.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label PMC (Private Military Company). Show all posts
Showing posts with label PMC (Private Military Company). Show all posts

Monday, 11 February 2013

Tragedi Amerika – Saat PMC Terbantai (Blackwater Bridge)




MARET 2004,


 seperti inilah tampilan PMC pada umumnya- biasanya hanya mengenakan pakaian sipil
dan membawa senapan standar seperti senapan serbu M4 dan pistol Glock



Dengan bayaran yang tinggi yang diterima setiap harinya, personel PMC (Private Military Contractor), atau biasa disebut Tentara Bayaran, rela bekerja di medan-medan sulit yang penuh dengan resiko, demi uang. Mereka bekerja dengan cara mereka sendiri. Setiap personel PMC yang dikirim ke medan tempur memiliki resiko kehilangan nyawa yang besar. Apalagi dalam setiap misi mereka, tugas pengawalan, personel PMC tidak mendapatkan perlindungan dari pasukan militer reguler AS atau Pasukan Irak (Tentara/Polisi lokal). Semua kebutuhan di lapangan dipenuhi oleh institusi dan mereka tinggal menjalankan tugas mereka saat perintah tiba. Namun jika tugas beresiko tinggi yang diterima mereka tidak beres, jelas, nyawa lah yang menjadi taruhannya. Insiden yang berakibat fatal itu dialami oleh empat personel PMC Blackwater saat mereka bertugas di Fallujah, Irak, 2004.








Bulan November 2004, personel Blackwater yang bertugas di Irak dan dikendalikan dari markas Blackwater di Regency Hotel and Hospitality Company, Kuwait, mendapat tugas mengirimkan logistik bagi kepentingan militer AS yang bertugas di seluruh Irak, Logistics Civil Augmentation Program (LOGCAP). Untuk kepentingan logistik militer AS di Irak, semua perbekalan dikirim melalui perusahaan bernama ESS (Eurest Support Services). Meskipun tugas yang akan dilaksanakan Blackwater terbilang mudah, namun pasukan reguler AS yang berada di Irak sama sekali tidak memberikan pengawalan selama aktivitas tersebut berlangsung, selama tugas tersebut diemban oleh pihak swasta atau orang sipil (orang non-militer).

 

Ada empat orang yang akan ditugaskan untuk misi pengantaran logistik tersebut. Mereka diantaranya adalah;

         Wesley JK Batalona, dia adalah mantan anggota US Ranger dan ketika pensiun, pangkat terakhirnya adalah sersan. Ketika perang Irak meletus, Weskey kesulitan keuangan dan harus menanggung sendiri biaya ayahnya yang sakit-sakitan hingga kemudian ia memutuskan untuk bergabung dengan PMC. Namun faktor utama Wesley bergabung dengan PMC ialah ia sudah lama merindukan dunia petualangan dan pertempuran seperti saat dirinya masih aktif berdinas di Ranger.

         Personel PMC kedua adalah seorang pemuda 32 tahun berdarah Kroasia, Jerry Zovko, dan merupakan teman akrab Wesley. Zovko dulunya pernah bergabung dengan US Army (Angkatan Darat AS), dan kemudian bertugas sebagai Polisi Militer di Fort Bragg. Ia pernah ditugaskan ke Kroasia namun naluri militernya lebih mengarahkan dirinya sebagai sherif atau bodyguard. Sebelum bergabung dengan Blackwater, Zovko bekerja pada DynCorp. Tahun 1997 ia pernah ditugaskan ke Qatar dan sempat juga mempelajari bahasa Arab.

        Personel PMC yang ketiga adalah Michael Teague. Setelah bertugas di Ranger, ia kemudian bergabung dengan satuan Pasukan Elite SOAR (Special Operations Aviation Regiment) sebagai door gunner. Selama 12 tahun berdinas di militer, Michael pernah bertempur di Grenada, Panama, dan Afghanistan. Karena kesulitan finansial pula lah, akhirnya Michael pun memutuskan pensiun dari militer dan memilih bergabung dengan Blackwater.

        Anggota PMC yang keempat yang tergabung dalam Blackwater adalah Scott Helvenston, dia adalah satu-satunya orang dari keempat orang Blackwater yang bukan jebolan Ranger, tapi SEAL. Bagi mantan Anggota Pasukan Khusus US Navy SEAL, yang biasa beroperasi di laut, bertugas di daratan Irak memang merupakan hal baru apalagi Scott yang juga dikenal sebagai aktor itu belum memiliki pengalaman perang. Pada 2001, bisnis di industri perfilman mulai surut dan Scott pun mengalami kebangkrutan yang memaksanya terjun ke Blackwater sebagai Tentara Bayaran. Ia juga harus menghidupi istri dan kedua anaknya, itulah alasan Scott bergabung dengan Blackwater, Jasa Perusahaan Tentara Swasta. 

