah metropole (Daratan) Perancis. Ambil contoh, meski Perancis memiliki kewenangan keamanan di pusat peluncuran roket Ariane di French Guiana, Amerika Selatan, namun RAID tidak mengantongi izin untuk beraksi disitu.

RAID, dibentuk pada 3 Oktober 1985 sebagai tanggapan Perancis terhadap maraknya aksi pembunuhan bersenjata dan pengeboman oleh sekelompok bersenjata di era tahun 1980-an, yang diyakini terinspirasi aksi teror di Olimpiade Munich 1972. penggagas utamanya adalah Robert Broussard (Polisi Kepala Seksi Pemberantasan Geng Bersenjata), serta Ange Mancini; deputinya, dan Christian Lambert (Kepala BREC/Brigade Regionale d'Enquete et de Coordination), serta Pierre Joxe (Menteri Dalam Negeri Perancis pada waktu itu).



Belum lama ini RAID menjadi headline bukan hanya di Perancis melainkan sudah mendunia. Satuan khusus tersebut terlibat langsung dalam aksi pengejaran dan pengepungan yang berakhir dengan ditembak matinya teroris pelaku penembakan di Toulouse dan Montauban yang dimulai pada 11 Maret 2012 lalu. Pelaku bernama Mohammed Merah, menembaki para prajurit Perancis serta sejumlah anak sekolah Yahudi.

Pemerintah terutama jajaran Kepolisian Nasional Perancis, cepat merespon hal tersebut. Jalan-jalan dibarikade untuk mempersempit ruang gerak Merah. Pada 22 Maret 2012, unit RAID mengepung sebuah apartemen lima lantai tempat dimana Merah tinggal. Ia tetap bertahan disitu dan tak mau menyerah, berbekal sederet arsenal mematikan, yakni sepucuk AK-47, sepucuk SMG Uzi, sebuah Winchester 12, pistol Glock 9mm, dan sepucuk pistol Colt Python, 357 Magnum.

Setelah pengepungan berlangsung berjam-jam, sekitar pukul 10 pagi Merah nekat melompat dari jendela apartemennya sambil menembakkan senjatanya. Tembakan jitu dari seorang Sniper RAID pun menyalak dan seketika itu juga menghabisi nyawanya. Drama menegangkan di kawasan padat di Toulouse itu pun berakhir.




PEREKRUTAN

 Salah satu latihan ringan/dasar bagi unit Pasukan Khusus Perancis- Penyergapan.





Salah satu keunikan RAID yang membuatnya banyak dikritik pakar Anti-Teror, adalah proses perekrutannya yang tidak lazim. Umumnya anggota unit antiteror direkrut dari personel yang sudah memiliki dasar kemampuan terkait, ambil contoh terdekat GIGN, yang merekrut para personel polisi yang berdinas di Kepolisian Perancis minimal selama lima tahun lebih, dengan spesialisasi atau yang telah menjalani kursus/pendidikan lanjutan.


Namun RAID mengijinkan polisi reguler yang belum pernah ikut pendidikan misi-misi taktis untuk ikut dalam proses rekrutmen. Bagi calon kandidat yang berasal dari unit polisi reguler ini, yang penting adalah masih berdinas di Kepolisian Nasional Perancis. Lamanya pengalaman bertugas di Dinas Kepolisian Perancis umumnya diminta lima tahun. Namun bagi yang sangat berprestasi apalagi pernah mengikuti pelatihan dasar macam SWAT's short courses-nya FBI, dapat mengajukan lamaran. Pertimbangan diterima atau tidak memprioritaskan berapa lamanya ia berdinas di Kepolisian Perancis.

Bukan berarti persyaratan dasar untuk personel pasukan khusus kepolisian dikendorkan. Secara mendasar, tahapan seleksi terbagi menjadi dua yaitu tes mental dan tes fisik, dengan menggunakan sistem gugur. Tes mental dijalani terlebih dahulu, meliputi wawancara dan psikotes. Gugur di tahapan ini otomatis tidak dapat diikutkan pada tahapan berikutnya, yaitu tes fisik, yang bertempat di Akademi Kepolisian Nasional di St. Malo. Dari sekian aspek yang ditinjau, bukan hanya kemampuan mental bertahan dibawah tekanan saja yang dinilai. Mentalitas kerjasama antar anggota tim dan tidak egois, merupakan aspek penilaian utama menjadi unit pasukan khusus terbaik.








