.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Konfrontasi / Konflik. Show all posts
Showing posts with label Konfrontasi / Konflik. Show all posts

Friday, 24 December 2021

Operasi Barbarossa (Invasi Nazi atas wilayah Soviet)

 

 “Andai saja saya tahu jumlah persis kekuatan Tank Soviet di tahun 1941, maka saya tidak akan berani menyerang Soviet.”  - Adolf Hitler



Operasi Barbarossa adalah operasi militer Nazi Jerman yang dilakukan pada 22 Juni 1941 terhadap wilayah Uni Soviet. Tujuan utama invasi militer Nazi ini ialah menegaskan kembali ideologi Nazi Jerman dalam menyebarkan konsep ideologi ras Arya-nya yang sangat rasis dan ekstrem ke seantero Eropa. Dengan adanya invasi atas Uni Soviet, Nazi berharap dapat menduduki sepenuhnya Uni Soviet dan kemudian menggantikan populasinya dengan populasi warga Jerman. Hitler juga memiliki rencana terhadap Uni Soviet yang bernama Generalplan Ost- sebuah rencana yang bertujuan untuk memperbudak mereka (baik para tawanan perang atau warga sipil Uni Soviet), menjadikan mereka sebagai budak pekerja yang rencananya dipekerjakan demi kepentingan Nazi di lahan-lahan pertanian yang ada di berbagai wilayah Soviet. Istilah “Jermanisasi” (Germanization) adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan ambisi besar Hitler soal kejayaan ras Arya bukan hanya terhadap wilayah Uni Soviet, melainkan terhadap seluruh wilayah jajahannya di Eropa. Ambisi besar ini tentunya harus segera diwujudkan Hitler melalui operasi militer besar-besaran dengan jumlah tentara yang sangat besar dan berbagai perhitungan strategi perang yang matang.  

Sebelum invasi terjadi, Jerman dan Uni Soviet sebenarnya sudah lama saling curiga. Antara keduanya sudah tidak ada rasa saling percaya. Soviet sendiri melanggar pakta non-agresi yang disepakati dengan Jerman saat Soviet menginvasi Bukovina di tahun 1940. Setelah Jerman menjadi bagian dari Kekuatan Axis dengan Jepang dan italia, Jerman sebenarnya ingin memasukkan Soviet ke dalam aliansi Axis tersebut. Ketika selangkah lagi Jerman sudah benar-benar akan menjalin hubungan pertemanan dengan Soviet, Soviet membalas rencana tersebut dengan mengirimkan surat proposal yang mengatakan bahwa Soviet akan bergabung dengan aliansi Axis hanya ketika Jerman setuju untuk menjauh dari wilayah-wilayah jajahan Soviet dan tidak ikut campur dengan urusan luar negeri Soviet atas negara-negara jajahan yang memiliki pengaruh Soviet di Eropa. Jerman pun tidak membalas surat proposal tersebut- menandakan bahwa Jerman sudah memiliki rencana besarnya sendiri terhadap Uni Soviet. 

          Sebelum Hitler melancarkan invasi militer besar-besaran atas Uni Soviet, sebenarnya para petinggi militer Red Army (sebutan bagi Tentara Soviet saat itu), serta Stalin sendiri sebenarnya sudah mengetahui mengenai adanya rencana invasi tersebut. Namun Stalin sendiri masih berada di zona nyamannya dan bersikeras mengatakan bahwa jangan terlalu mudah percaya rumor yang berkembang, dengan sesumbar mengatakan bahwa Nazi akan butuh 4 tahun lagi sebagai persiapan untuk benar-benar mempersiapkan dan melancarkan Invasi tersebut. Apalagi Jerman dan Soviet sendiri telah menyepakati suatu perjanjian non-agresi dibelakang layar di tahun 1939 (Molotov-Ribbentrop Pact)- yang intinya adalah suatu kesepakatan bagi Jerman dan Soviet untuk menghargai dan membatasi manuver politik dan militer masing-masing agar tidak ada salah paham perihal wilayah jajahan tertentu. Stalin sangat berharap adanya pakta non-agresi itu akan menunda invasi militer Jerman setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun. Saat itu, Stalin sendiri sebenarnya masih sibuk dengan berbagai retorika dan manuver politiknya didalam pemerintahan. Stalin nampaknya sedang melakukan “bersih-bersih” dengan darah di tangannya sendiri. Suatu periode yang dikenal dengan istilah Great Purge (Pembersihan/Pemusnahan Besar).




Adolf Hitler- ditengah- sedang menganalisa peta wilayah Rusia bersama Jenderal Lapangan Marshal Von Brauchitsch, bersama Jenderal lainnya, pada 7 Agustus 1941.

 


    Ketika Nazi melakukan invasi atas Soviet pada 22 Juni 1941, pemusnahan bermotif politik itu masih terjadi. Stalin membantai para jenderal dan petinggi militer Soviet yang tidak loyal kepadanya. Total ada sekitar 30.000 tentara Red Army dibantai oleh Stalin; itu sudah termasuk Jenderal-Jenderal dan komandan korps-nya sendiri. Setelah pembantaian terjadi, Stalin mengisi pos-pos yang kosong di jajaran struktural tertinggi militer Soviet dengan jenderal-jenderal yang sayangnya tidak berpengalaman perihal taktik peperangan atau tidak pernah terjun langsung ke medan pertempuran. Ironisnya, Stalin mengabaikannya dan justru membentuk Komite Politik didalam jajaran militer yang bertujuan untuk memonitor loyalitas politik para jenderal didalam kemiliteran. Stalin ingin memastikan bahwa seluruh elemen yang ada dalam jajaran Red Army loyal terhadapnya, sekaligus mengawasi jika masih ada “tikus-tikus” lainnya yang harus dibantai. Karena kesibukan politiknya itulah, nantinya harus benar-benar dibayar mahal oleh Stalin di awal-awal pertempurannya melawan tentara Nazi yang membuat Red Army sangat kewalahan dan mengalami kekalahan di banyak front pertempuran.

Di mata Hitler, reputasi global Stalin yang telah dicap buruk oleh dunia sebagai pemimpin diktator yang brutal meneguhkan kembali ambisi besar Nazi atas rencana invasi mereka. Hitler paham bahwa setelah pembantaian yang terjadi di internal militer Soviet, kemampuan taktis militer Soviet jelas akan berkurang di medan perang nantinya. Apalagi adanya perombakan besar-besaran dan pembentukan Komite Politik didalamnya. Nazi bahkan meluncurkan banyak propaganda politik yang memperingatkan kembali kebrutalan pemimpin Soviet Stalin dan rencana mereka atas invasi terhadap wilayah Jerman. Untuk itulah, Nazi menegaskan kembali bahwa invasi Nazi atas Soviet menjadi satu-satunya solusi yang dapat menghentikan kebrutalan sang diktator tersebut, sekaligus sejalan dengan agenda besar Jermanisasi Nazi di Eropa serta ambisi pribadi Hitler dalam menguasai seluruh wilayah Soviet. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum rencana invasi tersebut dijalankan. Nampaknya tidak ada satu orangpun didunia yang dapat menghentikan ambisi besar Hitler tersebut.

