.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Thursday, 30 August 2012

Pembunuhan Abraham Lincoln

Skenario dibalik Penembakan Abe Agung



Abraham Lincoln – Presiden Amerika Serikat
(1809 –  1865)





Malam itu, 14 April 1865, Abraham Lincoln tampak bersiap-siap menuju Ford Theater, Washington DC, untuk berangkat menuju pertunjukan teater. Sebelum berangkat, beliau terlebih dulu bercanda gurau bersama ajudannya, Alfred, sambil menunggu istrinya, Marry Tod, yang sedang bersiap-siap.

Tak ada raut wajah cemas membayangi mereka. Bahkan, mereka tampak bersemangat menyaksikan teater yang berjudul Our American Cousin. Abraham tidak menyangka bahwa malam itu adalah malam terakhirnya.

Penjagaan pada malam itu tampak berbeda dari sebelumnya, cukup lengang. Presiden AS ke-16 ini hanya dikawal oleh satu orang ajudan penjaganya saja, yaitu Alfred. Ajudan yang lain, Ward H. Lamon tidak dapat mengawal Abraham karena ia sedang ditugaskan ke Virginia.

Hal ini tentu mengkhawatirkan Alfred, ajudan sang Presiden. Ketika pertunjukan teater berlangsung, Alfred sempat berbisik kepada Abraham Lincoln, “Bos, apa ini tidak apa-apa kalau yang menjaga hanya satu orang?” ujar Alfred dengan penuh kecemasan.

Abraham pun menenangkannya, “Kau harus tenang Alfred, Aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” ujar sang Presiden.

Pertunjukan teater pun berlangsung, para penonton tampak antusias menyaksikan pertunjukan tersebut. Abraham pun menyaksikannya dari atas balkon tanpa ada kecemasan di raut wajahnya. Ia dengan sangat santai menikmati pertunjukan tersebut.

“You sock-dologizing old man trap!” suara seseorang menggema di dalam ruangan saat pertunjukan teater berlangsung. Ruangan tersebut pun dipenuhi oleh gelak tawa penonton yang tampak antusias. Namun, ketika tawa itu sedang bergemuruh memenuhi tempat pertunjukan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Dooor!!”

Bunyi tembakan pun tiba-tiba terdengar. Dan tembakan tersebut ternyata ditujukan ke arah sang Presiden, tepat berasal dari arah belakang kepala Abraham. Ajudannya segera melihat pembunuh tersebut, dia mengenali orang tersebut yang ternyata seorang aktor.






Mayor Henry R. Rathbone, yang ketika itu juga duduk bersama Abraham Lincoln, langsung menyerang sang penembak. Namun, sang penembak membawa pisau dan dengan sigap membela diri dengan menancapkan pisau ke tangan Rathbone, yang segera melepaskan tangannya dari si penembak. Penembak pun dengan segera melompat dari atas balkon menuju panggung teater.

“Sic semper thyrannis!” (Thus always to tyrant!). “Aku sudah melakukannya, Selatan sudah membalasnya!” teriak si penembak sambil melarikan diri. Rathbone pun menyuruh petugas untuk segera menangkap sang penembak.

Suasana di gedung pertunjukan teater tiba-tiba berubah mencekam. Alfred, sang ajudan segera membawa bosnya untuk mencari pertolongan medis. Alfred lalu membawa sang Presiden ke Peterson House yang berada di depan gedung teater.

Abraham Lincoln dengan segera ditangani oleh dokter Charles Leale. Peluru tembakan tersebut ternyata menembus hingga ke otak. Kecil kemungkinan sang Presiden untuk dapat bertahan hidup. Hampir sembilan jam orang-orang terdekat Abraham menunggu dan berharap cemas akan penantian terhadap nasib Presiden. Namun sayang, Abraham pun tak dapat tertolong lagi, beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada hari itu, 15 April 1865 dalam usia 65 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Springfield, Illinois.



 Jenazah Abraham Lincoln setelah kematiannya



Abraham Lincoln memang Presiden yang dianggap sukses memimpin Amerika Serikat. Bahkan, 65 pakar sejarah mengakui bahwa Abraham Lincoln merupakan sosok presiden terbaik yang pernah dimiliki Amerika. Jasa-jasa beliau dan hal-hal yang pernah beliau lakukan terhadap Amerika dan masyarakatnya begitu banyak. Termasuk ketika beliau dianggap berhasil menyelamatkan negara dari ancaman perang saudara. Beliau juga berhasil menerbitkan emancipation proclamation pada 22 September 1862 yang merupakan tanda bagi berakhirnya perbudakan di Amerika Serikat. Proklamasi tersebut menyatakan bahwa semua budak belia di negara-negara bagian ataupun di daerah-daerah negara bagian yang melawan Amerika Serikat, akan mulai dibebaskan pada 1 Januari 1863. Jasa-jasa beliau luar biasa. Sayangnya, hidupnya harus berakhir di tangan sang pembunuh dengan pembunuhan yang begitu tragis.






Sumber: Buku berjudul Assassinations - Pembunuhan Para Penguasa yang paling Mengguncang Dunia. Agung Budiono & Saktiana Dwi Hastuti. visimedia. cetakan pertama, Juli 2012.




No comments:

Post a Comment