.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Sniper. Show all posts
Showing posts with label Sniper. Show all posts

Wednesday, 31 October 2012

di Persimpangan Jalan (Senapan runduk M110)

US Marines with M110


Militer AS yang saat ini berada di persimpangan jalan, dengan tanda-tanda dua operasi militer yang hampir usai (operasi militer di Irak dan Afghanistan), pemotongan anggaran Pentagon, dan perkembangan teknologi yang memaksanya untuk mengubah doktrin mereka.

Pemotongan anggaran Amerika Serikat memang tidak banyak, namun hal ini merupakan pertanda untuk masa mendatang. Militer harus fokus untuk meningkatkan kapabilitas para prajuritnya melalui sejumlah reformasi dalam hal teknologi persenjataan. Dalam 2-3 tahun terakhir ini, baik Angkatan Darat AS maupun Korps Marinir AS, banyak memperkenalkan senjata-senjata baru ke dalam struktur infanteri (AD) maupun scout sniper platoon (korps marinir AS). Bahkan korps marinir AS, dapat memutuskan untuk tidak lagi secara ekslusif mengandalkan pada senapan runduk M40A4 sebagai pijakan utama alias senjata utama untuk para penembak jitu mereka.

Tipikal pertempuran yang berubah telah banyak mengubah daftar prioritas yang mereka cari selama ini dari sebuah senapan runduk. Untuk tipikal urban, maka tingkat akurasi pada jarak 300-500 meter harus sudah memadai, yang terpenting adalah kapasitas magazin besar dan kecepatan tembak tinggi sehingga penembak runduk memiliki kesempatan melawan musuh yang jauh lebih besar dan mungkin dapat segera menjangkau mereka.

Ketiga persyaratan tersebut, tak dapat dipenuhi sepenuhnya oleh senapan runduk dengan mekanisme bolt-action. Ketika Knights Armament Company dapat menghasilkan satu sistem senjata untuk 3 jenis pengguna (Scout Sniper, US-SOCOM, dan sniper/designated marksman AD AS), yang tersirat hanya satu kata, “Luar Biasa”!! ketiga pengguna ini memiliki persyaratannya tersendiri yang sukar untuk dipenuhi oleh satu jenis produk saja. Buktinya, Scout sniper dan Angkatan Darat AS selama puluhan tahun mengadopsi 2 jenis senapan yang berbeda, yakni keluarga besar M24 untuk AD dan senapan M40 untuk kalangan korps marinir, walaupun keduanya merupakan senapan penembak jitu dengan mekanisme bolt-action.

Jadi, ketika M110 SASS (Semi Automatic Sniper System) akur untuk dijadikan sebagai model umum, tentunya senapan ini mempunyai keunggulan tersendiri. Hal ini terlihat dari 3 kode yang disandang oleh senapan ini: M110 SASS (desain khusus AD), Mk11 Mod 1/2 (desain khusus US-SOCOM/Korps marinir), atau SR-25. Tembakan semi-otomatis berbekal mekanisme simpel direct-gas impingement menghasilkan daya hentak minim yang tak mengubah arah bidikan. Kapasitas magazin 20 butir peluru yang mudah dilepas pasang adalah keunggulan lainnya.



 Senapan runduk M110



M110 memiliki gelar sekelas bangsawan, hal ini sudah tak dapat dipungkiri lagi, karena darah AR-10 yang mengalir didalamnya adalah buktinya. Awalnya didesain sebagai battle rifle, M110 yang merupakan turunan kedua (sebelumnya bernama SR-25) adalah sebuah penyempurnaan akhir dari satu sistem senjata yang pada awalnya sempat dikira layu sebelum berkembang.

Pilihan peluru standar NATO 7,62x51mm adalah satu keniscayaan, namun bukan keputusan akhir. AD sudah nampak bergerak untuk menstandarisasi .300WinMag sebagai kaliber baru untuk jenis senapan penembak jitu. Dapat memberikan kemampuan tembak hingga jarak 1.200 – 1.500 meter sebelum harus melibatkan senapan yang lebih berat dan besar seperti M107 SASR. Untuk posisi kosong yang ditinggalkan, M110 menempatinya dengan sangat manis.


 Peluru standar NATO untuk sniper (Standard Rifle Bullet - 7.62mm)



Perubahan paradigma dalam alutsista dan peran dari bolt-action ke sistem semi-otomatis, dan kemunculan designated marksman, adalah jawaban dari tuntutan perubahan itu sendiri. Struktur regu dalam kecabangan Angkatan Darat AS dituntut untuk mampu mandiri dan mampu memproyeksikan kekuatannya sendiri tanpa harus menunggu dukungan khusus dari spesialis penembak jitu. Pilihan senapan runduk M110, dan kemudian AD konon, kabarnya menginginkan varian yang lebih pendek, adalah sebuah kabar gembira, pasalnya, designated marksman di AD yang selama ini menggunakan M14 surplus yang merupakan senapan tua dan akurasinya bisa berbeda dari satu senapan ke senapan lain (dalam jenis senapan yang sama). Beberapa regu bahkan harus saweran untuk bisa membeli kit EBR (Enhanced Battle Rifle) untuk senapan M14 yang mereka peroleh.

Dengan men-standarisasi senjata ke satu jenis yaitu M110, tidak hanya lethalitas-nya yang meningkat, namun juga urusan logistik dipermudah karena mereka mampu mendukung satu jenis senjata yang memang sudah jelas dibagikan untuk mereka prajurit yang berada di garis depan.