Jerman mempersiapkan satu regimen independen, satu brigade motor terpisah serta 153 divisi untuk Operasi Barbarossa- didalamnya termasuk 104 Divisi infanteri, 19 Divisi panser, 15 Divisi infanteri motor yang dibagi ke dalam 3 grup Army, dan 9 Divisi independen terpisah untuk menguasai wilayah-wilayah yang telah diduduki, 4 Divisi tambahan di Finlandia, dan 2 Divisi cadangan dibawah naungan OKH (Komando Tertinggi Nazi). Di sisi lain, Uni Soviet merespon rencana tersebut dengan cara yang berbeda. Sebelum invasi, Banyak agen intelijen asing yang memberitahukan rencana Hitler tersebut kepada Stalin. Intelijen Inggris menginformasikan Stalin perihal rencana Jerman untuk menginvasi Soviet hanya seminggu setelah Hitler menyetujui rencana Operasi Barbarossa. Namun ketidakpercayaan Stalin kepada Inggris membuatnya masih saja meragukan laporan intelijen Inggris tersebut dengan mengatakan bahwa informasi intelijen tersebut dibuat oleh Inggris untuk mengelabuhi Stalin agar Uni Soviet nantinya berpihak kepada Inggris. Di bulan-bulan awal tahun 1941, agen intelijen Stalin serta intelijen Amerika Serikat juga melaporkan informasi yang sama perihal rencana invasi Nazi ke Soviet. Mata-mata Soviet Richard Sorge juga memberikan Stalin informasi terkait tanggal pasti invasi Barbarossa. Stalin pun kemudian mengakui adanya kemungkinan invasi tersebut, namun ia memilih saat itu untuk tidak memprovokasi Hitler lebih lanjut untuk menghindari kemungkinan terburuk terwujudnya invasi tersebut.

          Di awal-awal pecahnya perang, Soviet masih belum memahami skala perang sangat masif yang sedang dilakukan Jerman. Serangan militer Nazi melalui darat dan udara menghancurkan banyak fasilitas militer Soviet dalam waktu beberapa jam saja. Hal itu membuat efektivitas komunikasi dan rantai komando dari platon infanteri serta jajaran Komando Tertinggi Soviet di Moskow lumpuh. Moskow tidak hanya buta terhadap skala masif invasi Nazi tapi respon Stalin terhadap invasi awal itu sangat mengejutkan. Kendati pasukan Nazi sudah menerobos masuk perbatasan dan bergerak cepat menduduki wilayah-wilayah Soviet, Stalin masih saja berpikir bahwa mobilisasi Nazi tersebut dilakukan tanpa izin dan komando Hitler. Unit-unit pesawat Luftwaffe menyapu bersih konsentrasi Pasukan darat Soviet, unit-unit Luftwaffe lainnya menghancurkan markas militer dan komando Soviet. Meski demikian, instruksi Stalin terhadap pasukan unit Artileri yang berjaga di perbatasan membuat banyak pasukan geleng-geleng kepala. Stalin menyuruh unit-unit Artileri di perbatasan untuk tidak menembak karena takut akan membuat Hitler lebih marah lagi. Setelah dalam sekejap saja banyak wilayah Soviet diduduki Nazi, barulah Soviet sadar betapa masifnya skala serangan militer Nazi ini. Luftwaffe Nazi saat itu telah menghancurkan 1.489 pesawat-pesawat Soviet yang ada di darat, serta menghancurkan 3.000 lainnya dalam kurun waktu 3 hari saja.



Seorang prajuri Jerman berjalan ke arah jasad pasukan Soviet saat awal-awal Operasi Barbarossa dilancarkan di tahun 1941. Terlihat juga Light Tank BT-7 yang rusak dan terbakar. 



 Terlihat seorang prajurit Nazi sedang menaiki kendaraan lapis baja ringan Sd. Kfz-250 half-track. Sedangkan dibelakang terlihat beberapa tank-tank Jerman bersiap untuk melanjutkan serangan ke arah barat.

 


        Sebenarnya pada saat invasi terjadi, kekuatan militer Soviet tidak begitu buruk. Memang ada perombakan besar-besaran di jajaran struktur internal militer Soviet, banyak kendaraan lapis baja dan Tank yang rusak dan terbengkalai, minimnya kemampuan komando para perwira Soviet, banyak tentara-tentara baru yang masih awam dan minim pengalaman terjun ke medan perang,  masalah hambatan transportasi Alutsista dan mobilisasi pasukan, korupsi di jajaran pemerintahan, dan lain-lain. Namun Sebenarnya Uni Soviet sudah memiliki tentara utama yang berjumlah sekitar 5 juta personel yang telah disiapkan. Dan tiap bulan jumlahnya meningkat sehingga Soviet memiliki sekitar 14 juta pasukan cadangan. Red Army memiliki 33.000 Artileri medan, jumlah yang jauh melebihi total artileri yang dimiliki Nazi. Soviet juga memiliki 23.000 Tank, yang mana hanya 14.700 Tank saja yang tersedia dan siap untuk ke medan laga. Sekitar 11.000 Tank Soviet ditempatkan disepanjang lokasi-lokasi di Distrik-distrik Barat yang langsung menghadap ke arah Jerman. Hitler, setelah melancarkan invasi dan mengetahui total jumlah Tank yang dimiliki Soviet saat itu- berkata; “Andai saja saya tahu jumlah persis kekuatan Tank Soviet di tahun 1941, maka saya tidak akan berani menyerang Soviet.”

          Untuk hantaman terakhir Nazi ke Leningrad, dilakukan oleh 4th Panzer Group dari Army Group Center. Pada 8 Agustus, Tank-tank Nazi bergerak menerobos pertahanan Soviet. Di Akhir bulan Agustus, Grup Panzer berhasil bergerak sejauh 48km ke arah Leningrad. Nazi menyerang Leningrad pada Agustus 1941. Pada saat serangan terjadi, para penduduk lokal Leningrad saat itu tengah membangun pertahanan kota untuk menghalau serangan, sementara 160.000 penduduk lokal lainnya langsung bergabung dengan Red Army dan bertempur melawan Nazi. Setelah Divisi Motor 20th Nazi berhasil menguasai Shlisselburg dan memotong akses jalan ke Leningrad, Hitler melakukan arahan komando untuk segera menghancurkan Leningrad, membunuh semua orang tanpa menyisakan satupun tawanan perang. Namun diluar kendali Hitler, serangan terakhir 10km ke Leningrad itu melambat dan pasukan Nazi juga mengalami banyak korban jiwa. Hitler yang tidak sabar memerintahkan pasukan untuk tidak menyerang Leningrad secara langsung karena resiko korban jiwa tambahan tetapi menyuruh pasukannya untuk membuat penduduk kotanya menyerah. Karena instruksi dadakan itu, Grup Panzer Jerman tidak melanjutkan invasinya tetapi dalam posisi tak bergerak sembari memikirkan solusi untuk membuat mereka menyerah, namun di sisi lain grup Panzer dan pasukan Nazi mendapatkan gempuran artileri yang intens dari pasukan Soviet di Leningrad. Secara spesifik, dalam serangan ofensif Nazi- Yelnya Offensive, Jerman mengalami kelahanan besar pertamanya sejak kali pertama invasi Barbarossa dilakukan. Kemenangan pertama Red Army atas Nazi ini secara signifikan meningkatkan moril para prajurit dilapangan. Serangan-serangan balik Soviet ini memaksa Hitler untuk lebih fokus kepada peperangan di front tengah. Jerman akhirnya bergerak dengan unit Panzer Army ke-3 dan ke-4 untuk segera menghancurkan pertahanan kota Leningrad dan segera bergerak ke Moskow.

