.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Tuesday, 24 March 2015

Supremasi di Udara (Perang Enam Hari)

Perang Enam Hari (Perang Arab-Israel 1967)







Peristiwa yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perang Enam Hari (Sixth Day War) dimulai pada waktu fajar hari senin, 5 Juni 1967. Perang tersebut boleh dikatakan telah dimenangkan Israel sebelum tengah hari itu. Namun sebelum perang itu berakhir enam hari kemudian, telah berlangsung suatu pertempuran yang sangat sengit dan ribuan nyawa manusia melayang.

Sebagai sebuah negara yang kecil wilayahnya pada saat itu, Israel, akan mengalami kesulitan besar dalam mempertahankan diri jika diserang. Mempertahankan diri terhadap suatu serangan dari udara sangat sulit, karena negeri itu terlalu kecil sehingga suatu sistem peringatan dini tidak akan memberikan cukup waktu bagi pesawat-pesawat pembom IAF (Israeli Air Force) untuk lepas landas. Penerbangan ke Kairo dari Tel Aviv membutuhkan waktu 25 menit, tetapi Tel Aviv dapat dijangkau dari pangkalan udara terdepan Mesir di El Arish hanya dalam waktu empat setengah menit. Meriam-meriam penangkis serangan udara tidak akan efektif digunakan untuk menghadapi pesawat pembom jet yang terbang tinggi dan cepat yang menyasar kawasan berpenduduk, sementara Israel hanya memiliki sedikit rudal anti-pesawat terbang yang digunakan secara terbatas untuk melindungi Tel Aviv dan instalasi nuklirnya di Negev. 
 
Karena alasan tersebut maka IAF telah dilatih dan disiapkan untuk suatu peranan ofensif yang ditujukan untuk meluluhlantahkan Angkatan Udara musuh. Di wilayah Negrev yang tidak berpenghuni, para pilot Israel berlatih terbang rendah, melakukan pemboman presisi dan menembaki model sasaran-sasaran darat yang dibuat mirip dengan lapangan-lapangan terbang Mesir. Pada saat bersamaan, para awak darat berlatih untuk melakukan pengisian ulang bahan bakar, memperbaiki, dan mempersiapkan pesawat lepas landas lagi dengan cepat. Jadi, ketika hari yang dinanti itu tiba, setiap pilot benar-benar percaya akan kemampuannya untuk menghancurkan sasaran, sementara semua awak darat juga menyakini kemampuannya untuk membuat pesawat dapat dioperasikan sesuai jadwal.

Pukulan pertama dan sangat menentukan dari Perang Enam Hari adalah Operasi Moked (Fokus), serangan udara terhadap 9 lapangan terbang Mesir, yang dilakukan serentak pada 07.45, Senin 5 Juni 1967. Waktu itu dipilih karena kewaspadaan Mesir di waktu fajar lemah karena para komandannya masih belum masuk kantor. Lebih dari itu, para pilot Israel dapat memiliki waktu tidur malam yang baik dan kabut awal di pagi hari di delta Nil telah menghilang. Para pilot Israel sendiri juga dibekali catatan lengkap mengenai dimana instalasi-instalasi radar Mesir ditempatkan serta analisis mengenai wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh kekuatan radar-radar itu.

Serangan udara dilakukan dengan mengambil jalan memutar untuk menghindari radar Mesir, dimana pesawat-pesawat IAF terbang lewat laut dan mendatangi sasarannya dari sebelah barat. Ketika gelombang pertama pesawat Israel – yang secara keseluruhan berjumlah 183 pesawat – terbang menuju Mesir, seluruh jajaran pimpinan Angkatan Bersenjata Mesir, termasuk Marsekal Amir dan Menteri Peperangan Shams el-Din Badran, juga sedang berada di udara dalam perjalanannya untuk mengunjungi unit-unit Mesir di Sinai. Untuk memastikan keamanan perjalanan mereka dan mereka tidak ditembaki oleh pasukannya sendiri, sistem radar di Mesir dimatikan. Episode konyol tetapi tragis ini, dimana jajaran petinggi militer Mesir sedang terbang, sistem radar yang dimatikan dan pesawat pemburu-pembom Israel yang sedang dalam perjalanan menuju sasarannya di Mesir, menyimbolkan ketidakbecusan komando Mesir sekaligus memperlihatkan bahwa sebagian dari keberhasilan besar Israel diakibatkan oleh keteledoran, kelengahan, dan ketidakmampuan para pemimpin politik-militer musuh.


