.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label taktik dan strategi perang. Show all posts
Showing posts with label taktik dan strategi perang. Show all posts

Friday, 24 December 2021

Operasi Barbarossa (Invasi Nazi atas wilayah Soviet)

 

 “Andai saja saya tahu jumlah persis kekuatan Tank Soviet di tahun 1941, maka saya tidak akan berani menyerang Soviet.”  - Adolf Hitler



Operasi Barbarossa adalah operasi militer Nazi Jerman yang dilakukan pada 22 Juni 1941 terhadap wilayah Uni Soviet. Tujuan utama invasi militer Nazi ini ialah menegaskan kembali ideologi Nazi Jerman dalam menyebarkan konsep ideologi ras Arya-nya yang sangat rasis dan ekstrem ke seantero Eropa. Dengan adanya invasi atas Uni Soviet, Nazi berharap dapat menduduki sepenuhnya Uni Soviet dan kemudian menggantikan populasinya dengan populasi warga Jerman. Hitler juga memiliki rencana terhadap Uni Soviet yang bernama Generalplan Ost- sebuah rencana yang bertujuan untuk memperbudak mereka (baik para tawanan perang atau warga sipil Uni Soviet), menjadikan mereka sebagai budak pekerja yang rencananya dipekerjakan demi kepentingan Nazi di lahan-lahan pertanian yang ada di berbagai wilayah Soviet. Istilah “Jermanisasi” (Germanization) adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan ambisi besar Hitler soal kejayaan ras Arya bukan hanya terhadap wilayah Uni Soviet, melainkan terhadap seluruh wilayah jajahannya di Eropa. Ambisi besar ini tentunya harus segera diwujudkan Hitler melalui operasi militer besar-besaran dengan jumlah tentara yang sangat besar dan berbagai perhitungan strategi perang yang matang.  

Sebelum invasi terjadi, Jerman dan Uni Soviet sebenarnya sudah lama saling curiga. Antara keduanya sudah tidak ada rasa saling percaya. Soviet sendiri melanggar pakta non-agresi yang disepakati dengan Jerman saat Soviet menginvasi Bukovina di tahun 1940. Setelah Jerman menjadi bagian dari Kekuatan Axis dengan Jepang dan italia, Jerman sebenarnya ingin memasukkan Soviet ke dalam aliansi Axis tersebut. Ketika selangkah lagi Jerman sudah benar-benar akan menjalin hubungan pertemanan dengan Soviet, Soviet membalas rencana tersebut dengan mengirimkan surat proposal yang mengatakan bahwa Soviet akan bergabung dengan aliansi Axis hanya ketika Jerman setuju untuk menjauh dari wilayah-wilayah jajahan Soviet dan tidak ikut campur dengan urusan luar negeri Soviet atas negara-negara jajahan yang memiliki pengaruh Soviet di Eropa. Jerman pun tidak membalas surat proposal tersebut- menandakan bahwa Jerman sudah memiliki rencana besarnya sendiri terhadap Uni Soviet. 

          Sebelum Hitler melancarkan invasi militer besar-besaran atas Uni Soviet, sebenarnya para petinggi militer Red Army (sebutan bagi Tentara Soviet saat itu), serta Stalin sendiri sebenarnya sudah mengetahui mengenai adanya rencana invasi tersebut. Namun Stalin sendiri masih berada di zona nyamannya dan bersikeras mengatakan bahwa jangan terlalu mudah percaya rumor yang berkembang, dengan sesumbar mengatakan bahwa Nazi akan butuh 4 tahun lagi sebagai persiapan untuk benar-benar mempersiapkan dan melancarkan Invasi tersebut. Apalagi Jerman dan Soviet sendiri telah menyepakati suatu perjanjian non-agresi dibelakang layar di tahun 1939 (Molotov-Ribbentrop Pact)- yang intinya adalah suatu kesepakatan bagi Jerman dan Soviet untuk menghargai dan membatasi manuver politik dan militer masing-masing agar tidak ada salah paham perihal wilayah jajahan tertentu. Stalin sangat berharap adanya pakta non-agresi itu akan menunda invasi militer Jerman setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun. Saat itu, Stalin sendiri sebenarnya masih sibuk dengan berbagai retorika dan manuver politiknya didalam pemerintahan. Stalin nampaknya sedang melakukan “bersih-bersih” dengan darah di tangannya sendiri. Suatu periode yang dikenal dengan istilah Great Purge (Pembersihan/Pemusnahan Besar).




Adolf Hitler- ditengah- sedang menganalisa peta wilayah Rusia bersama Jenderal Lapangan Marshal Von Brauchitsch, bersama Jenderal lainnya, pada 7 Agustus 1941.

 


    Ketika Nazi melakukan invasi atas Soviet pada 22 Juni 1941, pemusnahan bermotif politik itu masih terjadi. Stalin membantai para jenderal dan petinggi militer Soviet yang tidak loyal kepadanya. Total ada sekitar 30.000 tentara Red Army dibantai oleh Stalin; itu sudah termasuk Jenderal-Jenderal dan komandan korps-nya sendiri. Setelah pembantaian terjadi, Stalin mengisi pos-pos yang kosong di jajaran struktural tertinggi militer Soviet dengan jenderal-jenderal yang sayangnya tidak berpengalaman perihal taktik peperangan atau tidak pernah terjun langsung ke medan pertempuran. Ironisnya, Stalin mengabaikannya dan justru membentuk Komite Politik didalam jajaran militer yang bertujuan untuk memonitor loyalitas politik para jenderal didalam kemiliteran. Stalin ingin memastikan bahwa seluruh elemen yang ada dalam jajaran Red Army loyal terhadapnya, sekaligus mengawasi jika masih ada “tikus-tikus” lainnya yang harus dibantai. Karena kesibukan politiknya itulah, nantinya harus benar-benar dibayar mahal oleh Stalin di awal-awal pertempurannya melawan tentara Nazi yang membuat Red Army sangat kewalahan dan mengalami kekalahan di banyak front pertempuran.

Di mata Hitler, reputasi global Stalin yang telah dicap buruk oleh dunia sebagai pemimpin diktator yang brutal meneguhkan kembali ambisi besar Nazi atas rencana invasi mereka. Hitler paham bahwa setelah pembantaian yang terjadi di internal militer Soviet, kemampuan taktis militer Soviet jelas akan berkurang di medan perang nantinya. Apalagi adanya perombakan besar-besaran dan pembentukan Komite Politik didalamnya. Nazi bahkan meluncurkan banyak propaganda politik yang memperingatkan kembali kebrutalan pemimpin Soviet Stalin dan rencana mereka atas invasi terhadap wilayah Jerman. Untuk itulah, Nazi menegaskan kembali bahwa invasi Nazi atas Soviet menjadi satu-satunya solusi yang dapat menghentikan kebrutalan sang diktator tersebut, sekaligus sejalan dengan agenda besar Jermanisasi Nazi di Eropa serta ambisi pribadi Hitler dalam menguasai seluruh wilayah Soviet. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum rencana invasi tersebut dijalankan. Nampaknya tidak ada satu orangpun didunia yang dapat menghentikan ambisi besar Hitler tersebut.