          Singkatnya, setelah Nazi berhasil menguasai Leningrad dan fokus ke Moskow. Pertempuran menjadi sangat brutal. Pasukan Nazi dari berbagai unit akhirnya mengepung Pasukan Soviet di Moskow. Pertahanan Moskow pun runtuh. Pasukan Soviet di Moskow hanya berjumlah 90.000 prajurit dan 150 tank saja untuk mempertahankan kota dari segala arah. Tampaknya tinggal menunggu waktu saja sebelum Nazi benar-benar menduduki Moskow dan memenangkan pertempuran. Pada 13 Oktober ketika Panzer Group ke-3 Nazi berhasil bergerak sejauh 140km ke arah ibukota Moskow. Moskow dengan segera memberlakukan Darurat Militer. Ketika serangan terus berlanjut, cuaca pun menjadi sangat buruk dan berdampak pada penundaan manuver Nazi. Salju lebat pun turun dibarengi dengan hujan. Hal itu pun membuat pasukan Nazi dan tank-tank nya kesulitan bermanuver dan bergerak dengan lambat karena menghadapi hambatan tanah yang berair, berlumpur, dan dipenuhi salju yang tebal. Saat itu Nazi segera menunda Operasi terakhir untuk menduduki Moskow karena cuaca buruk tersebut. Saat mobilisasi Nazi berhenti sementara, pasukan Soviet dengan segera memanfaatkan waktu mereka untuk mengumpulkan kekuatan dan menyiapkan serangan untuk menyerang balik. Dalam kurun waktu sebulan sejak operasi Nazi ditunda, Soviet sekarang memiliki 8 unit pasukan darat yang berisi 30 Divisi pasukan Siberia. Pasukan ini dikirimkan untuk fokus ke Moskow, unit intelijen Soviet memastikan Stalin bahwa pasukan ini sengaja digerakkan ke Moskow setelah intelijen memastikan bahwa tidak akan ada ancaman lagi dari Jepang di front Timur Jauh. Pada November 1941, ada lebih dari 1.000 tank dan 1.000 pesawat yang datang bersama Pasukan Siberia untuk bersama-sama mempertahankan kota Moskow.

          Walaupun cuaca masih buruk dan Nazi saat itu sangat bersikeras untuk menduduki Moskow. Mobilisasi pasukan dan tank pun dilakukan di tengah cuaca buruk. Dalam kurun waktu 2 minggu pertempuran di tengah kondisi cuaca buruk, pasukan Nazi dari Panzer Group terlihat kewalahan akibat serangan balik Soviet. Terlebih mereka mengalami banyak hambatan cuaca dan kekurangan logistik amunisi dan bahan bakar untuk tank-tank mereka. Ketika Panzer Group hanya sejengkal lagi berhasil menguasai Moskow. Situasi pun berbalik. Pada 2 Desember 1941, blizzard (badai salju lebat) pun terjadi. Meskipun unit recon Nazi berhasil menguasai kota Khimki, hanya berjarak 8km dari Mokow dan mereka juga berhasil menguasai Jembatan Moskow-Volga, pasukan Wehrmarcht tetap saja tidak mampu melawan cuaca badai salju yang cukup ganas. Pasukan Wehrmarcht sejak awal tidak siap menghadapi cuaca buruk ini karena pakaian mereka tidak disiapkan untuk menghadapi ancaman cuaca dingin dan bersalju. Banyak tank-tank dan kendaraan lapis baja mereka pun terkubur salju. Banyak pasukan Wehrmarcht pun mati sia-sia ditengah ganasnya badai salju yang menerjang. Winter Warfare (Pertempuran di medan salju) terbukti menjadi momok menakutkan bagi Pasukan Nazi yang sebelumnya sudah terlalu percaya diri bakal merebut Moskow dalam sekejap.  Badai salju yang lebat juga membuat unit-unit Luftwaffe Nazi tidak dapat mengudara membuat Nazi harus menunda operasi serangan udara atas Moskow. Di saat yang sama, unit-unit Soviet baru berdatangan ke Moskow dalam membantu pertahanan Moskow dan jumlahnya diperkirakan berjumlah 500.000 pasukan. Pada 5 Desember, pasukan Soviet melancarkan serangan balik atas posisi-posisi pasukan Nazi yang saat itu sangat kewalahan menghadapi hambatan cuaca buruk. Pasukan Soviet saat itu menyiasati cuaca buruk itu dengan mengenakan winter clothing (pakaian hangat yang tahan cuaca dingin). Setelah Soviet menyerang balik Nazi bertubi-tubi, serangan balik dari gabungan pasukan darat dan Artileri itu berhasil memukul mundur Nazi sejauh 250km ke belakang. Wehrmacht tampaknya harus mengakui kekalahan mereka dalam peperangan Moskow. Mereka pun kehilangan sekitar 830.000 prajurit di medan perang. 



Pada akhir Oktober 1941, kombinasi dari hujan lebat, salju, kabut, dan lumpur membuat mobilisasi unit-unit Jerman tidak dapat dilakukan. Tampak jelas bahwa unit-unit militer Jerman saat itu kalah superior dari Alutsista militer Soviet dalam hal menghadapi tantangan cuaca dan medan yang buruk. Terlihat beberapa tentara memaksakan kendaraannya untuk berjalan ditengah salju yang lebat. 

            









Di awal tahun 1942, beberapa Pasukan Soviet bersiap untuk melakukan serangan balik. Pasukan Nazi mengalami banyak hambatan dalam peperangan diantaranya adalah cuaca buruk serta masalah pasokan logistik yang menghambat mobilisasi kendaraan-kendaraan lapis bajanya. Disaat Jerman sedang bersiap memproduksi pakaian untuk Winter Warfare, pasukan Soviet sudah siap dan merangsek maju ke lokasi-lokasi wilayah yang diduduki Nazi dan langsung memukul mundur mereka.



    Nazi dipaksa mengakui kekalahan di Moskow. Dengan kekalahan itu, mereka terpaksa harus merancang ulang taktik perang mereka. Serangan balik Soviet pada Desember 1941 merupakan kekalahan yang memakan korban jiwa besar dipihak Jerman. Tidak hanya korban jiwa, tetapi serangan balik itu membuat Jerman mundur ratusan km dari posisi Moskow. Wehrmacht, ketika Operasi Barbarossa dilancarkan, memiliki kekuatan 209 Divisi, dimana hanya 163 Divisi saja yang siap untuk bertempur. Namun pada 31 Maret 1942, kurang dari setahun, mereka hanya memiliki kekuatan 58 Divisi saja yang bisa dipakai bertempur, sisanya hancur luluh lantah oleh serangan balik Soviet. Stalin yang terpukau dengan keberhasilan ini tidak puas begitu saja. Ia lantas menyuruh pasukannya untuk tidak hanya mempertahankan Moskow saja, tapi juga memukul mundur Nazi di front-front lain di front pertempuran di Selatan dan Utara. Hitler yang mengetahui kegagalan ini menjadi sangat marah dan memecat perwira jerman Walther Von Brauchitsch. Walaupun Soviet juga mengalami korban jiwa yang besar dan kehilangan banyak wilayahnya, namun moril prajurit mereka kini sedang tinggi-tingginya dan mereka berhasil memukul mundur Nazi di banyak front pertempuran. Kendati Hitler kembali memerintahkan pasukannya untuk bertahan dan menyerang balik, Hitler pun sadar bahwa mobilisasi Nazi terkendala oleh hambatan cuaca dan kekurangan logistik. Meskipun begitu Hitler tetap bersikeras ingin mengalahkan Soviet. Pada bulan Februari 1943, Jerman kembali mengalami kekalahan dalam Pertempuran Stalingrad.

       Di tahun 1943, industri Soviet membaik dan industri-industrinya mampu memproduksi Alutsista dalam jumlah besar dan dengan segera tank-tank baru itupun dikirim ke medan pertempuran. Serangan Jerman terakhir terjadi pada periode Juli-Agustus tahun 1943. Sekitar 1 juta pasukan Nazi bertempur melawan 2.5 juta pasukan Soviet. Soviet melancarkan Operasi Kutuzov, yakni operasi serangan balik yang melibatkan 6 juta pasukan yang membuat Jerman kelawahan dan mundur. Setelah Jerman mengalami banyak kekalahan serupa di tahun 1943 di banyak front, pada akhirnya Jerman memilih menyerah karena moril prajuritnya yang sangat rendah dan kemampuan Alutsistanya yang tidak mampu lagi dipakai akibat tidak tersedianya pasokan logistik. Pada Januari 1945 Soviet akhirnya bergerak ke Berlin dengan ambisi ingin menaklukkan ibukota Jerman tersebut dan mendudukinya. Perang berakhir dengan kalahnya Nazi pada Mei 1945 setelah Berlin akhirnya jatuh ke tangan Pasukan Red Army.

