.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Laboratorium dan Pengembangan Senjata rahasia. Show all posts
Showing posts with label Laboratorium dan Pengembangan Senjata rahasia. Show all posts

Saturday, 8 October 2016

Kekejaman Jepang - Eksperimen Unit 731


Unit 731 merupakan eksperimen penelitian biologis-kimia yang dulu dilakukan Tentara Imperialis Jepang. Eksperimen mengerikan dilakukan saat terjadi Perang Kedua Sino-Jepang (1937-1945) dimana saat itu Jepang menginvasi dataran utama Cina. Unit 731 bermarkas di Distrik Pingfang Harbin, kota terbesar di kota yang diduduki Cina (Manchukuo) yang sekarang menjadi bagian wilayah Cina Timur Laut.




Ketika Perang Dunia pertama berakhir pada tahun 1918, negara-negara yang semula terlibat perang dan berada di pihak yang kalah seperti negara Jerman dan Jepang, merasa menjadi korban yang paling dirugikan. Perasaan kalah itu jelas menimbulkan rasa malu dan sekaligus memunculkan ambisi untuk balas dendam. Layaknya orang yang ingin balas dendam, segala macam cara pun ditempuh meski cara tersebut bertentangan dengan rasa prikemanusiaan. Jalan pintas yang bertentangan dengan konvensi Jenewa pun dilanggar karena militer Jepang kemudian secara diam-diam mengembangkan senjata kuman dan menggunakannya di medan perang.
Pasca PD 1, Jepang langsung mengalami keterpurukan ekonomi dan untuk bangkit dari keterpurukan itu, hanya ada satu cara yang bisa ditempuh, mengobarkan kembali semangat Bushido (Samurai). Semangat Bushido yang bisa teruji lewat peperangan mau tak mau mengkondisikan Jepang menegakkan pilar militer dan dilanjutkan dengan ekspansi militer ke wilayah-wilayah terdekat. Hanya dengan cara itu perasaan inferior dan balas dendam akibat kalah perang bisa terobati. Keinginan balas dendam itu kemudian membuat baik Jepang maupun Jerman berubah menjadi negara militeristik dan siap mencaplok negara-negara tetangga. 
Jepang yang faktanya minim sumber daya alam mengalami banyak kesulitan ketika industri militer dan kebutuhan perekonomian nya sangat tergantung dari luar. Selain minim sumber daya alam, jumlah personel militer Jepang juga tidak besar sehingga ketika Jepang kemudian melakukan ekspansi, wilayah kekuasaanya pasti akan mengalami kesulitan untuk mengontrol setiap wilayah yang diduduki. Untuk menguasai wilayah jajahannya militer Jepang selalu menerapkan disiplin dan kebrutalan. Tindakan brutal diperlukan karena jumlah personel militer Jepang yang sedikit itu, harus mengontrol wilayah yang luas. Dengan tindakan brutal, diharapkan negara yang dijajah enggan untuk melakukan perlawanan. Tapi aksi kebrutalan itu dirasa tidak cukup karena hanya mampu memberikan efek jera dalam jangka pendek. Maka untuk menghemat tenaga dan mengelola wilayah jajahan dalam jangka panjang secara efektif, mulai lah muncul pemikiran ekstrem dari sejumlah tokoh militer Jepang. Salah satu solusi yang kemudian muncul tidak hanya mencerminkan kebrutalan tentara Jepang tapi senjata pemusnah massal yang dioperasikan tanpa perikemanusiaan. Sumber daya personel militer yang terbatas itu harus digantikan dengan senjata yang efektif untuk membunuh, yaitu senjata biologis.
Salah satu tokoh pioner Jepang yang kemudian ditugaskan untuk mendalami senjata biologis adalah Mayor Terunobu Hasebe bersama 40 ilmuwan lainnya. Tapi setelah setelah sekian tahun memimpin tim pembuat senjata kuman itu, perkembangan dari penelitian tim Hasebe belum menunjukkan hasil yang memuaskan sampai kemudian muncul seorang ilmuwan maniak Jepang, Ishii Shiro. Sebagai seorang dokter pendiam yang gemar meneliti organ tubuh manusia sekaligus perkembangan kuman, Shiro yang kerap membayangkan eksperimen manusia hidup merasa menemukan jalan terang.







Maka tidak aneh, Shiro yang lulus dari Kyoto University pada tahun 1920 itu memanfaatkan betul peluangnya sewaktu mendapat tawaran untuk mengembangkan kemampuan ilmunya untuk Angkatan Darat Jepang. Setelah sekitar 4 tahun bekerja untuk AD Jepang, sebagai seorang peneliti senjata biologis kemampuan Shiro dibidang ilmu bakteri ternyata sangat menonjol. Kecerdasan Shiro itu membuat AD Jepang terkagum-kagum dengan beliau sehingga memerintahkannya untuk mendalami ilmu bakteriologi di Kyoto University. Tahun 1927, Shiro yang memang cerdas dalam bidang tersebut berhasil meraih gelar Doktor (Phd) sekaligus menikahi puteri dari Torasaburo Akira yang saat itu menjabat sebagai rektor Universitas Kyoto. Tak lama kemudian Shiro yang berpangkat Kapten telah memiliki berbagai konsep temuan senjata biologis, kembali bergabung dengan militer Jepang. Kebetulan militer Jepang pada saat itu sudah bangkit kembali dan sedang semangat-semangatnya untuk menguasai negara-negara tetangga, Cina dan negara-negara lainnya di wilayah Asia Timur.
Demi kepentingan militer Jepang dan sekaligus melaksanakan misi mata-mata, Shiro kemudian diberi kesempatan untuk bertandang ke Eropa dan AS. Tujuan utama Shiro dan tim nya adalah mempelajari proyek pembuatan senjata biologis yang sedang dikembangkan Amerika Serikat, khususnya cara membuat hujan beracun, dan hujan kuning. Agar misi ini tidak menimbulkan kecurigaan, militer Jepang menyamarkan tugas rahasia Shiro dan timnya sebagai atase militer. Hanya butuh waktu 2 tahun bagi Shiro untuk malang-melintang di negara-negara Eropa dan AS. Mempelajari dan sekaligus menyerap program pengembangan senjata biologis. Sekembalinya dari Eropa dan AS, misi Shiro dan timnya yang dinilai sukses oleh militer Jepang tidak hanya membuat pangkatnya naik menjadi Mayor, tapi Shiro juga diberi keleluasaan untuk segera membangun industri senjata biologis.
Upaya Shiro untuk mendirikan industri senjata biologis ternyata mendapat tanggapan positif dari militer Jepang. Secara kebetulan tak lama setelah Shiro pulang dari Eropa, di kota Shikoku muncul wabah radang meningitis. Shiro pun membuktikan keahliannya meredam wabah meningitis dengan membangun wahana penjernihan air. Berkat keberhasilannya membereskan wabah secara efektif itu, nama Shiro semakin populer sebagai pakar bakteriologi, khususnya di kalangan militer Jepang. Jalan untuk menjadi peneliti dengan objek eksperiman berupa manusia hidup pun makin terbuka lebar.