Jerman mempersiapkan satu regimen independen, satu brigade motor terpisah serta 153 divisi untuk Operasi Barbarossa- didalamnya termasuk 104 Divisi infanteri, 19 Divisi panser, 15 Divisi infanteri motor yang dibagi ke dalam 3 grup Army, dan 9 Divisi independen terpisah untuk menguasai wilayah-wilayah yang telah diduduki, 4 Divisi tambahan di Finlandia, dan 2 Divisi cadangan dibawah naungan OKH (Komando Tertinggi Nazi). Di sisi lain, Uni Soviet merespon rencana tersebut dengan cara yang berbeda. Sebelum invasi, Banyak agen intelijen asing yang memberitahukan rencana Hitler tersebut kepada Stalin. Intelijen Inggris menginformasikan Stalin perihal rencana Jerman untuk menginvasi Soviet hanya seminggu setelah Hitler menyetujui rencana Operasi Barbarossa. Namun ketidakpercayaan Stalin kepada Inggris membuatnya masih saja meragukan laporan intelijen Inggris tersebut dengan mengatakan bahwa informasi intelijen tersebut dibuat oleh Inggris untuk mengelabuhi Stalin agar Uni Soviet nantinya berpihak kepada Inggris. Di bulan-bulan awal tahun 1941, agen intelijen Stalin serta intelijen Amerika Serikat juga melaporkan informasi yang sama perihal rencana invasi Nazi ke Soviet. Mata-mata Soviet Richard Sorge juga memberikan Stalin informasi terkait tanggal pasti invasi Barbarossa. Stalin pun kemudian mengakui adanya kemungkinan invasi tersebut, namun ia memilih saat itu untuk tidak memprovokasi Hitler lebih lanjut untuk menghindari kemungkinan terburuk terwujudnya invasi tersebut.

          Di awal-awal pecahnya perang, Soviet masih belum memahami skala perang sangat masif yang sedang dilakukan Jerman. Serangan militer Nazi melalui darat dan udara menghancurkan banyak fasilitas militer Soviet dalam waktu beberapa jam saja. Hal itu membuat efektivitas komunikasi dan rantai komando dari platon infanteri serta jajaran Komando Tertinggi Soviet di Moskow lumpuh. Moskow tidak hanya buta terhadap skala masif invasi Nazi tapi respon Stalin terhadap invasi awal itu sangat mengejutkan. Kendati pasukan Nazi sudah menerobos masuk perbatasan dan bergerak cepat menduduki wilayah-wilayah Soviet, Stalin masih saja berpikir bahwa mobilisasi Nazi tersebut dilakukan tanpa izin dan komando Hitler. Unit-unit pesawat Luftwaffe menyapu bersih konsentrasi Pasukan darat Soviet, unit-unit Luftwaffe lainnya menghancurkan markas militer dan komando Soviet. Meski demikian, instruksi Stalin terhadap pasukan unit Artileri yang berjaga di perbatasan membuat banyak pasukan geleng-geleng kepala. Stalin menyuruh unit-unit Artileri di perbatasan untuk tidak menembak karena takut akan membuat Hitler lebih marah lagi. Setelah dalam sekejap saja banyak wilayah Soviet diduduki Nazi, barulah Soviet sadar betapa masifnya skala serangan militer Nazi ini. Luftwaffe Nazi saat itu telah menghancurkan 1.489 pesawat-pesawat Soviet yang ada di darat, serta menghancurkan 3.000 lainnya dalam kurun waktu 3 hari saja.



Seorang prajuri Jerman berjalan ke arah jasad pasukan Soviet saat awal-awal Operasi Barbarossa dilancarkan di tahun 1941. Terlihat juga Light Tank BT-7 yang rusak dan terbakar. 



 Terlihat seorang prajurit Nazi sedang menaiki kendaraan lapis baja ringan Sd. Kfz-250 half-track. Sedangkan dibelakang terlihat beberapa tank-tank Jerman bersiap untuk melanjutkan serangan ke arah barat.

 


        Sebenarnya pada saat invasi terjadi, kekuatan militer Soviet tidak begitu buruk. Memang ada perombakan besar-besaran di jajaran struktur internal militer Soviet, banyak kendaraan lapis baja dan Tank yang rusak dan terbengkalai, minimnya kemampuan komando para perwira Soviet, banyak tentara-tentara baru yang masih awam dan minim pengalaman terjun ke medan perang,  masalah hambatan transportasi Alutsista dan mobilisasi pasukan, korupsi di jajaran pemerintahan, dan lain-lain. Namun Sebenarnya Uni Soviet sudah memiliki tentara utama yang berjumlah sekitar 5 juta personel yang telah disiapkan. Dan tiap bulan jumlahnya meningkat sehingga Soviet memiliki sekitar 14 juta pasukan cadangan. Red Army memiliki 33.000 Artileri medan, jumlah yang jauh melebihi total artileri yang dimiliki Nazi. Soviet juga memiliki 23.000 Tank, yang mana hanya 14.700 Tank saja yang tersedia dan siap untuk ke medan laga. Sekitar 11.000 Tank Soviet ditempatkan disepanjang lokasi-lokasi di Distrik-distrik Barat yang langsung menghadap ke arah Jerman. Hitler, setelah melancarkan invasi dan mengetahui total jumlah Tank yang dimiliki Soviet saat itu- berkata; “Andai saja saya tahu jumlah persis kekuatan Tank Soviet di tahun 1941, maka saya tidak akan berani menyerang Soviet.”

          Untuk hantaman terakhir Nazi ke Leningrad, dilakukan oleh 4th Panzer Group dari Army Group Center. Pada 8 Agustus, Tank-tank Nazi bergerak menerobos pertahanan Soviet. Di Akhir bulan Agustus, Grup Panzer berhasil bergerak sejauh 48km ke arah Leningrad. Nazi menyerang Leningrad pada Agustus 1941. Pada saat serangan terjadi, para penduduk lokal Leningrad saat itu tengah membangun pertahanan kota untuk menghalau serangan, sementara 160.000 penduduk lokal lainnya langsung bergabung dengan Red Army dan bertempur melawan Nazi. Setelah Divisi Motor 20th Nazi berhasil menguasai Shlisselburg dan memotong akses jalan ke Leningrad, Hitler melakukan arahan komando untuk segera menghancurkan Leningrad, membunuh semua orang tanpa menyisakan satupun tawanan perang. Namun diluar kendali Hitler, serangan terakhir 10km ke Leningrad itu melambat dan pasukan Nazi juga mengalami banyak korban jiwa. Hitler yang tidak sabar memerintahkan pasukan untuk tidak menyerang Leningrad secara langsung karena resiko korban jiwa tambahan tetapi menyuruh pasukannya untuk membuat penduduk kotanya menyerah. Karena instruksi dadakan itu, Grup Panzer Jerman tidak melanjutkan invasinya tetapi dalam posisi tak bergerak sembari memikirkan solusi untuk membuat mereka menyerah, namun di sisi lain grup Panzer dan pasukan Nazi mendapatkan gempuran artileri yang intens dari pasukan Soviet di Leningrad. Secara spesifik, dalam serangan ofensif Nazi- Yelnya Offensive, Jerman mengalami kelahanan besar pertamanya sejak kali pertama invasi Barbarossa dilakukan. Kemenangan pertama Red Army atas Nazi ini secara signifikan meningkatkan moril para prajurit dilapangan. Serangan-serangan balik Soviet ini memaksa Hitler untuk lebih fokus kepada peperangan di front tengah. Jerman akhirnya bergerak dengan unit Panzer Army ke-3 dan ke-4 untuk segera menghancurkan pertahanan kota Leningrad dan segera bergerak ke Moskow.

