.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Tuesday, 11 February 2014

INTERVENSI MILITER INDONESIA DI TIMOR TIMUR.




 Peta Timor Timur















Pihak yang terlibat :
  • PRO INTEGRASI
      1. TNI (Tentara Nasional Indonesia)
      2. Satgas POLRI
      3. Apodeti (Asociacao Popular de Timor)
      4. PPI (Pasukan Pejuang Integrasi) / Milisi lokal
      5. Dan pihak-pihak lainnya...

  • PRO KEMERDEKAAN
      1. Fretilin / Falintil (Frente Revolucionaria de Timor Leste Indepente)

  • PRO KEMERDEKAAN PRO PORTUGIS
      1. UDT (Uniao Democratica Timorense)



  • PRO INTEGRASI: Pihak-pihak yang mendukung sepenuhnya Integrasi (bergabungnya) Timor Timur ke dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

  • PRO KEMERDEKAAN: Pihak atau organisasi yang mendukung sepenuhnya Timtim untuk merdeka secara independen tanpa campur tangan Indonesia maupun pihak asing (Portugis)

  • PRO KEMERDEKAAN PRO PORTUGIS: Pihak yang mendukung sepenuhnya kemerdekaan Timtim namun masih ingin Portugis yang mengatur dan menguasai wilayah Timtim.



PPI adalah Pasukan Pejuang Integrasi yang anggotanya banyak berasal dari para penduduk lokal (Timtim) dan mempunyai semangat juang untuk bertarung bersama dan bergabung (ber-integrasi) menjadi bagian dari Negara Indonesia.

Fretilin adalah sebuah gerakan atau organisasi yang ingin mendirikan sebuah negara sendiri, negara merdeka yang berhaluan kiri. Gerakan ini sangat menentang berintegrasinya Timor Timur ke Indonesia dan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisi tersebut.

TNI adalah sebuah Institusi Militer Negara milik Republik Indonesia, yang para anggotanya sudah bersumpah setia dan bertarung bersama di medan pertempuran yang sengit di Timor Timur.





















UNHCR - Lembaga PBB yang menangani masalah pengungsi



LEMBAGA DAN ORGANISASI DI TIMTIM:
  1. UNHCR (Badan PBB untuk masalah pengungsi)
  2. ICRC (Palang Merah Internasional)
  3. KKP (Komisi Kebenaran dan Persahabatan)
  4. UNMO
  5. UNTAET
  6. IOM (International Organisation for migration)


  • DAFTAR PASUKAN UTUSAN PBB:
    1. PKF (Peace Keeping Forces/ Pasukan Perdamaian)
    2. ADF (Australian Defence Force)
    3. Interfet (Pasukan Austalia utusan PBB)
    4. Itfet (Satuan tugas Pasukan Indonesia)



  • Daftar Satuan Tempur TNI yang dilibatkan dalam konflik:
      1. Batalyon 125/ Bukit Barisan
      2. Batalyon 315/ Siliwangi
      3. Batalyon 407/ Diponegoro
      4. Batalyon 507/ Raider
      5. Batalyon 514/ Kostrad
      6. Batalyon 613/ Raja Alam
      7. Batalyon 713/ Wirabuana
      8. Batalyon 725/ Wirabuana
      9. Batalyon 743/ Udayana (Satuan Organik)
      10. Batalyon 744 (Satuan Organik)
      11. Batalyon 745 (Satuan Organik)
      12. Satgas Nanggala (Kopassus)
      13. Dan Satuan-satuan tempur lainnya...


  • Operasi Militer yang dilancarkan TNI:
      1. Operasi Seroja
      2. Operasi Kikis
      3. Operasi Kikis 1981
      4. Operasi Komando Sektor
      5. Operasi Kontra-Insurjensi (Anti-Pemberontakan)
      6. Operasi Melati


  • KEKUATAN:

    TNI : Sekitar 35.000 Prajurit yang dikerahkan.
    Fretilin : 7.000 milisi, 2.500 Pasukan bersenjata, 10.000 sukarelawan lokal, total sekitar 20.000 milisi.

  • KORBAN JIWA:
    TNI : Sekitar 3.000 prajurit gugur di medan perang.
    Fretilin : 100.000 hingga 200.000 tewas, terluka, maupun hilang (termasuk warga sipil).






