.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Friday, 20 February 2015

Kiprah Navy SEAL di Vietnam


Team SEAL Two di Vietnam



Perang Vietnam yang mulai memanas sejak 1960 menjadi ajang tempur kedua bagi US Navy SEAL setelah sebelumnya beroperasi di kawasan Kuba. Personel SEAL yang bertugas di Vietnam sebagian besar merupakan Underwater Demolition Team (UDT) dan terbagi ke dalam dua grup, SEAL Team One dan SEAL Team Two.

Tugas tim ini mula-mula melakukan survei terhadap posisi Pasukan Vietnam Utara yang saat itu sudah mulai melancarkan serangan gerilya ke wilayah Vietnam Selatan. Tim SEAL kemudian menyimpulkan bahwa tugas-tugas yang akan mereka lakukan nantinya amat berat. Sebab selain bertempur di darat mereka juga harus beraksi di laut, sungai, dan hutan tropis yang panas. Masukan itu kemudian dijawab SEAL dengan menyelenggarakan latihan perang anti-Gerilya, rawa laut, dan perang hutan di kawasan California dan Panama.
Awal 1963, bersama 12.000 personel militer AS lainnya, tim SEAL yang telah dilatih beragam kemampuan tiba di Vietnam. Dibawah kontrol dan komando CIA, SOG, personel SEAL lalu dibagi ke dalam beberapa unit yang masing-masing unit memiliki tugas tersendiri. Tim yang terbentuk antara lain OPS-31, OPS-32, OPS-33, dan OPS-35.

Unit 31 bertugas melaksanakan operasi tempur laut dan sekaligus berfungsi sebagai tim logistik. Unit 32 khusus melaksanakan operasi udara seperti heliborne, penyusupan di garis belakang musuh, terjun HALO/HAHO dan lainnya. Sementara OPS 34 bertugas sebagai satuan intelijen dan sabotase di kawasan Vietnam Utara. Sasaran sabotase antara lain pangkalan AL, Kapal-kapal perang, fasilitas pelabuhan, jembatan, rel kereta api, dan sarana vital militer lainnya. Sedangkan unit 35 berperan sebagai penyapu, beroperasi di dalam lingkup yang lebih luas baik di kawasan Vietnam Utara, Laos, maupun Kamboja.
Operasi tempur pertama tim SEAL digelar Februari 1965, diberi kode Operation Flaming Dart. Dalam operasi ini unit-unit SEAL diterjunkan bersama ribuan pasukan marinir yang saat itu sedang melancarkan operasi pendaratan amfibi di pantai Danang. Sebelum pendaratan dimulai UDT SEAL yang telah disusupkan ke pantai berhasil menghancurkan penghalang berupa ranjau dan peledak lainnya sehingga pendaratan amfibi bisa berlangsung aman. Pola pendaratan dengan mengirimkan SEAL di awal operasi kemudian menjadi tugas rutin mereka.

Selama setahun melancarkan operasi senyap, unit SEAL ternyata belum menghadapi hadangan musuh mengingat kehadiran mereka yang jarang diketahui. Baru pada Februari 1966, tim SEAL yang bertugas bersama tim intai marinir, Marine Recon, diketahui terlibat baku tembak dengan gerilyawan Vietcong di kawasan Rung Sat Special Zone.
Kala itu tiga perwira dan 15 operator SEAL mendapatkan tugas menghancurkan pertahanan dan depot logistik Vietcong yang berada di pinggiran pantai Tung Sat. lewat operasi bersandi Jackstay, tim SEAL didukung Marine Recon dan UDT sukses menghancurkan depot logistik dan air bersih Vietcong. Dalam kontak tembak yang berlangsung cukup sengit, tim SEAL bahkan berhasil menembak mati 4 gerilyawan Vietcong.
Bagi tim SEAL yang beroperasi secara senyap, aksi tembak-menembak sebenarnya bukan porsi mereka. Karena tugas utama mereka adalah infiltrasi dan sabotase. Tembakan dari lawan berarti merupakan sebuah kelemahan operasi sebab penyusupan mereka menjadi terbongkar. Belakangan setelah dievaluasi, operasi Jackstay ternyata memiliki kelemahan dalam hal dukungan intelijen.