          Singkatnya, setelah Nazi berhasil menguasai Leningrad dan fokus ke Moskow. Pertempuran menjadi sangat brutal. Pasukan Nazi dari berbagai unit akhirnya mengepung Pasukan Soviet di Moskow. Pertahanan Moskow pun runtuh. Pasukan Soviet di Moskow hanya berjumlah 90.000 prajurit dan 150 tank saja untuk mempertahankan kota dari segala arah. Tampaknya tinggal menunggu waktu saja sebelum Nazi benar-benar menduduki Moskow dan memenangkan pertempuran. Pada 13 Oktober ketika Panzer Group ke-3 Nazi berhasil bergerak sejauh 140km ke arah ibukota Moskow. Moskow dengan segera memberlakukan Darurat Militer. Ketika serangan terus berlanjut, cuaca pun menjadi sangat buruk dan berdampak pada penundaan manuver Nazi. Salju lebat pun turun dibarengi dengan hujan. Hal itu pun membuat pasukan Nazi dan tank-tank nya kesulitan bermanuver dan bergerak dengan lambat karena menghadapi hambatan tanah yang berair, berlumpur, dan dipenuhi salju yang tebal. Saat itu Nazi segera menunda Operasi terakhir untuk menduduki Moskow karena cuaca buruk tersebut. Saat mobilisasi Nazi berhenti sementara, pasukan Soviet dengan segera memanfaatkan waktu mereka untuk mengumpulkan kekuatan dan menyiapkan serangan untuk menyerang balik. Dalam kurun waktu sebulan sejak operasi Nazi ditunda, Soviet sekarang memiliki 8 unit pasukan darat yang berisi 30 Divisi pasukan Siberia. Pasukan ini dikirimkan untuk fokus ke Moskow, unit intelijen Soviet memastikan Stalin bahwa pasukan ini sengaja digerakkan ke Moskow setelah intelijen memastikan bahwa tidak akan ada ancaman lagi dari Jepang di front Timur Jauh. Pada November 1941, ada lebih dari 1.000 tank dan 1.000 pesawat yang datang bersama Pasukan Siberia untuk bersama-sama mempertahankan kota Moskow.

          Walaupun cuaca masih buruk dan Nazi saat itu sangat bersikeras untuk menduduki Moskow. Mobilisasi pasukan dan tank pun dilakukan di tengah cuaca buruk. Dalam kurun waktu 2 minggu pertempuran di tengah kondisi cuaca buruk, pasukan Nazi dari Panzer Group terlihat kewalahan akibat serangan balik Soviet. Terlebih mereka mengalami banyak hambatan cuaca dan kekurangan logistik amunisi dan bahan bakar untuk tank-tank mereka. Ketika Panzer Group hanya sejengkal lagi berhasil menguasai Moskow. Situasi pun berbalik. Pada 2 Desember 1941, blizzard (badai salju lebat) pun terjadi. Meskipun unit recon Nazi berhasil menguasai kota Khimki, hanya berjarak 8km dari Mokow dan mereka juga berhasil menguasai Jembatan Moskow-Volga, pasukan Wehrmarcht tetap saja tidak mampu melawan cuaca badai salju yang cukup ganas. Pasukan Wehrmarcht sejak awal tidak siap menghadapi cuaca buruk ini karena pakaian mereka tidak disiapkan untuk menghadapi ancaman cuaca dingin dan bersalju. Banyak tank-tank dan kendaraan lapis baja mereka pun terkubur salju. Banyak pasukan Wehrmarcht pun mati sia-sia ditengah ganasnya badai salju yang menerjang. Winter Warfare (Pertempuran di medan salju) terbukti menjadi momok menakutkan bagi Pasukan Nazi yang sebelumnya sudah terlalu percaya diri bakal merebut Moskow dalam sekejap.  Badai salju yang lebat juga membuat unit-unit Luftwaffe Nazi tidak dapat mengudara membuat Nazi harus menunda operasi serangan udara atas Moskow. Di saat yang sama, unit-unit Soviet baru berdatangan ke Moskow dalam membantu pertahanan Moskow dan jumlahnya diperkirakan berjumlah 500.000 pasukan. Pada 5 Desember, pasukan Soviet melancarkan serangan balik atas posisi-posisi pasukan Nazi yang saat itu sangat kewalahan menghadapi hambatan cuaca buruk. Pasukan Soviet saat itu menyiasati cuaca buruk itu dengan mengenakan winter clothing (pakaian hangat yang tahan cuaca dingin). Setelah Soviet menyerang balik Nazi bertubi-tubi, serangan balik dari gabungan pasukan darat dan Artileri itu berhasil memukul mundur Nazi sejauh 250km ke belakang. Wehrmacht tampaknya harus mengakui kekalahan mereka dalam peperangan Moskow. Mereka pun kehilangan sekitar 830.000 prajurit di medan perang. 



Pada akhir Oktober 1941, kombinasi dari hujan lebat, salju, kabut, dan lumpur membuat mobilisasi unit-unit Jerman tidak dapat dilakukan. Tampak jelas bahwa unit-unit militer Jerman saat itu kalah superior dari Alutsista militer Soviet dalam hal menghadapi tantangan cuaca dan medan yang buruk. Terlihat beberapa tentara memaksakan kendaraannya untuk berjalan ditengah salju yang lebat. 

            









Di awal tahun 1942, beberapa Pasukan Soviet bersiap untuk melakukan serangan balik. Pasukan Nazi mengalami banyak hambatan dalam peperangan diantaranya adalah cuaca buruk serta masalah pasokan logistik yang menghambat mobilisasi kendaraan-kendaraan lapis bajanya. Disaat Jerman sedang bersiap memproduksi pakaian untuk Winter Warfare, pasukan Soviet sudah siap dan merangsek maju ke lokasi-lokasi wilayah yang diduduki Nazi dan langsung memukul mundur mereka.



    Nazi dipaksa mengakui kekalahan di Moskow. Dengan kekalahan itu, mereka terpaksa harus merancang ulang taktik perang mereka. Serangan balik Soviet pada Desember 1941 merupakan kekalahan yang memakan korban jiwa besar dipihak Jerman. Tidak hanya korban jiwa, tetapi serangan balik itu membuat Jerman mundur ratusan km dari posisi Moskow. Wehrmacht, ketika Operasi Barbarossa dilancarkan, memiliki kekuatan 209 Divisi, dimana hanya 163 Divisi saja yang siap untuk bertempur. Namun pada 31 Maret 1942, kurang dari setahun, mereka hanya memiliki kekuatan 58 Divisi saja yang bisa dipakai bertempur, sisanya hancur luluh lantah oleh serangan balik Soviet. Stalin yang terpukau dengan keberhasilan ini tidak puas begitu saja. Ia lantas menyuruh pasukannya untuk tidak hanya mempertahankan Moskow saja, tapi juga memukul mundur Nazi di front-front lain di front pertempuran di Selatan dan Utara. Hitler yang mengetahui kegagalan ini menjadi sangat marah dan memecat perwira jerman Walther Von Brauchitsch. Walaupun Soviet juga mengalami korban jiwa yang besar dan kehilangan banyak wilayahnya, namun moril prajurit mereka kini sedang tinggi-tingginya dan mereka berhasil memukul mundur Nazi di banyak front pertempuran. Kendati Hitler kembali memerintahkan pasukannya untuk bertahan dan menyerang balik, Hitler pun sadar bahwa mobilisasi Nazi terkendala oleh hambatan cuaca dan kekurangan logistik. Meskipun begitu Hitler tetap bersikeras ingin mengalahkan Soviet. Pada bulan Februari 1943, Jerman kembali mengalami kekalahan dalam Pertempuran Stalingrad.