 Disadur dari Majalah Commando Volume VIII / Edisi No.4 / Tahun 2012


Saturday, 14 April 2012

KARAKTER PENTING SNIPER



Frederick Russel Burnham, seorang penjelajah dan petualang dari Amerika yang memandu pelacak (scout) Inggris dalam Perang Boer, menggambarkan scout Inggris sebagai “setengah srigala dan setengah jack-rabbit (sejenis kelinci bertelinga dan berkaki panjang, dan dapat bergerak lincah)”.
       Deskripsi tersebut memang cocok untuk menunjukkan karakter seorang sniper di lapangan. Bagi Burnham, serdadu pengintai paling andal adalah serdadu Inggris yang berasal dari Resimen Skotlandia (Highland Regiment) yang dikenal sebagai Lovat’s Scouts. Terbukti, 16 tahun kemudian, sosok “penebang pohon” fenomenal tersebut menjadi prajurit sniper pertama AD Inggris.
            Sniper memiliki bawaan emosi cenderung nekat, namun di sisi lain, ia harus bijak dalam menilai dan mengambil keputusan. Karakter kontradiktif ini jelas membuat pembentukan karakter seorang sniper menjadi suatu hal yang susah-susah gampang. Yang jelas dalam melaksanakan aksi nya, seorang sniper membutuhkan 3 keahlian, yakni; marksmanship (keahlian menembak jitu), fieldcraft (penguasaan medan), dan taktik. Terlepas dari itu, untuk menyandang gelar sniper seseorang harus betul-betul terlahir sebagai sniper secara alamiah dan insting
Bahkan sniper terlatih sekalipun, belum dapat dikatakan sebagai seorang sniper sejati. Yang betul-betul seorang sniper sejati adalah mereka yang memang terlahir sebagai seorang penembak jitu. Ibaratnya, karakter sniper sudah menjadi bawaan dan ada di jiwa mereka. Untuk sekedar menjadi “penembak jitu” itu gampang, namun penembak jitu yang menjalankan misi layaknya sniper, itu adalah perkara lain.
Tak heran jika proses seleksi penembak jitu pun lebih cenderung kepada mengidentifikasi personel dengan potensi terbaik. Terutama dalam aspek attitude (sikap/perilaku) dan perspektif. Soal pengetahuan, dapat ditingkatkan dengan latihan yang intens. Karakter penting yang diperlukan seorang sniper diantaranya:


·         Markmanship.
Seseorang harus memiliki kemampuan penembak tepat sasaran setingkat profesional. Entah itu ia dilatih dalam pendidikan sniper ataupun bakat itu sudah melekat dalam jiwa seseorang. Yang jelas, kemampuan ini merupakan pijakan untuk mencapai tingkat “seorang sniper”.

·         Fieldcraft
Kandidat harus memiliki kemampuan menguasai medan. Sniper harus memperkirakan kemampuan pendukung seperti; pergerakan arah angin, kamuflase, dan observasi. Pengalaman outbond seperti berkemah, berburu, atau arung jeram merupakan pengalaman yang dapat mendukung seseorang menjadi sniper. Terlebih lagi pengalaman berburu atau menambak tepat sasaran, pengalaman ini terbukti merupakan bekal terbaik bagi seorang sniper.

·         Taktis
Perhatian terhadap sejarah kemiliteran yang menggambarkan pentingnya menggunakan taktik dapat memberi keunggulan dalam hal menjiwai hal-hal seperti; hubungan antara tembakan dan manuver, perlindungan dan penyelubungan, serta pemusatan dengan penyebaran.

·         Kondisi Fisik
Kandidat harus kuat dan fit secara fisik, berdaya tahan tinggi dengan penglihatan dan pendengaran yang peka, dan tajam, memiliki daya ingat kuat, serta cepat dalam bereaksi. Penembak jitu yang fit, tentunya dapat lebih kuat memegang senjata, memiliki otot yang kuat dalam menahan tolak balik senapan, dan dapat menahan beban tanpa kenal lelah.

·         Kepandaian dan Kepribadian
Seorang sniper membutuhkan kepandaian tingkat tinggi untuk dapat mengerti dan menerapkan kerumitan dalam hal balistik, seperti penyesuaian terhadap rifle scope (pembidik senapan), merencanakan misi, ataupun mengecoh lawan. Selain itu seseorang harus bijak dan tetap dingin meski terdesak dibawah tekanan, memiliki pembawaan tenang, dan tidak mudah terpancing emosi.

·         Tidak merokok
Ini merupakan nilai plus bagi seorang sniper. Sama halnya seperti jika ia tidak meminum minuman beralkohol ataupun terlalu sering mengkonsumsi kopi. Intinya, menjauhi semua yang bisa mempengaruhi performa sniper pada kondisi tertentu di lapangan. Bayangkan jika seorang sniper tak tahan untuk tidak merokok saat mengintai targetnya.

·         Kondisi Psikologis
Kebanyakan seorang penembak jitu menjadi sniper karena mereka percaya diri, bangga akan kemampuan mereka, dan ingin menjadi yang terbaik. Mereka hanya ingin bertempur secara individu sehingga hanya mengandalkan nasib mereka terhadap diri mereka sendiri. Dalam kasus tertentu, misi sniper bisa membangkitkan pemikiran-pemikiran yang salah seperti membunuh untuk kesenangan. Karenanya, dibutuhkan kondisi psikologis yang stabil untuk menjadi seorang sniper.