         Perlu diketahui, Blackwater sebenarnya lebih suka menerima tenaga profesional yang memiliki pengalaman tempur di darat dan bukan kemampuan spesialisasi beroperasi di laut seperti yang biasa dilakukan Pasukan Khusus SEAL. Bagi Blackwater, motivasi Pasukan Khusus SEAL, saat menjalankan misi mereka, juga berbeda dengan Pasukan Elite AS lainnya, itu karena dalam menjalankan setiap tugas mereka, US Navy SEAL harus selalu melakukannya secara rahasia demi membela negara dan bukan karena faktor uang dan ingin mencari kepopuleran. Sedangkan pasukan yang biasa bertugas di darat menurut pemahaman Blackwater, telah terbiasa melaksanakan sejumlah operasi tempur darat (Perang terbuka), mereka juga tak tabu untuk membicarakan soal gaji.

 

Sebagai anggota tim November One, posisi Scott sebenarnya telah diisi oleh T-Boy, mantan anggota USMC (Marinir AS). Namun pada waktu yang ditentukan, pesawat komersial yang ditumpangi T-Boy mengalami kendala sehingga T-Boy terlambat tiba di Kuwait. Saat tim November One diberangkatkan dari Kuwait menuju Irak, rupanya T-Boy yang ditunggu-tunggu belum juga muncul sehingga Scott dan ketiga rekannya segera diberangkatkan.

Keempat orang itulah yang nantinya menjadi bagian dari Tim November One, dalam misi mengantar logistik bagi kepentingan militer AS di Irak.

 





Gambaran para personel PMC yang biasa bertugas di Irak dan Afghanistan.
Bekerja demi uang, nyawa taruhan mereka.







TEWASNYA PERSONEL PMC

        Tanggal 29 Maret, Tim November One yang telah tiba di Baghdad, Irak, mulai berkemas-kemas di sebuah hotel yang juga merupakan Markas Besar Blackwater. Tim November One tampak sedang serius mempelajari proses pengiriman logistik menuju Taji yang akan dilaksanakan keesokan harinya.

        Bagi Batalona dan Zovko yang pernah bertugas di kawasan yang harus dilewati tiga truk ESS itu terasa ringan karena bukan merupakan pengawalan barang hidup seperti bus penumpang. Demikian juga bagi Helvenston dan Teague, terasa tak ada kendala. Hanya saja mereka belum pernah memasuki kawasan yang akan dilintasi sehingga jika mendapat serangan keduanya bisa kehilangan orientasi dan berakibat fatal.

        Esok harinya, 31 Maret, setelah beristirahat sehari, tim berangkat menuju Taji. Untuk memperjelas identitas, Batalona dan Zovko mengendarai Mitsubishi Pajero warna merah. Perjalanan menuju kota Taji untuk menjemput tiga truk ESS berjalan lancar. Konvoi kemudian melanjutkan perjalanan menuju Camp Ridgeway. Formasi konvoi kendaraan itu terdiri dari 3 truk Mercedez Benz, 2 Pajero Blackwater, dan 2 truk milik Pasukan Pertahanan Sipil Irak. Selama perjalanan posisi Pajero yang dikendarai Batalona dan Zovko diikuti 3 truk milik ESS. Paling belakang adalah Pajero yang dikendarai Helvenston dan Teague.

        Ketika perjalanan konvoi memasuki kota Fallujah, semua kendaraan melaju di jalan raya Highway 10 dan terus menuju pusat kota yang kiri-kanan jalannya dipenuhi bangunan-bangunan industri. Perjalanan melintasi setengah kota itu berjalan cukup lancar meskipun jalanan cukup padat, hingga tiba-tiba, situasi berubah drastis. Ketika tiba di perempatan jalan yang sibuk, truk milik Pertahanan Sipil yang berada di posisi paling depan berhenti mendadak. Otomatis semua kendaraan dibelakangnya berhenti dan mereka bertanya-tanya dalam hati apa yang kemudian akan terjadi. Semua personel Blacwater masih berada di tempat mereka di dalam mobil Pajero mereka dan mengira bahwa penghentian mendadak tersebut dikarenakan kepadatan lalu lintas. Mereka bahkan tidak menaruh curiga dan mengganggap kemacetan itu merupakan hal biasa.

     Tanpa diduga, ketika semua mobil berhenti dan semua dalam keheningan di tengah kepadatan kota Fallujah, sekelompok pemuda Fallujah yang dari tadi bersembuyi di belakang sebuah toko tiba-tiba muncul dengan menembakkan senjata AK-47. Rentetan dan berondongan peluru 7.62mm itu ternyata ditujukan kepada mobil Pajero yang berada di posisi paling belakang. Rentetan deras peluru AK-47 dari arah belakang mobil dengan mudah menembus kaca belakang Pajero dan bodi mobil. Akibatnya Helvenston dan Teague keburu tewas sebelum mereka sempat meraih senjata dan mengadakan perlawanan.

     2 orang pengemudi truk ESS pun ketakutan setengah mati begitu mendengar suara tembakan membabi-buta, mereka pun langsung kabur dari formasi konvoi dan segera meninggalkan tempat tersebut dengan truk mereka. Zovko dan Batalona tak bereaksi terhadap 2 truk ESS yang kabur. Mereka langsung memutar balik menuju Pajer yang ditumpangi Helvenston dan Teague yang saat itu sudah menjadi mayat. Tapi manuver Pajero Zovko hanya berlangsung sementara dan akibat berondongan peluru yang datang dari segala arah dan dari jarak yang dekat, membuat mobil Pajero tersebut oleng hingga menabrak sebuah mobil Toyota berwarna putih. Zovko dan Batalona pun tewas seketika dengan luka tembak di sekujur tubuh, juga tanpa sempat memberikan perlawanan.