       Di tahun 1943, industri Soviet membaik dan industri-industrinya mampu memproduksi Alutsista dalam jumlah besar dan dengan segera tank-tank baru itupun dikirim ke medan pertempuran. Serangan Jerman terakhir terjadi pada periode Juli-Agustus tahun 1943. Sekitar 1 juta pasukan Nazi bertempur melawan 2.5 juta pasukan Soviet. Soviet melancarkan Operasi Kutuzov, yakni operasi serangan balik yang melibatkan 6 juta pasukan yang membuat Jerman kelawahan dan mundur. Setelah Jerman mengalami banyak kekalahan serupa di tahun 1943 di banyak front, pada akhirnya Jerman memilih menyerah karena moril prajuritnya yang sangat rendah dan kemampuan Alutsistanya yang tidak mampu lagi dipakai akibat tidak tersedianya pasokan logistik. Pada Januari 1945 Soviet akhirnya bergerak ke Berlin dengan ambisi ingin menaklukkan ibukota Jerman tersebut dan mendudukinya. Perang berakhir dengan kalahnya Nazi pada Mei 1945 setelah Berlin akhirnya jatuh ke tangan Pasukan Red Army.

          Operasi Barbarossa merupakan invasi militer terbesar dalam sejarah- melibatkan banyak pasukan, tank, senjata, artileri, dan pesawat. Invasi itu membuka banyak pertempuran di front Timur. Membunuh lebih dari 26 juta penduduk Soviet, termasuk 8 juta korban jiwa dari pasukan Red Army. Pertempuran di Front Timur antara Nazi dan Red Army menghancurkan ekonomi keduabelah pihak. Nazi berhasil meluluhlantahkan 1.710 kota-kota Soviet dan 70.000 desa-desanya dihancurkan. Operasi Barbarossa dan kekalahan Jerman akhirnya mengubah peta politik di Eropa, akhirnya membagi dunia kedalam dua blok- Blok Timur dan Barat.


Tuesday, 24 March 2015

Supremasi di Udara (Perang Enam Hari)

Perang Enam Hari (Perang Arab-Israel 1967)







Peristiwa yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perang Enam Hari (Sixth Day War) dimulai pada waktu fajar hari senin, 5 Juni 1967. Perang tersebut boleh dikatakan telah dimenangkan Israel sebelum tengah hari itu. Namun sebelum perang itu berakhir enam hari kemudian, telah berlangsung suatu pertempuran yang sangat sengit dan ribuan nyawa manusia melayang.

Sebagai sebuah negara yang kecil wilayahnya pada saat itu, Israel, akan mengalami kesulitan besar dalam mempertahankan diri jika diserang. Mempertahankan diri terhadap suatu serangan dari udara sangat sulit, karena negeri itu terlalu kecil sehingga suatu sistem peringatan dini tidak akan memberikan cukup waktu bagi pesawat-pesawat pembom IAF (Israeli Air Force) untuk lepas landas. Penerbangan ke Kairo dari Tel Aviv membutuhkan waktu 25 menit, tetapi Tel Aviv dapat dijangkau dari pangkalan udara terdepan Mesir di El Arish hanya dalam waktu empat setengah menit. Meriam-meriam penangkis serangan udara tidak akan efektif digunakan untuk menghadapi pesawat pembom jet yang terbang tinggi dan cepat yang menyasar kawasan berpenduduk, sementara Israel hanya memiliki sedikit rudal anti-pesawat terbang yang digunakan secara terbatas untuk melindungi Tel Aviv dan instalasi nuklirnya di Negev. 
 
Karena alasan tersebut maka IAF telah dilatih dan disiapkan untuk suatu peranan ofensif yang ditujukan untuk meluluhlantahkan Angkatan Udara musuh. Di wilayah Negrev yang tidak berpenghuni, para pilot Israel berlatih terbang rendah, melakukan pemboman presisi dan menembaki model sasaran-sasaran darat yang dibuat mirip dengan lapangan-lapangan terbang Mesir. Pada saat bersamaan, para awak darat berlatih untuk melakukan pengisian ulang bahan bakar, memperbaiki, dan mempersiapkan pesawat lepas landas lagi dengan cepat. Jadi, ketika hari yang dinanti itu tiba, setiap pilot benar-benar percaya akan kemampuannya untuk menghancurkan sasaran, sementara semua awak darat juga menyakini kemampuannya untuk membuat pesawat dapat dioperasikan sesuai jadwal.

Pukulan pertama dan sangat menentukan dari Perang Enam Hari adalah Operasi Moked (Fokus), serangan udara terhadap 9 lapangan terbang Mesir, yang dilakukan serentak pada 07.45, Senin 5 Juni 1967. Waktu itu dipilih karena kewaspadaan Mesir di waktu fajar lemah karena para komandannya masih belum masuk kantor. Lebih dari itu, para pilot Israel dapat memiliki waktu tidur malam yang baik dan kabut awal di pagi hari di delta Nil telah menghilang. Para pilot Israel sendiri juga dibekali catatan lengkap mengenai dimana instalasi-instalasi radar Mesir ditempatkan serta analisis mengenai wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh kekuatan radar-radar itu.

Serangan udara dilakukan dengan mengambil jalan memutar untuk menghindari radar Mesir, dimana pesawat-pesawat IAF terbang lewat laut dan mendatangi sasarannya dari sebelah barat. Ketika gelombang pertama pesawat Israel – yang secara keseluruhan berjumlah 183 pesawat – terbang menuju Mesir, seluruh jajaran pimpinan Angkatan Bersenjata Mesir, termasuk Marsekal Amir dan Menteri Peperangan Shams el-Din Badran, juga sedang berada di udara dalam perjalanannya untuk mengunjungi unit-unit Mesir di Sinai. Untuk memastikan keamanan perjalanan mereka dan mereka tidak ditembaki oleh pasukannya sendiri, sistem radar di Mesir dimatikan. Episode konyol tetapi tragis ini, dimana jajaran petinggi militer Mesir sedang terbang, sistem radar yang dimatikan dan pesawat pemburu-pembom Israel yang sedang dalam perjalanan menuju sasarannya di Mesir, menyimbolkan ketidakbecusan komando Mesir sekaligus memperlihatkan bahwa sebagian dari keberhasilan besar Israel diakibatkan oleh keteledoran, kelengahan, dan ketidakmampuan para pemimpin politik-militer musuh.


