.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Malaysia. Show all posts

Monday, 19 March 2012

Raid in Kalabakan (Konfrontasi Indonesia-Malaysia)


Pertempuran di Kalabakan



Harus diakui, dari sekian banyak kegagalan penyusupan sukarelawan Dwikora ke perbatasan, kesuksesan penyerbuan dan penyerangan ke Kalabakan merupakan suatu catatan gemilang bagi pihak Indonesia. Namun, ada sejumlah fakta menarik yang tak banyak diketahui publik, seperti dikisahkan sendiri oleh Mayjen Walter Walker dalam otobiografinya, :Fighting General. The Public and Private Campaigns of Sir General Walter Walker.”

Alkisah, sebenarnya pendadakan di Kalabakan tidak perlu terjadi, karena sudah ada peringatan sebelumnya dari Brigadir Jenderal Glennie, Deputy Director of Operations. Glennie yang gemar menyusuri anak sungai di Kalimantan dapat membaca, kalau Tawau yang memiliki banyak industri perkebunan dan 3/5 populasinya adalah warga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), merupakan wilayah atau tempat strategis yang dengan mudah dapat didadaki. 


Lima kompi digelar dan diterjunkan Indonesia di Pulau Sebatik. Reputasi serta keahlian tempur prajurit Indonesia yang cukup membuat ngeri, membuat Glennie memberikan peringatan waspada bagi prajurit 3rd Batt, Royal Malay Regiment (RMA) dan satu kompi King's Own Yorkshire Light Infantry yang saat itu menjaga Tawau. Karena Royal Navy memiliki destroyer yang memiliki radar di lepas pantai Tawau, Brigjen Glennie bisa membaca bahwa arah serangan nantinya akan datang bukan melalui wilayah laut, melainkan dari wilayah rawa yang sulit dijaga.

Sayangnya, 3rd RMA yang baru tiba di Tawau tidak mengikuti perintah Glennie. Saat 35 KKO dan 128 sukarelawan menyeberangi perbatasan, tujuan awal mereka memang menyerang Kalabakan di sebelah barat dan kemudian menunggu dukungan dari TKI yang bekerja disana untuk bergabung bersama dan menduduki Tawau. Strategi popular uprising, yang merupakan gaya komunis ini didasarkan pada laporan intelijen yang terlalu berani dan cenderung mengarah ke ilusi.

Setelah delapan hari melintasi rawa, pada 29 Desember pasukan KKO tiba di tepi hutan di sekitar Kalabakan, dan siap untuk melancarkan serangan. Kalabakan sendiri hanya diperkuat di dua posisi, satu pos polisi di tepi sungai yang mengarah ke Cowie Harbour dan dua gubuk milik RMA. Pos polisi yang diperkuat oleh barikade kawat berduri dan kantung pasir dijaga oleh 15 personel. Sementara itu RMA memiliki kekuatan satu peleton dan dua seksi. Bodohnya, gubuk-gubuk ini tidak diperkuat oleh karung-karung pasir yang setidaknya bisa menghentikan laju peluru.

Saat malam tiba, prajurit 3rd RMA juga tidak disiplin. Sebagian besar bersantai, ada yang sedang makan, membaca buku, mencuci baju, dan tidak ada personel yang berpatroli. Tepat pukul 11 malam, para prajurit KKO yang bergerak dalam senyap mencabut pin granat dan melemparkannya melalui lubang jendela yang terbuka lebar, lalu dengan cepat menghujani kedua gubuk tersebut dengan tembakan senapan serbu AK-47.

Delapan prajurit Malaysia yang sama sekali tak sigap, terlambat bereaksi, dan akhirnya tewas seketika diberondong peluru, termasuk komandan kompi, 19 prajurit Malaysia lainnya terluka sehingga tak mampu melawan. Kelompok KKO lain yang menyerang pos polisi tidak seberuntung serangan pertama, karena para prajurit yang berjaga dapat mundur ke pos mereka yang memiliki pertahanan baik dan lalu menyerang dari dalam. Kelompok lain yang menyerang perusahaan kayu menemukan kantor dalam keadaan kosong, lalu menjarah apa saja yang ada didalamnya, termasuk wiski.

Sementara itu, sang manajer perusahaan kayu kabur dan lari ke markas 3rd RMA yang baru diserang, dan meminta para prajurit Malaysia untuk menyerang balik, tapi mereka terlalu takut dan memilih bersembunyi. Tak sampai satu jam, seluruh penyerang undur diri ke rawa-rawa di sekitar Kalabakan dan menunggu pergerakan rakyat Indonesia untuk merebut Tawau. Seandainya saja para penyerang langsung bergerak maju ke Tawau, akhir ceritanya pasti akan berbeda.