Hingga akhir 1966, tim SEAL terus melancarkan operasi kendati kehadiran mereka tampak tak begitu berpengaruh mengingat di Vietnam sudah ada 385.000 Tentara AS. Sesuai perkembangan dan tantangannya, kemampuan dan persenjataan SEAL pun terus ditingkatkan. Naval High Command selaku pusat komando operasi SEAL lalu menurunkan perlengkapan baru yang sekaligus berfungsi sebagai sarana pelindung udara, yakni heli tempur dari skuadron Seawolf.
Memasuki tahun 1967 tentara AS dan personel SEAL yang bertugas juga ditambah. Jumlah total tentara mencapai 400.000 personel sementara SEAL Team One dan Team Two diperluasa dengan terlibat dalam operasi tempur Angkatan Laut, Marinir, dan Angkatan Darat. Namun sasaran utama Navy SEAL adalah posisi pasukan Vietcong yang berada di Rung Sat.

Untuk operasi yang akan dilaksanakan SEAL Team One, personel yang dikerahkan merupakan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam operasi tempur sebelumnya. Operasi intelijen nya pun lebih lengkap dan menggunakan pemotretan udara sehingga sasaran yang akan dihancurkan bisa dipastikan lebih akurata. Operasi dengan tujuan menghancurkan logistik dan pangkalan Vietcong sekali lagi menuai sukses. Namun dalam aksi baku tembak yang kemudian terjadi, satu anggota SEAL tewas dan tiga lainnya terluka. Vietcong kemudian mengerahkan kapal-kapal perang mereka untuk menyerang posisi Pasukan AS di Saigon.
Namun upaya serangan balasan Vietcong tersebut gagal karena puluhan kapal beserta dermaga mereka berhasil dihancurkan oleh peledak yang dipasang tim SEAL. Penyergapan terhadap patroli Vietcong sukses dilakukan sehingga pemimpin tertinggi AL AS di Vietnam, Jenderal Westmoreland dan Laksamana Sharp mengunjungi markas Navy SEAL di Nha Be, Golf Detachment, untuk memberikan penghargaan khusus. Setelah itu tim SEAL semakin dipercaya dalam melancarkan operasi tempur secara mandiri tanpa dukungan pasukan lainnya.

Sebagai unit yang beroperasi secara mandiri, tim-tim SEAL kini justru menjadi unit pendukung bagi operasi tempur bagi satuan lainnya. SEAL lalu menggalang kerjasama dengan unit khusus lainnya seperti SAS Australia dan Selandia Baru. Tak hanya itu, SEAL bahkan diijinkan merekrut personel militer Vietnam Selatan untuk di didik melaksanakan taktik perang komando dan kemampuan SEAL lainnya. Kekuatan SEAL di markas Golf Detachment lalu dibagi ke dalam enam peleton. Masing-masing peleton terdiri dari kekuatan gabungan yang dalam operasi tempurnya dapat bergerak secara mandiri.

Kekuatan gabungan SEAL, personel Vietnam Selatan, dan SAS mulai melancarkan operasi perdana mereka. Sasaran serbuan adalah pangkalan kapal Vietcong yang berada di kawasan Phung Xinh. Operasi yang dilancarkan pada Januari 1968 itu berlangsung sukses. Serbuan awal diawali dengan menghancurkan bunker Vietcong yang dilakukan diam-diam yang langsung melumpuhkan kekuatan lawan. Enam kapal Vietcong berhasil dihancurkan dan lusinan tentara lawan ditembak mati. Tak hanya itu, tim gabungan SEAL juga berhasil menyita ratusan senjata dan amunisi serta bahan peldak lainnya.

Awal 1968 ketika gerilya Vietcong dan Pasukan Vietnam Utara mulai melancarkan serbuan besara-besaran ke kawasan strategis Vietnam Selatan, Pasukan AS beserta SEAL juga berusaha keras menahan gempuran yang dilakukan sekitar 100.000 tentara musuh. Satu peleton SEAL dari Team Two yang bermarkas di dekat perbatasan Kamboja, Chau Doc bahkan harus menghadapi sekitar 4.000 tentara Vietcong yang terus bergerak maju. Melalui taktik perang yang mengutamakan sabotase dan serbuan, SEAL Team Two justru memanfaatkan kamp-kamp tentara Vietcong sebagai sasaran utama. Puluhan kamp Vietcong berhasil dihancurkan SEAL Team Two. Dalam operasi penghadangan yang dilancarkan terhadap unit-unit patroli Vietcong, sergapan SEAL Team Two juga sukses.