 
Pesawat penyerang IAF - Mirage, yang dipajang di Museum IAF. Operasi Fokus 
adalah operasi yang dilakukan kebanyakan menggunakan pesawat buatan Perancis



Dibawah payung perlindungan udara dari sekitar 40 pesawat tempur Mirage, gelombang pertama pesawat Mystere IAF nyaris tidak menemui perlawanan. Karena perintah yang dikeluarkan berkenaan dengan keselamatan Amer, para penembak senjata penangkis serangan udara Mesir menahan tembakan mereka, dan satu-satunya kelompok pesawat Mesir yang berhasil terbang pada saat serangan awal adalah 4 pesawat terbang latih tak bersenjata yang segera ditembak jatuh.
Angkatan Udara Israel mengklaim telah menghancurkan 186 pesawat AU Mesir di darat selama serangan gelombang pertama. Dalam serangan itu, Israel sendiri kehilangan 3 pesawat Super Mystere (ketiga pilotnya tewas), 2 pesawat Mystere (seorang pilot ditawan sementara lainnya berhasil ditolong), 4 Ouragan (dua tewas, satu ditangkap dan sisanya berhasil diselamatkan), dan sebuah pesawat latih bersenjata Fouga Magister (pilotnya terbunuh).

Gelombang kedua serangan IAF dilancarkan pukul 09.00 dan berlangsung hingga sekitar pukul 12.00. Sekalipun kali ini menghadapi perlawanan penangkis serangan udara serta hadangan 8 pesawat Mig, pihak Israel mengklaim berhasil menghancurkan 107 pesawat Mesir lainnya dalam serangan gelombang kedua itu sementara mereka hanya kehilangan 2 pesawat Mirage. Kemudian, setelah masa jeda yang singkat, pesawat-pesawat Israel yang sama lepas landas lagi untuk menyerang lebih lanjut lapangan-lapangan terbang Mesir lainnya. Pesawat ilyushin yang membawa Marsekal Amir dan Jenderal Sidky harus berputar-putar di udara selama satu setengah jam sebelum akhirnya dapat mendarat di Bandara Internasional Kairo.
Pada hari Senin itu, 17 lapangan terbang besar milik Mesir telah diserang dan hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 jam, sekitar 300 pesawat AU Mesir dihancurkan. Diantaranya terdapat 30 ilyusin, 70 pesawat pemburuh MiG-19, pesawat pemburuh-pembom Sukhoi Su-7, 90 pesawat tempur MiG-21 serta 32 pesawat pengangkut dan helicopter.

Yang juga mengejutkan pihak Mesir adalah bahwa pesawat-pesawat Israel malah tahu mengenai mana dari pesawat-pesawat yang masih dipangkalan itu adalah yang asli dan mana yang palsu. Tidak ada satu bom pun yang dijatuhkan Israel terhadap pesawat-pesawat palsu itu. Satuan-satuan lapis baja Israel menemukan pesawat-pesawat palsu tersebut masih utuh di tengah-tengah pesawat-pesawat asli yang telah dihancurkan ketika mereka memasuki Sinai beberapa hari kemudian.


AU Israel juga melumpuhkan lapangan-lapangan terbang Mesir dengan membomi landasan pacunya. Kebanyakan bom yang dipakai adalah bom konvensional seberat 100kg, 250kg, dan 500kg, tetapi beberapa bom yang dijatuhkan di lapangan-lapangan terbang di Barat Terusan Suez dikembangkan secara rahasia oleh Israel dengan maksud untuk menjebol permukaan beton landasan pacu yang keras. Bom penugal beton berparasut ini memiliki bagian depan yang serupa dengan bom tembus baja, tetapi bagian belakangnya diberi 4 roket penggerak dan 4 roket penahan. Kedelapan roket itu mengelilingi tabung parasut. Dijatuhkan dari ketinggian 100 meter, roket penahannya seketika hidup untuk menghambat kecepatan jatuhnya. Sedetik kemudian parasut mengembang, membuat posisi badan bom miring 60-80 derajat. Akhirnya 4,7 detik kemudian roket penggeraknya bekerja, dan bom yang berisi 165kg TNT ini melesat dengan kecepatan 160 meter per detik, menerobos menghujam beton landasan pacu dan meledak menimbulkan kerusakan berat.
Pada hari berikutnya, sekalipun ditembaki sejumlah rudal permukaan-udara (surface-to-air-missile) SAM-2, pesawat-pesawat Israel yang terbang begitu rendah dan begitu cepat lolos dari hadangan rudal-rudal mutakhir buatan Uni Soviet itu dan berhasil menghancurkan 23 stasiun radar Mesir dan beberapa sarang SAM, 16 diantaranya di Sinai. Pabrik persenjataan penting Mesir di Helwan, yang lokasinya dianggap sangat rahasia, juga dihancurkan seluruhnya. Selama bertahan-tahun diketahui bahwa sebuah tim ilmuwan Jerman dan Eropa Timur – beberapa diantaranya adalah pelarian Nazi – bekerja disana untuk membuat rudal yang dengan penuh kebanggaan dipamerkan dalam parade-parade Hari Revolusi di Kairo.

Selain menghancurkan sasaran-sasaran Mesir di darat, IAF juga menunjukkan dominasinya dalam pertempuran udara melawan pesawat tempur Mesir. Para ahli militer Arab sendiri sudah mengetahui bahwa para pilot IAF adalah orang-orang terlatih dan berstandar tinggi dalam melakukan suatu operasi udara. Namun para pilot Arab juga merasa yakin bahwa orang-orang Israel jauh lebih banyak mengetahui mengenai pesawat MiG yang digunakan negara-negara Arab dibandingkan mereka sendiri.










Operasi Fokus - pesawat-pesawat Mesir di darat dihancurkan oleh serangan udara Israel 






Para pilot Israel menarik keuntungan dari penampilan MiG yang sedikit seret dan kecepatannya yang agak rendah. Mereka juga tahu bahwa tidak seperti Mirage yang bisa melihat ke segala arah, pesawat MiG memiliki sejumlah kekurangan. Dari beberapa arah tertentu pesawat tidak bisa melihat si penyerang. Pengetahuan mengenai berbagai kelemahan ini membantu pilot Israel dalam menyusun siasat perang udara dan memberikan mereka suatu keuntungan strategi dalam kejar-mengejar dengan MiG di udara.

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan mengenai MiG yang menggunakan minyak gas sebagai bahan bakar tambahan pada sistem pembakarannya. Bahan bakar tambahan ini merupakan suatu unit tersendiri. Sistem ini memang membuat pesawat memperoleh kecepatan luar biasa pada saat lepas landas. Namun sistem ini juga berarti bahwa tangki bahan bakar tambahan yang dipasang di titik pertemuan antara sayap dan badan pesawat itu sangat mudah terbakar. Pilot Israel hanya membutuhkan satu kali tembakan saja untuk melihat pesawat musuhnya terbakar. Seorang pilot Israel bernama Yehuda S melukiskan apa yang dilihatnya pada peristiwa tersebut: “Saya merasa kasihan pada pilot itu. Dia tidak memiliki satu peluang pun.”
Pada tengah hari pertama peperangan, desas-desus bahwa AU mereka telah berhasil menghancurkan sekitar 200 pesawat Mesir telah beredar di antara rakyat Israel. Namun tidak ada konfirmasi yang datang dari pihak pemerintah, dan atas perintah Jenderal Dayan desas-desus itu sengaja dikecilkan. “Biarkan saja orang Arab yang mengoceh,” kata Dayan kepada Juru Bicara Israel. Dia telah memperkirakan bahwa para Jenderal Nasser pasti enggan memberitahu pemimpin mereka mengenai kerugian yang diderita oleh Mesir, dan bahwa ketika Nasser mengetahui besarnya kerugian itu maka dia pasti akan meminta PBB untuk melakukan intervensi atau memaksakan suatu gencatan untuk menghindari bencana militer yang lebih besar sehingga mencegah Israel mengeksploitasi keberhasilan mereka.