          Operasi Barbarossa merupakan invasi militer terbesar dalam sejarah- melibatkan banyak pasukan, tank, senjata, artileri, dan pesawat. Invasi itu membuka banyak pertempuran di front Timur. Membunuh lebih dari 26 juta penduduk Soviet, termasuk 8 juta korban jiwa dari pasukan Red Army. Pertempuran di Front Timur antara Nazi dan Red Army menghancurkan ekonomi keduabelah pihak. Nazi berhasil meluluhlantahkan 1.710 kota-kota Soviet dan 70.000 desa-desanya dihancurkan. Operasi Barbarossa dan kekalahan Jerman akhirnya mengubah peta politik di Eropa, akhirnya membagi dunia kedalam dua blok- Blok Timur dan Barat.


Thursday, 27 February 2020

Kontribusi SDF atas kekalahan ISIS di Suriah



Logo Syrian Democratic Forces



            Kekalahan ISIS di Suriah yang saat ini terjadi sebenarnya tidak terlepas dari perjuangan dan kerja keras SDF (Syrian Democratic Forces) yang merupakan organisasi paramiliter multi-ras dimana tujuan akhir mereka ialah merebut wilayah-wilayah yang dikuasai ISIS, menegakkan kembali demokrasi di tanah Suriah, serta meraih kemerdekaan independen bagi etnis Kurdi di Suriah. SDF adalah unit paramiliter yang mendapat dukungan politik dari Amerika Serikat dimana para anggotanya terdiri dari gabungan etnis Kurdi, Arab, serta beberapa milisi Assiria. SDF bukanlah merupakan Tentara Nasional Suriah maupun bukanlah kekuatan militer yang didukung secara resmi oleh Presiden Assad. Meskipun tujuan utama pembentukan SDF adalah untuk menghancurkan ISIS, namun SDF juga sering berkonflik dengan milisi-milisi seperti FSA (milisi yang didukung Turki), milisi-milisi yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda, para pemberontak Arab Nasionalis, maupun unsur-unsur dari militer Turki itu sendiri.



Unit YPJ diisi oleh para milisi perempuan dan merupakan salah satu kekuatan 
penting bagi SDF secara keseluruhan. Gambar diatas merupakan
milisi perempuan yang sedang latihan menembak di Kota Qamishli pada 2014





          SDF berhasil memukul mundur ISIS dari kota-kota strategis Suriah seperti Al-Hawl, Shaddadi, Shaddadi, Tishrin Dam, Manbij, Al-Tabqah, Tabqa Dam, Baath Dam, serta kota yang dulu sempat menjadi basis pertahanan ISIS yakni Raqqa. Sejak bulan Maret 2019, SDF secara resmi mengumumkan kepada publik bahwa ISIS telah kalah secara telak dan beberapa kota-kota yang dulunya pernah dikuasai ISIS kini diambil alih oleh mereka. Kota terakhir yang berhasil diambil alih SDF ialah Baghuz. Meskipun demikian SDF juga paham bahwa kekalahan telak ISIS di Suriah bukanlah semata-mata kontribusi mereka, tapi juga berkat bantuan gempuran dari Tentara Nasional Suriah (SAA), bantuan gempuran udara Rusia, maupun keterlibatan intelijen terbatas dari Amerika Serikat, serta beberapa kelompok milisi lokal yang memang dibentuk untuk menggempur ISIS.

          Apakah dengan kekalahan ISIS, SDF sekarang dapat bernafas lega? Tampaknya tidak. Ancaman sesungguhnya bagi SDF ialah Turki. Turki dianggap adalah musuh terbesar SDF. Sejak pembentukan SDF pada 11 Oktober 2015, SDF bertekad untuk benar-benar menghapuskan pengaruh politik dan milisi-milisi lokal yang didukung Turki di Suriah. Sejak SDF merupakan unit militer dengan mayoritas etnis Kurdi, dan fakta historis bahwa Turki sangat membenci etnis Kurdi dan bahkan menyebut mereka sebagai teroris, membukakan mata kita bahwa unit ini dibentuk memang untuk  menetralisir kekuatan-kekuatan Turki di Suriah, baik secara politik maupun militer.

          SDF beroperasi di sekitar wilayah otonomi di bagian Utara maupun Timur Suriah. Didalam SDF sendiri terbagi dua aliansi yakni YPG yang merupakan unit utama yang dibentuk di tahun 2011 dan dikenal sebagai unit yang bertempur dan mengalahkan ISIS dalam Pertempuran Kobani tahun 2015, serta unsur YPJ (Women’s Defense Units) yang mana anggotanya merupakan milisi wanita yang diperkirakan saat ini memiliki kekuatan sekitar 24.000 personel (statistik Agustus 2017). Baik unit YPG maupun YPJ sudah menorehkan banyak keberhasilan di medan pertempuran Suriah, bergabungnya dua kekuatan tersebut memberikan kekuatan personel yang besar atas SDF. Kedua unit yang saat ini melebur ke dalam SDF itu juga telah banyak menerima milisi sukarelawan yang berasal dari luar wilayahnya seperti Eropa bahkan AS. Unsur-unsur lain yang ada didalam SDF ialah milisi Al-Sanadid, MFS (organisasi militer etnis Assiria/Syriac), Liwa Tuwwar Ar-Raqqa (milisi lokal Raqqa), Jaysh Al-Thuwar (Army of Revolutionaries), dan beberapa brigade Al-Jazira.



FAKTA FAKTA TERKAIT SDF:
·       (2014) Rehana, seorang milisi perempuan di unit militer YPJ, menjadi bahan perbincangan di internet karena memposting gambar dirinya mengumumkan kemenangan di Twitter. Di postingan itu Rehana mengklaim bahwa dirinya telah membunuh lebih dari seratus teroris ISIS seorang diri.

·   Pada 12 Oktober 2015, Pentagon mengkonfirmasi kebenaran tentang pesawat AS C-17 yang membawa bantuan melalui udara berupa 45 ton persenjataan dan amunisi yang disebar di wilayah yang dikuasai SDF. Juru bicara SDF menyatakan bahwa bantuan tersebut berupa senapan tempur, mortar, dan amunisi, namun tidak ada senjata Anti-Tank maupun Anti-pesawat

·     Turki pada 2016, telah diketahui mencoba menciptakan kegaduhan didalam internal SDF dengan memprovokasi isu-isu antar etnis di antara sesama personel SDF. Namun bentuk-bentuk provokasi Turki tersebut gagal karena banyak anggota SDF yang tidak keberatan dengan keberagaman etnis yang ada didalam SDF.

·      Pada pertempuran tahun 2016 di Raqqa Utara dimana banyak kelompok milisi bergabung dengan SDF menjadi satu aliansi demi menggempur ISIS, Pasukan khusus AS tertangkap kamera kedapatan bertempur bersama SDF. Mereka membantu mengkoordinasi titik sasaran serangan pesawat tempur. Mereka juga mengenakan logo YPG sebagai kamuflase

·   Pada akhir Januari 2017, SDF menerima kendaraan tempur APC yang diproduksi oleh pabrikan militer Inggris ArmorGroup serta bantuan suplai dari AS

·   Pada 15 November 2017, Talal Silo, Juru bicara SDF, menyerahkan diri dan bergabung dengan militer Turki. Alasan kepergiannya hingga sekarang masih misterius

·  Pada 20 Desember 2017, Hussam Awak, mantan Komandan SDF, mengumumkan pengunduran dirinya melalui halaman Facebook tanpa alasan yang jelas

·     Pada 13 Januari 2018, Koalisi Gabungan AS melatih grup yang bernama BSF (Syrian Border Security Force). AS menyatakan akan membesarkan kekuatan BSF hingga mencapai 30.000 personel. Setengah dari kekuatan tersebut berasal dari personel SDF

·    Pada awal Juni 2018, Brigade Pembebasan Idlib-Afrin dibentuk, bersama dengan Brigade Revolutionaries Idlib