·         Rela berkorban dan Tidak mengeluh
Seorang sniper harus rela menjalankan misi-misi yang sulit, dan menjalankan misi-misi yang tidak nyaman. Seperti menjalankan misi di lingkungan yang becek atau berlumpur, menjalankan misi dibawah guyuran hujan lebat, ataupun menjalankan misi di atas panasnya terik matahari yang menyengat. Intinya, mereka tidak mengeluh dalam melaksanakan tugasnya dimanapun dan kapanpun mereka ditugaskan. Selain itu, mereka juga dituntut untuk rela berkorban.


           

Monday, 19 March 2012

Tembakan Jitu Pengubah Sejarah

SNIPER





Pada bulan Juni 1914, putera mahkota kekaisaran Austro Hungaria (Austria) Pangeran Franz Ferdinand tewas setelah ditembak oleh sniper saat berkunjung ke Sarajevo, Bosnia. Tembakan jitu yang dilepaskan oleh pemberontak Serbia, Gavrilo Princip, tak hanya membunuh Pangeran Ferdinand, namun juga membawa efek lainnya. Dengan cepat segera memicu Perang Dunia I yang memakan korban jiwa 40 juta jiwa. PD I sendiri kemudian menjadi ajang duel para sniper, khususnya para sniper Jerman yang terlatih sehingga menimbulkan banyak korban berjatuhan di pihak Inggris.


Pangeran Franz Ferdinand sesaat sebelum penembakan terjadi



Belajar dari keunggulan sniper Jerman di era PD I, Inggris lalu dengan cepat mengejar ketertinggalannya dengan mendirikan sekolah khusus sniper formal di Perancis (1915). Sekolah sniper Inggris yang didirikan oleh Mayor Hesketh Pricard itu dalam waktu yang singkat berhasil mencetak para prajurit penembak jitu yang terlatih. Dan sukses menandingi kemampuan sniper Jerman. Mayor Pricard yang kemudian menulis buku panduan pendidikan sniper. Sniping In France, bahkan menjadi tokoh populer dan bukunya masih menjadi acuan utama bagi pembelajaran sekolah sniper di era terkini. Salah satu teknik sniper yang menjadi doktrin Pricard adalah penggunaan teleskop pemdidik dan tim sniper yang terdiri dari dua orang, yakni; sniper dan spotter.

Ketika Perang Dunia II meletus, para sniper sekutu, khususnya Inggris dan Perancis, kembali menunjukkan kemampuan mereka dalam pertempuran di Perancis. Sniper Inggris-Perancis berhasil menghambat pergerakan pasukan infanteri Jerman yang terus merangsek masuk kedepan. Peran sniper di era PD II kemudian menjadi sangat penting dan bahkan bisa menjadi penentu dalam jalannya pertempuran.

Pasukan Rusia yang pernah kewalahan ketika menghadapi sniper Jerman di Front Eropa Timur pada PD I, baru mulai melatih para penembak jitu mereka di tahun 1930 dan menjadi sekolah sniper satu-satunya yang memiliki fasilitas sniper lengkap yang mirip dengan medan perang sesungguhnya di kala itu. Akan tetapi peran sniper Rusia seakan pudar ketika pecah Perang musim dingin (Winter War) antara Rusia dan Finlandia. Seorang penembak jitu handal asal Finlandia, Simo Hayla, kala itu berhasil membunuh sekitar 505 prajurit Rusia, ironisnya, ia menggunakan senjata sniper buatan Rusia, Mosin Nagant.

Front PD II yang makin meluas setelah pasukan Nazi Jerman menyerbu Rusia di bulan Juni 1914 dalam Operation Barbarossa. Dalam operasi militer tersebut, tentu menjadi pelajaran tersendiri bagi para sniper Rusia. Hancurnya sejumlah kota Rusia akibat dibombardir oleh serangan pesawat udara dan juga oleh serangan darat Jerman, ternyata membawa keuntungan tersendiri bagi para sniper Rusia yang sebelumnya terbiasa berlatih di sekolah sniper yang dibuat mirip dengan medan perang sesungguhnya. 


Vassili Zaitzev


Dalam perang sengit yang mempertahankan kota terpenting Rusia, Stalingrad, Sniper Rusia Vassili Zaitzev bahkan sukses menaikkan moril para prajurit tempur Rusia dan sekaligus menciutkan moril pasukan Nazi Jerman setelah berhasil mengeliminasi 225 personel Jerman. Ketika PD II, Zaitzev serta murid-muridnya setidaknya telah berhasil membunuh 3000 pasukan musuh dan menjadi pahlawan nasional Rusia. Kegemilangan Zaitzev itu sekaligus membuat perasaan inferior para sniper Rusia yang pernah sebelumnya dipermalukan prestasi sniper Simo Hayha (sniper Finlandia) pada era Winter War. Rusia yang kemudian mengalami demam sniper (1942), bahkan mendidik para sniper mereka hingga mencapai angka ratusan ribu prajurit penembak jitu, termasuk para sniper wanita yang semuanya berjumlah 55.000 prajurit penembak jitu. Dan sniper wanita asal Rusia yang tersohor pun berhasil dicetak oleh Lyudmila Pavlichenko.


Lyudmila Pavlichenko







Disadur dari; Majalah Angkasa Edisi Koleksi; The Great Stories of Sniper. Edisi Koleksi No.78- Februari 2012

Aksi Gila di Bosnia


Sniper Pencabut Nyawa




Perang saudara antara dua etnis yang berbeda berkecamuk di Bosnia dan korban warga sipil non-etnis Serbia pun terus berjatuhan. Dengan dukungan militer Serbia yang kuat, etnis Serbia-Bosnia bahkan berhasil mendirikan Republik Srpska dan terus berambisi untuk menguasai seluruh Bosnia serta mengusir dan membantai warga non etnis Serbia. Pasukan Serbia Bosnia (Bosnia Serbia Army/ BSA) yang mendapat dukungan penuh militer Serbia, menjadi semakin kuat dan secara politis berhasil menguasai ibukota Bosnia, Sarajevo.