MANCHURIA CAMPAIGN
Ambisi militer Jepang untuk menguasai negara tetangga dimulai dengan menyerbu Manchuria, Cina, pada akhir tahun 1931. Serbuan yang dilancarkan oleh pasukan Kekaisaran Dai Nippon, Kwantung Army dan dipimpin oleh Kepala Staf Kwantung Army, Jenderal Shigeru Honjo. Tidak hanya menguasai wilayah perbatasan, namun juga langsung meluas ke wilayah pedalaman Cina. Setelah sukses menguasai Cina, Jepang bahkan menguasai wilayah Indo-Cina yang saat itu menjadi wilayah jajahan Perancis, dan kemudian menguasai wilayah Korea. Akibat pendudukan wilayah jajahan itu, Jepang tidak hanya mendapat sumber daya alam tetapi juga mendapatkan ratusan ribu tawanan perang dan tenaga pekerja paksa yang berjumlah 4 juta jiwa.
Serbuan Pasukan Jepang ke Manchuria dan kawasan Indo-Cina segera memicu protes Internasional yang kemudian menjadi cikal-bakal meletusnya perang dunia ke-2 karena Jepang kemudian meluaskan kampanye militernya ke kawasan Asia Timur. Demi menghadapi ekspansi militer yang semakin meluas itulah, program senjata biologis Jepang mulai diwujudkan pada tahun 1932. Program pengembangan senjata kuman yang dipimpin langsung oleh Ishii Shiro bersama 10 ilmuwan lainnya itu bernama Laboraturium Pencegahan Epidemik dan berlokasi secara rahasia di sekolah medis militer Tokyo serta satu unit lain yang berada di desa terpencil Beinho, Harbin, Cina. Setelah program pengembangan senjata kuman berjalan, Shiro mulai tak sabar untuk mempraktekkannya secara langsung, dengan pengujian terhadap manusia hidup. Tapi jelas, tidak mungkin untuk menggunakan warga Jepang untuk melakukan eksperimen tersebut.








Untuk memenuhi kebutuhan wahana praktek berupa manusia, pada Agustus 1932 Shiro dan tim nya berkunjung ke Manchuria. Setelah kunjungan yang bersifat studi banding itu, lokasi pabrik senjata kuman di Harbin akan dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penelitian. Sementara untuk uji coba untuk manusia akan dibangun kamp rahasia di sepanjang sungai Pelvin, yang berjarak sekitar 20km dari Harbin. Agar tidak mengundang kecurigaan warga di sekitar lokasi, Shiro sengaja menyamarkan pabrik senjata kuman dan lokasi uji coba nya sebagai Kamo Unit atau Kadang-kadang Togo Unit. Setelah kedua fasilitas yang nantinya akan menjadi neraka bagi para tawanan Jepang itu didirikan, Shiro yang mendapat banyak sekali dukungan dari kalangan pejabat tinggi militer Jepang itu, kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel. Anggaran untuk Kamo Unit pun dinaikkan secara drastis, menjadi 200,000 Yen per-tahun nya.
Di bawah Shiro yang sangat ambisius dan berdarah dingin, program pengembangan senjata biologis di Kamo Unit berkembang pesat. Kaisar Hiroshito pun turut mendukung program pengembangan senjata biologis yang dipimpin Shiro dan memerintahkan untuk membangun dua unit lainnya. Hiroshito turut antusias karena menurut pemahamannya secara pribadi, program pengembangan senjata biologis akan mendukung tingkat kesehatan bagi warganya dan bukan digunakan untuk berperang. Unit pertama yang kemudian dibangun kemudian disamarkan sebagai wahana pencegahan penyakit dan pemurnian air untuk kepentingan militer, Epidemic Prevention and Water Purification Department of the Kuantung Army yang pada awal PD II namanya diubah menjadi Unit 731.



MENYERANG AMERIKA SERIKAT

Protes yang dilontarkan AS kepada Jepang terkait masalah penggunaan senjata biologis ternyata sama sekali tidak digubris oleh Jepang. Pasukan Jepang yang merasa kewalahan ketika Pasukan AS akhirnya diterjunkan di PD II justru membuat Jepang berencana melancarkan serangan senjata biologis, dengan sasaran tepat ke daratan Amerika Serikat. Peralatan untuk melancarkan serangan senjata biologis bahkan sudah dibuat seperti ribuan balon berisi senjata kuman yang langsung dijatuhkan di atas udara kota San Diego, Amerika Serikat. Menurut para petinggi militer Jepang, balon yang akan diterbangkan ke AS memuat peranti untuk perang biologis dan dapat memunculkan wabah anthrax di seluruh wilayah Amerika Serikat. Sesuai rencana, balon terbang yang berisi senjata biologis itu dijatuhkan di wilayah pertanian dan peternakan dan wilayah-wilayah AS yang menjadi target utama serangan. Wilayah yang membentang di sepanjang Oregon hingga Michigan. Namun dalam uji coba nya, serangan tersebut sempat membunuh 7 orang warga negara AS, dan ternyata kurang efektif sehingga pelaksanaan nya ditunda.
Sementara serangan bom kuman yang diangkut pesawat kamikaze terlebih dahulu dikapalkan menggunakan kapal selam pengangkut pesawat. Ketika perjalanan kapal selam sudah mendekati pantai AS, kapal selam muncul untuk menerbangkan pesawat pengangkut bom kuman, khususnya bakteri pes yang akan dijatuhkan di kawasan California. Serangan menggunakan kapal selam pengangkut pesawat itu sebenarnya sempat digelar oleh unit 731 dalam operasi rahasia bersandi 'Cherry Blossoms at Night' dengan target wilayah California Selatan dan San Diego. Namun ketika kapal selam sedang berlayar menuju AS, PD II ternyata telah berakhir.
Para awak kapal sendiri mendengar tentang momen penyerahan Jepang kepada sekutu melalui radio. Semula para awak kapal selam tidak percaya dan menganggap penyerahan tersebut hanyalah propaganda semata yang dilancarkan AS. Namun ketika pengumuman penyerahan Jepang kepada sekutu dibacakan langsung oleh Kaisar Hirohito, komandan kapal selam lalu memerintahkan untuk membatalkan operasi tersebut lalu kembali ke Jepang. Kapal selam tersebut kemudian berhasil dipergoki oleh patroli kapal perang AS dan selanjutnya diamankan di pangkalan Angkatan Laut Amerika yang berada di Yokohama, Jepang. Namun yang belum diketahui oleh Amerika adalah, ketika pasukan Jepang ditarik mundur dari Cina, unit 731 sempat melepaskan hewan-hewan yang pernah dijadikan kelinci percobaan dari eksperimen senjata biologis di sekitar wilayah Harbin. Akibat wabah berbagai penyakit yang menyebar dari tahun 1946 hingga 1948 itu, sebanyak 30,000 orang tewas. Wabah penyakit menular itu bahkan sempat meluas dan menyebar hingga ke wilayah Soviet.

Menyadari bahwa ancaman senjata biologis yang dimiliki Jepang demikian berbahayanya, maka sewaktu pasukan AS memutuskan mendarat di Jepang usai penyerahan diri Jepang, AS jadi bersikap sangat hati-hati. Satu minggu setelah Jepang menyerah kepada sekutu, unit Pasukan AS yang mendarat pertama kali di Jepang adalah unit yang dipimpin oleh Kolonel Sanders dan misi utama nya adalah melokalisasi pabrik pembuatan dan pengembangan senjata kuman. AS lalu menemukan Ishii Shiro yang pada akhir PD II telah berpangkat Letnan Jenderal. Sejumlah pejabat tinggi yang pernah bertugas dalam unit 731 lalu diinterogasi oleh Kolonel Sanders, namun Shiro sendiri tidak berada di dalam rombongan para petinggi militer dan ilmuwan Jepang yang ditawan AS. Kolonel Sanders sebetulnya kurang optimis dapat menemukan Shiro, mengingat banyak pejabat tinggi militer Jepang cenderung lebih memilih bunuh diri daripada ditangkap musuh hidup-hidup.