Mayjen Walter Walker dikabari pukul 2 malam waktu setempat, bahwa Tawau telah diduduki. Ia melakukan inspeksi sendiri ke lokasi pertempuran di Kalabakan pada pagi harinya. Walker juga dikabari bahwa Tunku Abdul Rahman sudah mengetahui kejadian penyerangan di Kalabakan, dan mengumumkan akan berangkat ke Sabah dan langsung ke Tawau untuk observasi lapangan lebih lanjut. Itu merupakan penyerangan terbuka pertama, perang pertama antara Indonesia-Malaysia.

Mendengar hal ini, Mayjen Walker langsung minta diterbangkan ke Kinabalu- saat itu bernama Jesselton- untuk mengunjungi Tunku. Disana ia bertemu Inspektur Jenderal Polisi Claude Fenner yang telah tiba lebih dulu. Walker lalu memberitahu Fenner segala sesuatunya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, juga termasuk peringatan yang sudah diumumkan oleh Glennie jauh-jauh hari sebelumnya dan juga mengenai pasukan 3rd RMA yang payah. Walker memutuskan akan menceritakan segala fakta pada Tunku, tapi ditahan sejenak oleh Fenner. Fenner yang mengenal Tunku dengan sangat baik, tahu bahwa Tunku memiliki rasa ego yang tinggi. Tunku pasti tidak akan percaya bahwa prajurit pribumi melayu, yang dikenal hebat, ternyata takluk dan dapat dikalahkan oleh prajurit Indonesia dengan stanpa perlawanan yang berarti.

Atas nasehat Fenner, Walker akhirnya memoles ceritanya. “Pasukan Indonesia melakukan penyerbuan dengan gerakan merapat dengan sangat baik, memanfaatkan hutan-hutan disekitar wilayah Kalabakan, dan melakukan penyerangan mendadak dalam jumlah yang sangat besar, kira-kira satu batalion, perlawanan pasukan Malaysia yang kalah jumlah berlangsung sampai titik darah penghabisan!” , dari sinilah, maka disebutkan bahwa Kalabakan diserbu oleh satu batalion prajurit KKO, padahal faktanya para penyerang hanyalah berjumlah tidak lebih dari tiga regu. Tunku yang mendengar hal tersebut merasa terharu dan tergerak hatinya, dan saat menjenguk prajurit yang selamat di Tawau, Beliau memberikan para prajurit tersebut sejumlah uang, serta mendirikan monumen baru- untuk mengenang peristiwa penyerangan tersebut- yakni; Monumen Kalabakan.






Disadur dari; Majalah Angkasa Edisi Koleksi; Gurkha The Great Britain Special Force. Edisi Koleksi No.74. Agustus 2011

Sunday, 26 February 2012

Sepak Terjang Prajurit Gurkha di Malaya



Tahun 1960-an merupakan periode yang penuh gejolak bagi Inggris. Selain menghadapi puncak perang dingin di kandang sendiri, wilayah persemakmuran Inggris di Asia Tenggara juga mengalami banyak masalah dan ancaman keamanan yang tidak ringan.
Tanggal 1 Februari 1948, yang menandai terbentuknya Federasi Malaya menjadi awal dari serangkaian pemberontakan etnis melayu yang berpaham komunis. Dilatih oleh Inggris dalam Perang Dunia II untuk menghadapi Jepang, mereka akhirnya tergabung dalam MNLA (Malaya National Liberation Army), dan justru bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan mantan pelatihnya. Ketika pada tahun 1948, MNLA bertindak di luar batas dengan membunuh tiga administrator perkebunan karet, yang ketiganya merupakan warga negara Inggris, genderang perang pun ditabuh. Inggris mengirimkan kontingen pasukannya di bawah komando Field Marshal Sir Gerard Templer, termasuk pasukan Gurkha, yang dikirim ke Malaysia untuk meredam pemberontakan yang dikenal dengan; Malaya Emergency.
Pasukan dari 2-9th Gurkha Rifles di Malaya