Selain menguasai Bosnia secara politik dan militer, BSA juga sering melancarkan teror berupa pembantaian etnis dengan cara membidik sasaran melalui senjata sniper mereka. Terkait pembantaian etnis di Bosnia ini menjadi masalah yang paling serius yang harus dicermati karena kembali mengingatkan ingatan kelam kita pada ideologi Nazi di benua Eropa. Untuk mengatasi masalah perang saudara yang semakin berlarut-larut itu, pasukan NATO dan PBB pun diturunkan ke lapangan. Namun kehadiran pasukan perdamaian itu sudah terlambat karena Bosnia, khususnya Sarajevo, telah menjadi ajang pembantaian para sniper Bosnia Serbia dan terkenal dengan sebutan Sniper Alley.

Tujuan sniper Serbia Bosnia yang bersembunyi di bukit-bukit dan bangunan yang mengelilingi kota Sarajevo adalah bertujuan untuk menciptakan teror bagi warga Bosnia non-Serbia. Warga Bosnia baik itu wanita dan anak-anak, menjadi sasaran empuk para penembak jitu yang tak kenal rasa bersalah, di seantero Sarajevo. Korban-korban akibat tembakan para sniper BSA tiap harinya mulai berjatuhan dan mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana. Militer Bosnia yang rutin berpatroli sebenarnya merupakan sasaran utama sniper BSA, tapi karena target mereka adalah untuk menciptakan teror, maka mereka mengincar warga sipil dengan tembakan sniper merkea sehingga dengan efektif menciptakan aura kematian yang mencekam di sekitar lokasi kejadian.
 Seorang anak kecil terkapar tak berdaya setelah mendapat terjangan peluru sniper
dari pasukan Bosnia-Serbia Army- BSA sengaja menembak target siapa saja,
termasuk wanita dan anak-anak, untuk menyebarkan teror di seantero kota Sarajevo




Selain menggunakan sniper untuk menciptakan teror, BSA juga kerap kali menggunakan senjata penangkis serangan udara dan senapan mesin untuk menghantam kerumunan warga yang tidak bersenjata. Pada saat-saat tertentu bahkan pasukan BSA menembakkan peluru meriam artileri dan mortir untuk menghantam sasaran kerumunan warga.

Modus operandi sniper BSA adalah menembak target menggunakan Dragunov dan ketika tim penolong tiba di tempat menggunakan ambulan, mereka pun menghujani tim tersebut dengan serangan berondongan peluru AK-47, serangan mortir dan juga serangan meriam artileri. Perilaku sniper BSA tersebut sangatlah ngawur dan tak terkontrol dalam melancarkan serangan-serangan mereka. Pasukan NATO dan PBB pun sangat murka sehingga tim counter-sniper pun diterjunkan dalam jumlah besar khususnya di Sarajevo. Laporan tim pengamat PBB pun menggambarkan bdtapa runyamnya perilaku militer dan sniper BSA di Sarajevo.


Senjata digunakan untuk melaksanakan pengepungan Sarajevo dan didominasi oleh senjata yang mampu menembak satu arah seperti meriam artileri yang memiliki akurasi tinggi. Meriam itu ternyata juga digunakan sebagai senjata ala sniper. Mortir dan senapan mesin yang seharusnya digunakan untuk melumpuhkan sasaran dalam jumlah besar ternyata digunakan sebagai senjata sniper. Akibatnya penduduk yang tidak berdosa banyak yang menjadi korban. Mereka (sniper Serbia) benar-benar menciptakan teror karena warga sipil non-kombatan menjadi sasaran sniper dan senjata meriam artileri mereka. Menyerang warga sipil yang tidak bersenjata serta membantai etnis tertentu jelas merupakan suatu kejahatan perang (War Crime) yang tidak dapat dimaafkan.“






Disadur dari; Majalah Angkasa Edisi Koleksi; The Great Stories of Sniper. Edisi Koleksi No.78- Februari 2012

8 Senjata Sniper Terbaik



Sniper-sniper Terbaik:



ACCURACY INTERNATIONAL AS-50


Lepas dari varian AW50F dan AW50FT, Accuracy International bekerja sama dengan Naval Survace Warfare Center membuat varian khusus untuk US Navy SEAL. Mulai diproduksi tahun 2006 dimana prototype-nya muncul pertama kali pada ajang pameran bergengsi ShotShow tahun 2005 di Amerika. Ringan, tangguh, dan anti-korosi (anti karat akibat keasaman air laut), dan merupakan jenis senjata yang diinginkan para personel US Navy SEAL. Panjang senapan keseluruhan adalah 1.369mm. Para penembak Jitu sendiri mengklaim bahwa AS-50 memiliki tingkat akurasi tembakan dibawah 1,5 MOA (Minute of Angle) dengan jarak tembak efektif sejauh 1.800 meter.