Kolonel Sanders lalu menemui Jenderal Douglas MacArthur yang saat itu menjabat sebagai penguasa militer untuk seluruh wilayah Jepang. Ketika Kolonel Sanders mengutarakan niatnya bahwa seluruh petinggi unit 731 akan bekerjasama dalam pengembangan senjata biologis asalkan tidak dikenai tuduhan sebagai penjahat perang dan dibebaskan dari pengadilan militer, ternyata Jenderal MacArthur setuju. Pada bulan September, Kolonel Sanders berhasil mengumpulkan para petinggi militer yang terlibat di dalam unit 731. semua personil unit 731 kemudian diamankan untuk kepetingan penyelidikan lebih lanjut. Setelah kurang lebih 10 minggu bertugas di Jepang dalam rangka membungkam informasi terkait unit 731, MacArthur lalu cepat-cepat memulangkan Kolonel Sanders ke Amerika. Sedangkan perwira AS yang kemudian menggantikan Kolonel Sanders untuk menyelidiki unit 731 adalah Letkol Arvo T. Thompson agar mem-fokuskan perhatiannya pada bom anthrax dan uji cobanya yang dilakukan terhadap manusia.




Ilustrasi kartun dalam gambar menunjukkan seorang dokter dalam eksperimen unit 731 membedah manusia hidup-hidup. Menurut  sejarawan, sekitar 250.000 korban eksperimen termasuk lelaki, wanita, dan anak-anak menjadi korban kekejian eksperimen yang dilakukan Jepang. Sekitar 600 orang warga Cina menjadi kelinci percobaan di laboratorium rahasia Jepang di base kamp Pingfang. Ini belum termasuk uji coba keji lainnya seperti yang dilakukan Unit 100. 




Sunday, 11 November 2012

A Chemical Weapon, (dan ulasan khusus mengenai Gas Mustards)








A Chemical weapon (CW), merupakan perangkat yang menggunakan formula kimia untuk menyebabkan kematian atau luka cacat kepada manusia sebagai targetnya. Senjata kimia (CW) dikategorikan sebagai senjata pemusnah massal, dan telah dilarang penggunaannya oleh dunia internasional (Condemned by the civilised world). Namun senjata kimia ini berbeda dari senjata biologis (penyakit/kuman dsb), senjata nuklir (yang menggunakan fusi-nuklir), dan senjata radiologis (yang menggunakan elemen-elemen radioaktif). Senjata kimia secara luas dapat diklasifikasikan sebagai gas, cairan dan bentuk-bentuk solid lainnya. Gas pemicu saraf dan gas air mata adalah contoh-contoh modern lainnya yang termasuk dalam senjata kimia.

Munisi-munisi dan perangkat lainnya yang termasuk ke dalam unit-unit Senjata Kimia yang mematikan juga merupakan ancaman serius dan termasuk senjata kimia berbahaya yang ditimbun/disimpan oleh banyak negara.  Yang termasuk Senjata Kimia yang sangat berbahaya diantaranya adalah; Nerve Agents ( yang termasuk senjata mematikan bagi saraf manusia); GA, GB, dan VX, dan vesicant (blister) agents (yang termasuk senjata yang menyebabkan bengkak dan melepuh bagi kulit manusia); H, HT, dan HD. Kesemuanya itu adalah dalam bentuk cairan yang berada dalam temperatur ruangan normal, namun cairan tersebut akan berubah dalam bentuk gas ketika dirilis. 


  Pallet 155mm Artillery Shells yang berisi HD (sulfur mustard agent) yang disimpan di fasilitas penimbunan CW di Pueblo Depot Activity (PUDA).




Senjata Kimia Canister Soviet di sebuah tempat 
penimbunan Senjata Kimia di Albania




Sangat luas digunakan saat Perang Dunia I, dan efeknya, gas mustard dan gas phosgene dan gas-gas lainnya menyebabkan  paru-paru terbakar, kebutaan, cacat, dan kematian. Sebagai tambahan, gas-gas tersebut juga tidak terlalu diandalkan karena sering bergerak kembali ke arah penggunanya lantaran terbawa angin. Masyarakat sipil begitu sangat khawatir dengan keberadaan Senjata senjata kimia ini dan pihak militer pun mendukung penghapusan jenis senjata ini pasca PD II.  Namun dalam skala besar sampai saat ini, Nyatanya penimbunan jenis senjata tersebut masih eksis, khususnya bagi mereka negara-negara yang memiliki rival, saingan, atau musuh terberat. Pengembangan jenis senjata ini pun masih terus dikembangkan  banyak negara walau dibawah kecaman, kritikan, larangan, dan dibawah Hukum Internasional yang mengatur Pengembangan Senjata Kimia.



Sebelum Perang Dunia Kedua

 
Kenvensi Hague adalah dua perjanjian Internasional yang diadakan dalam Konferensi Perdamaian Internasional di The Hague, Belanda. Konferensi Hague Pertama tahun 1899 dan Konferensi Hague Kedua tahun 1907. Ketika berlangsungnya Konvensi Jenewa, Konvensi Hague adalah bentuk pernyataan formal dari Hukum-hukum Perang (Laws of War) dan Kejahatan Perang (War Crimes) didalam ruang lingkung sekuler Hukum Internasional (International Law). Konferensi yang Ketiga direncanakan pada 1914 dan kemudian dijadwalkan ulang pada tahun 1915, namun nyatanya tidak pernah diadakan disepanjang pergolakan Perang Dunia I.

The Treaty of Versailles (Perjanjian Versailles), merupakan salah satu dari Perjanjian Perdamaian yang diadakan di akhir PD I. Itu berakhir setelah Perang antara Jerman dan negara-negara Sekutu yang didukung Amerika Serikat. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 28 Juni 1919, tepatnya 5 tahun setelah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand.

The Washington Naval Treaty (Perjanjian AL Washington), yang ditandatangani pada 6 Februari 1922, juga merupakan Perjanjian Lima Kekuatan (The Five-Power Treaty), yang bertujuan untuk melarang penggunaan CW (Senjata Kimia), tapi perjanjian tersebut gagal lantaran Perancis menolak perjanjian tersebut. Atas kegagalan tersebut, maka hingga saat ini Senjata Kimia telah dikembangkan dan kemudian ditimbun dalam skala besar yang dilakukan oleh banyak negara, terutama negara-negara Barat dan sekutunya.

Protokol Jenewa (The Geneva Protocol), secara resmi diketahui sebagai sebuah protokol untuk pelarangan penggunaan dalam perang, dari senjata-senjata Asyphyxiating, Gas-gas beracun, dan metode penggunaan senjata biologis untuk tujuan Perang, (Protocol for the Prohibition of the Use in War of Asphyxiating, Poisonous or other Gases, and of Bacteriological Methods of Warfare), adalah sebuah Perjanjian Internasional yang melarang penggunaan Senjata Kimia sejenis. Ditandatangani pada 17 Juni 1925.  133 negara pun menjadi bagian dari Perjanjian tersebut, Ukraina menyetujui perjanjian tersebut pada 7 Agustus 2003 dan diikuti oleh banyak negara-negara lainnya. 




Negara-negara yang berwarna biru muda/biru terang adalah negara-negara yang telah 
menyatakan kepemilikan atau keberadaan CW, atau yang telah diketahui memiliki CW.
Sedangkan yang berwarna biru gelap adalah negara-negara yang belum diketahui 
kepemilikan CW.





Modern agreements


Konvensi Senjata Kimia (The Chemical Weapons Convention – CWC) merupakan perjanjian terkini yang bertujuan untuk mengontrol persenjataan dibawah naungan Hukum Internasional. Nama dari CWC adalah Konvensi Pelarangan pengembangan, produksi, penimbunan, dan penggunaan Senjata-senjata kimia dan senjata penghancur yang sejenisnya. (Convention on the Prohibition of the Development, Production, Stockpiling and Use of Chemical Weapons and on their Destruction). Perjanjian ini meliputi pelarangan produksi, penimbunan, dan penggunaannya. Perjanjian ini disediakan oleh OPCW – Organisation for the Prohibiton of Chemical Weapons, sebuah organisasi independen yang bermarkas di The Hague.