Pasukan Gurkha pun dimekarkan, ditandai dengan pembentukan 17th Gurkha Infantry Division dan 17th Gurkha Division Signal Regiment secara bertahap. Inggris merancang operasinya dengan dua wajah berbeda; pada rakyat sipil yang tersebar di berbagai daerah, Inggris melancarkan kampanye hearts and minds dalam bentuk pengobatan gratis, penyuluhan pertanian, dan pengamanan perkampungan- melakukan pendekatan pada rakyat agar mereka terpisahkan dari pemberontak komunis yang hendak diperangi. Pada para komunis, Inggris tanpa kenal ampun melancarkan patroli-patroli hunter and killer dengan panduan pencari jejak (tracker) dari suku Dayak Iban dan Gurkha. Keduanya memiliki kesamaan, kebanggaan tempur dengan memenggal dan mengoleksi kepala lawan sebagai bukti kemenangan mereka. Paduan dari dua operasi tersebut sesungguhnya merupakan inti dari peperangan kontra-gerilya (counter-insurgency), yang kelak dimanfaatkan untuk mengalahkan Indonesia dalam permainannya sendiri saat konflik Indonesia-Malaysia.

 
Perdana Menteri Federasi Malaysia, Tunku Abdul Rahman



KONFRONTASI
Pada 27 Mei 1961, Inggris dan Perdana Menteri Federasi Malaysia, Tunku Abdul Rahman, mengadakan pembicaraan mengenai pembentukan Malaysia yang mencakup; Malaya, Sabah, Sarawak, Brunei dan Singapura. Awalnya, Presiden Soekarno melalui Menteri Luar Negeri Subandrio menyatakan bahwa Indonesia tidak keberatan dengan rencana pembentukan negara Malaysia. Namun peristiwa pada 8 Desember 1962 mengubah segalanya. Seorang politisi kiri, Dr.AM Azahari bin Sheikh Makhmud melancarkan pemberontakan di Brunei dengan payung TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara). Dengan kekuatan mereka yang berjumlah 4.000 orang, namun dengan persenjataan yang minim. Ia melancarkan kampanye untuk menangkap Sultan Brunei dan ekspatriat Inggris yang bekerja sebagai konsultan perusahaan minyak. Untuk mencegah keadaan semakin memburuk, Inggris mengirimkan 1st Battalion, 2nd King Edward VIII Own Gurkha Rifles. Mereka dikumpulkan pada 7 Desember, pukul 7 malam, para prajurit Gurkha sudah mendarat dengan helikopter pada pagi harinya di Bandar Seri Begawan. Mereka berbaris rapi dengan menghunus pisau Khukri mereka. Konon, begitu mendengar kedatangan tentara Gurkha, para pemberontak pun lari terbirit-birit
Biarpun Brunei dapat diselamatkan, Kiprah Gurkha tak lantas berhenti di sini. Dr. Azahari yang lari masih belum kapok. Ia malah pergi ke Indonesia dan minta bantuan Subandrio. Subandrio yang melihat kesempatan untuk lepas dari bayang-bayang Angkatan Darat yang semakin besar pengaruhnya setelah keberhasilan Trikora, mendukung gerakan Azahari. Azahari diberi fasilitas untuk menyusun kabinet TNKU di Kalimantan, dan puncaknya terjadi pada 20 Januari 1963, yaitu saat Subandrio mendeklarasikan bahwa Indonesia akan menempuh jalur militer dengan Malaysia. Ditambah lagi PKI yang terus memberontak, api dalam sekam akhirnya terbakar jua ketika Negara Federasi Malaysia berdiri pada 13 September 1963, sebelum diumumkannya hasil investigasi PBB. Presiden Soekarno akhirnya memakan umpan konfrontasi tersebut, dengan melancarkan kampanye Dwikora pada 3 Mei 1964- yang bertujuan untuk mengganyang Malaysia yang telah menjadi boneka Inggris. Dwikora seakan menjadi pengesahan bagi ribuan sukarelawan Indonesia yang disusupkan ke perbatasan, untuk melakukan aksi sabotase dan pembunuhan terhadap para tentara dan polisi Malaysia.
Pendaratan Pasukan SAS British yang baru saja tiba di Borneo, Kalimantan

Inggris tentu tidak tinggal diam melihat wilayah persemakmurannya dirongrong begitu saja. Inggris lalu mengirimkan pasukan terbaiknya, RM Commando dan 22 SAS untuk melakukan operasi kontra-insurjen ke wilayah perbatasan Malaysia-Indonesia, dan tentu saja Gurkha sebagai pasukan infantri utama Inggris di Borneo. Pengiriman Gurkha sebagai line infantry bukan tanpa alasan. Gara-gara Sandys Defense Whire Paper 1957 yang menekankan pada kemampuan detterent nuklir, Inggris menciutkan kekuatan militernya, terutama untuk memotong anggaran besar pasca PD II. Di tahun 1960, AD Inggris hanya mempunyai 60 batalion tempur, dimana 20 batalion dikirim ke Timur Tengah dan 24 lainnya ditempatkan di Eropa untuk membendung invasi Soviet yang ternyata tak pernah terwujud, dan sisanya lagi ada di Inggris. Sejarah kemudian membuktikan, bahwa tahun 1960-an diwarnai oleh perang berskala kecil, dan Inggris nyata-nyata tak siap sehingga membesarkan kekuatan tentara Gurkha sampai ke tingkat Divisi.
Pasukan Inggris- RM (Royal Marines) Commando, yang ditugaskan untuk menumpas Tentara Indonesia