CHEYTAC M200 INTERVENTION / LRSS


Inilah senapan runduk bolt action anti-personel jarak jauh yang diklaim banyak pihak dan militer sebagai senapan pembidik jarak jauh terbaik di dunia. CheyTac M200 Intervention / LRRS (LRSS – Long Range Rifld System) diproduksi oleh CheyTac LLC, AS sejak tahun 2001. Bobot senapan ini sekitar 12,3 kg, termasuk senapan tembak jarak jauh teringan di antara senapan-senapan lainnya. Kelahiran CheyTac M200 tidak terlepas dari racikan tangan dingin profesor John D. Taylor sebagai desainer peluru. CheyTac juga diklaim sebagai senjata yang paling akurat, memungkinkan peluru .408 yang berbobot 27,15 gram melesat stabil pada kecepatan supersonik hingga jarak diatas 2000 meter (2.200 yard). Selongsongnya juga lebih ringan 1/3 dari berat selongsong .50 BMG sehingga menghasilkan recoil lebih kecil.








STEALTH RECON SCOUT




Stealth Recon Scout adalah senapan tembak jarak jauh yang dibuat oleh Desert Tactical Arms, Amerika Serikat. Dan merupakan jenis senapan runduk yang langka. Senapan ini menggunakan mekanisme bullpup bolt action. Efek utamanya jelas terlihat dalam hal keringkasan. Stealth Recon Scout memiliki dimensi 11 inci (280 mm) lebih pendek dari senapan sniper konvensional lainnya. Stealth Recon Scout Memiliki peluru .338 Lapua Magnum, yang mana diketahui merupakan peluru anti-material yang sangat ampuh dan mematikan hingga jarak 1.500 yard. Pergantian laras tak memakan waktu lama, ini karena sistem lepas-pasang laras dilakukan cukup dengan mengendurkan empat skrup di bagian bodi senapan.




M40 6.5x47 LAPUA


Tua tak selalu berarti usang atau tak dapat bersaing, ini adalah kata-kata yang pas yang menggambarkan senapan yang satu ini. Simplicity dan Proven Reliability, itulah konsep yang digunakan senjata ini. M40, telah digunakan oleh Korps Marinir AS sejak tahun 1966, dan masih digunakan sampai sekarang. M40 aslinya merupakan Remington 700, yang berevolusi menjadi M40A1, M40A3, dan M40A5. Senapan ini muncul dengan kode M40T7. Memiliki peluru kaliber 6.5x47 Lapua, yang seukuran sama dan sebobot dengan .308, namun dalam hal kecepatan lesatan peluru yang meluncur di udara, sangatlah berbeda. Bila .308 Winchester setelah ditembakkan akan berakhir dengan lintasan parabolik jatuh, maka peluru 6.5x47 Lapua lebih panjang lintasan dan energinya. Peluru ini efektif digunakan pada jarak 1000 meter atau lebih.



MACMILLAN TAC-50


MacMillan Tac-50 dirancang oleh McMillan Brothers Rifle Company, Phoenix, Arizona. Senapan ini merupakan senapan bolt-action rotary dengan front-locking lugs ganda. McMillan memiliki berat laras yang sulit ditandingi dan sebuah kotak magazine yang berisi lima peluru. Untuk membuat senapan ini lebih mudah digunakan, ia memiliki fitur dengan rancangan berbobot “minimalis” seperti flutted barrel dan gagang fiberglass. Memiliki panjang 1.448 mm dengan berbobot 11,8 kg. Senapan didesain untuk ditembakkan dari bipod. Sebagai Long Range Sniper Weapon (LRSW) resmi bagi Canadian Army, senapan ini juga dipasangi Leupold Mark IV 16x40mm LR 1T Riflescope optical sight. Optical Sight sejenis juga dipasangkan oleh US Navy SEAL dengan sebutan Mk 15.




BARRET M107 LRSR



Kelahiran senapan runduk semi-otomatis kelas berat, Barret M107 LRSR (Long Range Sniper Rifle) yang digunakan oleh AB-Angkatan Darat Amerika Serikat ini, terinspirasi oleh penggunaan senapan Barret M82A1 yang digunakan oleh marinir AS. Dapat dikatakan bahwa M107 merupakan penyermpurnaan dari versi AD AS. Senapan runduk Barret M107 berawal dari penyempurnaan senapan M821A dan berubah wujud menjadi M107 Long Range Sniper Rifle. Dilengkapi dengan teleskop Leupold 4.5-14x5 Mark 4. Untuk varian M107CQ, memiliki ukuran yang lebih pendek dan lebih ringan. Varian ini diproduksi untuk penggunaan dari atas helikopter dan mendukung pertempuran jarak dekat.




M110

Diproduksi oleh Knigh's Armament Company. Senapan sniper ini merupakan senapan runduk semi-otomatis yang populer di kalangan para militer, terutama bagi para sniper dan spotter. Senapan ini adalah penyerpurnaan dari senapan M24 Sniper Weapon System yang menggunakan mekanisme bolt action. Kiprah pertama M110 terlihat ketika AD AS terlibat di Afghanistan tahun 2007. Dengan bobot 15 pon (full loaded), M110 efektif digunakan untuk menembak sasaran pada jarak 1.000 meter. Sang disainer, Gene Stone, memang sengaja membuat M110 tampak seperti senapan serbu M16, agar prajurit tidak canggung menggunakannya dan terasa familiar dengan senapan ini. Peluru kaliber 7.62mm dapat menempuh jarak tembak 1.000 meter dengan 20 peluru per-magazine. Senapan ini menjadi senapan terbaik dengan menduduki peringkat kedua dari top invention pada tahun 2007.