 
Pesawat penyerang IAF - Mirage, yang dipajang di Museum IAF. Operasi Fokus 
adalah operasi yang dilakukan kebanyakan menggunakan pesawat buatan Perancis



Dibawah payung perlindungan udara dari sekitar 40 pesawat tempur Mirage, gelombang pertama pesawat Mystere IAF nyaris tidak menemui perlawanan. Karena perintah yang dikeluarkan berkenaan dengan keselamatan Amer, para penembak senjata penangkis serangan udara Mesir menahan tembakan mereka, dan satu-satunya kelompok pesawat Mesir yang berhasil terbang pada saat serangan awal adalah 4 pesawat terbang latih tak bersenjata yang segera ditembak jatuh.
Angkatan Udara Israel mengklaim telah menghancurkan 186 pesawat AU Mesir di darat selama serangan gelombang pertama. Dalam serangan itu, Israel sendiri kehilangan 3 pesawat Super Mystere (ketiga pilotnya tewas), 2 pesawat Mystere (seorang pilot ditawan sementara lainnya berhasil ditolong), 4 Ouragan (dua tewas, satu ditangkap dan sisanya berhasil diselamatkan), dan sebuah pesawat latih bersenjata Fouga Magister (pilotnya terbunuh).

Gelombang kedua serangan IAF dilancarkan pukul 09.00 dan berlangsung hingga sekitar pukul 12.00. Sekalipun kali ini menghadapi perlawanan penangkis serangan udara serta hadangan 8 pesawat Mig, pihak Israel mengklaim berhasil menghancurkan 107 pesawat Mesir lainnya dalam serangan gelombang kedua itu sementara mereka hanya kehilangan 2 pesawat Mirage. Kemudian, setelah masa jeda yang singkat, pesawat-pesawat Israel yang sama lepas landas lagi untuk menyerang lebih lanjut lapangan-lapangan terbang Mesir lainnya. Pesawat ilyushin yang membawa Marsekal Amir dan Jenderal Sidky harus berputar-putar di udara selama satu setengah jam sebelum akhirnya dapat mendarat di Bandara Internasional Kairo.
Pada hari Senin itu, 17 lapangan terbang besar milik Mesir telah diserang dan hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 jam, sekitar 300 pesawat AU Mesir dihancurkan. Diantaranya terdapat 30 ilyusin, 70 pesawat pemburuh MiG-19, pesawat pemburuh-pembom Sukhoi Su-7, 90 pesawat tempur MiG-21 serta 32 pesawat pengangkut dan helicopter.

Yang juga mengejutkan pihak Mesir adalah bahwa pesawat-pesawat Israel malah tahu mengenai mana dari pesawat-pesawat yang masih dipangkalan itu adalah yang asli dan mana yang palsu. Tidak ada satu bom pun yang dijatuhkan Israel terhadap pesawat-pesawat palsu itu. Satuan-satuan lapis baja Israel menemukan pesawat-pesawat palsu tersebut masih utuh di tengah-tengah pesawat-pesawat asli yang telah dihancurkan ketika mereka memasuki Sinai beberapa hari kemudian.