·   Pada 23 Maret 2019, SDG mengumumkan telah menguasai kota terakhir yang dikuasai ISIS, yakni Baghuz




Di dunia maya beredar foto dan video Pasukan Khusus AS sedang bertempur
bersama SDF dalam operasi militer melawan ISIS dalam pertempuran Manbij
2016. Menteri Pertahanan AS kemudian mengkonfirmasi kebenaran foto tersebut
dan menyebut bahwa kehadiran pasukan AS disana juga untuk menangkal
serangan Turki terhadap SDF. Erdogan pun berang dengan keberadaan pasukan AS
disana apalagi mengenakan seragam dan logo YPG. Erdogan menyebut SDF
masih memiliki kaitan dengan PKK, kelompok militan Kurdi yang ia sebut
sebagai kelompok teroris

Saturday, 8 October 2016

Konflik India-Pakistan

          


  Gambaran peta konflik India-Pakistan di wilayah Kashmir serta presentasi kekuatan militer di perbatasan. Kashmir ditunjukkan dengan wilayah berwarna merah (dimana tensi sering memanas), serta wilayah berwarna merah muda dimana bagian utara ditempati pasukan Pakistan, serta bagian timur Kashmir yang diklaim oleh Cina. Konflik perbatasan dua negara India-Pakistan dan aksi inflitrasi sering dilakukan, terutama oleh militer pakistan serta pasukan sipil pemberontak anti-india yang disebut juga pasukan paramiliter sipil.




            India dan Pakistan adalah dua negara yang dari dulu hingga sekarang selalu terlibat konflik bersenjata, terutama di perbatasan. Sejak kesepakatan partisi British India tahun 1947 serta pembentukan negara India dan Pakistan, kedua negara di Asia Selatan ini hingga sekarang sudah terlibat dalam empat kali perang, termasuk satu perang tak resmi (undeclared war), berbagai aksi baku tembak yang terjadi random di perbatasan, serta penyusupan dan penyerangan markas-markas militer, baik yang dilakukan India, maupun Pakistan.



Juli 1997, Srinagar, Kashmir. Dalam foto terlihat para anggota pasukan khusus India "Victor Force" menunjukkan tujuh jasad para militan Pakistan yang berhasil mereka tumbangkan saat terjadi baku tembak di pegunungan Pir Panjal yang memisahkan wilayah India dan Pakistan. Tiga militan yang tewas berasal dari Pakistan, 3 lainnya Afghanistan, serta satu orang diketahui adalah penduduk lokal Kashmir. Aksi infiltrasi sering dilakukan Pakistan di wilayah Kashmir sebagai upaya melawan dominasi India.




Dalam foto terlihat tentara India menembakkan artileri medan kaliber 155mm untuk menghalau pergerakan besar-besaran dari para infiltran Pakistan.  Insiden ini adalah bagian dari Perang Kargil tahun 1999 dimana terjadi di garis LOC (Line of Control) India. Saat itu banyak dari tentara Pakistan melakukan penyusupan terhadap posisi-posisi militer India di Kashmir, dengan dibantu para militan lokal Kashmir. Walaupun Pakistan menyalahkan insiden kepada militan Kashmir, namun dokumen-dokumen para penyusup di lapangan membuktikan bahwa Pakistan sangat terlibat dalam infiltrasi serta merupakan dalang dibalik insiden tersebut.




Jika melihat ke belakang, isu Kashmir adalah salah satu penyebab utama mengapa kedua negara ini sering tak akur, sampai saat ini, secara langsung atau tidak langsung, isu Kashmir ini menjadi penyebab terjadinya banyak aksi konflik antara kedua negara. Kashmir merupakan wilayah kontroversial bagi kedua negara sejak 1947. Cina pada waktu itu pun tidak memiliki pengaruh kuat atas wilayah tersebut. Di wilayah Kashmir, India dan Pakistan tercatat pernah berkonflik tiga kali yakni pada Perang India-Pakistani 1947 dan 1965, termasuk Perang Kargil. India sendiri pada tahun 2010 lalu, mengklaim bahwa mereka memiliki 43% hak wilayah atas Jammu-Kashmir. Pakistan juga mengklaim bahwa mereka berhak atas 37% wilayah Kashmir, yang mereka sebut Azad Kashmir dan Gilgit-Baltistan.
            Menarik mencermati konflik India-Pakistan. Sebelum pecah konflik 1965, Pakistan terlebih dulu berbuat ulah dengan melancarkan Operasi Gibraltar, yakni suatu operasi militer senyap Pakistan yang dilancarkan untuk menyusup ke wilayah Jammu-Kashmir. Operasi bertujuan untuk membuat kekacauan dan melawan dominasi India terhadap wilayah tersebut. Pakistan berharap operasi berjalan lancar, tetapi operasi militer itu mengalami kegagalan. Saat itu, Agustus 1965, sekitar 26.000 hingga 33.000 Pasukan tentara Pakistan Azad-Kashmir, menyamar sebagai warga lokal Kashmir, kemudian menyusup ke Jammu-Kashmir dengan tujuan membuat pemberontakan terhadap India. Hal itu dilakukan seolah-olah agar tampak seperti warga lokal Kashmir lah yang memang menentang dominasi India, padahal ada aktor lain didalamnya. Namun akibat dari koordinasi yang buruk, belum sempat melancarkan aksi propagandanya, para penyusup yang berasal dari Pakistan itu pun dengan cepat diketahui. 
            Akibatnya, India marah bukan main dan dengan segera melancarkan perang skala-penuh di wilayah Pakistan Barat. Perang 17 hari itu menyebabkan ratusan nyawa melayang di kedua pihak dan menjadi perang terbesar antara India-Pakistan yang menggunakan kendaraan armor serta tank-tank besar yang terjadi sejak Perang Dunia II. Konflik kedua negara berhenti setelah keluarnya mandat PBB yang disusul oleh gencatan senjata yang diusulkan baik oleh Uni Soviet maupun Amerika Serikat. Perang singkat itu menjadi perang terbesar, setelah perang modern terbaru India-Pakistan di tahun 2001-2002.
Bagaimanapun juga, perang sengit di perbatasan India-Pakistan tahun 1965 membuat India mengetahui bahwa kekuatan militer Pakistan sangat rapuh. Standar kecakapan militer Pakistan jauh dari standar militer, petinggi-petinggi militer Pakistan kurang berpengalaman dan kurang terlatih, rantai komando kurang baik dan pembinaan prajurit kurang profesional, serta militer Pakistan kurang mumpuni dalam hal intelijen serta lemahnya prosedur pengumpulan informasi lawan. Itulah mengapa karena kurang koordinasi dan tidak paham taktik penyusupan yang benar, maka berakibat fatal dengan Pakistan yang mengalami kegagalan pertama dalam Operasi Gibraltar.
            Setelah perang berakhir kedua negara ngotot mengklaim kemenangan. Tapi dari operasi penyusupan Pakistan ke Kashmir hingga pertempuran awal di perbatasan Barat Pakistan, dengan mudah kita dapat menyimpulkan bahwa India lah pemenangnya yang disebabkan dua hal; operasi senyap yang gagal, yang mengindikasikan bahwa Pakistan kalah sebelum berperang. Yang kedua, kalah dalam perang 17 hari dimana India lebih unggul diatas Pakistan. Dunia kemudian dapat melihat bahwa Pakistan mengalami kekalahan telak baik kekalahan politik maupun kekalahan taktik militer. Dalam ranah internasional, Pakistan juga gagal atau tidak memiliki pengaruh kuat di berbagai lobi internasional, maupun tidak juga mendapat dukungan atau berusaha mencari dukungan dari banyak negara.





Ritual berdoa yang dilakukan tentara Pakistan yang mayoritas adalah muslim, detik-detik sebelum mereka melakukan infiltrasi terhadap wilayah Kashmir Selatan yang diduduki India. Biasanya mereka melakukan baku tembak terhadap tentara India, atau menghancurkan pos-pos dan markas militer India. 