CW (Senjata Kimia), termasuk bagian-bagian dari toxin atau bagian-bagian dari zat kimia. Jenis senjata kimia ini berbeda dari senjata Nuklir dan senjata biologis, yang bersama-sama membentuk NBC, yaitu sebuah akronim khas militer untuk, “For Nuclear, Biological, and Chemical (warfare or Weapons)”. Perang Senjata Kimia tidak bergantung pada serangan Ledakan (explosive) untuk mencapai sasarannya. Perangkat-perangkat mematikannya hanya ditujukan untuk mencederai, melukai, menyengsarakan, melumpuhkan sasaran atau musuh, atau membunuh warga sipil dengan luka-luka yang menyakitkan/menyiksa di dalam sebuah area/wilayah tertentu.  Perang Senjata Kimia dapat juga digunakan untuk menghancurkan/melenyapkan sebuah wilayah pertanian, menyebabkan kelaparan dan lain sebagainya.  Namun dengan berbagai peralatan-peralatan yang semestinya, pelatihan-pelatihan, dan pencegahan kontaminasi Senjata Kimia, efek berbahaya akibat dari penggunaan Senjata Kimia dapat diatasi. Senjata Kimia dapat juga dilakukan dengan remote control, dijatuhkan dari pesawat, atau bisa juga dari luncuran roket yang didalamnya diisi muatan kimia berbahaya.


Bom yang diduga berisi bahan kimia berbahaya, dikategorikan sebagai Chemical Weapons.
Digunakan secara luas oleh Inggris di ajang Perang Dunia I.




Anggota negara-negara yang tergabung dalam OPCW yang menimbun Chemical Weapons:

China
Jepang pernah menyetor Senjata-senjata kimia berbahaya ke wilayah Daratan Utama China antara tahun 1937 dan 1945. Senjata ini kebanyakan berisi campuran gas-lewisite mustard. Jenis senjata ini dikategorikan sebagai Senjata Kimia yang ditinggalkan dibawah kendali CWC dan Jepang telah memulai penghancuran mereka pada September 2010 di Nanjing dengan menggunakan fasilitas penghancuran.



Irak
OPCW yang merupakan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia, mengumumkan bahwa Irak memiliki deposit untuk perangkat-perangkat Senjata Kimia melalui pertemuan The Chemical Weapons Convention. Irak juga mengumumkan penimbunan CW. Pada 7 September 2011, Mr. Hoshyar Zebari memasuki Markas Utama OPCW, Beliau menjadi Menteri Pertama Irak yang secara resmi mengunjungi OPCW Sejak Irak bergabung dengan CWC.
Pada 28 Juni 1987, Pesawat Irak mengirimkan, (banyak yang mengatakan bahwa..) itu merupakan gas mustard dalam serangan melawan Iran, di kota Sardasht. Dua serangan Senjata Kimia terpisah dilancarkan di 4 area pemukiman, menyebabkan 10 warga sipil tewas dan 650 orang lainnya terluka. 


Russia
Rusia bergabung dengan CWC, namun dengan jumlah penimbunan Senjata Kimia yang sangat banyak. Tahun 2010, Negara tersebut telah menghancurkan 18.241 ton Senjata Kimia di pusat fasilitas penghancur yang berlokasi di Gorny dan Kambarka, yang mana operasionalnya telah selesai, dan di Shchuchye, Maradykovsky, Leonidovka, yang instalasinya dibawah pembangunan di Pochep dan Kizner. 


 Perkiraan Penimbunan Bahan kimia berbahaya di Rusia







Amerika Serikat
Amerika Serikat menyetor Senjata-senjata kimia mereka di instalasi AD AS, didalam wilayah benua AS (The Continental United States- CONUS). Penimbunan-penimbunan tersebut bertempat di zona ekslusif, yang termasuk kedalam Instalasi Departemen Angkatan Darat AS, yang presentasi nya sebagai berikut; Tooele Army Depot (TEAD), Utah (sebanyak 42.3% penimbunan), Pine Bluff Arsenal, Arkansas (sebanyak 12%), Umatilla Depot Activity, Oregon (sebanyak 11.6%), Anniston Army Depot, Alabama (sebanyak 7.1%), Aberdeen Proving Ground, Maryland (sebanyak 5%), dan di berbagai depot-depot instalasi AB AS lainnya. Sisanya (penimbunan sebanyak 6.6%) berlokasi di Johnston Atoll di wilayah Samudera Pasifik. 



 Dua Prajurit AS terlihat mengenakan perlengkapan "chemical suit" saat latihan gabungan bersama





Negara-negara non-anggota OPCW yang menimbun Chemical Weapons:


Syria
Syria hanyalah salah satu dari 7 negara yang tidak tergabung dalam CWC (Chemical Weapons Convention). Bagaimanapun juga, Syria juga pada tahun 1925 berpihak kepada aturan Protokol Jenewa yang melarang penggunaan Senjata Kimia dalam Perang.

Pejabat resmi Syria telah menyatakan bahwa mereka merasa perlu untuk memiliki beberapa senjata penggentar untuk ancaman militer Israel. Pada 23 Juli 2012, Pemerintah Syria mengakui untuk pertama kalinya, bahwa mereka memiliki kepemilikan Senjata Kimia. 

Sumber-sumber terpercaya mengindikasikan bahwa Syria telah memproduksi kombinasi Senjata Kimia, sebanyak beberapa ratus ton tiap tahunnya. Syria mengatakan mereka telah dan sedang membuat Senjata Kimia berjenis, Sarin, Tabun, VX, dan gas mustard.

Fasilitas pengembangan dan produksi Senjata Kimia Syria, yang telah di identifikasi oleh pihak Barat, adalah berjumlah 5 fasilitas produksi, ditambah satu markas yang diduga merupakan basis penimbunan, yakni;
•    Al Safir (diduga merupakan markas misil Scud)
•    Cerin
•    Hama
•    Homs
•    Latakia
•    Palmyra



Seorang Prajurit Syria yang mengenakan "chemical suits" lengkap dan 
masker anti-Gas dengan menenteng senjata AK-47 buatan Rusia, 




Pada Juli 2007, Depot AD Syria meledak, menewaskan kurang lebih 15 warga Syria. Jane’s Defence Weekly, sebuah majalah militer AS, mempercayai bahwa ledakan tersebut terjadi lantaran personel militer Iran dan Syria berusaha untuk memasangkan sebuah misil Scud dengan gas mustard. Sedangkan Syria menyanggah bahwa itu adalah murni kecelakaan dan bukan berhubungan dengan bahan-bahan Kimia.
Pada 13 Juli, 2012, Pemerintah Syria memindahkan penimbunan mereka ke tempat yang tidak mereka sebutkan.

Pada September 2012, informasi berkembang bahwa militer Syria telah memulai pengujian Senjata Kimia dan telah memperkuat, dan men-suplai kembali Senjata Kimia yang bertempat di sebuah markas di Timur Aleppo.



Korea Utara
Korea Utara bukan merupakan anggota dari CWC dan tidak pernah secara resmi mengakui keberadaan Senjata-senjata kimia berbahaya mereka sampai saat ini. Meskipun begitu, Negara tersebut dipercaya banyak pihak telah memiliki Senjata-senjata kimia. Dilaporkan bahwa mereka memiliki teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksi Tabun dan gas mustard di era tahun 1950an.