         Melihat para korbannya yang sudah menjadi mayat. Sekelompok resistan Fallujah pun ramai-ramai turun ke jalan dan bersorak-sorai penuh kemenangan di dekat dua mobil Pajero yang didalamnya terdapat empat mayat tak berdaya. Orang-orang Fallujah pun menjadi beringas. Beberapa orang bahkan sempat merekam mayat 4 personel Blackwater yang bersimbah darah, beberapa orang lainnya melepaskan tembakan ke udara sebagai tanda kemenangan, dan hampir semua orang berteriak-teriak dan berdansa untuk merayakan “kemenangan” mereka terhadap Amerika. Seketika itu juga bensin mulai disiramkan ke dua mobil Pajero dan api pun segera menyalak menghanguskan seluruh mobil dan juga membakar 4 personel PMC Blackwater yang terdapat di dalam mobil. Suasana horor pun muncul di kota Fallujah, dan semakin mencekam. 

 



 Horor terus berlanjut, semua jasad personel Blackwater yang telah menjadi arang kemudian diikatkan tali dan jasad-jasad tersebut kemudian diseret bemper mobil dan diarak sepanjang jalan-jalan utama kota Fallujah. Di sepanjang jalan tersebut, penduduk Fallujah meneriakkan kemenangannya terhadap penjajah AS dan Israel. Polisi Irak yang menyaksikan peristiwa itu pun tak dapat berbuat banyak dan hanya menonton saja, mereka tak berani berbuat apa-apa lantaran massa yang semakin beringas, dan mengganggap insiden tersebut merupakan urusan AS. Jasad keempat mayat tadi lalu digantung di sebuah Jembatan sungai Euphrat, digantung di besi-besi jembatan sambil terus diiringi teriakan-teriakan kemenangan penduduk Fallujah. Tulisan dan coretan yang mencerminkan rasa puas serta ancaman di sepanjang jembatan tersebut, bahwa Fallujah, “Akan menjadi kuburan terakhir bagi Tentara AS”. 

 


 Rekaman yang dibuat para resisten terhadap aksi pembantaian keempat personel Blackwater di Fallujah, segera tersebar luas melalui internet. Marinir AS yang bermarkas di Camp Fallujah pun telah mendengar peristiwa brutal tersebut tapi untuk sekian jam mereka masih belum melakukan sesuatu. Marinir AS lalu meminta Polisi Irak agar segera menurunkan jasad-jasad yang digantung di Jembatan tersebut, namun untuk bergerak sendiri mereka tidak punya nyali. Akhirnya Polisi Irak dan Marinir AS sama-sama menuju Jembatan untuk menurunkan semua jenazah dan lalu membawanya ke Pangkalan Air Force Base guna otopsi lebih lanjut.





terlihat Para Personel Blackwater sedang berjaga-jaga dan berpatroli 
pasca pembantaian rekan mereka di Fallujah







BALAS DENDAM AMERIKA

Reaksi di Amerika atas tewasnya empat personel Blacwater mendapat perhatian besar termasuk dari bakal calon Presiden Barack Obama. Yang jelas sehari setelah insiden pembantaian tersebut, yang mirip dengan pembantaian Tentara AS di Somalia, Deputi Operasional Pasukan Koalisi yang bertugas di Irak, Brigadir Jenderal Mark Kimmit juga langsung memberikan respon terhadap peristiwa pembantaian Fallujah. Kimmit menekankan pasukan koalisi akan segera bertindak untuk menangkap para pelaku pembantaian, kalau perlu, membunuh mereka semua, dan sekaligus juga membumi-hanguskan kota Fallujah. Brigjen Kimmit juga menekankan meskipun yang tewas merupakan Tentara Swasta atau Tentara Bayaran, api aksi biadab warga Fallujah terhadap keempat personel PMC tersebut tidak dapat ditoleransi lagi.

 





 Tulisan untuk mengenang tragedi pembantaian biadab
yang menewaskan empat personel PMC.





Pasukan Koalisi di Irak pun mulai dipersiapkan untuk menggempur Fallujah. Untuk menguasai Fallujah Marinis AS sampai-sampai melancarkan serangan besar-besaran sampai dua kali, yakni pada Operation Vigilant Resolve dan Operation Phantom Fury. Operasi tempur yang mengerahkan semua persenjataan itu memang berhasil menghancurkan Fallujah. Tapi perlawanan yang diberikan kepada sekelompok resisten Fallujah itu justru menyalakkan semangat perlawanan bagi pejuang di seantero Irak.

Tanggal 31 Maret 2006, setahun setelah insiden pembantaian tersebut. Direktur Blackwater, Mike Rush, menyempatkan diri berkunjung ke markas Marinir AS yang berada di sebelah timur Fallujah, Campa Bahariah. Pada kesempatan itu juga Rush dikawal sejumlah personel Blackwater mengunjungi jembatan Euphrat dan mengheningkan cipta sejenak. Rush lalu berpidato singkat dan menyatakan terima kasihnya kepada Marinir AS yang telah banyak membantu. Untuk mengenang jasa para rekannya, Rush pun “mengubah” nama jembatan Euphrat Rives dengan nama “Blacwater Bridge”.