Militer India juga berusaha meningkatkan kemampuan tempur prajuritnya dalam melawan infiltrasi tentara atau militan Pakistan untuk menjaga dominasi mereka terhadap wilayah Kashmir Selatan. Foto ini menunjukkan tentara AD India usai sesi latihan di base kamp Siachen pada 19 Juli 2011. Dimana sebagian besar pegunungan dan medan disana dingin dan bersalju. India meningkatkan kemampuan survival combat militer mereka di hawa ekstrem bersalju. Latihan diajarkan mulai dari mendaki medan terjal, memanjat tebing tinggi glacier es, latihan menembak, dan bertahan hidup dalam cuaca ekstrem.




            Jika membandingkan kekuatan India-Pakistan secara head-to-head, maka, menurut situs Global Military Power, India jelas unggul dengan menempati peringkat 4 militer terbaik di dunia, sedangkan Pakistan di peringkat 13 (data tahun 2016). Dalam segi kuantitas, India menang segalanya, memiliki personel militer aktif sebanyak 1.325.000 dibandingkan Pakistan yang hanya 620.000. India juga menang dalam kuantitas pesawat fighter (679), tank (6.464), Artileri medan jenis Towed Artillery (7.414), Artileri MLRS (292), kapal selam (14), dan Kapal Induk Aircraft Carrier (2). Sedangkan Pakistan memiliki pesawat fighter sebanyak 304 unit, tank 2.924 unit, Towed artileri 3.278, MLRS 134 unit, kapal selam 5, serta tidak memiliki Kapal Induk Aircraft Carrier.
Meskipun India begitu di atas angin, Pakistan sangat serius menggunakan senjata andalan mereka, yakni senjata nuklir apabila memang India bersikeras masuk ke wilayah Pakistan dan menguasai wilayah mereka. Pakistan menganggap bahwa India boleh saja kuat di darat, laut, dan udara, tetapi jika India sudah masuk dan menguasai lebih dari 50% wilayah Pakistan, maka Pakistan tidak akan segan untuk meluncurkan perangkat nuklir mereka dan meluluhlantahkan 1 milyar lebih penduduk India yang tentu akan memakan korban jiwa puluhan kali lipat dibandingkan korban jiwa di pihak Pakistan. Ibaratnya korban jiwa akibat nuklir Pakistan itu tentu akan meruntuhkan moral India sekaligus membuat India harus segera angkat kaki dari Pakistan. Apalagi di kota-kota India penduduknya terkonsentrasi, padat, dan merupakan kawasan kumuh perkotaan, yang tentu akan membawa dampak kehancuran yang signifikan. Itu adalah skenario terburuk yang telah dipikirkan matang-matang oleh Pakistan. jika India yang menang dalam taktik dan kuantitas, memaksa masuk dan menginvasi Pakistan, agar tidak kehilangan muka akibat, Pakistan harus memastikan bahwa India harus membayar mahal invasi tersebut. Caranya? Menghancurkan India melalui senjata nuklir. Negara Pakistan boleh saja kalah dalam invasi besar India, tetapi dalam pandangan Pakistan, India juga harus kalah, tetapi melalui senjata nuklir. Oleh sebab itu India kini menghadapi dilema dan lebih beroperasi melalui taktik infiltrasi dan sabotase senyap ke dalam wilayah Pakistan, dibandingkan memaksa memakai perang terbuka secara langsung yang tidak menutup kemungkinan akan pecahnya perang nuklir. Perang Kargil tahun 1999 adalah salah satu contoh perang India-Pakistan yang berdarah-darah yang sangat dekat ke arah perang nuklir.




Tidak semua warga lokal Kashmir  mendukung India. Banyak dari mereka menolak pendudukan dan keberadaan  polisi/tentara India di Kashmir. Mereka yang menentang India, tidak terlibat dalam pemilu, atau mereka yang bersekutu dengan Pakistan, biasanya mendapatkan "Street Justice" (keadian jalanan/aksi main hakim) yang dilakukan oleh polisi India. Bahkan jika warga lokal Kashmir teridentifikasi sebagai mata-mata Pakistan, maka akan menjalani sanksi yang cukup berat.




Jika perang terjadi lagi di masa depan, bisa jadi perang yang terbatas (Limited War) atau operasi senyap (Covert Ops). Karena perang banyak menguras tenaga, anggaran, serta bahan bakar, dan amunisi. Jika perang berlangsung lama, India jelas lebih diunggulkan terutama jika perang terjadi di lautan karena India sewaktu-waktu dapat memblokade pelabuhan-pelabuhan laut Pakistan. Pakistan juga tidak memiliki pasokan energi yang cukup untuk meladeni perang berlarut dengan India dimana Pakistan mengimpor 83% kebutuhan bahan bakar konsumsi minyak. Perang sekecil apapun bagi Pakistan, sangat berdampak pada kehancuran ekonomi negara itu. Kemenangan sumber daya energi dan sumber daya manusia jelas membuat India menang. Kemenangan ketahanan ekonomi dan energi jelas merupakan suatu jenis cara kemenangan yang ampuh untuk mengakhiri perang tanpa kedua pihak menggunakan senjata nuklir.
India juga memiliki dua Kapal Induk. Diresmikan pada November 2013, INS Vikramaditya merupakan kapal induk modern terbaru milik AL India. Jika sewaktu-waktu terjadi perang lagi, Vikramaditya dapat memimpin suatu operasi maritim “pembersihan” terhadap kapal-kapal Angkatan Laut Pakistan. Bagi Pakistan, mimpi buruknya adalah jika Kapal Induk Vikramaditya kemudian diparkir di pelabuhan Karachi, yaitu pelabuhan besar Pakistan, yang membuat Pakistan tidak berdaya dalam pasokan atau transportasi lautnya.
Vikramaditya sejatinya merupakan Cruiser pesawat anti-kapal selam milik AL Soviet. Setelah Uni Soviet tidak mampu mengoperasikannya di tahun 1996 pasca Perang Dingin, pada tahun 2004 India kemudian membeli kapal tersebut. Setelah dibeli, para teknisi kapal Rusia melakukan upgrade terhadap kapal lalu membuatnya menjadi kapal induk Aircraft Carrier, lengkap dengan dek landasan bagi pesawat tempur. Upgrade itu sendiri termasuk menghapus semua elemen cruiser, termasuk dua senjata-dek caliber 100mm, 192 SA-N-9 misil permukaan-ke-udara, dan 12 unit SS-N-12 misil anti-kapal permukaan. Vikramaditya memiliki panjang 282 meter dan berbobot 44.000 ton. Vikramaditya juga dilengkapi kemampuan dominasi anti-perang udara, anti-permukaan, anti-kapal, dan anti-kapal selam. Kapal Induk dapat mengangkut 24 unit Mig-29K atau bisa juga diisi pesawat multi-role Tejas, serta dapat mengangkut 10 heli anti-kapal selam. India juga telah memesan 45 MiG-29Ks, dengan Skuadron pertama 303 Black Panthers Squadron, yang diresmikan pada Mei 2013 silam. Lain lagi dengan saudaranya, INS Chakra. Jika INS Vikramaditya dianggap sebagai simbol keunggulan taktik blokade laut AL India, Chakra merupakan “petarung laut sejati” India yang merupakan bagian dari 14 unit kapal selam serang milik India. Jika INS Vikramaditya adalah Kapal Induk, INS Chakra merupakan kapal selam besar bertenaga nuklir Akula kelas II. Dari 14 kapal selam yang dimiliki India, INS Chakra merupakan “Mothership of All Submarines”. INS Chakra dapat melakukan beragam operasi maritim. Chakra jelas merupakan mimpi buruk bagi AL Pakistan karena ia dapat juga melakukan aktivitas pengintaian atau operasi senyap, serta dapat digunakan untuk menempatkan ranjau laut di sekitar perairan Pakistan yang merupakan ancaman bagi kapal-kapal yang lalu-lalang di sekitar pelabuhan.
Terkait masalah operasi inflitrasi dan sabotase, Pakistan pernah melalukannya pada 7 September 1965 setelah insiden tertangkap basahnya sekitar 30.000 penyusup asal Pakistan di Kashmir. Saat itu, Pakistan langsung menerjunkan SSG (Special Services Group), sebuah pasukan elite Pakistan, diterjunkan sekaligus melalui parasut ke dalam wilayah musuh. Sebanyak 135 pasukan komando SSG diterunkan di tiga lokasi markas militer AU India yakni Halwara, Pathankot, dan Adampur. Meski Pakistan mengaku bahwa mereka menerjunkan pasukan elite terhebat mereka, tetap saja, penerjunan tanpa taktik lanjutan itu menjadi bencana bagi Pakistan. Dari sebanyak 135 pasukan yang disusupkan di wilayah musuh, hanya 22 prajurit komando yang berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Pakistan, 93 lainnya tertangkap musuh, termasuk komandan operasi Mayor Khalid Butt. Sedangkan 20 prajurit komando SSG lainnya tewas dalam baku tembak dengan tentara, maupun polisi India. Lagi-lagi, Pakistan tidak pernah mau belajar dari kesalahan Operasi Gibraltar dimana koordinasi dan taktik di lapangan tidak pernah berjalan sempurna. Faktor kegagalan misi pasukan komando Pakistan yakni kegagalan mereka dalam membaca dan menganalisa peta dengan baik, briefing yang sangat buruk, serta persiapan yang asal jadi. Padahal pasukan elite yang berkualifikasi komando sejatinya sudah dapat melahap habis musuh dengan taktik dan koordinasi yang baik, senyap dan mematikan, mampu membaca map dengan baik, dan dapat melakukan infiltrasi serta sabotase di dalam wilayah musuh. Entah apa yang ada di benak mereka, dimana Pakistan selalu mengalami kegagalan dalam setiap operasi militer mereka. Meski operasi penyusupan pasukan komando gagal total, Pakistan lagi-lagi mengklaim bahwa mereka lah yang menang. Sumber-sumber dari otoritas Pakistan mengatakan bahwa misi komando mereka telah menghancurkan beberapa rencana operasi militer India, dalam hal ini menghancurkan mobil-mobil militer India.