Dayan juga memperhitungkan reaksi Soviet apabila Moskow mengetahui begitu besarnya kehancuran dari pesawat-pesawat terbang dan peralatan perang lainnya yang mereka kirimkan ke Mesir. Jadi, hingga fakta-fakta dibeberkan dalam sebuah konferensi pers Israel yang digelar di hari kedua (6 Juni), surat-surat kabar Arab dipenuhi oleh klaim-klaim palsu mengenai jumlah pesawat Israel yang ditembak jatuh, yang disiarkan ulang tanpa komentar oleh Jawatan Siaran Israel. Di Kairo, setiap laporan bohong yang baru diterima dengan sorak-sorai oleh orang-orang yang berkumpul di sekeliling radio-radio transistor yang ditempatkan di pojok-pojok jalan. Gerombolan-gerombolan pelajar bernyanyi penuh semangat, “Kami akan berjuang, kami akan berjuang. Nasser kami tercinta, kami akan berjalan dibelakangmu menuju Tel Aviv.” Sebuah laporan Radio Kairo memberitakan seorang pilot Israel yang pesawatnya ditembak jatuh dekat Zagazig di delta Nil. Ia mendarat dengan parasut, dan ditangkap oleh petani lokal yang lalu mencincangnya dengan kapak yang sedang mereka gunakan di ladang tersebut.
Sementara berita-berita semacam itu membuat orang Arab merasa optimistims di dalam kegelapan fakta, orang Israel – yang juga mendengarkan Radio Kairo karena banyak diantara mereka mengerti Bahasa Arab – tentu saja menjadi khawatir. Namun kecemasan mereka sedikit menghilang akibat pernyataan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh oleh Jenderal Chaim Herzog, kepala komentator militer, yang mengutuk klaim Mesir sebagai “terlalu dini, tidak jelas dan benar-benar tidak memiliki otoritas.” Jelas bahwa kebijakan Israel untuk tidak menjernihkan keadaan yang sebenarnya di medan perang demi keuntungan musuhnya meraih hasil besar. Nasser sendiri baru mengetahui besarnya pukulan yang ditimpakan oleh Israel sekitar 6 hingga 7 jam kemudian setelah pecahnya perang, sementara Komando Tertinggi Mesir sangat lambat dalam mengapresiasi pentingnya hal itu dalam perang udara. Ketika Nasser menyambut baik terjunnya Yordania ke kancah peperangan pada pagi itu, ia masih mengira bahwa ia masih memiliki Angkatan Udara yang utuh.

Di Tel Aviv, lengkingan sirine udara yang tidak lazim terdengar segera sebelum pukul 08.00 merupakan indikasi pertama bahwa perang telah dimulai. Namun lengkingan sirine itu, betapa pun kerasnya, bahkan tidak membuat sebuah bangsa bersiap untuk menghadapi keadaan seperti ini; masyarakat enggan mencari tempat perlindungan dan kesibukan di Tel Aviv nyaris tidak terganggu. Sikap yang sama juga terjadi di Yerusalem dan tempat-tempat lainnya. Barulah pada pukul 09.00, ketika radio Israel maupun Arab mengumumkan dimulainya peperangan, maka suasana pun berubah. Banyak orang kemudian berlari mencari tempat perlindungan dari serangan udara, di Tel Aviv, sirene peringatan bahaya melengking 12 kali selama hari pertama – dimana tanda bahaya terlama berbunyi di saat tengah hari saat Yordania mulai menembaki kota tersebut.

Reaksi Israel sangat cepat dan menghancurkan. Setelah membereskan AU Mesir, mereka berpaling untuk menghancurkan kekuatan udara Yordania. Segera setelah tengah hari, 8 pesawat Mirage IAF lepas landas untuk menyerang pangkalan udara Yordania di Mafraq dan Amman. Mereka menyergap pesawat-pesawat Hunter yang sedang diisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali setelah misi pembomannya di atas Israel. Ketika pesawat-pesawat Mirage itu berbalik kembali ke pangkalannya, mereka meninggalkan 18 Hunter yang terbakar, hancur berantakan, sementara bom-bom berat yang dijatuhkan mereka merusak landasan pacu. Dalam perjalanan pulangnya, pesawat-pesawat Mirage Israel menyerang dan menembaki kendaraan-kendaraan yang sedang bergerak dan – demikian tuduh warga Yordania – menembaki istana Raja Hussein. Dalam perjalanan pulang, sebuah Mirage tertembak oleh penangkis serangan udara Yordania, tetapi pilotnya berhasil menyelamatkan diri dan mendarat di Danau Galilea, dimana ia ditolong oleh sebuah kapal patroli Israel.

Pada hari berikut, sebuah pesawat pembom Tu-16 Irak berhasil menyelinap di atas udara Israel dan menjatuhkan bom di Kota Nathanya. Sebagai balasan, Israel menyerang pangkalan udara paling Barat milik Irak, H3, yang terletak di perbatasan Irak-Yordania.
Negara Arab lainnya yang merasakan sengatan IAF adalah Suriah. Setelah pesawat-pesawat Suriah menjatuhkan bom di atas penyulingan minyak di Haifa dan menyerang lapangan terbang di Megiddo, dimana mereka berhasil menghancurkan beberapa pesawat palsu, IAF membom dan memberondongi 4 basis Angkatan Udara Suriah di dekat Damaskus.