 






  Pembukaan kembali Jembatan "Blackwater Bridge" pasca insiden pembantaian,
dan setelah penggempuran terhadap kota Fallujah









Disadur dari Majalah Angkasa Edisi Koleksi. Private Military Companies. Edisi no.66/ 2010

Sunday, 26 February 2012

Sepak Terjang Tentara Swasta

Kebanyakan orang mungkin menganggap film Mission Impossible fiktif belaka. Namun, sesungguhnya, sejumlah Negara besar memiliki banyak catatan dan agenda tentang misi-misi penting yang mustahil dilakukan, tetapi toh harus dan bisa dilakukan.
Sebagai contoh, mari simak kembali skandal penjualan senjata Iran-Contra yang dikendalikan petinggi militer AS pada 1986. Alih-alih untuk membebaskan 52 karyawan kedubes AS di Teheran, Iran; dinas Intelijen CIA menawarkan senjata Anti-Tank kepada Iran. Pemerintah AS sendiri sebelumnya telah melancarkan embargo senjata kepada Iran. Tawaran atau praktik belakang layar ini disebut skandal.
Tawaran itu diterima karena Iran memerlukannya untuk memerangi Irak. Uang hasil penjualan kemudian digunakan untuk mendanai perjuangan gerilyawan Contra untuk menjatuhkan pemerintahan resmi Nikaragua.
Orang dengan kemampuan Marketing biasa tak mungkin bisa mengendalikan operasi penjualan senjata semacam itu. Tetapi tidak untuk Letkol Oliver North, staf Dewan Keamanan Nasional AS. Pengalaman bertugas diberbagai Negara membuatnya sangat lihai menangani misi-misi yang tak biasa. Ia bahkan berhasil mencairkan dana itu dalam bentuk senjata dan terkirim hingga ke belantara Nikaragua, dimana gerilyawan Contra bercokol. Sayangnya, salah seorang Operator Lapangan sewaan CIA, yakni Eugene Hesenfus tertangkap polisi Nikaragua. Dari Hesenfus inilah skandal ini mulai tercium pers.
Skandal hebat ini kian terbuka setelah majalah Ash Shiraa terbitan Lebanon, November 1986, mengungkap pertemuan rahasia pejabat AS dan Iran membicarakan soal penjualan senjata itu. Semula, pemerintah AS membantah habis-habisan seraya memojokkan Oliver North. Namun, skandal tingkat tinggi ini akhirnya “diselesaikan” sendiri oleh presiden Ronald Reagan dengan pengakuan bahwa dirinya mengetahui dan juga menyetujui transaksi tersebut.


Plausible deniability
Skandal Iran-Contra merupakan pelajaran mahal dan aib yang sangat memalukan bagi Gedung Putih. Itu sebabnya tak sedikit pengamat Militer mengatakan; penempatan PMC (Private Military Companies) atau Tentara Bayaran di berbagai Negara dapat menjadi salah satu cara untuk meredam potensi aib serupa yang mungkin dilakukan para perwira militer di luar negeri. Kalau pun kesalahan itu terjadi, pemerintah dapat dengan mudah menyangkalnya.
Pihak-pihak PMC yang kini banyak bertugas di berbagai wilayah konflik seperti; Balkan, Irak, Afghanistan, dan Afrika tak terlalu peduli dengan segala resiko dan konsekuensi yang harus mereka tanggung. Mereka bahkan tak takut kehilangan nyawa, karena sejak awal, mereka telah menyepakati akan menanggung seluruh konsekuensi dari profesi tersebut. Ini juga mereka terima karena mereka sadar dengan kondisi pekerjaan yang menjadi spesialisasi mereka.
Di antara spesialisasi pekerjaan PMC adalah; penyelenggaraan pelatihan tentara/polisi, pengawalan VVIP, pengamanan konvoi kendaraan, analisis Intelijen, perawatan pemeliharaan alat utama sistem senjata, penyiapan markas militer, dan menjadi operator pengiriman logistik militer.
Koran Inggris Guardian menulis; “Kehadiran mereka (PMC) tak lain adalah untuk menggantikan tentara yang telah menciut nyalinya pasca perang Dingin. Tanpa mereka (PMC), kehadiran tentara AS dan Inggris di Irak akan mendapat tekanan begitu besar dari dunia.”