DRAGUNOV SVD


Senapan bidik jarak jauh Dragunov SVD- merupakan senjata sniper semi-otomatis yang dirancang Evgeny Dragunov (Soviet). Senjata ini mulai dioperasikan oleh militer Soviet pada tahun 1963. Sebagai sniper, Dragunov SVD memiliki amunisi dengan kaliber 7.62mm yang dirancang khusus. Senapan tembak jarak jauh ini memang dirancang untuk mudah dioperasikan oleh siapa pun, termasuk mereka yang awam sekalipun. Berkat kemudahan penggunaan dan keakuratan bidikannya, Dragunov SVD pun menjadi senjata yang simpel dan sangat digemari. Memiliki akurasi tembakan hingga jarak 800 meter. Reputasi Dragunov SVD pun sangat baik di lapangan dan senjata mematikan ini sudah banyak dikenal oleh berbagai kalangan, termasuk; kalangan militer, para penembak jitu, milisi lokal, pemberontak, dan bahkan teroris.







Disadur dari; Majalah Angkasa Edisi Koleksi; The Great Stories of Sniper. Edisi Koleksi No.78- Februari 2012

Sunday, 26 February 2012

Tim Elite Kommando Spezialkräfte

TIM ELITE KOMMANDO SPEZIALKRAFTE – JERMAN




Ketika terjadi aksi penyanderaan terhadap atlet Israel yang terjadi di Olimpiade Munich, Jerman (1972), para sniper yang berasal dari kepolisian Jerman gagal membebaskan para sandera. Tembakan sniper Jerman yang luput dan tidak akurat mengakibatkan para teroris memiliki kesempatan untuk melawan sehingga sebagian besar sandera yang ditahan dan seorang polisi Jerman tewas tertembak. Gagalnya Polisi Jerman dalam melaksanakan operasi penyelamatan sandera di Munich itu membuat wajah institusi kepolisian Jerman tercoreng. Tak hanya itu, imej para sniper Jerman yang sewaktu Perang Dunia II terkenal karena kehebatannya itu seolah hilang ditelan bumi, dan juga, tidak mewariskan kemampuan penembak jitu mereka kepada generasi sniper berikutnya.

Setelah PD II, kemampuan tempur militer Jerman memang lemah dan menyusut dikarenakan sejumlah sanksi yang dijatuhkan pihak Sekutu. Para sniper Jerman yang selama PD II menjadi sosok penembak jitu berdarah dingin dan ditakuti pihak musuh, kini tak dapat berkiprah lagi mengingat militer Jerman hanya boleh memiliki personel dan persenjataan terbatas. Peran sniper sama sekali hilang karena militer Jerman hanya memiliki tugas untuk menjaga keamanan di dalam negeri dan bukan dijadikan sebagai pasukan tempur yang ofensif. Tapi setelah berbagai peristiwa berdarah dan berbagai ancaman yang menyangkut keamanan Internasional terjadi di Jerman, khususnya semasa Perang Dingin dan ancaman keamanan Internasional yang dilakukan para teroris lintas-negara, mau tidak mau Jerman harus memiliki suatu unit sniper yang dapat menjadi solusi praktis untuk menjawab itu semua.

Pada tahun 1996, militer Jerman akhirnya mendirikan Sekolah Sniper, Kommando Spezialkraft (KSK). Markas KSK berada di lingkungan markas besar pasukan elite militer Jerman yang berlokasi di kawasan Calw, Jerman Selatan, KSK sendiri merupakan aset berharga Angkatan Darat Jerman dan jauh dari publikasi media. Tapi secara khusus, kemampuan dan keahlian yang dimiliki KSK rata-rata sama. Kemampuan itu antara lain menggelar misi intelijen, melindungi petinggi di kawasan rawan konflik, pembebasan sandera, mengevakuasi warga negara Jerman di daerah konflik, serta menyusup di garis pertahanan musuh.
Pada setiap operasi KSK, tim terdiri dari empat personel yang memiliki kemampuan spesifik seperti; ahli medis, ahli persenjataan, ahli pemecah kode rahasia serta komunikasi elektronik, serta ahli bahan peledak. Khusus untuk penembak jitu yang dilatih oleh KSK, harus melalui berbagai seleksi dan terdiri dari para personel yang lolos dalam tes psikologi dan kemampuan fisik, serta pendidikan komando militer. Untuk mengikuti pendidikan komando, para siswa KSK menjalani pendidikan yang berat dan bagi mereka yang tidak kuat, dipersilahkan untuk mengundurkan diri dan dinyatakan gagal.

 

Jika para siswa KSK sudah lolos dalam psikotes dan pendidikan komando yang berlangsung selama dua tahun, para prajurit kemudian dibagi kedalam berbagai spesialisasi, salah satunya adalah menj`di seorang sniper.
Latihan menembak meliputi teknik menembak ala sniper, taktik bertempur di lapangan, tembakan akurat yang terukur, dan lainnya. Jarak tembak yang harus dikuasai dalam teknik menembak tepat sasaran adalah 800 meter dalam berbagai cuaca. Sementara pelajaran tentang dunia sniper dan persenjataan berlangsung didalam kelas. Di dalam kelas, para calon KSK diajarkan tentang taktik dan teknik menembak, pengenalan berbagai jenis peluru, pengenalan senjata sniper, pengenalan terhadap peluru dan pengetahuan balistik, serta perangkat pendukung untuk mendukung tugas sniper.

 

Saat menjalani latihan menembak, para calon menggunakan peluru tajam dari senapan G22A1 yang berlangsung selama 6 minggu. Setiap siswa wajib menghabiskan 850-1000 butir peluru. Target yang menjadi sasaran tembak pun dihantam dari berbagai arah dan sudut. Mulai dari menembak dengan posisi berdiri, posisi tiarap, dan menembak sasaran bergerak.
Tahap pertama menembak tepat sasaran dengan beragam posisi dan teknik adalah dengan menghantam sasaran pada jarak 200m, 400m, 600m, serta 800m. Keahlian menambak jarak jauh itu kemudian masih diasah lagi melalui tahap latihan yang disebut Snaps. Dalam latihan ini, setiap siswa harus mampu menembak dan mengidentifikasi sasaran dari beragam jarak tembak. Untuk mengidentifikasi sasaran, kemampuan dan keahlian sniper harus betul-betul diuji karena sasaran tembak hanya muncul beberapa detik.



