.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Monday, 19 March 2012

The Colonial Gurkha


THE COLONIAL GURKHA


Perang Anglo-Nepal (Perang Gurkha 1814 - 1816)


Inggris, yang menemukan sumber daya kemiliteran yang murah dan tak kenal takut- yakni; Pasukan Gurkha- dengan segera memanfaatkan temuannya ini untuk memadamkan berbagai perlawanan di India. Sejarah kemudian mencatat, inilah awal hubungan panjang antara suku-suku Nepal yang tergabung kolektif dengan sebutan Gurkha, dengan Tuannya dari Inggris.

            Pada dasarnya, Inggris merasakan tiga manfaat sekaligus saat menerjunkan Gurkha di medan perang. Yang pertama, apabila ada seorang Gurkha yang tewas, rakyat Inggris tidak akan memprotes kebijakan colonial ekspansionisme Inggris, dibandingkan dengan Prajurit Inggris yang apabila tewas. Kedua, reputasi Gurkha yang tidak kenal rasa takut dan kejam pada lawan-lawannya, merupakan psywar tersendiri yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan moral tempur pasukan Inggris dan sekaligus menciutkan nyali musuh-musuhnya. Yang ketiga, merupakan keuntungan paling jelas adalah bahwa biaya Gurkha jauh lebih murah dibandingkan dengan menggaji seorang tentara Inggris, ini menjadi hal yang sangat penting, seperti kisah VOC yang keuangannya berdarah-darah lantaran harus memadamkan berbagai pemberontakan di Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa, dalam waktu yang nyaris bersamaan. Sama halnya dengan Inggris sendiri, British EIC juga sibuk memadamkan perlawanan raja Burma dan juga kampanye melawan Gurkha yang juga menelan biaya yang sangat besar.

            Oleh karena itu, selesai membentuk kekuatan 3 batalion, Inggris merasa belum cukup, batalion keempat dari resimen yang ditempatkan di bukit Gorrakpur, dan dinamakan Kumaon Provincial Batallion. Battalion keempat ini bolehlah disejajarkan dengan batalion territorial (wilayah) pada masa kini, dengan tugas mengamankan wilayah dari ancaman musuh. Batalion Sirmoor adalah batalion pertama yang berperang atas nama raja Inggris, dalam Perang Mahratta (1817) dan meraih kemenangan.

            Anehnya, entah karena para perwira militer Inggris kuatir dengan peliharaan baru mereka, seluruh batalion Gurkha malah diganti namanya dengan nama yang ‘kurang menjual’ pada tahun 1824. Nama batalion 1st dan 2nd Nasiri Batt, diubah namanya menjadi 5th dan 6th Local Battalion, sementara Sirmoor dan Kumaon, menjadi 8th dan 9th Local Batt. Penamanaan baru tersebut mencerminkan upaya pengurungan Gurkha menjadi pasukan local yang dijinakkan.

            Setahun kemudian segalanya berubah, Baldeo Sing, Maharaja Bhurtporte yang tunduk pada Inggris mangkat. Putranya, Balwant Sing, masih terlalu muda untuk memerintah sehingga digantikan oleh Pamannya. Sayangnya, keponakan maharaja, Doorjun Sal, menganggap dirinya lebih berhak atas tahta dan kemudian melancarkan pemberontakan. Balwant Sing ditawan sementara pamannya dibunuh. Sir David Ochterlony sang penakluk Gurkha segera minta agar diizinkan membentuk pasukan ekspedisi dengan Gurkha sebagai ujung tombaknya, namun Lord Amherst sebagai Gubernur Jenderal sempat menolak. Benteng Bhurtporte tergolong sebagai benteng dengan desain yang baik dan pertahanan yang kuat. Inggris membutuhkan biaya besar untuk menaklukkan Baldeo Sing pada masa itu.

            Sinyal keragu-raguan Inggris yang lamban bertindak dimanfaatkan Doorjun Sal yang semakin lihai. Doorjun Sal akhirnya memutuskan untuk menggelar pasukan ekspedisi untuk merebut kembali Bhurtporte di bawah pimpinan Lord Combermere yang baru saja mengalahkan Perancis di Waterloo. Ujung tombak pasukan ini adalah sekitar 200 prajurit Gurkha dari 6th dan 8th Local Batt. Gurkha, yang sudah tak sabar membuktikan diri menjadi prajurit yang terhebat dan menjadi kekuatan penyerang yang mematikan, dengan kekuatan diatas kekuatan prajurit Inggris yang berkekuatan 21.000 prajurit. Dibawah dentuman meriam-meriam kerajaan Inggris, para Gurkha pun berbondong-bondong mendaki tembok tinggi Bhurtporte dan melakukan serangan ke dalamnya. Inggris kehilangan 600 prajuritnya, namun Doorjun Sal tertangkap dan 14.000 prajuritnya pun tewas. Keberhasilan Gurkha ini pun berbuah perombakan total. Hasilnya dapat dilihat, 5th dan 6th Local Battalion disatukan menjadi 4th Local Battalion, sementara itu 8th Local Batt, diubah namanya menjadi 6th Sirmoor Local Batt, dan 9th Battalion kemudian menjadi 7th Kumaon Local Batt. 