Lahan Dollar
Jika di Irak, AS mengincar minyak, lain lagi yang di incar sejumlah Negara di Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Apapun itu, yang pasti, sejak Perang Dingin meluruh pada dasawarsa 1990-an, PMC secara cepat berhasil menjadi perusahaan raksasa multinasional yang sangat disegani dan meraksasa.
Dipulangkannya ribuan tentara AS dan Inggris dari pos-pos luar negeri, bubarnya AB Uni Soviet, dan menggunungnya senjata-senjata yang mereka tinggalkan telah membuat sejumlah Negara di liputi kegentingan. Potensi alam dari negara-negara yang di liputi kegentingan inilah yang selanjutnya diincar banyak Negara berpengaruh dan menjadi lahan dollar bagi PMC-PMC kelas dunia.
Di Kroasia dan Bosnia misalnya, Kellog Brown & Root Services dan MPRI dari AS, antara tahun 1994 hingga 2002, berhasil membawa pulang 300 miliar dollar dari 3.000 kontrak kerja yang mereka dapatkan dari Departemen Pertahanan AS. Bahkan untuk urusan sepele mengawal pejabat-pejabat AS yang diberi tugas mengendalikan bisnis tingkat tinggi di berbagai Negara yang selalu diliputi kegentingan. ialah Blackwater (kini menjadi; Xe Services), berhasil meraup pendapatan hinggan 320 juta sampai satu miliar dollar, juga dari Departemen Pertahanan AS.
Demikianlah, diam-diam PMC memang telah menjadi salah satu perusahaan kelas dunia yang paling sukses dan memikat. Uang tidak saja membanjiri pundi-pundi di perusahaan, tetapi juga pundi-pundi karyawannya. Seorang mantan prajurit kesatuan elite yang bekerja di salah satu PMC misalnya, mengaku terperangah dibayar 14.000 poundsterling tiap bulan. Bagi dia, ini berarti tujuh kali lipat dari gaji bulanan yang ia terima saat masih bekerja di kesatuan militer.
Menurunnya tendensi menyerahkan tugas-tugas seperti itu ke pihak pasukan regular untuk kemudian mengalihkannya ke tangan PMC, juga disebabkan oleh adanya penolakan angkatan bersenjata berbagai Negara untuk mengerahkan pasukannya ke tempat-tempat yang rusuh, yang kerap diwarnai pembunuhan brutal. Perancis dan Inggris misalnya, belakangan selalu menolak permintaan PBB untuk memperkuat UNAMSIL; pasukan penjaga perdamaian untuk Somalia. Mereka enggan menerima kenyataan pasukannya kelak pulang dalam peti mati.
Akhir kata, banyak peran yang dipikul PMC, di satu sisi mereka adalah sebuah perusahaan yang menyediakan jasa pengawalan dan operator instalasi megaproyek. Namun, disisi lain, mereka sesungguhnya tak lebih dari kepanjangan tangan sejumlah Negara besar yang memiliki banyak kepentingan di sejumlah Negara. Di tangan mereka, berbagai kepentingan itu tetap dapat dikendalikan dari jarak jauh.
Mereka seolah tak sadar bahwa jika eksploitasi Negara-negara yang selalu dirundung konflik terus dilakukan, kelak dunia akan menanggung petaka hebat dari sebuah bahaya global yang disebut sebagai; Dangerously Asymmetrical (Bahaya Asimetrik).

PMC - Bergelimang uang dan darah


*sebutan lain; tentara bayaran / tentara pengawal / agen sewaan , dsb.


Keberaadaan PMC  ternyata telah disinggung oleh filosof asal italia yang juga ahli peperangan, Machiavelli (1469)-(1527). Dalam bukunya yang berjudul; The Prince, Machiavelli mengomentari tentang PMC dengan kata-kata yang pedas. Machiavelli yang juga menulis buku yang kemudian menjadi buku yang terkenal; The Art of War, menggambarkan PMC adalah orang-orang berbahaya dan tidak berguna. Siapa pun yang berusaha membangun kekuasaan berkat dukungan PMC, kekuasaannya pasti tumbang. Pasalnya, PMC tak mempunyai disiplin, tidak terorganisir, terlalu ambisius, sulit dipercaya, hanya berani bertempur jika ada temannya, bersikap pengecut kepada musuh, tidak takut kepada Tuhan, dan tak bisa dipercaya antara satu dengan yang lain. Pernyataan Machiavelli tentang PMC, rupanya masih tetap disambut dengan kesimpulan lembaga pemantau PMC, Global Research yang dipublikasikan pada tanggal 11 Agustus 2009. Pada laporan yang bertajuk; The Real Chessboard and The Profiteers of War yang di tulis oleh Peter Dale Scott, di sana di paparkan bisnis tentang PMC. Scott mengatakan organisasi PMC sebagai suatu lembaga yang bisa member otorisasi dan komitmen kepada tenaga kerjanya untuk menciptakan “pertempuran berdarah”, merupakan representasi sekelompok bandit yang tak terkontrol dan terorganisir berdasar pangkat atau hirarki, serta keberadaannya sangat membahayakan masyarakat luas.
Apakah sepak terjang PMC yang saat ini beroperasi di 50 negara dengan nilai kontrak lebih dari 100 miliar dollar AS memang seperti itu?
Jika melihat pada peristiwa dan kebrutalan para personel PMC yang berlangsung di lapangan, imej buruk mereka rupanya tetap belum berubah. Sebagai contohnya, aksi pembantaian 28 warga Irak yang dilakukan oleh personel Blackwater di lapangan Al Nisour Square, Baghdad (16 September 2007) atau pembunuhan sejumlah warga Irak dalam bentrokan tak seimbang di Green Zone pada akhir 2006, memang masih mencerminkan kebobrokan moral PMC. Atau para personel Triple Canopy yang membuat pusing para petingginya dan juga pemerintahan AS, karena mereka memiliki prinsip minimal membunuh satu orang warga Irak sebelum mereka pulang, akibatnya para petinggi Triple Canopy buru-buru memulangkan semua personelnya dari Irak sebelum pameo mereka berwujud menjadi ladang pembantaian. Doktrin “harus membunuh” itu setidaknya memang masih mencerminkan bahwa personel PMC masih sangat berbahaya.