Seorang peneliti Australia yang sedang memeriksa dan memindahkan munisi gas mustard yang tidak meledak



Lethality (Sifat mematikannya) 

Chemical Weapons, dikatakan “Memanfaatkan secara sengaja zat-zat kimia untuk menyebabkan kematian”. Seperti permulaan PD II, dilaporkan bahwa “Seluruh wilayah daratan Eropa”, akan diubah menjadi “wilayah-wilayah yang tak berpenghuni” akibat dari penggunaan senjata-senjata berbahaya tersebut. Bagaimanapun juga, tujuan utama CW, tidaklah digunakan untuk menyebabkan ketakutan, walau pada dasarnya banyak yang trauma akibat penggunaan senjata berbahaya ini.

Serangan-serangan yang tidak diinginkan, terjadi di Port of Bari. Serangan militer Jerman pada malam 2 Desember 1943, menghancurkan Kapal Perang AS di Pelabuhan dan dideteksi terdapat sejumlah gas-gas mustard yang mengakibatkan 628 korban menjadi cacat dan terluka. 




 Dampak dari penggunaan Chemical Weapon terhadap warga sipil.
Anak-anak menjadi korban dari penggunaan senjata terlarang tersebut, 
cacat permanen.



Pemerintah Amerika Serikat secara tegas mengkritik siapapun yang telah mengungkap tentang anggota-anggota yang terlibat dalam bahan-bahan kimia berbahaya, yang menguji efek dari ledakan bahan kimia. Pengujian tersebut sering dilakukan tanpa pengetahuan yang semestinya harus didapatkan oleh anggota/prajurit yang bersangkutan. Banyak juga para prajurit Australia yang diduga menjadi korban dari hasil “Brook Island Trials”, yakni pengujian senjata kimia berbahaya yang dilakukan Inggris di Brook Island. Tujuan utama Pemerintah Inggris adalah untuk menentukan penyebab dari serangan senjata kimia di dalam kondisi tropis.






ADDITIONAL,

THE SPECIAL REPORT:

Sulfur mustard (gas mustard)


Sulfur mustards, atau sulphur mustards, secara umum didefinisikan sebagai gas mustard, adalah termasuk di dalam kategori yang berhubungan dengan cytotoxic, vesicant chemical warfare agents, dengan kemampuan membuat sesuatu menjadi “melepuh” contohnya di permukaan kulit dan di paru-paru. Mustard sulfur murni tidaklah berwarna, cairan kental di dalam temperatur ruangan. Ketika di lepaskan ke udara, mereka biasanya berwarna cokelat-kekuningan dan berbau seperti tanaman sawi, sejenis bawang putih atau lobak. Gas Mustard dinamakan LOST, setelah ilmuwan Wilhelm Lommel dan Wilhelm Steinkopf, yang membuat metode produksi skala besar dari gas mustard untuk Tentara Imperial Jerman di tahun 1916.

Mustard agents diregulasikan dibawah CWC tahun 1993. Tiga kategori bahan kimia ini di awasi secara langsung dibawah Konvensi Senjata Kimia (CWC), dengan zat sulfur dan nitrogen mustard yang ditempatkan di Schedule 1, karena sifatnya yang lebih dari sekedar bahan kimia berbahaya. Mustard agents dapat ditempatkan di medan perang dengan penggunaan perangkat Artileri, bom-bom udara, roket dan misil peluncur, atau dengan menggunakan penyemprotan udara langsung dari pesawat.



Physiological effects

Gas mustard sangat sangat berbahaya jika dijadikan sasarannya adalah manusia. Dan memang sasaran manusia lah yang selama ini ditargetkan. Sebagai tambahan, bahan kimia gas mustard ini berisi mutagenic dan carcinogenic, juga berisi lipophilic. Gas mustard dapat dilepas dari udara di sebuah wilayah, dalam 24 jam, korban yang terkontaminasi akan mengalami iritasi atau gangguan kulit (kulit mengupas, kulit melepuh, kulit berubah warna, dsb), dan mengalami gatal-gatal kulit. Ini adalah jenis bahan kimia pembakar kulit dan efeknya sangat sangat melumpuhkan dan membuat depresi.


Gas Mustard sangat mudah menembus bahan/baju yang terbuat dari kain atau wool, jadi tidak hanya dapat melumpuhkan kulit dan membuat kulit seperti panas terbakar.  Jika mata korban terkena gas ini, maka mata akan menjadi perih, kemudian penglihatan menjadi agak rabun, setelah itu kelopak mata membengkak, yang pada akhirnya (lambat laun) menyebabkan kebutaan sementara, atau bahkan kebutaan permanen. Miosis juga dapat terjadi, yang merupakan hasil dari aktivitas cholinomimetic yang terkandung didalam gas mustard. Pada konsentrasi yang sangat tinggi, jika dihirup, agen mustard menyebabkan pendarahan pada sistem pernafasan manusia, merusak selaput lendir lalu merambat ke bagian dalam paru-paru, menghancurkan paru-paru dari dalam, terasa panas di paru-paru dan membuat sesak nafas. 


 Efek gas mustard pada kulit manusia, melepuh dan terasa gatal-gatal.
 Ini akan terus diperparah dengan rasa gatal yang ditimbulkannya



Beberapa gas mustard (dimana lebih dari 50% korbannya yang kulitnya terbakar) adalah sering berakibat fatal, lebih dari yang anda duga. Kematian bahkan terjadi setelah beberapa hari berlalu, atau bahkan setelah seminggu atau paling lama 2 minggu setelah terkontaminasi. Efek dari mutagenic dan carcinogenic dari gas mustard berarti bahwa korban yang terkena dampaknya akan sangat mungkin mengidap penyakit kanker yang semakin parah di kemudian hari.








Sumber:
Chemical Weapon :  http://en.wikipedia.org/wiki/Chemical_weapon
Gas mustards        :  http://en.wikipedia.orf/wiki/Mustard_gas

Wednesday, 13 June 2012

Marty Knutson



Dibuntuti 15 MiG Soviet


Marty Knutson



Marty Knutson adalah pilot pertama yang terpilih untuk menerbangkan pesawat stealth U-2. Pada 8 Juli 1956 untuk ketiga kalinya ia bertugas menyusup dan melintasi wilayah udara Uni Soviet yang membentang luas, melebihi wilayah negara manapun di dunia. Begitu tingginya dia terbang dengan pesawat yang bentangan sayapnya dia sebut sebagai “sepanjang jembatan Brooklyn”.

Knutson sejak kecil sering mendengar Uni Soviet sebagai negara komunis, merupakan “an evil empire”, wilayah terlarang, dan musuh utama demokrasi. Maka dia terbang dengan sebuah pemikiran, kalau pun terpaksa, dia tidak akan pernah mau sampai mendarat darurat di wilayah Rusia. Setiap kali sebelum ia terbang, ia terlebih dulu sarapan pagi dengan protein tinggi, yaitu steak dan telur, lalu mengenakan pakaian terbangnya serta bernafas dengan oksigen murni guna mengeluarkan nitrogen dari tubuhnya, sehingga mengurangi efek buruk manakala pesawatnya harus turun cepat dari ketinggian ekstrim.

Sewaktu lepas landas, dia pun menyadari di wilayah udara Soviet mungkin ia akan menemui banyak kegiatan udara dari pesawat musuh. Radar Soviet rupanya mulai mampu mengikuti pergerakannya tak lama sejak pesawat mulai mengudara. Baginya, ini merupakan surprise yang tidak nyaman. Namun, Soviet pasti tak mampu mendeteksi pesawat yang ia terbangkan pada ketinggian seperti yang ditempuh U-2.