Detik-detik Invasi Militer Indonesia di Timor Timur, 1975






PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
Tak terhitung sudah berapa banyak darah dan keringat yang dikorbankan putra-putra Bangsa ini yang mengabdi untuk bangsa. Pecahnya konflik di Timor Timur memaksa Indonesia mengerahkan agresi militernya melawan gerakan pemberontakan di Timor Timur. Sekitar 3.000 prajurit TNI tewas di medan perang. Demi mengabdi untuk negara, mereka meninggalkan keluarga, sanak saudara, dan kampung halaman mereka.

Saat itu di era 70an, saat dimana dunia masih berada di ambang Perang Dingin (Cold War), antara Blok Barat (Amerika) dan Blok Timur (Uni Soviet- kini Rusia). Masih membekas dalam ingatan pada waktu itu tentang berkecamuknya Perang Dunia II yang diakhiri dengan kalahnya Hitler dalam ambisi perangnya dan runtuhnya Imperialisme Kerajaan Jepang yang melancarkan ekspansi militer mereka di Asia Pasifik. Beberapa puluh tahun pasca PD II, sisa-sisa kolonialisme masih ditinggalkan dan dipertahankan di sebagian negara. Beberapa negara masih menerapkan praktek kolonial dalam menjajah wilayah jajahan mereka. Amerika, yang merupakan negara Adidaya yang menerapkan Demokrasi dan ekspansi militer mereka, tentu tidak ingin wilayah pasifik terkena dampaknya, apalagi saat itu Timor Timur masih berada dalam konflik yang bisa saja meluas dari praktek kolonialisme yang dilakukan Portugis. Segala daya dan upaya di tempuh AS untuk meredam semakin meluasnya konflik dan menghapuskan praktek kolonialisme tersebut. Apalagi waktu itu ada dua negara besar (Uni Soviet dan Cina), yang menganut paham komunisme. Bisa saja Timor Timur kemudian membentuk sebuah negara komunis berhaluan kiri. Dalam mewujudkan ambisinya itu, AS pun kemudian memanfaatkan Indonesia untuk segera bertindak, apalagi pada saat itu Indonesia masih sangat kuat sikap Anti-Kolonialismenya.




INTERFET DAN INTERVENSI AMERIKA

Amerika melalui kepanjangan tangannya (Australia), melakukan berbagai intervensi dan praktek intelijen mereka melalui kehadiran mereka di Timor Timur sebelum dan setelah referendum Timtim. Upaya tersebut kemudian dibuktikan dengan kehadiran sejumlah militer dan lembaga-lembaga asing PBB di Timtim setelah referendum terjadi. PBB pun membentuk INTERFET (International Force for East Timor) dibawah payung hukum PBB. INTERFET dipimpin oleh seorang pimpinan militer Australia (ADF- Australian Defence Force). Pada praktek di lapangan, setelah ADF pernah bersinggungan dengan TNI/POLRI beberapa kali. Konflik pun pernah terjadi diantara mereka. Pernah terjadi kontak senjata antara Pihak militer Indonesia dan ADF Australia walaupun pada akhirnya konflik tersebut dapat diredam. Umumnya konflik terjadi lantaran adanya kesalahpahaman atau kurangnya koordinasi antara kedua belah pihak.

Namun bukan hanya konflik dengan negara luar saja yang pernah terjadi, Indonesia juga sempat dipusingkan dengan konflik-konflik internal yang terjadi di Timtim sendiri yang para pelakunya adalah warga setempat. Menjelang jajak penentuan pendapat (Referendum), TNI pernah mencoba melucuti senjata-senjata dari kelompok TNI putra daerah (kelompok TNI lokal), namun sebagian dari kelompok tersebut harap-harap cemas lantaran tidak dapat melindungi diri mereka nantinya setelah kekacauan yang akan terjadi pasca penentuan pendapat. Otomatis nantinya entah itu Timtim berintegrasi dengan Indonesia atau Timtim merdeka, jelas ada kekacauan yang ditimbulkan oleh pihak-pihak yang kecewa dengan hasil keputusan tersebut.


Media-media asing juga turut memperkeruh suasana di lapangan mengingat mereka memberitakan suatu kejadian melalui kacamata mereka sendiri dan terkadang dilebih-lebihkan. Mereka juga cenderung menyudutkan Indonesia (TNI) dengan menyebarkan berita-berita dengan tudingan pelanggaran HAM yang diisukan mereka. Terlebih lagi terhadap Australia, yang dari dulu tidak percaya dan bersikap waspada terhadap gerak-gerik militer Indonesia yang hampir menduduki Timor Timur selama 20 tahun lamanya.