Pengontrol PMC
Lagi-lagi, muncul pernyataan negatif akibat sikap Blackwater yang seolah kebal hukum dan merasa memiliki izin membunuh yang legal. Dalam bukunya, Blackwater; The Rise of The World’s Most Powerfull Mercenary Army, Jeremy Scahill mengatakan PMC adalah pembunuh profesional dunia yang beroperasi tanpa takut kepada konsekuensi hukum, tapi sekaligus masih merupakan kekuatan yang paling diminati, khususnya di medan tempur yang diciptakan oleh AS. Tapi petinggi Blackwater bukannya tidak mengubris reaksi IPOA dan BAPSC serta komentar negative yang terus bermunculan. Untuk meredam imej buruknya dan prasangka buruk itu, nama Blackwater pun diubah menjadi Xe. Namun, nama baru itu ternyata tak mampu mengubah perilaku para personelnya karena Xe tetap saja melakukan kebrutalan di lapangan dan juga melakukan tindakan di luar hukum.

Terlepas dari imej buruk para personel PMC di lapangan, kenyataannya keberadaan mereka justru makin dibutuhkan dan lembaga penyedia PMC pun terus bertambah hingga lebih dari 60 institusi. Pemicu meledaknya bisnis PMC adalah peristiwa 9 September 2002 disusul Perang Irak (sejak 2003) dan ditambah oleh “fatwa” Presiden AS George Bush yang memberikan izin membunuh, License to kill, bagi pasukan AS serta PMC yang bertugas dalam misi “perang melawan terorisme”.

Pentagon rupanya tak hanya sekedar menyewa tenaga PMC, tetapi juga mengaturnya sehingga muncul semacam doktrin bahwa PMC memang harus ada di medan perang. Akibatnya, kehadiran PMC di lapangan, terutama yang sedang “digarap” oleh AS, terus mengalir deras. Jika pada 2003 di Irak hanya ada 3.000 PMC, tahun 2009, sesuai data yang dikeluarkan Departemen Pertahanan AS, jumlah personel PMC di Irak telah mengalami lonjakan yang luar biasa, yaitu sekitar 250.000 personel atau merupakan kekuatan kedua terbesar setelah pasukan reguler AS. Sementara jumlah PMC di Afghanistan juga mengalami kenaikan yang tak kalah luar biasa dibandingkan di Irak, dilaporkan oleh lembaga Congressional Research Service (CRS), jumlah personel PMC yang berada di Afghanistan mencapai 104.000 personel.

Untuk mengendalikan ratusan ribu personel PMC tersebut, masing-masing institusi tersebut memang telah berusaha membuat aturan yang harus di patuhi. Tapi karena semua personel PMC adalah mantan anggota militer yang cenderung merindukan peperangan dan di persenjatai serta selalu bekerja di bawah tekanan, mereka jadi lebih mudah menarik picu senjata untuk menembak.
Apalagi saat di tengah-tengah medan tempur, musuh justru lebih suka menyergap PMC secara tiba-tiba. Para resistan rupanya juga punya taktik khusus, lebih mudah menyergap dan membunuh personel PMC dibandingkan membunuh anggota militer reguler. Akibatnya bisnis PMC ini menjadi bisnis yang benar-benar “berdarah-darah”, baik darah yang ditumpahkan personel PMC maupun darah yang keluar dari para korbannya. Sedikitnya 1.327 personel PMC telah tewas di Irak. Namun tetap saja PMC merupakan profesi yang di buru mengingat nilai uangnya yang di hasilkan, dan juga merupakan salah satu bisnis yang menggiurkan.




(untuk mengetahui lebih jauh tentang PMC, baca juga bacaan dengan judul; Sepak terjang Tentara Bayaran).
SUMBER; Majalah berjudul; Private Military Companies – Sepak Terjang Tentara Swasta. Terbitan Angkasa Edisi Koleksi No. 66 Tahun 2010Private Military Contractor.

Private Military Company

PMC; Private Military Companies / Perusahaan Militer Swasta. Sebutan lain; Mercenary. Dog of War (Tentara Bayaran). Shadow Company (Perusahaan gelap/terselubung), Freedom Fighter (Petarung bebas), Freelance Soldiers.



 





Sebagai Presiden Afghanistan yang secara politis merupakan pemerintahan boneka AS, Hamid Karzai memiliki banyak musuh yang ingin menghabisi nyawanya. Selain pejuang Taliban yang bekerjasama dengan Al Qaeda, para panglima lokal yang berasal dari suku berbeda juga turut mengincar nyawa Presiden Karzai. System pengamanan yang ketat dan professional pun kemudian dibentuk sehingga keamanan Presiden Karzai terjamin. Pada awalnya, yang bertugas menjaga Presiden Karzai demi menjamin keamanan dan keselamatannya adalah pasukan lokal yang telah dilatih oleh Tentara AS. Pasukan pengawal lokal ini haruslah memiliki syarat mutlak, yakni satu suku dengan Presiden Karzai, yaitu suku Pashtun.