AU Israel juga melumpuhkan lapangan-lapangan terbang Mesir dengan membomi landasan pacunya. Kebanyakan bom yang dipakai adalah bom konvensional seberat 100kg, 250kg, dan 500kg, tetapi beberapa bom yang dijatuhkan di lapangan-lapangan terbang di Barat Terusan Suez dikembangkan secara rahasia oleh Israel dengan maksud untuk menjebol permukaan beton landasan pacu yang keras. Bom penugal beton berparasut ini memiliki bagian depan yang serupa dengan bom tembus baja, tetapi bagian belakangnya diberi 4 roket penggerak dan 4 roket penahan. Kedelapan roket itu mengelilingi tabung parasut. Dijatuhkan dari ketinggian 100 meter, roket penahannya seketika hidup untuk menghambat kecepatan jatuhnya. Sedetik kemudian parasut mengembang, membuat posisi badan bom miring 60-80 derajat. Akhirnya 4,7 detik kemudian roket penggeraknya bekerja, dan bom yang berisi 165kg TNT ini melesat dengan kecepatan 160 meter per detik, menerobos menghujam beton landasan pacu dan meledak menimbulkan kerusakan berat.
Pada hari berikutnya, sekalipun ditembaki sejumlah rudal permukaan-udara (surface-to-air-missile) SAM-2, pesawat-pesawat Israel yang terbang begitu rendah dan begitu cepat lolos dari hadangan rudal-rudal mutakhir buatan Uni Soviet itu dan berhasil menghancurkan 23 stasiun radar Mesir dan beberapa sarang SAM, 16 diantaranya di Sinai. Pabrik persenjataan penting Mesir di Helwan, yang lokasinya dianggap sangat rahasia, juga dihancurkan seluruhnya. Selama bertahan-tahun diketahui bahwa sebuah tim ilmuwan Jerman dan Eropa Timur – beberapa diantaranya adalah pelarian Nazi – bekerja disana untuk membuat rudal yang dengan penuh kebanggaan dipamerkan dalam parade-parade Hari Revolusi di Kairo.

Selain menghancurkan sasaran-sasaran Mesir di darat, IAF juga menunjukkan dominasinya dalam pertempuran udara melawan pesawat tempur Mesir. Para ahli militer Arab sendiri sudah mengetahui bahwa para pilot IAF adalah orang-orang terlatih dan berstandar tinggi dalam melakukan suatu operasi udara. Namun para pilot Arab juga merasa yakin bahwa orang-orang Israel jauh lebih banyak mengetahui mengenai pesawat MiG yang digunakan negara-negara Arab dibandingkan mereka sendiri.










Operasi Fokus - pesawat-pesawat Mesir di darat dihancurkan oleh serangan udara Israel 






Para pilot Israel menarik keuntungan dari penampilan MiG yang sedikit seret dan kecepatannya yang agak rendah. Mereka juga tahu bahwa tidak seperti Mirage yang bisa melihat ke segala arah, pesawat MiG memiliki sejumlah kekurangan. Dari beberapa arah tertentu pesawat tidak bisa melihat si penyerang. Pengetahuan mengenai berbagai kelemahan ini membantu pilot Israel dalam menyusun siasat perang udara dan memberikan mereka suatu keuntungan strategi dalam kejar-mengejar dengan MiG di udara.

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan mengenai MiG yang menggunakan minyak gas sebagai bahan bakar tambahan pada sistem pembakarannya. Bahan bakar tambahan ini merupakan suatu unit tersendiri. Sistem ini memang membuat pesawat memperoleh kecepatan luar biasa pada saat lepas landas. Namun sistem ini juga berarti bahwa tangki bahan bakar tambahan yang dipasang di titik pertemuan antara sayap dan badan pesawat itu sangat mudah terbakar. Pilot Israel hanya membutuhkan satu kali tembakan saja untuk melihat pesawat musuhnya terbakar. Seorang pilot Israel bernama Yehuda S melukiskan apa yang dilihatnya pada peristiwa tersebut: “Saya merasa kasihan pada pilot itu. Dia tidak memiliki satu peluang pun.”
Pada tengah hari pertama peperangan, desas-desus bahwa AU mereka telah berhasil menghancurkan sekitar 200 pesawat Mesir telah beredar di antara rakyat Israel. Namun tidak ada konfirmasi yang datang dari pihak pemerintah, dan atas perintah Jenderal Dayan desas-desus itu sengaja dikecilkan. “Biarkan saja orang Arab yang mengoceh,” kata Dayan kepada Juru Bicara Israel. Dia telah memperkirakan bahwa para Jenderal Nasser pasti enggan memberitahu pemimpin mereka mengenai kerugian yang diderita oleh Mesir, dan bahwa ketika Nasser mengetahui besarnya kerugian itu maka dia pasti akan meminta PBB untuk melakukan intervensi atau memaksakan suatu gencatan untuk menghindari bencana militer yang lebih besar sehingga mencegah Israel mengeksploitasi keberhasilan mereka.


