.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Monday, 7 May 2012

Kisah di balik pembuatan “Black Jet” U-2- Part 1





Gambar Profil Kelly Johnson bersama pesawat-pesawat siluman ciptaannya




Kenali musuhmu sebelum kau berusaha mengalahkannya.” Ketika sedang hebat-hebatnya berseteru dengan Uni Soviet, boleh jadi Amerika telah terpengaruh dengan petuah Sun Tzu yang amat terkenal itu. Mereka lalu membuat pesawat intai yang nyaris tak tersentuh radar demi mengetahui dan kelemahan Soviet. Setelah itu, mereka lalu membuat pesawat pemukul kelas berat yang sama-sama meraih predikat untouchable. Berikut ini adalah kisah dan latar belakang pembuatan pesawat Black Jet seperti U-2, SR-71 dan B2 Bomber, yang amat menghebohkan dunia.



Tony, diminta segera berkemas dan melakukan perjalanan ke sebuah daerah tandus dan terpencil di gurun Nevada, Arizona, AS. Ia diminta mengganti namanya dan menanggalkan apa saja yang bisa menghubungkan dirinya dengan Lockheed. Ia hanya ditemani Dorsey Kammerer, orang kepercayaan Kelly. Tony LeVier, saat itu, diminta oleh Clarence “Kelly” Johnson untuk menerbangkan sebuah pesawat, yang baru saja berhasil dikembangkannya. Tanpa ragu-ragu ia pun bersedia untuk menjadi orang pertama yang menerbangkannya. Namun di benaknya masih terdapat rasa penasaran tentang pesawat seperti apa yang akan diterbangkannya. Sesampainya di tempat yang sekarang dikenal sebagai Pangkalan Udara Edwards tersebut, pada suatu hari di bulan Agustus 1955, ia terkesima melihat pesawat yang sebelumnya membuatnya penasaran cukup lama. Sebuah pesawat berbentuk aneh dengan warna hitam, yakni U-2 Dragonlady. Pesawat seperti apakah gerangan?


 Kelly bersama pesawat silumannya- U-2 Stealth



Sejumlah pejabat menyebutnya black jet. Bukan saja karena warnanya yang hitam legam, tetapi juga karena seluruh proses pembuatannya, mulai dari rancangan, anggaran, dan spesifikasi teknis dari jenis pesawat ini, tidak pernah diumumkan secara terbuka. Lalu, mengapa harus ada Black jet? Apakah AS tengah merencanakan operasi terselubung? Apa yang melatarbelakangi pembuatannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sempat terlintas di benak LeVier, dan sampai sekarang pun jawaban-jawaban detail atas pertanyaan-pertanyaan tersebut pun masih banyak ditutup-tutupi meskipun sekarang AS sudah mengumumkan ke publik tentang keberadaan pesawat-pesawat “ghost” tersebut.




BOMBER GAP

Untukk menjawab pertanyaan tersebut, agaknya kita harus mengetahui dulu latar belakang kondisi dan situasi AS pada era 50-an, serta perasaan psikologis yang dialami Presiden AS dan para pejabat-pejabat tinggi pada waktu itu.
Disiapkannya pesawat pengintai U-2 tak bisa dilepaskan dari ketakutan AS ketika menghadapi konflik global pasca Perang Dunia II dan ketidakmampuan Dinas Intelijen AS dalam mengatahui pola pikir orang nomor satu di Istana Kremlin. Meski keluar sebagai “pemenang” dalam pergulatan PD II dan pernah bahu-membahu bersama Uni Soviet menghadapi Jerman, Washington merasa harus menjaga jarak dengan negeri besar ini. Itu karena AS tak pernah sepenuhnya percaya dengan orang-orang Rusia.