Disadur dari: Majalah Angkasa Edisi Koleksi- The Great Stories of Sniper. Edisi koleksi No. 78 Tahun 2012 (Februari 2012).

Sniper - Perang dunia 1 ( WWI )

SNIPER – Perang Dunia I

Ketika pada bulan Agustus 1914 pecah PD I, pasukan Jerman dan Inggris yang bertempur di daratan Eropa, khususnya di Belgia dan Perancis, terlibat dalam pertempuran parit yang sengit dan melelahkan. Kedua pasukan yang sibuk bertempur mengerahkan semua taktik yang dimiliki. Namun pasukan Jerman yang lebih unggul dalam strategi tempur, terutama dengan personel snipernya, menjadi pencabut nyawa yang menakutkan bagi pasukan Inggris. Setiap pasukan Inggris yang berusaha memunculkan wajahnya dari parit perlindungan segera terjengkang tewas akibat ditembus peluru sniper Jerman yang tepat menghantam mulut atau kepala dan kemudian menembus bagian belakang kepala. Tembakan sniper ke arah mulut lalu menjebol tengkorak kepala merupakan cara yang paling disukai oleh para sniper Jerman semasa PD I, alhasil, pasukan di pihak Inggris pun banyak yang berjatuhan akibat peran sniper Jerman.

 
Sniper Jerman sedang membidik targetnya – PD I


Setiap harinya, satu batalion pasukan Inggris kehilangan 12-18 personel akibat tembakan sniper jarak jauh Jerman. Keunggulan sniper Jerman itu tak hanya membuat pasukan reguler Inggris ketakutan, dan melemahkan moral setiap prajurit, para sniper Inggris yang ditugaskan untuk melumpuhkan sniper Jerman pun dibuat kebingungan. Untuk melindungi diri dari bidikan sniper Jerman, sniper Inggris yang bersembunyi di sebuah pos dan dilindungi dua pelat baja pada lubang pengintip, ternyata masih dibuat tak berdaya. Lubang kecil pengintip yang dimanfaatkan sniper Inggris itu masih dapat dibidik sniper Jerman, dengan memanfaatkan lubang untuk lewatnya peluru mengenai sasaran. Akibat tembakan akurat tersebut, personel yang sedang melakukan observasi pun tewas terjangkang akibat peluru yang seketika menghantam kepala para prajurit.
Kehebatan sniper Jerman yang semasa PD I mampu menumbangkan banyak prajurit Inggris bukan hanya berkat latihan keras tapi juga didukung kultur masyarakat Jerman yang sejak kecil memang gemar berburu. Secara kebetulan hutan yang membentang di sepanjang wilayah jerman dan Austria bukan hutan lebat sehingga memudahkan warga Jerman untuk pergi berburu.
Sejak kecil anak laki-laki Jerman sudah terbiasa menggunakan senapan dan memiliki kemampuan menembak tepat sasaran yang sebelumnya diasah melalui klub-klub menembak. Sementara itu untuk membuktikan kemahirannya, kelompok penembak yang terdiri dari sejumlah remaja pergi berburu dan saling berlomba untuk menjadi penembak tepat sasaran terbaik. Selain mengincar target buruan, para pemburu Jerman juga belajar mengobservasi medan, mengendap-endap, dan melakukan tembakan tepat sasaran.
Kegiatan berburu merupakan kegiatan yang sangat digemari remaja Jerman pada tahun 1914, dan ketika mereka bergabung dengan militer, hampir semua prajurit Jerman memiliki kemampuan menembak jarak jauh. Kemampuan menembak tersebut berawal dari kegiatan berburu dan secara intensif kemampuan tersebut diasah kembali saat mereka bergabung dengan militer. Menjadikan mereka menjadi prajurit handal yang berkualifikasi “Sniper”.
Kebiasaan pemuda Jerman berburu di hutan sehingga secara alami mampu mengembleng mereka menjadi penembak jitu handal tentunya jauh beda dibandingkan dengan kebiasaan di Inggris yang lebih manja. Secara geografis Inggris memiliki hutan-hutan yang lebat dan orang-orang yang pergi berburu hanyalah dari kalangan bangsawan, bukan masyarakat biasa. Kalangan bangsawan yang pergi berburu biasanya untuk menembak kelinci atau rusa, dan tujuannya bukan untuk mengasah kemampuan menembak, melainkan sekedar memenuhi hasrat dan gengsi mereka sebagai seorang bangsawan yang terhormat. Ketika berburu, senapan mereka ada yang membawakan dan binatang yang tertembak pun diambil dan diangkut oleh caddy yang selalu setia menemani. Akibat kegiatan berburu yang hanya dilakukan oleh para bangsawan itu, maka bisa dimaklumi jika para pemuda Inggris yang kemudian masuk militer kurang pengalaman dalam menggunakan senjata api dan kurang bisa diandalkan dalam menembak jarak jauh. Dalam hal ini Inggris harus belajar banyak dari Jerman yang mengajarkan pemuda-pemudanya menjadi para penembak jitu yang terlatih secara alamiah, yakni kemampuan menembak yang terlahir dari kebiasaan berburu mereka.