Serangan paling berhasil yang dilakukan personel gabungan SEAL Team One dan Two berlangsung 29 Maret 1968. Pasukan gabungan ini mendapat tugas menghancurkan sebuah desa, Ho Chanh, yang menjadi markas Vietcong sekaligus pabrik granat, gudang senjata, serta depot senjata berat lainnya. Setelah melumpuhkan para penjaga lewat operasi senyap, tim gabungan SEAL berhasil menguasai Ho Chanh beserta isinya.
Gudang senjata dan pabrik granat yang tak mungkin dapat diamankan lalu dihancurkan oleh UDT-12. Selama setahun melancarkan operasi senyap, baik SEAL Team One dan Two tetap mengalami kerugian. Sembilan anggota SEAL Team One gugur sedangkan Team Two kehilangan enam personel terbaiknya.
Awal 1969 perang Vietnam mulai mendingin ketika di Paris, Perancis, digelar perundingan damai dengan target gencatan senjata. Namun efek dari perundingan damai itu tak berpengaruh bagi tim SEAL maupun UDT. Mereka tetap melancarkan operasi intelijen, melatih personel Vietnam Selatan, serta menyusup ke pantai-pantai yang akan dijadikan ajang pendaratan amfibi. Tim SEAL bahkan merencanakan sebuah operasi khusus untuk memotong jalur logistik Vietcong melalui laut. Operasi yang bertujuan menghancurkan jaringan politik dan infrastruktur Vietcong juga digelar. Salah satunya adalah menargetkan menangkap para pemimpin partai Komunis Vietnam Utara.






Pada 14 Maret, sebuah misi khusus di bawah pimpinan Letnan Joseph Kerrey kembali digelar. Kekuatan tim SEAL terdiri dari enam personel dan lima personel Vietnam Selatan. Misinya seperti biasa, menghancurkan sebuah pangkalan militer Vietcong dan menguasai dokumen penting. Operasi akhirnya berhasil. Namun sewaktu sedang melakukan pendaratan di sebuah pulau kecil, tim Letnan Joseph tiba-tiba dihujani tembakan Vietcong. Letnan Joseph sendiri terluka parah dan beberapa anak buahnya tewas. Dengan susah payah Letnan Joseph berhasil memimpin anak buahnya kembali ke markas. Berkat perjuangan gigihnya, Letnan Joseph mendapat penghargaan Congressional Medal of Honor dan menjadi personel SEAL pertama yang mampu meraih penghargaan elite tersebut. Pasca Perang Vietnam, Letnan Joseph meneruskan karir politiknya dan terpilih menjadi Gubernur Nebraska.

Memasuki tahun 1970 Perang Vietnam makin menunjukkan fakta bahwa kekuatan Vietnam Utara semakin tidak terbendung. Kondisi ini diperparah oleh keputusan Presiden AS Richard Nixon untuk memulangkan 25.000 tentaranya dari Vietnam pada pertengahan tahun 1969. Untuk membendung kekuatan Vietcong, SEAL di Vietnam dimekarkan menjadi 4 detasemen. Yaitu Golf, Bravo, Echo, dan Sierra. Tugas Detasemen Bravo adalah memelihara koordinasi dengan atase militer di Vietnam dan terus melaksanakan program Provincial Reconaissance Unit.

Akhir tahun 1971, Presiden Nixon memutuskan bahwa pasukan AS yang berada di Vietnam hanya sebatas untuk bertahan. Keputusan tersebut juga berimbas kepada Navy SEAL. Memasuki tahun 1972 hampir semua unit SEAL ditarik ke AS, hanya satu peleton yang ditinggal di Okinawa. Peleton SEAL Team One itu disiagakan sewaktu-waktu untuk melancarkan operasi pembebasan tawanan. Tahun 1973, gempuran besar-besaran Vietcong akhirnya berhasil menghancurkan kekuatan Vietnam Selatan dan seluruh Vietnam jatuh ke tangan komunis.
Selama Perang Vietnam, Navy SEAL telah melancarkan 4.000 operasi tempur. Operasi yang cukup populer adalah pembebasan tawanan perang dan dilancarkan sebanyak 20 misi. Operasi yang sangat beresiko ini berhasil membebaskan 252 tawanan. Dari saemua misi itu SEAL telah kehilangan 48 anggota tapi tak ada satupun yang berstatus missing in action. Sedangkan gerilyawan Vietcong yang berhasil tertembak mati berjumlah 580 orang. Tidak termasuk pemboman yang dilakukan AU AS.




No comments:

Post a Comment