.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Pertahanan udara (Air Defense). Show all posts
Showing posts with label Pertahanan udara (Air Defense). Show all posts

Tuesday, 13 November 2012

Beriev A-50 Rusia

 Beriev- A-50


Peran AWACS
Perusahaan Beriev
Terbang perdana 19 December 1978
Perkenalan 1984
Status memasuki masa operionalnya
Penggunaan Russian Air Force
Indian Air Force
Unit yg diproduksi sekitar 40 unit
Dikembangkan dari Ilyushin Il-76  



The Beriev A-50, atau pesawat Beriev A-50 (“Mainstay” untuk penamaan oleh NATO), adalah pesawat terbang buatan Rusia. Beriev A-50 berperan sebagai pesawat pengontrol dan pesawat peringatan dini yang diproduksi Rusia, atau disebut juga AWACS (Airbone Warning and control system), yang desainnya berdasarkan pada pesawat angkut Ilyushin I1-76. A-50 dibuat untuk menggantikan pesawat Tupolev Tu-126 “Moss”. Penerbangan perdana A-50 dilaksanakan di tahun 1978, dan memasuki gelanggang pada 1984, dengan produksi sekitar 40 unit di tahun 1992.

Misi nya adalah mengangkut 15 kru yang bertugas mengambil atau menerima data dari radar pengintai besar Liana dengan antena yang terpasang di pesawat, yang berdiameter 29 kaki 9 inci (9 meter).

A-50 dapat mengontrol atau mengatur hingga 10 pesawat tempur entah itu pesawat interceptor (pesawat pencegat), maupun pesawat tempur ground attack. A-50 mampu terbang selama 4 jam pada kecepatan 1000 kilometer dari landasannya dan memiliki berat maksimum 190 ton. Pesawat ini dapat diisi bahan bakar ulang oleh pesawat tankers I1-78.

Radar yang dimiliki pesawat, yakni “Vega-M”, didesain oleh MNIIP, Moskow, dan diproduksi oleh NPO Vega. Vega-M mampu melacak hingga 50 target sekaligus dalam radius jarak sejauh 230 km. Target-target besar, termasuk kapal permukaan (surface ships), dapat dilacak dan dideteksi pada jarak 400 km.

Setelah melakukan berbagai pengujian, Beriev kemudian di upgrade beberapa komponennya dan dikirim ke Angkatan Udara Rusia (The Russian Air Force), menjalankan peran AWACS nya.
Pesawat berjenis '47 Red'/RF-92957 telah ditangani langsung di fasilitas khusus Beriev di Tanganrog pada 31 Oktober 2011. Dan telah dirawat khusus oleh Pusat Penerbangan Operasi Pesawat terbang khusus pesawat pendeteksi dini, di Ivanono-Severnyi, yang mana merupakan satu-satunya basis yang mengoperasionalkan A-50. Unit 2457th (Unit yang mengurus dan mengoperasionalkan A-50), mengoperasikan total 16 pesawat A-50. Pesawat kedua, berjenis '33 Red' sedang melalui tahap upgrade dan akan dikirim pada tahun 2012. Ini hanyalah dua permintaan upgrade yang dipesan (tertanggal Januari 2012), namun Beriev juga akan menindaklanjuti permintaan upgrade di kemudian hari apabila ada pemesanan.


Pengerjaan A-50U dilakukan beberapa tahun lalu dan pengujiannya dilakukan pada 10 September 2008, menggunakan pesawat berjenis Russian Air Force A-50 '37 Red' sebagai bahan uji coba nya.
Komponen utama yang di modernisasi termasuk menempatkan peralatan analog yang lama, di ganti dengan yang baru, perlengkapan penerbangan digital yang disuplai oleh perusahaan JSC – Perusahaan Teknisi Radio Vega. Peningkatan atau upgrade yang diperlukan termasuk, memproses data secara cepat, meningkatkan proses melacak dan mendeteksi sinyal dan deteksi target. Sekedar tempat berbaring/istirahat untuk kru, toilet, dan juga ruang dapur pun disiapkan di dalam upgrade nya.

Bentuk upgrade ini merupakan konsep pembentukan pesawat produksi baru, berdasarkan pada airframe I1-476 (I1-76MD baru dengan menggunakan mesin PS-90A76). Konfigurasi yang sama juga diterapkan pada A-50U, namun dengan Radar Array Premier baru berjenis Vega.


Spesifikasi (A-50)

Orthographically projected diagram of the Beriev A-50.
General characteristics
  • Crew: 15
  • Length: 49.59m (152 ft 8 in)
  • Wingspan: 50.50 m (165 ft 6 in)
  • Height: 14.76 m (48 ft 5 in)
  • Wing area: 300 m² (3,228 ft²)
  • Empty weight: 75,000 kg (165,347 lb)
  • Max. takeoff weight: 170,000 kg (374,786 lb)
  • Powerplant: 4 × Aviadvigatel PS-90A turbofan, 157 kN (35,200 lbf) each






Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Beriev_A-50

Sunday, 26 February 2012

NORAD - Amerika Serikat

NORAD- Warisan Perang Dingin



Sejak kemunculan pesawat terbang, kekuatan udara sudah diramalkan akan mengubah peta konflik dan peperangan di masa mendatang. Salah satunya yang paling terlihat adalah, kekuatan udara yang otomatis memunculkan upaya untuk menangkalnya, yang disebut sebagai aspek pertahanan udara (Air defense).
Seolah tak ada habisnya, dalam sejarah konflik besar yang dialami umat manusia, pembelajaran dari suatu konflik dapat berlanjut dan diterapkan pada konflik-konflik selanjutnya. Begitu pula antara Perang dunia II dan Perang dingin. Bedanya, kalau PD II adalah konflik terbesar yang bermandikan darah dan memakan jutaan korban jiwa, kalau Perang dingin sifatnya berbeda dari perang sebelumnya, namun masih memiliki dampaknya hingga saat ini.
Salah satu pelajaran penting yang didapat dari PD II, yang berdampak luas dalam era perang dingin adalah terkait masalah kekuatan udara (Air power). Bom nuklir yang meluluhlantahkan Hiroshima dan Nagasaki di Jepang berujung pada menyerahnya Jepang kepada sekutu, otomatis mengangkat aura penggentar (deterrence) senjata maut itu. Perkembangan teknik pembuatan bom nuklir serta rancang bangun pesawat pembom jarak jauh pun membawa implikasi serius, bahkan bagi negara sebesar Amerika Serikat, yang notabene merupakan kekuatan utama Blok barat.

Kemampuan terbang pesawat pembom Soviet yang mampu menjangkau Amerika Utara lewat rute lintas Arktik (Kutub Utara), membuat dua negara tersebut saling bersitegang. Amerika sebagai kekuatan utama NATO tentu layak merasa cemas akan ancaman pesawat pembom Soviet memasuki wilayah udara Kanada di bagian Utara Amerika. Jika hal itu terjadi dan sukses dilakukan, maka jangan berbicara masalah nuklir dulu, ancaman yang ditebar melalui jalur udara berbekal ratusan ton munisi konvensional, bukanlah perkara yang bisa dianggap sepele.

Sebaliknya bagi Kanada sendiri yang ukuran wilayahnya berbatasan langsung dengan AS, dan dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit daripada populasi AS, Kanada memiliki banyak wilayah-wilayah kosong alias tak berpenduduk. Bukan tak mungkin keadaan ini dimanfaatkan Soviet untuk menyusupkan kekuatan militernya guna menduduki Kanada dan menjadikannya staging area untuk menggempur Amerika. Dan komposisi demografi wilayah kanada tak banyak berubah sejak permulaan Perang dingin hingga sekarang.


Pesawat F-16 yang terbang dalam misi NORAD- di atas kota New York- AS


Berangkat dari kecemasan bersama, meski dengan latar belakang agak berbeda, muncul wacana akan pembentukan sistem pertahanan udara gabungan, yang kemudian disatukan dan dinamakan NORAD (North American Air Defense Command). Tujuan utama sistem pertahanan udara yang merupakan gabungan dan kerjasama antara AS dan Kanada ini adalah untuk meng-kordinasi pertahanan udara berdasarkan masukan yang didapat dari radar sensor yang ditebar di sekitar wilayah Amerika Utara.
Pada awalnya misi NORAD berfokus pada peringatan dini terhadap ancaman dari udara, namun NORAD mulai bereaksi dan merespon serius terhadap kemunculan dan eksistensi senjata nuklir jarak jauh dalam bentuk rudal balistik antar-benua. Fokus ini diperluas dari “pertahanan udara” menjadi “pertahanan ruang udara”, atau dengan kata lain sistem gabungan ini memperluas wilayah cakupannya hingga mampu mendeteksi ancaman udara dari luar atmosfir. Dan kata “Air” didalam singkatan NORAD pun berubah menjadi “Aerospace”.

Di tengah desas-desus yang tengah menjadi bahan pembicaraan dalam era Perang dingin, NORAD pun eksis dalam segala ceritanya, mitos, dan bahkan teori konspirasinya. Bahkan di masa sekarang dimana NORAD sudah lebih terbuka, tetap saja, segala prasangka, dan mitos-mitos lainnya pun masih tetap eksis. Soviet boleh runtuh dan Perang dingin bisa saja dinyatakan berakhir, nyatanya keberadaan dan kehadiran NORAD tetap tak dapat dihapus begitu saja.
Insiden 9/11 di Amerika menjadi bukti tak terbantahkan akan pentingnya keberadaan NORAD. Pada 11 September silam, beberapa pesawat penumpang AS dibajak sekelompok teroris dan diarahkan ke gedung-gedung yang merupakan fasilitas penting dan mewah di negeri itu, menjadikan hari itu seperti peristiwa Pearl Harbor silam.

Terlepas dari berbagai teori konspirasi, salah satunya adalah tuduhan yang menyatakan bahwa Peristiwa 11 September merupakan rekayasa agar warisan Perang dingin yang dianggap kurang relevan seperti NORAD, bisa terus eksis. Aspek pertahanan udara sudah tak mungkin terhapuskan atau dihilangkan dari peta pertahanan negara manapun. Selama masih ada yang namanya ancaman udara dan senjata, ancaman-ancaman tersebut merupakan ancaman nyata yang tiap saat bisa saja terjadi. Dan kemudian menghadirkan NORAD sebagai sistem penangkal dari kemungkinan ancaman-ancaman udara tersebut.



Disadur dari; majalah COMMANDO- Info Populer Kemiliteran & Kepolisian / Volume VII / Edisi No.5 / Tahun 2011