 Gambar desain pesawat stealth (siluman) U-2, pesawat pengintai 
warisan era Perang Dingin




Dua orang rekannya yang belum lama menyusup di atas wilayah Soviet mengingatkan bahwa pesawat pemburu Soviet akan membayangi penerbangannya. Bahkan Carmen Vito yang sehari sebelumnya masuk wilayah Soviet dan terbang mengikuti jalur rel kereta api yang menuju Moskwa, nyaris mengalami bencana ketika 2 pesawat MiG Soviet berusaha menanjak mendekati ketinggian pesawatnya. Benar saja, kedua MiG itu menjadi kurang stabil dan malah saling bersenggolan. Kedua MiG itu pun jatuh ke bumi akibat tubrukan.

Bagi Vito, kejadian yang merupakan bahaya nyata tadi membuatnya begitu tegang sehingga mulutnya pun terasa kering. Karena itu, ketika pesawatnya mendekati Moskwa, dia pun merogoh saku kanan coverallsnya yang ia pikir berisi permen rasa lemon kesukaannya. Namun yang ia masukkan ke mulutnya ternyata kapsul racun sianida karena sebelumnya awak darat rupanya keliru memasukkan. Ia mulai menghisap, tapi tak ada rasa karena itu kapsul, Vito tersentak sadar dan buru-buru memuntahkannya. Untung ia tak sampai menggigitnya. Kalau kapsul itu sampai pecah, tamatlah hidupnya dan pesawatnya, siapa tahu, bisa-bisa aka jatuh di tengah Lapangan Merah Moskwa.

Knutson sendiri di tengah lintasannya di atas Soviet, juga sempat melihat dan menghitung tak kurang dari 15 MiG Rusia membuntuti arah terbang pesawatnya. Namun dari jarak sekitar 15.000 kaki dibawahnya. Rupanya kelompok MiG itu tidak mau nekat untuk mendekat ke ketinggian U-2 tersebut. Sekalipun begitu, Knutson ingat benar akan kapsul yang diberikan kepadanya, dan kepada masing-masing pilot yang menerbangkan pesawat mata-mata. Dia sempat memikirkan kapsul sianida bukan karena diikuti oleh MiG, tetapi lebih disebabkan kekhawatiran kalau misalkan mesin pesawatnya sampai ngadat, sehingga ia terpaksa menurunkan ketinggiannya. Nah, jika itu terjadi, disitulah kemungkinan ia berurusan langsung dengan pesawat-pesawat tempur MiG Soviet yang tinggal menunggu waktu untuk melesatkan rudal pengejar mereka.

Ketika rudal darat-ke-udara Soviet belum mampu menembak U-2, mereka sempat menggunakan MiG-21 mereka untuk dijadikan “misil hidup”, dengan mencoba menabrak pesawat mata-mata Amerika. Laporan menyebutkan, mereka hanya mampu membuat lengkungan dan kemudian turun kembali tatkala mesinnya mati pada ketinggian 68.000 kaki. Kemungkinan mesin itu baru hidup yakni ketika turun pada ketinggian 35.000 kaki atau lebih rendah lagi. “Saya yakin Soviet tentu pernah kehilangan beberapa MiG dan pilot mereka ketika berusaha menjadikan pesawat mereka menjadi rudal Kamikaze.” kata Marty Knutson.



Artikel Rekomendasi lainnya: kisah dibalik pembuatan pesawat stealth U-2



Disadur dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi No.79 tahun 2012- Black Jet: Cold War Special Weapon's (Book of One). April 2012

Monday, 7 May 2012

USAMRIID


USAMRIID




Pertahanan Biologis


Kebanyakan awam mengidentikkan satuan medis dalam institusi Angkatan Darat sebagai bagian yang bertugas mengobati prajurit yang terluka. Jangan kaget karena di Amerika pun masih banyak yang memiliki pandangan sempit semacam itu.
Padahal sejatinya urusan medis dalam kemiliteran tidaklah selalu berkutat soal pengobatan para prajurit. Contohnya dalam jajaran AD AS (US Army), hadir satu lembaga riset medis bertaraf maju yang memikul beban cukup berat di luar urusan medis “biasa”. Satu frasa yang merupakan gabungan dua kata dasar menjadi inti dari misi lembaga ini: “biodefense” alias pertahanan biologis.

USAMRIID (US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases) atau Institut Riset Medis Angkatan Darat AS untuk penanganan penyakit-penyakit menular, merupakan lembaga yang berdiri dibawah naungan US Army Medical Research and Materiel Command (USAMRMC). USAMRIID adalah satu-satunya lembaga riset medis pertahanan AS yang berhak sekaligus memiliki kemampuan menangani virus menular kategori sangat berbahaya atau yang dikenal dengan kategori Biosafety Level 4.
Lembaga riset yang bermarkas di Fort Detrick, Maryland, kerap bekerja sama dengan lembaga riset medis WHO (Badan Kesehatan Dunia PBB), maupun lembaga serupa milik Pemerintah AS yang bergerak di kalangan sipil yaitu CDC (Centers for Disease Control and Prevention) di Atlanta.




Misi utama lembaga yang didirikan tahun 1969 itu adalah menciptakan atau membangun strategi, produk, informasi, prosedur hingga pendidikan medis untuk pertahanan medis bagi seluruh jajaran militer AS. Baik itu terhadap serangan senjata biologis maupun penanganan penyakit-penyakit sangat berbahaya yang memerlukan penanganan khusus. Penelitian vaksin untuk pencegahan penyakit berbahaya yang mengancam dalam jajaran militer AS merupakan salah satu contoh dari sekian banyak tugas dan misi yang diemban USAMRIID.

Salah satu misi yang sempat menghebohkan yaitu ketika USAMRIID ikut berperan menangani serangan kuman Anthrax di AS tahun 2001 silam. Pasca serangan tersebut, bukan berarti ahli-ahli medis dan ilmuwan yang dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kolonel bisa duduk dengan tenang, sebaliknya mereka berusaha untuk mempelajari dan menganalisa genetika kuman tersebut untuk mencari penangkal yang paling efektif sekaligus mempelajari kemungkinan varian (strain) baru yang bisa saja suatu saat muncul kembali sebagah hasil rekayasa penelitian medis dari pihak musuh.

Itu sebabnya, USAMRIID dijejali banyak ahli-ahli medis dan ilmuwan yang handal dari kalangan doktoral yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melakukan penelitian dan mencari solusi terbaik dalam penanganan virus-virus biologis mematikan (biohazard). Sesuatu moto mereka yang terpatri dan merupakan amanah yang harus diemban; “Biodefense Solutions to Protect Our Nation”.

Kisah di balik pembuatan “Black Jet” U-2- Part 1





Gambar Profil Kelly Johnson bersama pesawat-pesawat siluman ciptaannya




Kenali musuhmu sebelum kau berusaha mengalahkannya.” Ketika sedang hebat-hebatnya berseteru dengan Uni Soviet, boleh jadi Amerika telah terpengaruh dengan petuah Sun Tzu yang amat terkenal itu. Mereka lalu membuat pesawat intai yang nyaris tak tersentuh radar demi mengetahui dan kelemahan Soviet. Setelah itu, mereka lalu membuat pesawat pemukul kelas berat yang sama-sama meraih predikat untouchable. Berikut ini adalah kisah dan latar belakang pembuatan pesawat Black Jet seperti U-2, SR-71 dan B2 Bomber, yang amat menghebohkan dunia.