Meskipun sudah dijaga oleh pasukan pengawal yang setia dan berasal dari satu suku, Presiden Karzai toh masih merasa khawatir karena pasukan pengawalnya bisa disusupi oleh pembunuh yang berpura-pura setia sebagai pasukan pengawal presiden. Presiden Karzai lalu meminta kepada pemerintah AS untuk member jaminan keamanan yang bukan berasal dari pasukan reguler Afghanistan tapi dari pasukan AS sendiri. Permintaan Presiden Karzai langsung di tanggapi oleh militer AS dengan membentuk pengawal Joint Special Operations Command (JSOC) yang personelnya terdiri dari pasukan Anti-Teror dan berasal dari SEAL Team Six (ST6) atau lebih dikenal sebagai DEVGRU. Pasukan khusus yang sudah teruji kemampuannya itu mulai mengawal Presiden Karzai sejak 2 Juni 2002.

Teknik pengawalan SEAL yang diterapkan kepada Presiden Karzai sama dengan ketika mereka sedang mengawal para jenderal AS semasa berkunjung ke Afghanistan. Apa yang dilakukan SEAL dalam mengawal Presiden Karzai memang mengesankan sistem pengamanan yang ketat dan berwibawa. Tapi sistem pengawalan Presiden Afghanistan yang di dominasi oleh personel AS itu ternyata membuat kesal musuh-musuh Presiden Karzai. Pasukan dari suku Pashtun yang selama ini setia mengawal Presiden Karzai turut tersinggung. Rakyat Afghanistan dari suku-suku non Pashtun yang selama ini bertempur berdasar keyakinan jihad mereka merasa diremehkan. Akibatnya mereka justru lebih bergairah untuk melancarkan serangan sekaligus membuktikan bahwa pengawalan yang dilaksanakan oleh SEAL bisa dibobol.
Upaya untuk membunuh Presiden Karzai pun mulai dilancarkan. Pada September 2002, Karzai yang dikawal oleh SEAL menghadiri acara pernikahan adik bungsunya di kawasan yang terkenal rawan, yaitu di Kandahar. Tiba di rumah adiknya, lokasi sekitar sudah disterilkan oleh pasukan pengawal presiden lokal baik yang berseragam maupun yang berpakaian preman. Hadir pula dalam acara pernikahan itu gubernur setempat Gubernur Gul Sherzai yang kemudian mendampingi presiden Karzai. Setelah acara usai di bawah penjagaan ketat pasukan pengawal,Karzai bersama gubernur Sherzai meninggalkan lokasi dengan berjalan kaki untuk selanjutnya menaiki mobil SUV buatan AS.
Tiba-tiba salah satu pengawal berpakaian preman mencabut pistol Makarov kaliber 9mm berpeluru 18 butir, dan menembakkan kearah Presiden Karzai. Sekitar delapan letusan tembakan terdengar sehingga membuat para pengawal SEAL langsung bereaksi. Penembak yang kemudian diketahui merupakan rekrutmen baru itu, dicoba dilumpuhkan oleh penjaga took yang masih berusia 23 tahun dengan dibantu oleh seorang pemuda lainnya. Melihat pergumulan dan mengetahui asal tembakan dari arah ketiga orang itu, SEAL yang terlatih membunuh dalam pertempuran jarak dekat langsung memuntahkan peluru M4 ke arah mereka hingga ketiganya tewas. Presiden Karzai selamat dari upaya percobaan pembunuhan itu, akan tetapi tewasnya dua pemuda tak bersalah akibat tembakan SEAL mengguncang seluruh negeri. Apalagi tindakan kedua pemuda itu justru ingin melumpuhkan penembak Presiden Karzai.
Pengawal Karzai
Selama dua bulan bertugas di Kabul (Juli-Agustus 2002), Craige berhasil menghimpun tenaga PMC (Private Military Companies) atau disebut sebagai Dog of War (Tentara bayaran) sebanyak 39 personel yang kemudian bertugas sebagai pengawal pribadi Presiden Karzai. Pasukan pengawal Presiden Karzai yang kali ini dipimpin oleh Craig masih didominasi oleh mantan anggota SEAL sebanyak 70% dan sisanya terdiri dari mantan anggota pasukan khusus (Special Forces) serta sejumlah veteran polisi. Biaya yang dikeluarkan Presiden Karzai untuk menyewa PMC dari DynCorp cukup besar; sekitar 50 juta dollar AS.
Tantangan PMC yang bertugas menjaga keamanan dan keselamatan Presiden Karzai kian berat. Apalagi ancaman yang dihadapi sangat beragam mulai dari sniper, bom mobil, bom berpengendali jarak jauh, hingga rudal. Setiap Presiden Karzai keluar dari Istana Presiden, ancaman maut siap menghadang. Semua kendaraan yang bergerak merupakan ancaman bom mobil. Demikian pula setiap sudut jalan, bisa-bisa sudah disusupi penembak mahir yang mengancam. Akibat kondisi keselamatan yang begitu terancam. Presiden Karzai sampai menderita Paranoid.
Super Ketat
.
Karena selalu dijaga superketat dalam setiap pertemuan yang melibatkan orang-orang penting, para pengawal yang berada di sekelilingnya juga turut mendengar pembicaraan Presiden Karzai, termasuk yang bersifat rahasia. Selama berkuasa, Presiden Karzai paling tidak telah bertemu dengan upaya percobaan pembunuhan. Yang pertama, yaitu terjadi pada 5 September 2002 yang mengakibatkan 3 orang tewas, 1 personel Special Forces terluka, dan Gubernur Gul Agha terluka parah. Upaya pembunuhan kedua terjadi pada 16 September 2004, saat Presiden Karzai menumpang Helikopter menuju kawasan konflik Gardez yang lokasinya dekat perbatasan Afghanistan-Pakistan.
Guna keperluan kampanye politik ke Gardez itu, kekuatan udara yang dikerahkan terdiri dari dua Chinook dan dua Apache. Presiden Karzai yang menumpang salah satu Chinook yang dikawal oleh PMC yang dipimpin sendiri oleh Craig. Saat konvoi helikopter Karzai mendekati Gardez, Craig menyapukan pandangannya ke bawah dan melihat penduduk Gardez berduyun-duyun keluar dari rumah mereka. Craig segera menelepon para pengawal yang berada di Gardez untuk menyiapkan para sniper. Chinook pertama yang mengangkut sejumlah wartawan mendarat sementara Heli Chinook yang ditumpangi Presiden Karzai mulai melakukan persiapan mendarat. Dua Apache yang bertugas mengawal terbang di samping kiri dan kanan Chinook dan kedua pilotnya bersiaga penuh. Saat Heli Presiden Karzai bersiap mendarat, para pengawal di bawah segera menyiapkan mobil penjemput dan membentuk formasi pengamanan diamond. 
Situasi sangat tegang karena penduduk yang berkerumun makin banyak dan mulai tak terkendali apalagi mulai tampak senapan AK-47 diacung-acungkan ke udara oleh sejumlah warga. Tiba-tiba sebuah roket melesat di atas Chinook dan membuat semua penumpangnya panik. Pilot Chinook dan dua pilot Apache segera melakukan maneuver menghindar. Terdengar rentetan tembakan di bawah dan tembakan itu ternyata ditujukan kepada mobil penjemput Presiden Karzai. Craig yang mendapat laporan bahwa roket yang ditembakkan kemungkinan rudal SAM, yakin tak akan bisa lolos dan ia hanya bisa memerintahkan semua penumpang Heli termasuk presiden Karzai segera memasang sabuk pengaman dan bersiap menghadapi benturan dari sergapan roket. Namun, lesatan roket ternyata tidak mengenai sasaran dan semua Heli berhasil selamat di Gardez. Tapi penyerang yang nyaris menewaskan Presiden Karzai dan sejumlah personel PMC berhasil lolos dari kejaran pasukan pengawal.