Kontingen Gurkha di Borneo dipimpin oleh Mayor Jenderal Walter Walker, GOC (General of ficer Commanding) 17th Gurkha Division yang juga bertindak sebagai Direktur Operasi (DOBOPS= Director of British Operation) Inggris di Borneo. Empat Resimen Gurkha akhirnya diluncurkan, antara lain 2nd, 6th, 7th, dan 10th Gurkha, ditambah lagi dengan Gurkha Signal, Gurkha Artillery, dan Gurkha Engineer yang dibentuk belakangan. Pasukan tiba di Borneo pada Desember 1962 dan langsung diterjunkan untuk melancarkan operasi dalam menghadapi infiltran Indonesia. Dalam melaksanakan operasi, Mayjend Walter Walker menggariskan enam butir aturan dasar yaitu operasi gabungan antara polisi dan tiga cabang Angkatan Bersenjata (AD, AL, dan AU), Informasi intelijen yang tepat dan akurat, kecepatan, mobilitas, dan fleksibilitas, pengamanan markas, dominasi atas hutan rimba, serta memenangkan kepercayaan penduduk pribumi. Diterjunkan dalam sebuah tempur, Gurkha dengan cepat membuktikan kemampuan mereka. Pada 18 Mei 1963, Pasukan 27th Gurkha Rifles berhasil menewaskan Yassin Efendi, pemimpin pemberontakan TNKU melalui penyergapan di Kampong Sendang, di muara rawa-rawa sungai Brunei.

Para personel RPKAD Indonesia- yang diterjunkan dalam
Konfrontasi Malaya


Dalam pertempuran berikutnya yang melibatkan Gurkha, sukarelawan Indonesia melakukan infiltrasi jauh ke dalam Sarawak. Pada 28 September 1963, Infiltran Indonesia menyerang Pos aju di Long Jawai yang dijaga enam pasukan Gurkha dari 1/2nd Gurkha Rifles, tiga polisi, dan 21 Dayak Iban. Pasukan Gurkha terpaksa meninggalkan pos mereka setelah dihujani mortir 60mm dan senapan mesin otomatis, namun CO 1/2nd Gurkha Rifles, Letkol Clements, MC, memerintahkan pengejaran menggunakan helikopter Westland Wessex milik 845 Naval Air Squadron Fleet Air Arms.
Operasi pengejaran segera dilakukan dengan lingkaran patroli yang semakin mengecil. Akhirnya pada 1 Oktober para prajurit Gurkha mendapatkan sasaran mereka, yaitu satu regu sukarelawan yang dipimpin oleh Lt. Pashbandur- sedang mengintai di tepian sungai dan mendapati dua long boat berisi orang-orang berseragam TNKU. Dengan segera, satu lonf boat itu dihiasi lubang-lubang dari terjangan peluru L1A1 SLR yang ditembakkan pasukan Gurkha, sampai kemudian long boat tersebut tenggelam. Meninggalkan 26 mayat sukarelawan Indonesia yang menggambang di sungai yang keruh tersebut. Satu long boat lain berhasil dikejar, didalamnya terdapat Radio komunikasi milik Gurkha yang dirampas dan mortir yang digunakan untuk menyerang di Long Jawai sebelumnya.
Sukses besar KKO dalam melancarkan raid di Kalabakan mengundang kedatangan kompi B dan C dari 1/10th Gurkha yang digeser dari Malaka, yang dipimpin sendiri oleh Letkol Burnett. Semakin ahli dalam operasi pengejaran, Gurkha pun dikerahkan untuk mengevakuasi seluruh penduduk dusun dan kampung yang ada disekitar Tawau, serta menghentikan layanan bus umum yang digantikan oleh truk militer. Hasilnya segera tampak, sampai dengan 17 Januari 1964. 15 Sukarelawan berhasil dibunuh dan enam prajurit KKO berhasil ditawan. Dan pada akhir Februari, 96 sukarelawan berhasil dibunuh atau ditangkap, dan 21 KKO ditawan atau gugur.
Satu Prajurit KKO Indonesia yang berhasil ditangkap pasukan Gurkha