Tony, diminta segera berkemas dan melakukan perjalanan ke sebuah daerah tandus dan terpencil di gurun Nevada, Arizona, AS. Ia diminta mengganti namanya dan menanggalkan apa saja yang bisa menghubungkan dirinya dengan Lockheed. Ia hanya ditemani Dorsey Kammerer, orang kepercayaan Kelly. Tony LeVier, saat itu, diminta oleh Clarence “Kelly” Johnson untuk menerbangkan sebuah pesawat, yang baru saja berhasil dikembangkannya. Tanpa ragu-ragu ia pun bersedia untuk menjadi orang pertama yang menerbangkannya. Namun di benaknya masih terdapat rasa penasaran tentang pesawat seperti apa yang akan diterbangkannya. Sesampainya di tempat yang sekarang dikenal sebagai Pangkalan Udara Edwards tersebut, pada suatu hari di bulan Agustus 1955, ia terkesima melihat pesawat yang sebelumnya membuatnya penasaran cukup lama. Sebuah pesawat berbentuk aneh dengan warna hitam, yakni U-2 Dragonlady. Pesawat seperti apakah gerangan?


 Kelly bersama pesawat silumannya- U-2 Stealth



Sejumlah pejabat menyebutnya black jet. Bukan saja karena warnanya yang hitam legam, tetapi juga karena seluruh proses pembuatannya, mulai dari rancangan, anggaran, dan spesifikasi teknis dari jenis pesawat ini, tidak pernah diumumkan secara terbuka. Lalu, mengapa harus ada Black jet? Apakah AS tengah merencanakan operasi terselubung? Apa yang melatarbelakangi pembuatannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sempat terlintas di benak LeVier, dan sampai sekarang pun jawaban-jawaban detail atas pertanyaan-pertanyaan tersebut pun masih banyak ditutup-tutupi meskipun sekarang AS sudah mengumumkan ke publik tentang keberadaan pesawat-pesawat “ghost” tersebut.




BOMBER GAP

Untukk menjawab pertanyaan tersebut, agaknya kita harus mengetahui dulu latar belakang kondisi dan situasi AS pada era 50-an, serta perasaan psikologis yang dialami Presiden AS dan para pejabat-pejabat tinggi pada waktu itu.
Disiapkannya pesawat pengintai U-2 tak bisa dilepaskan dari ketakutan AS ketika menghadapi konflik global pasca Perang Dunia II dan ketidakmampuan Dinas Intelijen AS dalam mengatahui pola pikir orang nomor satu di Istana Kremlin. Meski keluar sebagai “pemenang” dalam pergulatan PD II dan pernah bahu-membahu bersama Uni Soviet menghadapi Jerman, Washington merasa harus menjaga jarak dengan negeri besar ini. Itu karena AS tak pernah sepenuhnya percaya dengan orang-orang Rusia.

Ketidakpercayaan itu rupanya berkembang menjadi rasa curiga yang berlebih, terutama setelah Uni Soviet sukses meracik sendiri bom atom dan meledakkannya pada 1949. Washington menyakini, pasti ada maksud tertentu di balik pembuatan renjata pemusnah massal itu. Kalau tidak untuk menciptakan hegemoni di kawasan sekitarnya, apalagi tujuannya kalau bukan untuk menggertak AS. Kekhawatiran itu makin memuncak meski AS telah lebih dulu memiliki kemampuan membuat bom atom. Kekhawatiran itu pada intinya bersumber pada dua hal; pertama, karena pimpinan Uni Soviet baru saja beralih ke Nikita Khrushchev, mantan tentara yang amat agresif dan provokatif. Dan yang kedua, kerena Badan Intelijen AS memang tak pernah mampu menerobos lingkaran dalam Kremlin.

Semua perkembangan, misalnya seperti peledakan bom atom itu, kerap tiba-tiba sampai ke telinga Presiden AS tanpa adanya peringatan dari CIA. Ketidakmampuan CIA inilah yang membuat Presiden AS Dwight D. Eisenhower kerap kecewa dan berang, dan sekaligus berpikir: “Adakah peralatan canggih yang dapat digunakan untuk mengatasi ketidakmampuan CIA?”

Belum lagi pertanyaan itu terjawab, pada pertengahan tahun 1954, Presiden Eisenhower kembali dikagetkan oleh parade militer Soviet yang disiarkan langsung melalui saluran televisi internasional dari lapangan merah, Moskow. Dalam tanyangan ini, terlihat pesawat pembom strategis Myasishchev M-4 yang semula hanya dianggap isapan jempol, ternyata menunjukkan kemampuannya dengan terbang di udara. Bertahun-tahun, sosok M-4 ini bak monster udara yang tak jelas rimbanya tapi menakutkan.

Tentang pembom yang satu ini, sejumlah analis militer pernah mengatakan, Uni Soviet sangat mungkin telah memiliki 500 unit, tapi lagi-lagi sangat disayangkan Badan Intelijen AS tak pernah mengetahui seperti apa sesungguhnya pesawat ini. Dan, jika memang mereka benar-benar memiliki M-4 sebanyak itu, pasti akan ada kesenjangan kekuatan yang lebar dengan Amerika yang tak memiliki pesawat pembom strategis sebanyak itu. Analisa ekstrem inilah yang pada masa itu sempat dikenal dengan istilah bomber gap. Pesawat-pesawat itu disiapkan untuk bisa terbang non-stop hingga ke daratan Amerika. Bayangkan apa yang bisa dilakukan AS jika pesawat-pesawat tersebut benar-benar diterbangkan ke AS untuk misi pemboman? Sejak itulah, keinginan Presiden AS untuk menyediakan pesawat dan piranti sistem peringatan dini semakin menjadi-jadi.

Pada dasarwarsa 1950-an, bersama Kanada, AS sebenarnya telah mendirikan pos Distant Early Warning di Tatalina, Alaska. Pos ini didirikan untuk menyembunyikan sirine peringatan dini manakala ada pesawat yang terbang ke arah Amerika. AS juga memiliki satelit mata-mata KH-11 yang matanya kerap diarahkan ke Unh Soviet. Tetapi kedua sistem senjata ini toh memiliki keterbatasan. Mata satelit amat tergantung kecerahan langit, sementara tentang Distant Early Warning, sesungguhnya tak seorang pun bisa menjamin seberapa cepat informasi dini bisa menggerakkan pesawat-pesawat interceptor AS.

Demikianlah latar belakang pembuatan black jet U-2. Apakah kehadirannya mampu menuntaskan seluruh kegundahan sang Presiden, saat itu, belum seorangpun mampu menjawabnya. Yang pasti, Tony LeVier merasa terhormat diminta menjadi orang pertama yang menerbangkan Sang Naga Perempuan. Apalagi yang memintanya adalah langsung dari sang penciptanya: Clarence “Kelly” Johnson.





Artikel kelanjutan baca disini: Black Jet U2 - Part 2


Disadur dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi No.79 tahun 2012- Black Jet: Cold War Special Weapon's (Book of One). April 2012

Kisah di balik pembuatan “Black Jet” U-2 - Part 2

Sebelum anda membaca artikel dibawah ini, ada baiknya anda membaca artikel sebelumnya: Black Jet U2 - Part 1






Pesawat U-2 memiliki kemampuan untuk melayang sekaligus meredam kelemahan mesin pesawat ini ketika beroperasi di atas batas ketinggian jelajahnya. Pesawat ini dirancang untuk melakukan misi pengintaian di atas ketinggian 70.000 kaki atau sekitar 21 km di atas permukaan laut. Mesin manapun tentu akan ngadat jika berada di ketinggian tersebut, karena kerapatan gas – oksigen yang penting untuk pembakaran mesin- sudah amat rendah.


