.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Thursday, 30 August 2012

Pembunuhan Gabriel Garcia Moreno

Pembunuhan Sadis Presiden Ekuador



Gabriel Garcia Moreno - Presiden Ekuador
(1821 – 1875)




Hari itu, 6 Agustus 1875, pemilik nama lengkap Gabriel Garcia Moreno ini tidak menyangka hal buruk akan menimpanya, bahkan lebih buruk lagi, yakni pembunuhan sadis. Hari itu, sang Presiden Ekuador menjalani rutinitas seperti hari-hari biasanya. Namun, ada yang berbeda. Dia telat untuk datang ke istana karena sedang mengerjakan sesuatu terlebih dahulu di rumahnya. Ketika waktu beranjak siang, beliau pun berhasil menyelesaikan pekerjaannya dan pada jam 1 siang beliau bergegas berangkat menuju istana.

Dalam perjalanan menuju istana di Quito, beliau sempat singgah sejenak untuk bertemu kangen bersama mertuanya, keluarga Alcazar di Sucre Street. Mereka kemudian berbincang sebentar. Tak lama kemudian, Moreno pun melanjutkan perjalanannya.

Setelah sampai di depan gereja, tak disangka, di tangga kepresidenan, beliau sudah ditunggu oleh sekelompok orang bersenjata. Mereka membawa pedang, kapak, dan pistol revolver. Tanpa mengetahui apa-apa, Gabriel langsung diserang dengan menggunakan kapak. Dengan cepat dan dengan penuh emosi, mereka mengarahkan kapak dan mengenai tangan moreno yang berusaha menangkisnya. Tangan kanannya pun putus terkena sabetan kapak.

Tak hanya di eksekusi dengan menggunakan kapak, beliau juga dilumpuhkan dengan pistol dan senjata tajam lainnya. Ketika mengeksekusi Moreno, salah satu dari kelompok tersebut meneriakkan, “Matilah engkau, Tiran!”

Meskipun dihujani luka-luka pukulan dan sabetan serta tembakan, Moreno masih sempat bertahan hidup. Beliau masih sempat membalas perkataan kelompok tersebut. Ia mengungkapkan, “Tuhan tidak mati! Aku hanya seorang pria yang dapat dibunuh dan diganti. Tapi, Tuhan tidak mati!”

Gabriel Gracia Moreno berusaha sekuat tenaga untuk membela diri. Beliau mencoba membuka kancing jaketnya untuk mengambil pistol yang ada di sakunya. Namun, belum sempat mengambil pistol, penyerang tersebut kembali menghantam tangan kiri Moreno dengan kapak yang nyaris memutuskan tangan kiri sang Presiden. Tembakkan pun diluncurkan oleh kelompok penyerang sambil meneriakkan, “Mati kau pecinta Yesus!”




Moreno pun tak berdaya bersimbah darah setelah dihujani begitu banyak pukulan, sabetan dan tembakan. Beliau pun tersungkur ke tanah.

Suara tembakan tersebut tampaknya menarik perhatian orang-orang yang berada di alun-alun dan kantor kemiliteran. Mendengar tembakan tersebut, wanita yang sedang berjaga di toko-toko segera bergegas menuju ke asal suara tembakan dan mengerumuni Presiden.

Jenderal Salazar, yang pada hari itu bekerja di kantor kemiliteran terdekat, lalu dengan segera memerintahkan untuk mengerahkan pasukannya ke luar menuju tempat terjadinya insiden tersebut.

Seorang Sersan, Rayo, akhirnya berhasil menembak sang penyerang utama. Rayo tertembak dan mati di tengah alun-alun. Orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian pun menyeret mayatnya di tengah jalan.




 Jenazah Gracia Moreno setelah kematiannya



Jenderal Salazar memerintahkan petugasnya untuk membawa Gracia Moreno ke gereja Katedral. Sebelum dimakamkan, jenazah Presiden Ekuador tersebut diletakkan pada kursi di sudut lantai katedral. Lima penjaga kehormatannya berdiri di belakangnya. Hal tersebut dilakukan sebagai sebuah penghormatan atas jasa-jasa beliau. Akhirnya, Moreno dimakamkan di Katedral.






Sumber: Buku berjudul Assassinations - Pembunuhan Para Penguasa yang paling Mengguncang Dunia. Agung Budiono & Saktiana Dwi Hastuti. visimedia. cetakan pertama, Juli 2012.

No comments:

Post a Comment