Dayan juga memperhitungkan reaksi Soviet apabila Moskow mengetahui begitu besarnya kehancuran dari pesawat-pesawat terbang dan peralatan perang lainnya yang mereka kirimkan ke Mesir. Jadi, hingga fakta-fakta dibeberkan dalam sebuah konferensi pers Israel yang digelar di hari kedua (6 Juni), surat-surat kabar Arab dipenuhi oleh klaim-klaim palsu mengenai jumlah pesawat Israel yang ditembak jatuh, yang disiarkan ulang tanpa komentar oleh Jawatan Siaran Israel. Di Kairo, setiap laporan bohong yang baru diterima dengan sorak-sorai oleh orang-orang yang berkumpul di sekeliling radio-radio transistor yang ditempatkan di pojok-pojok jalan. Gerombolan-gerombolan pelajar bernyanyi penuh semangat, “Kami akan berjuang, kami akan berjuang. Nasser kami tercinta, kami akan berjalan dibelakangmu menuju Tel Aviv.” Sebuah laporan Radio Kairo memberitakan seorang pilot Israel yang pesawatnya ditembak jatuh dekat Zagazig di delta Nil. Ia mendarat dengan parasut, dan ditangkap oleh petani lokal yang lalu mencincangnya dengan kapak yang sedang mereka gunakan di ladang tersebut.
Sementara berita-berita semacam itu membuat orang Arab merasa optimistims di dalam kegelapan fakta, orang Israel – yang juga mendengarkan Radio Kairo karena banyak diantara mereka mengerti Bahasa Arab – tentu saja menjadi khawatir. Namun kecemasan mereka sedikit menghilang akibat pernyataan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh oleh Jenderal Chaim Herzog, kepala komentator militer, yang mengutuk klaim Mesir sebagai “terlalu dini, tidak jelas dan benar-benar tidak memiliki otoritas.” Jelas bahwa kebijakan Israel untuk tidak menjernihkan keadaan yang sebenarnya di medan perang demi keuntungan musuhnya meraih hasil besar. Nasser sendiri baru mengetahui besarnya pukulan yang ditimpakan oleh Israel sekitar 6 hingga 7 jam kemudian setelah pecahnya perang, sementara Komando Tertinggi Mesir sangat lambat dalam mengapresiasi pentingnya hal itu dalam perang udara. Ketika Nasser menyambut baik terjunnya Yordania ke kancah peperangan pada pagi itu, ia masih mengira bahwa ia masih memiliki Angkatan Udara yang utuh.

Di Tel Aviv, lengkingan sirine udara yang tidak lazim terdengar segera sebelum pukul 08.00 merupakan indikasi pertama bahwa perang telah dimulai. Namun lengkingan sirine itu, betapa pun kerasnya, bahkan tidak membuat sebuah bangsa bersiap untuk menghadapi keadaan seperti ini; masyarakat enggan mencari tempat perlindungan dan kesibukan di Tel Aviv nyaris tidak terganggu. Sikap yang sama juga terjadi di Yerusalem dan tempat-tempat lainnya. Barulah pada pukul 09.00, ketika radio Israel maupun Arab mengumumkan dimulainya peperangan, maka suasana pun berubah. Banyak orang kemudian berlari mencari tempat perlindungan dari serangan udara, di Tel Aviv, sirene peringatan bahaya melengking 12 kali selama hari pertama – dimana tanda bahaya terlama berbunyi di saat tengah hari saat Yordania mulai menembaki kota tersebut.