BATALYON ORGANIK DAN PPI
Selain menurunkan Batalyon Organik (Yon 743, 744, dan 745), ABRI juga menerjunkan banyak Batalyon penugasan mereka yang berasal dari luar wilayah Timor Timur. Diantaranya adalah Batalyon 514/ Kostrad, 613, 713, 507, dan Batalyon-batalyon tempur lainnya yang kesemuanya berjumlah sekitar 20 Batalyon tempur. ABRI juga pada waktu itu dibantu unsur Brimob dan kelompok milisi pro-integrasi (PPI- Pasukan Pejuang Integrasi) yang bersama-sama menumpas kelompok bersenjata Fretilin yang ingin membentuk sebuah negara merdeka.

PPI adalah kelompok milisi lokal yang dipersenjatai dan bersama-sama membantu TNI untuk mempertahankan Timtim agar tidak jatuh ke tangan Fretilin. Sedangkan Fretilin adalah sebuah organisasi atau gerakan radikal yang bergerak untuk menjadikan Timtim satu negara merdeka yang berhaluan kiri. Tentu hal itu pun menyulut pro dan kontra diantara warga Timor Timur lantaran haluan politik yang dianut Fretilin. Namun nampaknya Fretilin mendapatkan banyak dukungan dari banyak Tentara Portugal yang masih berada di Timtim. Mereka pun serempak melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap lawan-lawan politik mereka yang tak sepaham dengan mereka.

Jika seandainya Fretilin berhasil membentuk satu negara merdeka, maka AS pun khawatir tidak dapat melancarkan kebijakan politik dan militernya di kawasan tersebut. Dan perlu diketahui bahwa AS sangat berambisi untuk menempatkan sejumlah pangkalan-pangkalan militer mereka dan amat sangat membutuhkan kawasan-kawasan strategis untuk melaksanakan pengawasan dan observasi bagi kepentingan militer dan intelijen mereka. Mereka juga amat membutuhkan Samudera Pasifik-Hindia agar kapal-kapal Angkatan Laut mereka dapat leluasa keluar-masuk perairan tersebut. Maka dari itu AS mendesak agar Indonesia segera melancarkan sebuah agresi militer terhadap Timor Timur.



Kelompok Fretilin/Falintil




KONFLIK BERSENJATA ANTARA UDT DAN FRETILIN
Pertempuran dan kejar-kejaran antara kelompok kemerdekaan pro-portugis (UDT) dan Fretilin pun pecah pada 14 September 1975 di Batugade. Pasukan UDT pun terdesak dan mundur jauh hingga ke seberang perbatasan Motaain yang masuk ke dalam wilayah Indonesia. Ketika pertempuran antara UDT dan Fretilin terjadi, sebagian besar anggota UDT tersudutkan hinnga masuk ke wilayah Indonesia lantaran serangan-serangan gencar dan tembakan yang dilancarkan Fretilin untuk menghancurkan kelompok UDT. Fretilin banyak melancarkan tembakan dan senjata mortir mereka untuk menghantam kelompok UDT. Banyak dari peluru-peluru nyasar dan tembakan mortir Fretilin masuk ke wilayah Indonesia dan sangat banyak peluru-peluru tembakan tersebut mengenai Pos Polisi Motaain. Selain dari para pengungsi dan anggota UDT, beberapa warga Indonesia yang ada di perbatasan pun terkena tembakan mortir dan juga peluru Fretilin.









TNI- YONIF 743 MEREBUT MONTE TILOMAR
Yonif 743 merupakan Batalyon tempur organik Kodam IX/Udayana yang bermarkas di Kupang. Batalyon ini kemudian bergabung bersama Batalyon lainnya dalam melancarkan Operasi Seroja. Yonif 743 bersama dengan Yon 744 dan 745 merupakan Batalyon Organik yang ditempatkan di medan tugas operasi.