Ketidakpercayaan itu rupanya berkembang menjadi rasa curiga yang berlebih, terutama setelah Uni Soviet sukses meracik sendiri bom atom dan meledakkannya pada 1949. Washington menyakini, pasti ada maksud tertentu di balik pembuatan renjata pemusnah massal itu. Kalau tidak untuk menciptakan hegemoni di kawasan sekitarnya, apalagi tujuannya kalau bukan untuk menggertak AS. Kekhawatiran itu makin memuncak meski AS telah lebih dulu memiliki kemampuan membuat bom atom. Kekhawatiran itu pada intinya bersumber pada dua hal; pertama, karena pimpinan Uni Soviet baru saja beralih ke Nikita Khrushchev, mantan tentara yang amat agresif dan provokatif. Dan yang kedua, kerena Badan Intelijen AS memang tak pernah mampu menerobos lingkaran dalam Kremlin.

Semua perkembangan, misalnya seperti peledakan bom atom itu, kerap tiba-tiba sampai ke telinga Presiden AS tanpa adanya peringatan dari CIA. Ketidakmampuan CIA inilah yang membuat Presiden AS Dwight D. Eisenhower kerap kecewa dan berang, dan sekaligus berpikir: “Adakah peralatan canggih yang dapat digunakan untuk mengatasi ketidakmampuan CIA?”

Belum lagi pertanyaan itu terjawab, pada pertengahan tahun 1954, Presiden Eisenhower kembali dikagetkan oleh parade militer Soviet yang disiarkan langsung melalui saluran televisi internasional dari lapangan merah, Moskow. Dalam tanyangan ini, terlihat pesawat pembom strategis Myasishchev M-4 yang semula hanya dianggap isapan jempol, ternyata menunjukkan kemampuannya dengan terbang di udara. Bertahun-tahun, sosok M-4 ini bak monster udara yang tak jelas rimbanya tapi menakutkan.

Tentang pembom yang satu ini, sejumlah analis militer pernah mengatakan, Uni Soviet sangat mungkin telah memiliki 500 unit, tapi lagi-lagi sangat disayangkan Badan Intelijen AS tak pernah mengetahui seperti apa sesungguhnya pesawat ini. Dan, jika memang mereka benar-benar memiliki M-4 sebanyak itu, pasti akan ada kesenjangan kekuatan yang lebar dengan Amerika yang tak memiliki pesawat pembom strategis sebanyak itu. Analisa ekstrem inilah yang pada masa itu sempat dikenal dengan istilah bomber gap. Pesawat-pesawat itu disiapkan untuk bisa terbang non-stop hingga ke daratan Amerika. Bayangkan apa yang bisa dilakukan AS jika pesawat-pesawat tersebut benar-benar diterbangkan ke AS untuk misi pemboman? Sejak itulah, keinginan Presiden AS untuk menyediakan pesawat dan piranti sistem peringatan dini semakin menjadi-jadi.

Pada dasarwarsa 1950-an, bersama Kanada, AS sebenarnya telah mendirikan pos Distant Early Warning di Tatalina, Alaska. Pos ini didirikan untuk menyembunyikan sirine peringatan dini manakala ada pesawat yang terbang ke arah Amerika. AS juga memiliki satelit mata-mata KH-11 yang matanya kerap diarahkan ke Unh Soviet. Tetapi kedua sistem senjata ini toh memiliki keterbatasan. Mata satelit amat tergantung kecerahan langit, sementara tentang Distant Early Warning, sesungguhnya tak seorang pun bisa menjamin seberapa cepat informasi dini bisa menggerakkan pesawat-pesawat interceptor AS.

Demikianlah latar belakang pembuatan black jet U-2. Apakah kehadirannya mampu menuntaskan seluruh kegundahan sang Presiden, saat itu, belum seorangpun mampu menjawabnya. Yang pasti, Tony LeVier merasa terhormat diminta menjadi orang pertama yang menerbangkan Sang Naga Perempuan. Apalagi yang memintanya adalah langsung dari sang penciptanya: Clarence “Kelly” Johnson.





Artikel kelanjutan baca disini: Black Jet U2 - Part 2


Disadur dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi No.79 tahun 2012- Black Jet: Cold War Special Weapon's (Book of One). April 2012

No comments:

Post a Comment