Reaksi Israel sangat cepat dan menghancurkan. Setelah membereskan AU Mesir, mereka berpaling untuk menghancurkan kekuatan udara Yordania. Segera setelah tengah hari, 8 pesawat Mirage IAF lepas landas untuk menyerang pangkalan udara Yordania di Mafraq dan Amman. Mereka menyergap pesawat-pesawat Hunter yang sedang diisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali setelah misi pembomannya di atas Israel. Ketika pesawat-pesawat Mirage itu berbalik kembali ke pangkalannya, mereka meninggalkan 18 Hunter yang terbakar, hancur berantakan, sementara bom-bom berat yang dijatuhkan mereka merusak landasan pacu. Dalam perjalanan pulangnya, pesawat-pesawat Mirage Israel menyerang dan menembaki kendaraan-kendaraan yang sedang bergerak dan – demikian tuduh warga Yordania – menembaki istana Raja Hussein. Dalam perjalanan pulang, sebuah Mirage tertembak oleh penangkis serangan udara Yordania, tetapi pilotnya berhasil menyelamatkan diri dan mendarat di Danau Galilea, dimana ia ditolong oleh sebuah kapal patroli Israel.

Pada hari berikut, sebuah pesawat pembom Tu-16 Irak berhasil menyelinap di atas udara Israel dan menjatuhkan bom di Kota Nathanya. Sebagai balasan, Israel menyerang pangkalan udara paling Barat milik Irak, H3, yang terletak di perbatasan Irak-Yordania.
Negara Arab lainnya yang merasakan sengatan IAF adalah Suriah. Setelah pesawat-pesawat Suriah menjatuhkan bom di atas penyulingan minyak di Haifa dan menyerang lapangan terbang di Megiddo, dimana mereka berhasil menghancurkan beberapa pesawat palsu, IAF membom dan memberondongi 4 basis Angkatan Udara Suriah di dekat Damaskus.

Dalam eforia palsu yang menyelimuti bangsa Arab di hari pertama perang, Lebanon juga menyatakan perang terhadap Israel. Namun terpisah dari siaran radio yang bergelora dan penuh caci-maki, Pemerintah Lebanon tidak melakukan tindakan yang bermusuhan. Perdana Menteri Lebanon, Rashid Karame, bernafsu untuk berperang, tetapi Kepala Staf Angkatan Daratnya, Jenderal Bustani, tahu bahwa Angkatan Bersenjata negerinya bukanlah tandingan pasukan Israel. Ketika di hari kedua perang Karame memerintahkan untuk memimpin serangan, Bustani menolaknya. Akibatnya, sang Perdana Menteri memerintahkan agar Bustani ditangkap, tetapi tidak ada satu pun orang yang bersedia melakukan perintah penangkapan. Untungnya bagi Lebanon, kebuntuan ini berlangsung cukup lama hingga peristiwa sebenarnya di lapangan diketahui. Karame, menyadari kesalahannya, meninggalkan sikap radikalnya dan berusaha melupakan bahwa ia pernah bernafsu untuk ikut berperang. Terpisah dari suatu bentrokan antara pesawat Israel dengan 2 pesawat Hunter Lebanon di atas Danau Galilea – dimana salah satu Hunter tertembak jatuh – Lebanon tetap berada di luar arena peperangan dan Israel pun sepertinya sudah puas membiarkan mereka tanpa gangguan.


 pesawat Mirage IAF yang terlihat sedang membentuk formasi untuk
melakukan suatu operasi udara - 1967




Dalam dua hari peperangan saja, IAF telah menerbangkan lebih dari 1.000 sortie, dimana banyak pilot terbang hingga sebanyak delapan sortie sehari. Pada tengah malam hari kedua peperangan, kerugian Israel meningkat hingga 26 pesawat terbang, termasuk 6 pesawat latih Fouga Magister yang dipersenjatai dengan roket 68/80mm untuk menghancurkan tank. Mereka kehilangan 21 pilot, dimana sekitar setengahnya ditawan di Suriah maupun Mesir. Dua pilot kemudian dikembalikan oleh Irak dan dua lainnya oleh Yordania. Seorang pilot dilaporkan telah dicincang di Mesir, paling tidak dua orang pilot Israel lainnya tidak mematuhi perintah kontrol darat Israel yang memerintahkan mereka agar terjun bersama parasut mereka – mereka memilih ikut hancur bersama pesawat berkeping-keping daripada mereka jatuh ke tangan orang Suriah.