Dalam eforia palsu yang menyelimuti bangsa Arab di hari pertama perang, Lebanon juga menyatakan perang terhadap Israel. Namun terpisah dari siaran radio yang bergelora dan penuh caci-maki, Pemerintah Lebanon tidak melakukan tindakan yang bermusuhan. Perdana Menteri Lebanon, Rashid Karame, bernafsu untuk berperang, tetapi Kepala Staf Angkatan Daratnya, Jenderal Bustani, tahu bahwa Angkatan Bersenjata negerinya bukanlah tandingan pasukan Israel. Ketika di hari kedua perang Karame memerintahkan untuk memimpin serangan, Bustani menolaknya. Akibatnya, sang Perdana Menteri memerintahkan agar Bustani ditangkap, tetapi tidak ada satu pun orang yang bersedia melakukan perintah penangkapan. Untungnya bagi Lebanon, kebuntuan ini berlangsung cukup lama hingga peristiwa sebenarnya di lapangan diketahui. Karame, menyadari kesalahannya, meninggalkan sikap radikalnya dan berusaha melupakan bahwa ia pernah bernafsu untuk ikut berperang. Terpisah dari suatu bentrokan antara pesawat Israel dengan 2 pesawat Hunter Lebanon di atas Danau Galilea – dimana salah satu Hunter tertembak jatuh – Lebanon tetap berada di luar arena peperangan dan Israel pun sepertinya sudah puas membiarkan mereka tanpa gangguan.


 pesawat Mirage IAF yang terlihat sedang membentuk formasi untuk
melakukan suatu operasi udara - 1967




Dalam dua hari peperangan saja, IAF telah menerbangkan lebih dari 1.000 sortie, dimana banyak pilot terbang hingga sebanyak delapan sortie sehari. Pada tengah malam hari kedua peperangan, kerugian Israel meningkat hingga 26 pesawat terbang, termasuk 6 pesawat latih Fouga Magister yang dipersenjatai dengan roket 68/80mm untuk menghancurkan tank. Mereka kehilangan 21 pilot, dimana sekitar setengahnya ditawan di Suriah maupun Mesir. Dua pilot kemudian dikembalikan oleh Irak dan dua lainnya oleh Yordania. Seorang pilot dilaporkan telah dicincang di Mesir, paling tidak dua orang pilot Israel lainnya tidak mematuhi perintah kontrol darat Israel yang memerintahkan mereka agar terjun bersama parasut mereka – mereka memilih ikut hancur bersama pesawat berkeping-keping daripada mereka jatuh ke tangan orang Suriah.

Hingga saat tengah malam hari kedua perang, IAF telah menghancurkan 146 pesawat negara-negara Arab, dimana 393 diantaranya dihancurkan di darat. Adapun pembagiannya adalah 309 milik Mesir, 60 milik Suriah, 29 milik Yordania, 17 milik Irak, dan satu sisanya milik Lebanon. Selain pesawat terbang, AU negara-negara Arab juga kehilangan banyak pilot. Sebagai contoh, diperkirakan sekitar 100 dari 350 pilot Mesir terbunuh dalam serangan. Melihat besarnya jumlah MiG-21, pesawat termutakhir yang dimiliki Arab pada saat itu, yang dihancurkan di darat, dalam jumlah korban ini kemungkinan termasuk banyak penerbang handal mereka yang turut tewas. 
 
Ketika kehancuran AU Mesir tidak bisa lagi disembunyikan dari Nasser, Komando Tertinggi Uni Republik Arab berusaha menjelaskan bencana itu dengan menuduh keterlibatan Amerika Serikat dan Inggris. Nasser, yang berusaha mencari kambing hitam atas kekalahan itu, menerima penjelasan tersebut dengan maksud agar mendorong Uni Soviet untuk mau menyelamatkannya. Namun muslihat itu tidak berhasil. Kapal-kapal Uni Soviet yang memonitor gerakan udara di Laut Tengah tahu dari radar mereka sendiri bahwa tidak ada pesawat terbang AS maupun Inggris yang terlibat dan Dubes Soviet di Kairo mendatangi Nasser dengan jelas mengatakan fakta tersebut. Sekalipun demikian Nasser tetap mempertahankan klaimnya.

Upaya Nasser untuk mengkambing-hitamkan Amerika dan Inggris pun “ditelanjangi” pada tanggal 8 Juni ketika seorang juru bicara Israel menyampaikan hasil sedapan dari suatu pembicaraan telepon yang dilakukan Presiden Mesir itu dengan Raja Hussein di hari kedua perang.

SADAPAN PEMBICARAAN TELEPON
Nasser : Halo, kita akan menuduh Amerika dan Inggris atau Amerika saja?
Hussein : Amerika dan Inggris.
Nasser : Apakah Inggris memiliki kapal induk?
Hussein : (Jawaban tidak jelas)
Nasser : Ya Allah, menurutku aku akan membuat suatu pengumuman dan Anda menyampaikan pengumuman, dan kita akan memastikan bahwa Suriah juga akan membuat hal yang sama bahwa pesawat-pesawat Amerika dan Inggris dari kapal induk ikut ambil bagian dalam melawan kita. Kita akan menekankan masalah ini …


Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris segera membantah tuduhan Mesir, dan kedua negara meminta PBB untuk mengirimkan pengamat ke lapangan terbang dan kapal-kapal induk yang dituduh Nasser mengirimkan pesawat terbang untuk membantu Israel. Tidak satu pun pengamat yang dikirimkan dan Raja Hussein di kemudian hari mengakui bahwa “payung udara” di atas Yordania benar-benar merupakan pesawat terbang milik Israel. Sekalipun demikian, banyak orang Arab yang masih saja menyakini rekayasa tersebut.

Tentu saja kebenarannya sangat bertolak belakang. Tidak ada yang bisa membantah bahwa serangan pendahuluan terhadap Mesir dan kehancuran kekuatan udara negara-negara Arab sebagian menentukan hasil akhir peperangan. Namun kemenangan itu benar-benar murni milik Israel, dimana memang keteledoran Mesir turut berperan – kemenangan pun milik Israel yang telah mempersiapkan strategi perang udara dengan seksama dan mengeksekusinya dengan cerdas.

Tuesday, 23 July 2013

SPU (Sistem Pertahanan Udara) Iron Dome Israel




Pada 27 Maret 2011, Al Jazeera English melaporkan bahwa Iron Dome telah digunakan (oleh Israel) untuk pertama kalinya. Brigadir Jenderal Doron Gavish, Seorang Komandan Pertahanan AU Israel, menjelaskan bahwa Iron Dome telah melewati serangkaian uji kelayakan dan tahap-tahap evaluasi. Basis pertahanan Iron Dome ditempatkan di Beersheba.



Pengenalan

Iron Dome (Hebrew: כִּפַּת בַּרְזֶל, kipat barzel, ) disebut juga Iron Cap, merupakan perangkat pertahanan udara mobile milik Israel yang mampu bertahan di segala jenis cuaca, dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems. Sistem tersebut mampu mencegat dan menghancurkan roket-roket jarak pendek dan misil-misil artileri yang ditembakkan dari jarak 4 hingga 70 km jauhnya dan juga mencegat jalur dari misil-misil tersebut yang sekiranya akan menghantam wilayah perkotaan dan wilayah yang berpopulasi padat. Israel berharap peningkatan jarak dari pencegatan Iron Dome, dari jarak standar maksimal yakni 70km (45 mil), menjadi 250km jauhnya dan membuatnya lebih menjangkau banyaknya roket-roket yang datang sekaligus.


Iron Dome secara resmi beroperasi pada 27 Maret 2011 di dekat Beersheba. The Jerusalem Post melaporkan pada 10 Maret 2013, bahwa Sistem Pertahanan Udara Israel tersebut telah berhasil mencegat dan melumpuhkan 90% roket-roket yang diluncurkan dari Gaza. Pada November 2012, Pihak otoritas Israel mengindikasikan bahwa mereka telah berhasil mencegat dan menghancurkan sedikitnya 400 roket-roket yang ditembakkan dari Gaza. Reporter Pertahanan Mark Thompson menulis bahwa “Jatuhnya sedikit korban jiwa dari pihak Israel menandakan bahwa Iron Dome adalah sistem yang sangat efektif, Sistem Pertahanan Anti-Misil yang telah disaksikan dunia.”