BERTEMPUR DI TIMUR JAUH


The Great Mutiny membawa pengaruh yang baik bagi keberadaan Gurkha, dan juga menepis segala keragu-raguan Inggris terhadap abdi nya. Kekuatan Gurkha justru diperbesar, bahkan untuk menggantikan resimen-resimen India yang memberontak. Gurkha kini menjadi kekuatan pemukul utama bagi Inggris untuk mengatasi masalah keamanan di Timur Jauh. Boleh dibilang, Gurkha terlibat dalam setiap perhelatan yang terjadi di negeri-negeri yang mungkin bagi Gurkha, hanya ada dalam mimpi mereka. Dari kaki gunung Himalaya, Gurkha berpetualang melintasi gunung-gunung dan menembus rimba, semua itu dilakukan demi raja Inggris.

            Akan tetapi yang menjadi awal dari trend pengiriman atau penggelaran prajurit Gurkha sebagai pembela kepentingan kerajaan Inggris di luar negeri, adalah ketika tentara Inggris dicegat dan diserang di Charasia, dan bahkan sempat dikepung di Sherpur. Saat pasukannya berhasil mengatasi blokade dan menyusun kekuatan di Sherpur, brigade Inggris di bawah pimpinan Jenderal Burrows mencoba bergerak ke Kabul namun malah dibantai di Maiwand. Kehilangan sepertiga kekuatannya dan mereka lalu mundur ke Kandahar. Sesampainya di Kandahar, brigade Jenderal Burrows semakin terdesak karena kota itu dikepung oleh suku-suku Afghan yang loyal terhadap Ayub Khan, warlord (penguasa) setempat. Sir Frederick Roberts yang mendengar kabar buruk ini dengan cepat mengumpulkan pasukannya dan bergerak menuju Kandahar, yang berjarak 313 mil dari Sherpur.

            Pada abad ke-21 dimana pasukan koalisi sudah mengandalkan ranpur dan helikopter saja masih kesulitan menaklukkan jalan-jalan pegunungan Afghan yang terjal. Bayangkan penderitaan yang dialami prajurit Gurkha, mereka menempuh medan yang sangat keras dengan hanya bermodalkan kedua kaki mereka yang terbiasa menuruni bukit-bukit. Ini masih ditambah lagi dengan serangan sporadis suku-suku Afghan disepanjang perjalanan yang mereka lalui. Hanya tekad bajalah yang membuat Gurkha menjadi sangat tangguh dan tak kenal lelah.

            Pada 1 September Sir Drederick Roberts sampai ke Kandahar. Para prajurit Gurkha yang melihat musuh didepan mereka segera bergerak dalam formasi melambung, lalu merebut seluruh posisi artileri pasukan Afghan dengan mudah, karena pasukan Afghan tak menduga mereka akan muncul dan menyerang dari belakang. Pasukan 2nd Gurkha bahkan menyerbu dengan sangat berani bersama dengan resimen Gordon Highlander, bertempur dalam jarak dekat dengan bayonet dan pisau khukri khas mereka. Peristiwa ini pun menjadi awal hubungan yang baik antara Gurkha dan Gordon Highlander. Mereka juga sekali lagi bertempur bersama dalam kampanye perang Tirah (1897), untuk melawan pemberontakan suku di wilayah Waziristan. Gurkha, setelah itu, diterjunkan lagi ke banyak wilayah yang terdapat konflik didalamnya. Mulai dari wilayah Burma, Malaya, dan bahkan ke Tibet. Mereka pun, sampai sekarang masih sedikit banyak diandalkan Inggris sebagai prajurit tangguh yang siap digelar dimanapun dan kapanpun. Namun, jangan dilupakan bahwa, saat ini jumlah dan kekuatan mereka sangatlah sedikit dan seluruh batalion menciut akibat kebijakan kerajaan Inggris, yang mungkin terlalu kuatir dengan membesarnya kekuatan mereka, sehingga melakukan perampingan besar-besaran. Disamping itu, mereka saat ini jarang diterjunkan ke berbagai konflik. Jika diterjunkan, itupun hanya jumlahnya tidak banyak atau kadang-kadang mereka menjadi bagian dari pasukan medis di garis belakang untuk sekedar untuk mendukung pasukan reguler.


 Seorang Prajurit Gurkha yang memegang pisau Khukri-
Pisau yang menjadi ciri khas mereka






Disadur dari; Majalah Angkasa Edisi Koleksi; Gurkha The Great Britain Special Force. Edisi Koleksi No.74. Agustus 2011





No comments:

Post a Comment