Pasukan SSG Pakistan adalah pasukan komando elite Pakistan berkekuatan 8 batalion (5.600 personel).  Dibentuk pada 23 Maret 1956 untuk mengisi kebutuhan pasukan khusus AD Pakistan.  Setiap batalion berkekuatan 700 personel yang dipecah menjadi 4 bagian. Setiap bagian dipecah lagi ke dalam platon-platon serta tim kecil lain yang berkekuatan 10 personel. Setiap batalion berada dibawah komando Letnan Kolonel.





Walaupun fakta di lapangan menunjukkan bahwa komando SSG Pakistan berhasil mengalihkan perhatian pasukan India dari Divisi Infanteri ke-14, saat tentara India Divisi ke-14 berhasil teralihkan, Pakistan melalui udara membombardir jalanan yang menghancurkan mobil-mobil transportasi, serta menghancurkan banyak mobil-mobil tentara India. Saat penyusupan pasukan komando Pakistan berlangsung, India mengumumkan kepada publik dengan segera bahwa pemerintah India akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang menangkap mata-mata Pakistan, maupun menangkap pasukan komando SSG. Sedangkan pada saat bersamaan, rumor beredar di Pakistan bahwa India juga sedang melakukan operasi senyap mereka dengan menerjunkan pasukan khusus mereka ke dalam wilayah Pakistan. Walaupun rumor ini kemudian tidak terbukti kebenarannya.
Pada Mei 2002, Kamp militer di Kaluchack, lokasi dekat Jammu, juga diserang. Penyusup bersenjata menyerang kamp dan membunuh 31 orang, 18 diantaranya merupakan sanak keluarga dari anggota militer India. Gedung Parlemen India Kaluchak juga diserang kelompok bersenjata. Setelah serangan, India memperkuat keamanan perbatasan terhadap segala aksi penyusupan dan penyerangan Pakistan. India menempatkan banyak tentara mereka di sepanjang perbatasan dan garis LOC. Jumlah tentara India yang ditempatkan di perbatasan India-Pakistan meningkat drastis setelah insiden penyerangan pada Desember 2001 di Gedung Parlemen, serta insiden tahun 2002 saat penyerangan Kaluchak.
Yang terbaru adalah aksi penyusupan di J-K (Jammu-Kashmir) pada 18 September 2016 kemarin dimana 18 tentara India tewas dan sebanyak 20 tentara lainnya terluka dalam penyerangan di Kamp militer India di Uri. Kamp militer tersebut merupakan markas sementara tentara India dan lokasi kamp berdekatan dengan garis batas “aman” Line of Control (LOC) antara India dan Pakistan. Line of Control itu dibuat dalam rangka mencegah adanya aksi penyusupan dan sabotase dari kedua belah pihak, serta untuk mencegah agresi militer lanjutan. Tidak ada kelompok dari pihak Pakistan yang mengklaim bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Namun militer India menduga bahwa serangan dilakukan oleh kelompok teroris Jaish-e-Mohammed Pakistan yang diketahui diketahui bahwa kelompok tersebut dibekingi oleh intelijen Pakistan ISI. Empat orang penyusup yang menyerang Kamp berhasil ditembak mati pasukan India. Empat orang itu juga membawa artikel dan persenjataan yang diketahui berasal dari Pakistan.















 Ilustrasi kartun  dari kartunis NEELABHTOONS yang menggambarkan  konflik India-Pakistan. Walaupun dalam foto ini tidak netral dan jelas terselip pesan  propaganda didalamnya.




Pakistan juga terkenal dengan banyaknya aksi serangan teror di sekolah-sekolah yang biasanya dilakukan teroris Taliban. Contohnya pada 16 Desember 2014, dimana 7 orang pelaku teror TTP (Tehrik-i-Taliban), kelompok teroris afiliasi Taliban, melakukan aksi teror di Army Public School, atau sekolah publik yang dikelola Angkatan Darat, di Kota Peshawar. Diantara para militan itu, ternyata kebanyakan berasal dari luar Pakistan, termasuk satu orang Chechnya, 3 orang Arab, serta 2 pelaku berasal dari Afghanistan. Mereka menggerebek sekolah dan membunuh 141 orang termasuk 132 anak sekolah yang berusia antara 8 hingga 18 tahun. Pasukan komando SSG kemudian berhasil melakukan operasi pembebasan yang berhasil membunuh semua teroris dan menyelamatkan 960 sandera.














Saturday, 23 January 2016

Hari-hari Indonesia di mata CIA (G30S-PKI)