LATIHAN, LATIHAN DAN LATIHAN.

Usai dilantik menjadi anggota khusus RAID, personel yang bersangkutan wajib menjalani jadwal harian yang sudah ditetapkan sebelumnya. Rutinitas utama para personel di RAID yaitu Latihan, Latihan, dan Latihan!! ada kalanya diselingi pendidikan khusus di unit luar untuk waktu-waktu tertentu. Bagi anggota RAID, tak ada istilah berhenti mengikuti pendidikan. Sepanjang karirnya, mengikuti berbagai kursus dan pendidikan singkat adalah wajib hukumnya bagi unit khusus kepolisian. Tak beda jauh lah dengan unit khusus macam FBI-HRT di Amerika sana!!

Intensifnya jadwal latihan maupun pendidikan ini meliputi sekitar 60% waktu mereka. Dari sini saja sudah terbayang betapa ketatnya jadwal harian yang harus diikuti. Setiap hari anggota RAID berlatih sedikitnya enam jam.

Menarik untuk dicatat, begitu diterima menjadi anggota khusus RAID, ada masa percobaan selama enam bulan, selama periode itu semua aspek dicatat, dilihat, dan dipertimbangkan, apakah yang bersangkutan memang benar-benar pantas diterima menjadi anggota penuh RAID, ataukah kelak harus bersedia mengundurkan diri??

Divisi pendidikan RAID terdiri dari para mantan personel RAID serta instruktur dari unit kepolisian lain (GIGN atau GIPN), dengan prioritas utama personel yang sudah memiliki pengalaman aksi di lapangan. Sekedar catatan, usia maksimal untuk personel lapangan adalah 40 tahun. Lewat dari itu, bisa memilih melanjutkan karir sebagai instruktur latihan atau mengundurkan diri sebagai Unit Khusus Kepolisian dan berkarir kembali di Kesatuan Reguler Perancis. 




 Saat ada ancaman para pelaku kriminal atau ancaman terorisme sedang terjadi,
biasanya semua unit turun ke lapangan dan melebur menjadi satu. Kerjasama Tim.






Pada umumnya untuk menjaga kebugaran setelah diterima menjadi anggota RAID, para personel memilih olahraga kesukaannya untuk dijadikan menu latihan kebugaran fisik secara rutin. Pertimbangannya, yang namanya kegemaran tentu yang paling digemari di kalangan anggota RAID, yaitu lari, renang, atau tinju.

Latihan menembak termasuk menu harian utama. Itulah sebabnya bagian persenjataan atau gun-shop buka selama 24 jam, sehingga jam berapa pun para anggota ingin berlatih menembak, senjata dan peluru selalu ada dalam keadaan siap untuk digunakan. Setiap anggota di bebaskan untuk memilih senapan serbu/senjata api favoritnya, namun penguasaan berbagai jenis senjata lain juga wajib dimiliki.

Berikutnya yang tak kalah sering dilatihkan adalah pertarungan baik dengan tangan kosong maupun dengan berbekal peralatan (perisai, taser, pisau, hingga senjata api). Meski beresiko tinggi, tiap personel RAID dibekali dengan kemampuan tinggi untuk melumpuhkan para pelaku kriminal bersenjata, dengan tangan kosong.

Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi juga kerap diujikan, dengan prioritas kendaraan yang dipakai untuk misi alias kendaraan khusus taktis lapangan RAID. Kelincahan mengemudikan berbagai jenis kendaraan lain juga tetap harus dikuasai, karena siapapun tak bisa menebak apa yang bakal terjadi di lapangan?

Di luar dari semua itu, setiap anggota RAID sejatinya tak beda jauh dengan polisi reguler. Paling yang membedakannya adalah kemampuan mereka menangani aksi kriminalitas/kejahatan beresiko tinggi, dengan senjata dan peralatan yang lebih spesifik, serta rutinitas dan latihan yang lebih intensif. Latihan demi latihan yang dilakoni sangat intensif, itu semata jelas demi keberhasilan misi dan membawa nama baik Kepolisian Nasional Perancis, khususnya untuk unit-unit elite Kepolisian Perancis. Karena bagaimanapun, lebih baik salah atau gagal dalam latihan daripada berantakan dalam misi sesungguhnya.





 Menjadi bagian dari RAID- adalah sebuah kebanggaan.
Pasukan Elite Kepolisian Perancis.










Disadur dari Majalah Commando. Volume VIII No.3 Tahun 2012


No comments:

Post a Comment