.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Spetsnaz

Spetsnaz

Poland GROM

Poland GROM

Wednesday, 13 June 2012

Marty Knutson



Dibuntuti 15 MiG Soviet


Marty Knutson



Marty Knutson adalah pilot pertama yang terpilih untuk menerbangkan pesawat stealth U-2. Pada 8 Juli 1956 untuk ketiga kalinya ia bertugas menyusup dan melintasi wilayah udara Uni Soviet yang membentang luas, melebihi wilayah negara manapun di dunia. Begitu tingginya dia terbang dengan pesawat yang bentangan sayapnya dia sebut sebagai “sepanjang jembatan Brooklyn”.

Knutson sejak kecil sering mendengar Uni Soviet sebagai negara komunis, merupakan “an evil empire”, wilayah terlarang, dan musuh utama demokrasi. Maka dia terbang dengan sebuah pemikiran, kalau pun terpaksa, dia tidak akan pernah mau sampai mendarat darurat di wilayah Rusia. Setiap kali sebelum ia terbang, ia terlebih dulu sarapan pagi dengan protein tinggi, yaitu steak dan telur, lalu mengenakan pakaian terbangnya serta bernafas dengan oksigen murni guna mengeluarkan nitrogen dari tubuhnya, sehingga mengurangi efek buruk manakala pesawatnya harus turun cepat dari ketinggian ekstrim.

Sewaktu lepas landas, dia pun menyadari di wilayah udara Soviet mungkin ia akan menemui banyak kegiatan udara dari pesawat musuh. Radar Soviet rupanya mulai mampu mengikuti pergerakannya tak lama sejak pesawat mulai mengudara. Baginya, ini merupakan surprise yang tidak nyaman. Namun, Soviet pasti tak mampu mendeteksi pesawat yang ia terbangkan pada ketinggian seperti yang ditempuh U-2.


 Gambar desain pesawat stealth (siluman) U-2, pesawat pengintai 
warisan era Perang Dingin




Dua orang rekannya yang belum lama menyusup di atas wilayah Soviet mengingatkan bahwa pesawat pemburu Soviet akan membayangi penerbangannya. Bahkan Carmen Vito yang sehari sebelumnya masuk wilayah Soviet dan terbang mengikuti jalur rel kereta api yang menuju Moskwa, nyaris mengalami bencana ketika 2 pesawat MiG Soviet berusaha menanjak mendekati ketinggian pesawatnya. Benar saja, kedua MiG itu menjadi kurang stabil dan malah saling bersenggolan. Kedua MiG itu pun jatuh ke bumi akibat tubrukan.

Bagi Vito, kejadian yang merupakan bahaya nyata tadi membuatnya begitu tegang sehingga mulutnya pun terasa kering. Karena itu, ketika pesawatnya mendekati Moskwa, dia pun merogoh saku kanan coverallsnya yang ia pikir berisi permen rasa lemon kesukaannya. Namun yang ia masukkan ke mulutnya ternyata kapsul racun sianida karena sebelumnya awak darat rupanya keliru memasukkan. Ia mulai menghisap, tapi tak ada rasa karena itu kapsul, Vito tersentak sadar dan buru-buru memuntahkannya. Untung ia tak sampai menggigitnya. Kalau kapsul itu sampai pecah, tamatlah hidupnya dan pesawatnya, siapa tahu, bisa-bisa aka jatuh di tengah Lapangan Merah Moskwa.

Knutson sendiri di tengah lintasannya di atas Soviet, juga sempat melihat dan menghitung tak kurang dari 15 MiG Rusia membuntuti arah terbang pesawatnya. Namun dari jarak sekitar 15.000 kaki dibawahnya. Rupanya kelompok MiG itu tidak mau nekat untuk mendekat ke ketinggian U-2 tersebut. Sekalipun begitu, Knutson ingat benar akan kapsul yang diberikan kepadanya, dan kepada masing-masing pilot yang menerbangkan pesawat mata-mata. Dia sempat memikirkan kapsul sianida bukan karena diikuti oleh MiG, tetapi lebih disebabkan kekhawatiran kalau misalkan mesin pesawatnya sampai ngadat, sehingga ia terpaksa menurunkan ketinggiannya. Nah, jika itu terjadi, disitulah kemungkinan ia berurusan langsung dengan pesawat-pesawat tempur MiG Soviet yang tinggal menunggu waktu untuk melesatkan rudal pengejar mereka.

Ketika rudal darat-ke-udara Soviet belum mampu menembak U-2, mereka sempat menggunakan MiG-21 mereka untuk dijadikan “misil hidup”, dengan mencoba menabrak pesawat mata-mata Amerika. Laporan menyebutkan, mereka hanya mampu membuat lengkungan dan kemudian turun kembali tatkala mesinnya mati pada ketinggian 68.000 kaki. Kemungkinan mesin itu baru hidup yakni ketika turun pada ketinggian 35.000 kaki atau lebih rendah lagi. “Saya yakin Soviet tentu pernah kehilangan beberapa MiG dan pilot mereka ketika berusaha menjadikan pesawat mereka menjadi rudal Kamikaze.” kata Marty Knutson.



Artikel Rekomendasi lainnya: kisah dibalik pembuatan pesawat stealth U-2



Disadur dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi No.79 tahun 2012- Black Jet: Cold War Special Weapon's (Book of One). April 2012

No comments:

Post a Comment