Batalyon 743 kemudian bergerak masuk ke Monte Tilomar, yang merupakan kota pertama yang menjadi target operasi militer. Sebelumnya, terlebih dulu Yon 743 membuat daerah persiapan di Kotabot di Selatan Atambua. Pada saat yang sama, telah bergerak juga Batalyon 507 dari sisi utara, sedangkan Yon 743 dari sisi barat. Batalyon 743 dengan segera membetuk wanra, yakni pembentukan pasukan lokal yang nantinya ditugaskan untuk membantu satuan tempur TNI. Pembentukan wanra ini sebenarnya merupakan kebijakan situasional ketika satuan khusus POLRI (Batalyon Pelopor) yang didatangkan dari Jakarta, dianggap gagal melaksanakan tugasnya dalam hal pengamanan perbatasan. Sebelumnya Batalyon pelopor tersebut diserang oleh kelompok bersenjata Fretilin. Nampaknya mereka kurang sigap dengan buruknya komando, kendali, koordinasi, dan informasi internal mereka juga tidak berjalan dengan baik.

Pada saat perekrutan wanra, warga Atambua pun berbondong-bondong mengikuti rekrutmen tersebut. Antusiasme warga terlihat sangat tinggi. Jumlah wanra yang direkrut TNI berjumlah lebih dari 1.200 orang. Mereka pun diperbantukan bersama TNI untuk bergerak dan merebut Monte Tilomar.

Saat bergerak, Yon-743 melakukan tembakan pendahuluan untuk mengacaukan pergerakan musuh. Namun musuh yang sudah siaga melakukan serangan balasan dan dengan mudah dapat menyerang balik pasukan Yon-743. Tembakan pendahuluan yang pada awalnya dilakukan dengan tujuan mengacaukan pergerakan Fretilin justru menjadi bomerang bagi para prajurit Yon-743. Mereka pun dihujani tembakan senapan mesin dan mortir sehingga banyak dari prajurit kocar-kacir dan akhirnya prajurit pun mundur kembali ke arah Kotabot.

Lain halnya dengan Yon-507 Kodam Brawijaya yang bergerak dari sisi utara, mereka sukses masuk ke Monte Tilomar dan merebutnya. Lantaran Yon-507 bergerak dari arah utara yang merupakan dataran tinggi dan Fretilin lebih terfokus ke arah Barat, dimana Yon-743 bergerak, sehingga Yon-507 pun berhasil dan Yon-743 tidak menyangka akan mendapatkan serangan musuh secara sporadis.

Pasukan Yon-743 lalu menduduki kota tersebut setelah Batalyon 507 mendapat penugasan baru ditempat lain. Kota Monte Tilomar pun kemudian dikuasai sepenuhnya oleh Pasukan Batalyon 743. 

 


Salah seorang anggota gerilyawan Fretilin mengendap-ngendap dari pasukan TNI
ketika terjadi konflik dengan Indonesia




OPERASI KIKIS
Operasi kikis adalah operasi militer yang dilancarkan Indonesia (ABRI/TNI), yang melibatkan beberapa satuan TNI (AD, Marinir, Paskhas) demi melumpuhkan gerakan Fretilin.

TNI yang pada waktu itu bersama wanra, bergerak untuk mengepung gunung Matebian, di sektor Timur wilayah Timtim. Namun ternyata Fretilin sudah keburu kabur lantaran mungkin mereka sudah mengetahui informasi perihal pengepungan yang dilakukan oleh TNI.

Dalam operasi militer yang dilancarkan TNI ini, dibutuhkan kecermatan dalam hal pergerakan untuk mendukung suksesnya misi. Dihari kedua dan dihari-hari berikutnya, pasukan menempuh medan yang cukup berat, medan yang bergelombang dengan tanjakan yang cukup terjal. Para prajurit mengisi ransel mereka yang beratnya mencapai 25kg, dengan pakaian, sepatu cadangan, makanan, senjata, munisi (peluru), dan termos air lapangan yang terisi air penuh, sehingga selain melakukan pergerakan di medan yang berat, mereka juga harus terbiasa dengan beban ransel yang berat di pundak mereka.


 
Anggota kelompok Fretilin sedang melakukan latihan




Seluruh pasukan pagar betis (TNI dan rakyat) yang melingkari Gunung Aitana dari segala penjuru, kemudian beristirahat selama dua hari untuk menerima penambahan logistik pasukan.

Memasuki hari ketiga, terdengar suara tembakan yang cukup ramai dari Sektor sebelah kiri Batalyon 744. sesekali terdengar suara tembakan tersebut, yang diketahui berasal dari senapan M16 dan senapan G-3. Saat itu dengan cepat terjadi kontak senjata antara Fretilin dan Marinir. Baku tembak terjadi sekitar dua jam, ketika itu masih sesekali terdengar suara letusan senjata yang dilepaskan TNI. Setelah melakukan konsolidasi, tiga pucuk senapan G-3 dan mouser milik Fretilin berhasil direbut, sejumlah besar gerilyawan Fretilin berhasil dilumpuhkan dan ditembak mati.