Disadur dari: Majalah Angkasa Edisi Koleksi- The Great Stories of Sniper. Edisi koleksi No. 78 Tahun 2012 (Februari 2012).

Sniper - Perang Dunia 2 ( WWII )

SNIPER – Perang Dunia II


Pasca PD I, peran sniper di militer Inggris makin meredup karena resesi yang sedang melanda dan berakibat pada berkurangnya personel sniper di setiap batalion. PD I yang berakhir dengan perjanjian damai itu pun berimbas pada pemusnahan ribuan senjata sniper sehingga tradisi pelatihan sniper di kalangan militer memudar. Tapi memudarnya peran sniper di militer tidaklah berlaku untuk Rusia yang sedang dilanda revolusi untuk melancarkan Kampanye Komunisme mereka. Rusia, yang mengidamkan memiliki personel handal yang profesional terus mengembangkan persenjataan sniper mereka seperti Simonov AVS36 dan Tokarev SVT38 yang menggunakan peluru kaliber 7.62 x 54mm yang sangat akurat pada jarak tembak 400 meter. Demikian intensifnya pelatihan militer Rusia pada calon snipernya sehingga pada tahun 1939 Rusia sudah mencetak sekitar 60.000 personel penembak jitu handal.
Ketika pada bulan November 1939 Rusia melancarkan serangan militer mereka ke Finlandia, meletuslah perang musim dingin (Winter War) yang berlangsung hingga Maret 1940 itu pun menjadi ajang duel sniper diantara kedua belah pihak yang bersitegang. Para sniper Rusia mendapatkan ujian yang sesungguhnya untuk menghadapi para sniper Finlandia yang terbiasa hidup di musim dingin dengan suhu yang sangat ekstrem, dan para prajurit Finlandia juga sering berburu bebek, itu pun cukup untuk membuat sniper Finlandia diperhitungkan didalam pertarungan sniper. Sniper Finlandia yang bersenjata campuran seperti senapan Arisaka Jepang, Mosin Nagan Rusia, dan Warner and Swasey AS tersebut menerapkan taktik tempur yang sangat berani dengan cara maju menyusup ke front Rusia.

 
Foto; Sniper Rusia


Taktik tempur tim sniper Finlandia sebenarnya sederhanan namun efektif. Caranya satu tim yang terdiri dari sniper dan observer (spotter) bergerak ke garis depan lalu menyiapkan lubang tempat persembunyian. Di saat yang tepat sniper Finlandia dan observernya menyusup ke front depan untuk menumpaskan dan membunuh personel operator mortir, regu artileri, dan pos-pos komando. Berkat penugasan medan yang sangat baik para sniper Finlandia berhasil mengguncang kekuatan tempur Rusia. Sebaliknya, para sniper Rusia yang kurang mendapatkan latihan dalam pertempuran musim dingin, kesulitan melancarkan serangan balasan (counter-sniper) melawan para sniper Finlandia. Salah satu sniper Finlandia yang dengan sukses membunuh prajurit Rusia lebih dari 500 orang adalah Simo Hayha. Kendati pada akhirnya Rusia berhasil memenangkan perang tersebut, kerugian personel yang dialami sangat besar. Dari satu juta prajurit Rusia yang bertempur di Finlandia, hanya sebagian saja yang masih bisa pulang dengan nama. Keandalan sniper Finlandia pun menjadi pelajaran tersendiri bagi militer Rusia yang kemudian mengubah teknik pelatihan mereka terhadap para calon-calon sniper.
 
Simo Hayla – Sniper asal Finlandia yg sukses membunuh lebih dari 500 prajurit Rusia


Pelatihan sniper Rusia yang dilakukan secara intensif bermanfaat besar ketika pasukan Nazi Jerman menyerbu di tahun 1941. Para sniper Nazi yang menyerbu itu merupakan sniper terbaik pilihan Hitler. Mereka berasal dari anggota partai Nazi dan merupakan bekas penjahat kelas kakap. Sniper Nazi yang dikenal sebagai scharfschutzen- atau yang dikenal sebagai “setengah manusia, setengah iblis”, dilatih secara khusus dan terbiasa berlatih menembak menggunakan sasaran manusia hidup termasuk para wanita dan anak-anak. Berkat pelatihan yang kejam dan tak berprikemanusiaan itu, sniper Nazi mampu membunuh korbannya tanpa merasa bersalah. Untuk menghadapi para sniper Nazi Jerman yang kejam dan terdiri dari para psikopat berdarah dingin, para sniper Rusia harus lebih waspada dan menyiapkan suatu taktik khusus untuk melumpuhkan para sniper tersebut.
Salah satu strategi yang disiapkan para sniper Rusia adalah dengan bersembunyi di rongsokan Tank T-34 dengan mayat didalamnya. Dari tempat persembunyian yang menyeramkan itu, para sniper Rusia mengincar awak Tank Jerman yang sedang mengisi bahan bakar atau amunisi. Kenekatan sniper Rusia yang bersembunyi didalam rongsokan Tank yang didalamnya berisi mayat-mayat yang berbau busuk itu bukanlah tanpa alasan, dan hal tersebut sama sekali tidak diperkirakan oleh pasukan patroli Nazi, sehingga tempat persembunyian para penembak jitu Rusia tak dapat ditemukan. Dan mereka berhasil melancarkan tembakan-tembakan jarak jauh mereka tanpa terdeteksi musuh.




Disadur dari: Majalah Angkasa Edisi Koleksi- The Great Stories of Sniper. Edisi koleksi No. 78 Tahun 2012 (Februari 2012).