Hingga saat tengah malam hari kedua perang, IAF telah menghancurkan 146 pesawat negara-negara Arab, dimana 393 diantaranya dihancurkan di darat. Adapun pembagiannya adalah 309 milik Mesir, 60 milik Suriah, 29 milik Yordania, 17 milik Irak, dan satu sisanya milik Lebanon. Selain pesawat terbang, AU negara-negara Arab juga kehilangan banyak pilot. Sebagai contoh, diperkirakan sekitar 100 dari 350 pilot Mesir terbunuh dalam serangan. Melihat besarnya jumlah MiG-21, pesawat termutakhir yang dimiliki Arab pada saat itu, yang dihancurkan di darat, dalam jumlah korban ini kemungkinan termasuk banyak penerbang handal mereka yang turut tewas. 
 
Ketika kehancuran AU Mesir tidak bisa lagi disembunyikan dari Nasser, Komando Tertinggi Uni Republik Arab berusaha menjelaskan bencana itu dengan menuduh keterlibatan Amerika Serikat dan Inggris. Nasser, yang berusaha mencari kambing hitam atas kekalahan itu, menerima penjelasan tersebut dengan maksud agar mendorong Uni Soviet untuk mau menyelamatkannya. Namun muslihat itu tidak berhasil. Kapal-kapal Uni Soviet yang memonitor gerakan udara di Laut Tengah tahu dari radar mereka sendiri bahwa tidak ada pesawat terbang AS maupun Inggris yang terlibat dan Dubes Soviet di Kairo mendatangi Nasser dengan jelas mengatakan fakta tersebut. Sekalipun demikian Nasser tetap mempertahankan klaimnya.

Upaya Nasser untuk mengkambing-hitamkan Amerika dan Inggris pun “ditelanjangi” pada tanggal 8 Juni ketika seorang juru bicara Israel menyampaikan hasil sedapan dari suatu pembicaraan telepon yang dilakukan Presiden Mesir itu dengan Raja Hussein di hari kedua perang.

SADAPAN PEMBICARAAN TELEPON
Nasser : Halo, kita akan menuduh Amerika dan Inggris atau Amerika saja?
Hussein : Amerika dan Inggris.
Nasser : Apakah Inggris memiliki kapal induk?
Hussein : (Jawaban tidak jelas)
Nasser : Ya Allah, menurutku aku akan membuat suatu pengumuman dan Anda menyampaikan pengumuman, dan kita akan memastikan bahwa Suriah juga akan membuat hal yang sama bahwa pesawat-pesawat Amerika dan Inggris dari kapal induk ikut ambil bagian dalam melawan kita. Kita akan menekankan masalah ini …


Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris segera membantah tuduhan Mesir, dan kedua negara meminta PBB untuk mengirimkan pengamat ke lapangan terbang dan kapal-kapal induk yang dituduh Nasser mengirimkan pesawat terbang untuk membantu Israel. Tidak satu pun pengamat yang dikirimkan dan Raja Hussein di kemudian hari mengakui bahwa “payung udara” di atas Yordania benar-benar merupakan pesawat terbang milik Israel. Sekalipun demikian, banyak orang Arab yang masih saja menyakini rekayasa tersebut.

Tentu saja kebenarannya sangat bertolak belakang. Tidak ada yang bisa membantah bahwa serangan pendahuluan terhadap Mesir dan kehancuran kekuatan udara negara-negara Arab sebagian menentukan hasil akhir peperangan. Namun kemenangan itu benar-benar murni milik Israel, dimana memang keteledoran Mesir turut berperan – kemenangan pun milik Israel yang telah mempersiapkan strategi perang udara dengan seksama dan mengeksekusinya dengan cerdas.

1 comment:

  1. Perang 1967 merupakan serangan dadakan yang direncanakan dan dilatih jauh hari sebelumnya

    ReplyDelete