PRAJURIT PUTRA DAERAH
Keunggulan prajurit putra daerah (milisi lokal warga Timor), yang direkrut TNI dan diperbantukan bersama TNI adalah kelompok yang lebih mengenal medan, kondisi, dan menguasai bahasa setempat. Loyalitas dan semangat juang tinggi di setiap pertempuran bersama TNI perlu di acungi jempol. Mereka bergerak tak kenal rasa takut dan tak kenal lelah bersama TNI dalam memberantas para gerilyawan. Jika pasukan Fretilin dibawah komando Xanana Gusmao memiliki para gerilyawan bersenjata yang ahli dalam perang gerilya, maka TNI melalui Yon-743 nya memiliki prajurit putra daerah Timor yang sangat gesit, disiplin, dan penuh tanggung jawab.

Naluri alamiah mereka dengan sendirinya terbentuk ketika prajurit lokal Timtim memasuki hutan-hutan, gerakan yang sigap dan senyap serta cara mereka membidik sangatlah profesional sehingga seringkali sulit ditandingi bahkan oleh pasukan TNI sekalipun. Sebelum prajurit putra daerah ditempatkan di Batalyon TNI 743, mereka terlebih dulu digembleng di Denpasar untuk mengikuti Pendidikan Dasar Militer di Sekolah Calon Tamtama dan kemudian lulus dengan pangkat Prajurit Dua. Mayoritas putra daerah tersebut dulunya pernah bergabung bersama kelompok Apodeti dan UDT.

Bagi media-media Barat, mereka menyebut PPI sebagai “milisi”. PPI sendiri telah berjuang bersama TNI yang cukup banyak membantu dan mempermudah tugas TNI di Timor Timur.



Pasca referendum, Warga Australia terlihat berdemo,
mereka menyerukan agar TNI segera angkat kaki dari Timtim





KONFLIK INTERFET DENGAN TNI/POLRI
Intervensi Australia dalam masalah krisis berkepanjangan yang terjadi di Timtim adalah bertujuan untuk pengamanan wilayah teritorial di Timor Timur pasca referendum. Namun dibalik itu semua entah kenapa Australia sangat Anti terhadap TNI dan bersikap selalu waspada dan menuding Institusi militer Indonesia tersebut. Media-media Barat khususnya Australia menuding bahwa sebagian besar kekerasan dan pembunuhan warga sipil/wartawan asing dilakukan oleh TNI. Mereka menuding TNI berada dibalik itu semua. Pada akhirnya, toh dilapangan Australia harus beradaptasi tidak saja dengan medan yang berat dan kondisi di lapangan, namun juga berbaur dengan TNI.

Pada tanggal 27 September 1999, dilakukanlah serah terima tanggung jawab keamanan dari Panglima Penguasa Darurat Militer kepada Pihak Australia (Interfet). Setelah itu otoritas keamanan di Timtim sepenuhnya dipegang oleh Interfet. Meski demikian selama satu-dua bulan Interfet masih dibantu oleh militer Indonesia yakni Satuan Tugas Itfet (Indonesia Task Force in East Timor) yang terdiri dari unsur TNI/Polri. Satgas tersebut dipimpin oleh Brigjen (pol) James Sitorus dengan wakilnya Kolonel CZI Suryo Prabowo, yang kini merupakan Letjen Purnawirawan TNI. Turut diperbantukan pula Batalyon 700/Lintas Udara sebagai Batalyon Pengawal.

Australia melakukan pendaratan dalam jumlah besar di Timtim melalui pasukan Interfet mereka. Interfet juga menerjunkan Tank-tank dan Heli Black Hawk mereka. Meskipun TNI pada dasarnya selalu menerapkan hubungan baik dengan pihak Australia, toh konflik dilapangan tak dapat terhindarkan juga. Hubungan TNI-Interfet sempat memburuk ketika terjadi baku tembak diantara mereka. Contohnya saja ketika satu Peleton Interfet (Tentara Australia), Batalyon-2 RAR Australia, untuk pertama kalinya berpatroli jauh di daerah perbatasan yang hanya beberapa meter jaraknya dari Pos Polisi Indonesia. Dimana daerah tersebut selain diisi oleh Satu Peleton Brimob, juga ditempatkan satu Peleton TNI (Peleton-2, Kipan A, Yon-743, dan Kodam IX/Udayana).