Upaya pembunuhan ketiga berlangsung pada 10 Juni 2007, ketika rombongan Presiden Karzai ke kota tua Ghazni. Pada kesempatan itu Presiden Karzai berpidato dihadapan para sesepuh kota Ghazni. Belum usai Karzai berpidato, puluhan roket yang di tembakkan Taliban beterbangan di seputar lokasi acara dan jatuh meledak. Sebuah roket yang jatuh, meledak sekitar 200 meter dari podium tempat presiden Karzai berpidato. Meskipun situasi hiruk-pikuk dan massa yang berkumpul berlarian tak karuan menghindari ledakan roket, Presiden Karzai baru diamankan PMC setelah usai berpidato. Sekali lagi, Karzai lolos dari upaya pembunuhan yang dilakukan dengan persenjataan yang diluncurkan dari jarak jauh.

.
Pada 27 April 2008, presiden Karzai kembali mendapat serangan mematikan saat menghadiri acara parade militer di pusat kota Kabul. Pada acara itu, mimbar tempat duduk Presiden Karzai beserta para petinggi Afghanistan berikut para diplomat asing dan pejabat lain yang hadir, dihujani tembakan senjata otomatis dan RPG oleh para pejuang Taliban yang berhasil menyusup ke lokasi acara parade. Tembakan gencar dari Taliban dib alas oleh pasukan pengawal Presiden sehingga menimbulkan baku tembak sengit dan jatuhnya korban akibat peluru nyasar. Acara parade pun kacau-balau dan Presiden Karzai yang terluka sekali lagi berhasil diselamatkan oleh para pengawalnya yang mayoritas terdiri dari PMC. Akibat serangan itu 3 orang warga sipil yang terdiri dari anggota parlemen, seorang anak perempuan berumur 10 tahun, dan seorang kepala suku tewas serta 10 orang lainnya terluka. Yang pasti, kendati sering lolos dari upaya percobaan pembunuhan, Hamid Karzai tetap merasa selalu khawatir akan keselamatannya dan makin banyak membutuhkan para pengawal PMC.

Kericuhan dan Kepanikan yang terjadi di saat insiden percobaan penyerangan pembunuhan
Hamid Karzai