Lalu, kenapa harus di ketinggian 70.000 kaki? Jawabannya simpel saja, menurut engineer Lockheed, itu karena rudal udara-kedarat, yang menjadi ancaman utama pesawat terbang, tak bisa melesat melebihi ketinggian 60.000 kaki. Dengan demikian, jika U-2 menjelajah di ketinggian 70.000 kaki, ia praktis akan selamat dari kejaran rudal-rudal pelahap pesawat. Apalagi diantaranya masih ada jarak aman 10.000 kaki.

“Ini artinya, U-2 memang benar-benar a new kind of aircraft. Ia merupakan hibrida glider dengan pesawat jet.” ujar Graham Yost.

Tapi itu baru sebagian dari keunggulannya. Keunggulan yang paling utama dari pesawat ini adalah pada kamera elektro-optik resolusi tinggi yang ditaruh di bagian perut, atau yang dikenal dengan istilah Q-Bay. U-2 memiliki bermacam-macam kamera untuk berbagai keperluan, namun versi orisinil dari deretan kamera ini adalah B-Camera, yang dirancang khusus oleh Dr Edwin Land, penemu kamera polaroid dan bos Polaroid Corporation. Prof Edward Purcell, guru besar Harvard dan pemenang Nobel Fisika 1952; serta Dr. James Baker, astronom Harvard, pencipta lensa supersensitif. Selain itu, Lockheed menghadirkan juga kamera SYERS, yang dipasang di bagian hidung namun dapat berputar. SYERS memungkinkan awak U-2 memotret sambil sementara pesawat bergerak maju.

Proyek pembuatan U-2 dan instalasi kelengkapan kameranya dikerjakan sangat rahasia di hangar Lockheed di Burbank, dengan kode sandi Aquanote. Pesawatnya sendiri ketika itu diberi kode The Angel. Kelly Johnson mempercayakan proyek ini pada tim yang terdiri dari 23 orang teknisi kepercayaannya. Tim yang diotaki Benyamin Rich ini selanjutnya dikenal dengan nama Skunk Works.

Singkat cerita, pesawat diterbangkan pertama kali pada Agustus 1955, dan CIA telah menyiapkan grup pertama penerbang yang terdiri dari delapan pilot berpengalaman. Pesawat-pesawat ini ditempatkan tak jauh dari tempat dimana Tony LeVier menguji prototipe U-2, yakni di Lapangan Terbang Watertown. Sebuah tempat yang sepi dan dirahasiakan, yang sama-sama berada di gurun Nevada, Arizona.



PERANG DINGIN DI UDARA

Pesawat U-2 dapat menjelajah udara pada ketinggian ekstrim 70.000 kaki, dan dapat terbang dengan kecepatan 373 knot atau 690 km/jam. Meski dirahasiakan, publik akhirnya toh mengetahui keberadaan pesawat ini. Untuk itu lewat tangan NASA (Badan Ruang Angkasa AS), CIA menjelaskan bahwa AS telah merancang pesawat khusus untuk penelitian atmosfer atas.


Presiden AS Dwight D. Eisenhower


Di pentas internasional, Presiden Eisenhower memberi keterangan yang lain menyangkut misi penerbangan U-2. Untuk jaga-jaga jika suatu saat ketauan sedang melakukan misi pengintaian, dalam Geneva Summit Conference pada Juli 1955, ia menyatakan bahwa dunia memerlukan kebijakan Open Skies dan sebuah sistem untuk mencegah perang nuklir. Kebijakan Open Skies memberi kemungkinan kepada AS dan Uni Soviet untuk saling melihat fasilitas nuklir masing-masing melalui udara. Banyak negara memuji inisiatif ini, namun tidak demikian dengan Uni-Soviet. Khrushchev mencium adanya agenda tersembunyi di balik kebijakan tersebut. Nalurinya menuntun pada dugaan bahwa Amerika tengah menyiapkan operasi intelijen dari udara. Prasangka itu akhirnya terjawab pada 4 Juli 1956, justru ketika penerbangan U-2 baru saja melenggang memotret berbagai sasaran dari atas wilayah udara Soviet. Hal ini pun sebetulnya disadari betul oleh CIA, dan ketika itu, sebuah radar canggih Soviet berhasil melacak dan mengikuti penerbangan pesawat mata-mata tersebut.

Namun Soviet tidak pernah mengambil tindakan apa-apa walaupun pesawat mata-mata AS seringkali melakukan pengintaian di atas wilayah udara Soviet, tidak hingga pada saat 1 Mei 1960, ketika sebuah rudal darat-ke-udara Soviet menembakkan misilnya mengenai pesawat yang diterbangkan Francis Gary Powers jatuh di wilayah Sverdlovsk. Ketika itu Powers rupanya tengah memacu pesawat di bawah ketinggian amannya. Peristiwa jatuhnya pesawat tersebut membuat petinggi militer Soviet Nikita Khrushchev berang, terutama karena insiden tersebut terjadi tepat ketika AS dan Soviet tengah bersama-sama hadir di Paris Summit Conference, Perancis.

Saat itu AS masih sempat berkilah bahwa U-2 yang tertembak tengah melakukan kegiatan penelitian atmosfer atas. Namun bantahan tersebut segera dimentahkan militer Soviet setelah tahu bahwa dari reruntuhan pesawat tersebut ditemukan berbagai peralatan mata-mata dan kemera foto udara. Gedung Putih lagi-lagi dibuat jengkel oleh ulah CIA, karena penerbangannya tidak mengikuti prosedur penerbangan standar untuk misi pesawat mata-mata, yakni terbang pada ketinggian 70.000 kaki dan meledakkan pesawat intai jika pesawatnya tertembak.

CIA juga telah membekali setiap pilot pesawat U-2 dengan benda sebesar koin dolar, yang berisi pin berlapis racun untuk bunuh diri. Pin ini hanyalah alternatif untuk “keluar dari penderitaan”, karena santer terdengar bahwa seorang perwira mata-mata yang tertawan, mereka akan menjalani cuci otak dan disiksa secara sadis. Namun, militer Soviet tidak cukup bodoh untuk memperlakukan Powers dengan cara seperti itu. Mereka memanfaatkannya untuk ditukar dengan mata-mata Soviet yang tertangkap di New York pada 1957, Kolonel Rudolph Abel.


 Puing-puing dari Pesawat mata-mata U-2 yang jatuh di wilayah Soviet



Begitu pun, peristiwa jatuhnya U-2 di Sverdlovsk tak membuat CIA jera. Mereka tetap mengoperasikannya karena terlanjur menyakini bahwa setiap foto U-2 setara dengan kerja 1.000 mata-mata. Apalagi karena misi pengintaian U-2 di atas Kuba berhasil mengusir kekuatan rudal Soviet dari negeri Fidel Castro. Peristiwa tersebut terjadi pada 1962, ketika secara diam-diam Soviet mendirikan stasiun-stasiun peluncur rudal balistik jarak sedang untuk menghantam daratan Amerika dari arah selatan. Kapal-kapal pembawa rudal dari Uni Soviet yang berhasil di foto awak U-2 berhasil digunakan untuk mendesak Kremlin untuk menarik kembali rudal-rudal itu dari Kuba. Di lain waktu, operasi U-2 juga sangat berperan dalam operasi pembebasan sandera di Grenada pada 1983. dan, yang tak kalah penting bagi sejarah Indonesia, yaitu pesawat ini pernah dikerahkan untuk memotret kekuatan militer Indonesia di era tahun 1960-an yang secara tak langsung menggoyahkan niat Belanda untuk menguasai Irian Barat.






Baca juga Artikel rekomendasi: Nasib Gary Powers


Disadur dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi No.79 tahun 2012- Black Jet: Cold War Special Weapon's (Book of One). April 2012