Ketika pasukan Interfet berpatroli, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan seorang anggota Brimob, karena kaget, secara spontan anggota Brimob tersebut melepaskan tembakan ke udara. Namun karena Interfet menganggap itu sebagai sebuah ancaman dan berpikir bahwa anggota Brimob tadi adalah milisi, maka terjadilah baku tembak.

Setelah baku tembak berakhir dan kesalahpahaman antara Indonesia dan Australia dapat diatasi. Namun apa daya ibarat nasi telah menjadi bubur, jatuh korban jiwa di Pihak Indonesia, 3 anggota Brimob dan seorang warga lokal tewas tertembak peluru pasukan Interfet. Sementara itu pihak Interfet tidak ada satupun korban tewas mengingat saat itu pasukan Indonesia sedang lengah karena beristirahat, dan Pasukan Interfet dalam kondisi siap tempur sembari melakukan patroli wilayah. Australia lalu membantah secara tegas semua yang ditudingkan Indonesia. Australia bersikeras mengklaim bahwa Pasukan mereka tidak bersalah dan mengatakan bahwa Interfet masih berada didalam wilayahnya dan mereka tidak memasuki wilayah teritorial Pasukan Indonesia.

Namun setelah insiden baku tembak tersebut, kedua belah pihak melakukan observasi bersama dan menyimpulkan bahwa insiden tersebut terjadi lantaran kurangnya koordinasi antara Interfet dan TNI/Polri di lapangan, dan juga keberadaan Joint Security Coordination Group yang tidak dimanfaatkan secara baik oleh Interfet maupun Itfet, serta adanya perbedaan peta yang digunakan Pasukan Indonesia dan Pasukan Australia.





POLEMIK HADIRNYA PIHAK-PIHAK DAN LEMBAGA ASING PBB

Setelah referendum, otomatis Indonesia dipandang sebagai pihak yang kalah, dan militer Indonesia (ABRI- saat itu), dituding dan dipandang sebagian kalangan yang haus akan “pelanggaran HAM” di Timor Timur. Mereka terkadang membesar-besarkan berita dan informasi di lapangan mengenai tewasnya warga sipil dan wartawan asing di Timtim. Meskipun bermitra baik dengan TNI, Organisasi Palang Merah Internasional bentukan PBB (ICRC) tetap bersikap kritis terhadap TNI dan secara intensif memantau setiap pergerakan TNI di lapangan.

Akibat ketidakpercayaan ICRC terhadap TNI, hal tersebut dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menghembuskan isu-isu negatif yang memojokkan TNI di Timor Timur maupun di mata Dunia Internasional.

Setelah hasil referendum diumumkan dan Indonesia dinyatakan kalah oleh lepasnya Timtim dari pangkuan NKRI, banyak masyarakat kelompok PPI yang tidak terima dengan hasil referendum tersebut. Mereka kemudian berdemo untuk mengungkapkan kekecewaan mereka. Mereka kecewa terhadap pihak-pihak dan lembaga-lembaga asing yang turut campur tangan dalam urusan Timor Timur. Massa kemudian menduduki Kantor UNHCR (Organisasi untuk masalah Pengungsi) dan membunuh tiga orang staf nya.

TNI juga pernah dituding terlibat dalam upaya mengadakan pelatihan terselubung bagi 15.000 milisi di daerah Atambua untuk disebar ke wilayah Timor Timur pasca referendum. Tudingan tersebut bahkan tersiar luas di Australia dan media-media asing yang meliput perkembangan kondisi pasca penentuan jajak pendapat Timtim. Namun pihak TNI membantah hal tersebut dan tetap menjaga hubungan yang baik dengan kehadiran pihak-pihak asing di lapangan. 






 Penarikan pasukan Indonesia dari Timtim, 1999

 

4 comments:

  1. senang dapat pengetahuan ini. salam...

    ReplyDelete
  2. TQ atas artikel ini, menambah pengetahuan atas pergorbanan RI dlm mempertahankan Timor Leste

    ReplyDelete
  3. Itu kesalahan fatal kebijakan pak habibie

    ReplyDelete