HARI-HARI INDONESIA DI MATA CIA

Sebanyak 2.500 dokumen briefing harian Presiden Amerika Serikat dipublikasikan CIA. Periode September-Desember 1965 menggambarkan panas-dingin hubungan diplomatik Indonesia-Amerika.
“Semua tergantung kondisi Soekarno. Bila ia meninggal atau tidak mampu memerintah, bisa pecah perang sipil…”
Kalimat tersebut merupakan cuplikan dari briefing harian Presiden (PDB – President’s Daily Briefing) Amerika Serikat pada 1 Oktober 1965. Briefing yang rutin dikirim tiap pagi oleh Agen Pusat Intelijen (CIA) itu menjelaskan kondisi Indonesia pasca-penculikan sejumlah jenderal Angkatan Darat yang terjadi malam sebelumnya.
Peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G-30-S/PKI) itu menurut PDB, adalah peristiwa tarik-menarik kekuasaan antara kelompok militer-komunis dan pimpinan militer anti-komunis. Upaya kudeta oleh kelompok militer-komunis pagi itu dibalas dengan kontra-kudeta oleh kelompok anti-komunis. “Situasi saat ini membingungkan dan belum jelas ke mana arahnya. Kedua belah pihak mengklaim loyal pada Presiden, dan mereka semua menyatakan akan melindunginya,” demikian bunyi briefing itu lebih lanjut.
Lima puluh tahun setelah peristiwa G-30S/PKI terjadi, Pemerintah AS mempublikasikan 2.500 dokumen PDB, yang merupakan ikhtisar harian laporan intelijen CIA kepada Presiden AS. “Ini pertama kalinya CIA mendeklasifikasikan dokumen sebanyak ini,” kata Direktur CIA, John Brennan, di Austin, Texas. Ke 2.500-an PDB itu terentang dari masa Pemerintahan Presiden John Fitzgerald Kennedy (Juni 1961-22 November 1963) sampai Lyndon B.Johnson (22 November 1963-20 Januari 1969).
Dalam pidato peluncuran PDB itu, Brennan menyatakan, briefing harian Presiden merupakan dokumen paling rahasia dan sensitif di pemerintahan. Karena, menurutnya, briefing itu mewakili dialog harian komunitas intelijen dengan Presiden selaku pengguna mereka, dan juga menjadi bahan pertimbangan penting dalam menjawab tantangan serta berbagai peluang terkait dengan keamanan nasional mereka.
Tradisi briefing harian kepada Presiden, kata Brennan, bermula saat Presiden Kennedy berkantor di Gedung Putih. Di masa awal pemerintahannya, ia sering merasa kerepotan dengan rumitnya dan banyaknya laporan intelijen yang masuk. Oleh karena itu, Robert Kennedy yang menjabat Kepala Staf Kepresidenan meminta CIA untuk membuat laporan singkat tentang topik-topik penting yang harus diketahui Presiden. Penjelasan untuk masing-masing topik tidak boleh lebih dari dua kalimat, dan harus dibuat dengan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti.
Awalnya, dokumen briefing itu dikenal dengan sebutan Pickie, kependekan dari President’s Intelligence Checklists. “Ide ini ternyata sangat sukses, dan terus dipertahankan sampai sekarang,” kata Brennan. Bila dulu Pickie dan PDB dimuat dalam bentuk beberapa lembar kertas dibungkus sampul cokelat, kini PDB untuk Obama bisa berbentuk laporan di iPad dengan tautan untuk lampiran-lampirannya.
Isi PDB bisa sangat beragam, tergantung minat sang Presiden dan beberapa hal penting menurut CIA. Topik-topik yang dituliskan mulai dari terorisme, kelaparan, hingga perang. Atau ada juga laporan tentang respon Rusia terhadap penampilan kelompok Ballet New York di Moskow. Bahkan, ada juga analisis mengenai respon publik terhadap New York Yankees yang memecat Yogi Berra. “Kalau zaman Kennedy dulu, laporan biasanya berisi perkembangan dunia, komunisme, Kuba, hingga Nikita Kruschev,” kata Brennan.
Semua informasi yang disampaikan dalam PDB itu diklasifikasikan sebagai top secret. Walau sebenarnya, menurut Brennan, ada beberapa info yang sumbernya tidak terlalu rahasia-rahasia amat. Misalnya, dari laporan diplomatik rutin, bahkan dari pemberitaan media massa. “Labelisasi itu untuk menyederhanakan Presiden saat membacanya,” ia beralasan.
Bisa dibilang PDB merupakan analisis intelijen yang aktual dengan perkembangan isu di masanya, atau menyesuaikan dengan minat Presiden AS. Dan dari 2.500 dokumen PDB yang dipublikasikan, tercermin adanya perhatian lebih yang dialokasikan Pemerintah AS terhadap komunisme, perjuangan kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika, dan juga Indonesia.
Sejak awal September 1965, hampir tiap hari ada laporan tentang Indonesia disana. Secara garis besar, pembahasan tentang Indonesia itu berkutat pada pemerintahan Soekarno yang anti-Barat, pergulatan internal di militer Indonesia, serta kegagalan Partai Komunis Indonesia dalam merebut kekuasaan.
“Bisa terlihat penilaian AS terhadap melemahnya pengaruh Presiden Soekarno, dan makin menguatnya posisi Soeharto,” kata sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, ketika berkunjung ke kantor GATRA. Hal itu bisa tercermin dari PDB 24 Oktober 1965 yang mengatakan ada dua pemerintahan di Indonesia. Satu dikepalai oleh Soekarno, dan satunya lagi oleh para jenderal. “Keduanya seperti saling membutuhkan untuk mencegah pecahnya perang sipil,” demikian bunyi PDB hari itu.
Dari 2.500 PDB yang sudah dibacanya. Asvi melihat Indonesia sebenarnya menjadi topik yang muncul tiap hari, terutama sejak 14 September 1965 hingga akhir Desember 1965. Pada 14 September 1965 misalnya, pihak CIA tersinggung dengan sikap Menteri Luar Negeri Subandrio yang menjamin fasilitas diplomatik AS tidak diganggu atau dirusak massa anti-Barat. Padahal mereka (CIA/Amerika) tahu bahwa gerakan anti-Barat dan AS yang beberapa kali menyerang Konsulat Jenderal AS di Surabaya dan Medan itu dirancang sendiri di ruang belakang rumah pribadi Subandrio. “Subandrio put on one of his shameless performance…,” demikian bunyi petikan PDB tersebut.
Sejak peristiwa G-30-S, topic Indonesia dalam PDB rutin berisi tentang upaya Soekarno membela PKI sementara militer berusaha memberangus PKI dan ormas-ormasnya. Beberapa dokumen PDB yang diperoleh GATRA juga menunjukkan kedekatan personal antara beberapa petinggi militer Indonesia dan pihak AS pada saat itu. Contohnya, Mayor Jenderal Achmad Sukendro yang intens membagi informasi dengan staf Kedubes AS. Atau bahkan ada juga permintaan dari ajudan Jenderal Nasution kepada atase militer AS untuk membantunya lari dari Jakarta bila situasi tidak menguntungkan, seperti yang tertulis dalam PDB tertanggal 22 Oktober 1965.
Lebih lanjut Asvi mengingatkan, bahwa PDB September-Desember 1965 itu tidak melulu urusan politik. Ada juga selipan laporan mengenai dugaan pemerintah Indonesia akan menasionalisasi fasilitas produksi minyak milik perusahaan AS, Caltex, dan Stanvac. Lalu, dalam PDB 26 November 1965, terungkap bahwa Konjen Indonesia di Hong Kong diinstruksikan oleh TNI mengontak pejabat AS untuk memperoleh bantuan ekonomi. Dan pada 13 Desember 1965, perwakilan TNI mendekati kedubes AS untuk meminta bantuan pembiayaan impor beras dan bantuan ekonomi umum lainnya. Seorang anggota perwakilan menyatakan, Soekarno tidak mau minta bantuan dari Amerika Serikat. Tapi Soekarno akan tutup mata bila TNI diam-diam minta bantuan ke AS.
Pada periode September-Desember 1965 jugalah bisa terlihat perubahan hubungan diplomatik AS dengan Indonesia. Dari yang semula memanas lantaran sikap Soekarno terhadap Barat, sampai gelagat rekonsiliasi karena peran Soeharto dan militer yang cenderung lebih bersahabat dengan mereka (AS).


John O. Brennan - Mengawali karirnya di CIA sebagai analyst, di 
Washington D.C, menghabiskan lebih dari 25 tahun karirnya bersama agensi.
Di awal karirnya, Ia mengatakan bahwa ia mencintai aksi dan petualangan,
dan merasa bahwa berkarir di CIA merupakan pilihan yang tepat bagi
hasrat petualangannya. Selain itu Brennan menerima gelar Master of Arts dari University of Texas Austin dengan jurusan Middle Eastern Studies tahun 1980.
Brennan juga dikenal fasih dalam berbahasa Arab.





                                                                             (CAVIN R. MANUPUTTY)