Latar Belakang

Kelompok militan Hezbollah, telah mulai menembakkan roket-roket secara serampangan ke arah populasi Israel bagian Utara pada pertengahan tahun 90an, membuat IDF menjadi semakin waspada. Pada 2004, Ide pembuatan SPU (Sistem Pertahanan Udara) Iron Dome mendapatkan momentumnya ketika Brigjen Daniel Gold menjabat sebagai Kepala Unit Pengembangan dan Penelitian IDF. Gold sangat antusias dalam mendukung langkah pengembangan Proyek SPU Anti-misil. Ia juga turut mengajak banyak politisi Israel untuk turut mendukung langkah tersebut.


Spesifikasi SPU-ID
SPU Israel didesain untuk meng-counter roket-roket jarak pendek dan peluru-peluru artileri 155mm dengan jarak hingga 70km. Menurut pengembangnya, Iron Dome mampu beroperasi siang dan malam, dibawah kondisi cuaca yang ekstrem, dan mampu merespon ancaman-ancaman roket secara berkelanjutan.

Iron Dome memiliki 3 komponen utama:
1.  Detection & Tracking Radar: Adalah sistem radar yang dibangun oleh Elta, Perusahaan Pertahanan Israel     dan mendapatkan subsidi dari Israel Aerospace Industry, termasuk IDF.
2. Battle Management & Weapon Control (BMC): merupakan pusat kontrol yang dibangun oleh mPrest           Systems, sebuah perusahaan software Israel.
3. Missile Firing Unit: Yang meluncurkan misil pencegat Tamir, yang di isi dengan sensor electro-optic dan        beberapa kontrol lanjutan misil untuk bermanuver tinggi. Misil dibuat oleh Rafael.

Radar SPU dikembangkan oleh Divisi ELTA IAI dan disebut juga ELM-2084. Radar tersebut dapat mendeteksi peluncuran roket dan melacak jalur terbangnya. Lalu BMC menghitung perkiraan arah terbang roket menurut laporan data, dan menggunakan informasi tersebut untuk menentukan apakah roket merupakan sebuah ancaman atau tidak (masuk ke dalam wilayah yang berpopulasi atau berada di luar jangkauan).


Iron Dome Radar


Battery SPU-ID  

Battery SPU Iron Dome Israel terdiri dari sebuah unit radar, unit kontrol misil dan beberapa peluncur, semua ditempatkan ditempat yang sama. Setiap peluncur berisi 20 misil pencegat, yang secara cerdik meluncur ketika dioperasikan melalui jaringan wireless. Menurut laporan yang diterima, setiap Battery Iron Dome mampu melindungi dan menjangkau wilayah perkotaan hingga berjarak 150 kilometer jauhnya.


Insiden
Ketika pecah Perang Lebanon Ke-2 (tahun 2006), sekitar 4000 roket-roket Hezbollah (yang sebagian besar merupakan roket jarak pendek Katyusha) menghantam Utara Israel, termasuk di Haifa, kota terbesar ketiga di Israel. Peluncuran roket-roket tersebut menewaskan 44 warga negara Israel dan menyebabkan 250.000 warga sipil Israel mengungsi.

Di sisi Selatan Israel, lebih dari 4000 roket-roket dan 4000 mortar bom ditembakkan secara terus-menerus ke arah pusat-pusat populasi Israel dari Gaza antara tahun 2000 hingga tahun 2008, yang kebanyakan dilakukan oleh Hamas. Hampir semua roket ditembakkan adalah Qassams yang diluncurkan dari 122mm Grad Launchers yang diselundupkan dan ditempatkan di jalur Gaza, memberikan jarak tembak yang lebih jauh. Sejak berbagai peristiwa penembakan roket-roket itulah Israel mulai memberikan fokus yang serius terhadap ancaman roket-roket dari Gaza. Sekitar satu juta warga Israel yang bermukim di Selatan masuk kedalam wilayah jangkauan roket-roket tersebut.  


Jarak jangkauan roket-roket Hamas



Ketika dalam tahap penempatan pada April 2011, SPU Iron Dome telah berhasil mencegat roket-roket Katyusha yang ditembakkan militan Palestina. Pada bulan Agustus tahun yang sama, Iron Dome mencegat 20 misil dan roket yang ditembakkan ke arah wilayah Israel. Namun ada satu kasus dimana SPU Israel tersebut dihancurkan oleh satu dari lima (1/5) roket yang ditembakkan di Kota Beersheba, namun gagal menghentikan laju roket yang kelima yang kemudian menewaskan satu orang dan melukai beberapa orang lainnya.



Iron Dome yang diluncurkan Israel.
Operasi Pilar Pertahanan, November 2012




Sebelumnya pada 7 April 2011, setelah melalui tahap eksperimen di lapangan pada 3 April lalu, sistem pertahanan Iron Dome di wilayah Ashkelon sukses mencegat masuknya roket yang ditembakkan ke perkotaan, itu merupakan roket jarak pendek-menengah yang ditembakkan dari Gaza yang berhasil dicegat. Menurut laporan dari lokasi, peristiwa pencegatan roket itu oleh Iron Dome dapat terlihat dengan jelas di kota-kota Israel di dekat wilayah Gaza utara. Beberapa saat setelah roket dicegat Pesawat jet IAF dikerahkan dan sukses menghantam kelompok yang menembakkan roket tersebut. IDF lalu mengatakan bahwa sistem dari pertahanan tersebut masih dalam tahap evaluasi lebih lanjut. Pada 8 April 2011, Sistem Pertahanan Udara Israel tersebut berhasil mencegat dan melumpuhkan empat roket lainnya yang ditembakkan dari wilayah Gaza.

Pada 12 April 2011, IDF (Israel Defense Forces) akan mempercepat kemunculan dari battery Iron Dome ke-3. Menurut Haaretz, Pejabat otoritas IDF mengindikasikan bahwa pembangunan keamanan dari sistem tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa battery ke-3 akan secepatnya tersedia dalam enam bulan ke depan, dari yang sebelumnya diharapkan selesai dalam 18 bulan kedepan. Menurut rencana, Peluncur dari sistem yang telah ada akan dikombinasikan dengan komponen-komponen lainnya yang telah dikembangkan, dalam rangka untuk mempercepat produksi battery. Dengan begitu Batalyon Operasional Iron Dome pertama akan tersedia secepatnya dalam kurun waktu 6 bulan, dengan battery-nya yang mampu ditempatkan di seluruh wilayah bagian Selatan dan wilayah-wilayah lainnya.

Bagaimanapun, Israel dengan SPU-ID (Sistem Pertahanan Udara - Iron Dome) telah mampu membuat suatu sistem pertahanan canggih yang mampu meng-cover wilayah mereka dan melindungi warga sipil dari ancaman roket-roket udara yang bergentayangan mengincar mangsa. Terlepas dari konflik yang terjadi antara Israel dan kelompok-kelompok militan di Palestin, Israel khususnya IDF telah mampu mengembangkan dan menerapkan sistem lanjutan teknologi modern yang benar-benar kredibel dan menjadi sistem perlindungan efektif bagi warga Israel terutama bagi militer Israel hingga saat ini.