.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Pesawat. Show all posts
Showing posts with label Pesawat. Show all posts

Friday, 22 January 2016

Pesawat Tempur (Introduction to 4.5/5th Generation)



Sejak penerbangan perdana The Flyer karya Wilbur Wright dan Orville Wright, pesawat terbang dalam waktu singkat telah menjelma menjadi wahana udara dengan fungsi beragam (meski belum seberagam sekarang), termasuk kegunaan yang dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Sementara istilah pesawat tempur (fighter aircraft/fighter jet) baru dikenal usai ajang konflik Perang Dunia Pertama di abad ke-20.

Dalam PD-I, Royal Flying Corps Inggris menyebut pesawat militer yang dilibatkan dalam perang tersebut sebagai scouts lantaran perannya yang didominasi untuk misi pengintaian di garis depan untuk kepentingan pasukan darat. AD AS (US Army) selangkah lebih maju dengan menyebutnya pursuit aircraft atau pursuit saja. Lantaran pursuit aircraft digunakan terutama untuk mengejar (pursuit) atau menyergap pesawat lawan.

Sebutan yang diperkenalkan sekitar pertengahan dekade 1910-an ini bertahan hingga lebih dari 20 tahun, yaitu hingga menjelang akhir dekade 1940-an. Sebagai penyegar ingatan, kala itu US Air Force (AU AS) belum terbentuk. Yang ada adalah komando penerbangan dibawah naungan US Army dengan nama USAAF (US Army Air Force).

Secara umum terminology fighter aircraft (pesawat tempur) diartikan sebagai pesawat militer yang didesain dan digunakan terutama untuk pertempuran udara melawan pesawat musuh. Meskipun kemudian (apalagi di era modern saat ini) pesawat tempur sudah lazim pula dipakai untuk menyerang target di darat, namun fungsi utamanya tetaplah untuk bertempur di udara (melawan pesawat musuh). Jadi hal itu jelas berbeda dengan jenis pesawat pembom yang sejak awal memang sudah didesain untuk menyerang sasaran darat (terutama dengan menjatuhkan bom).

Di era modern saat ini, istilah fighter masih ada saja yang terkaburkan untuk beberapa kasus. Pesawat tempur multi-peran (multirole) memang sah-sah saja jika disebut sebagai pesawat tempur. Tapi dalam beberapa kasus pesawat militer serang darat yang bukan pesawat pembom pun kerap dilabeli sebagai pesawat tempur. Sebut saja A-10 Thunderbolt II, SEPECAT Jaguar, MiG-27, Tornado GR.4 hingga pesawat serang siluman F-117A Nighthawk. Meski untuk pesawat yang disebut terakhir alasan pengelabuhan intelijen dan politislah yang lebih pegang peranan.


F117 - Sebuah pesawat tempur pembom berkonsep siluman (stealth).
Diproduksi oleh Lockheed dan diperkenalkan pada Oktober 1983.
F117 memakai teknologi berkonsep "Have Blue", eksistensi 
F117 awalnya dirahasiakan pemerintah hingga secara resmi 
diungkap ke publik pada 1988



Sebutan Nighthawk sebagai jet tempur siluman adalah kesengajaan Angkatan Udara Amerika Serikat yang memberikan kode desainasi keliru, yaitu prefiks F (fighter) yang sejatinya adalah kode bagi pesawat tempur, bukan prefiks A (attack) untuk pesawat serang. Tujuan dari kesengajaan tersebut adalah untuk mengecoh pihak luar kalau sampai ada kebocoran mengenai eksistensinya yang semula memang ditutup rapat-rapat. Meski eksistensi F-117A resmi dibuka ke publik tahun 1988, hingga pensiunnya Nighthawk pun kode desainasi nya (yakni fighter) tetap dipertahankan.
Lantas apa sebenarnya ciri sejati jet fighter? Kalau mau ditilik sampai ke akarnya, ada tiga aspek yang senantiasa ada mulai dari pesawat tempur generasi awal hingga generasi anyar saat ini. Ketiganya ialah kemampuan manuver, kecepatan tinggi, dan dimensi yang kecil.

Dua aspek yang disebut terakhir tadi bersifat relatif teradap pesawat jenis lain di era yang sama. Jadi jangan meledek penempur P-51 Mustang (era PD-II) yang kecepatan maksimumnya 700-an km/jam kala membandingkannya dengan jet tempur F16 Fighting Falcon yang mampu melesat hingga 2 kali lipat kecepatan suara alias sekitar 2.400 km/jam. Di zamannya, Mustang termasuk pesawat militer tercepat. Gampangnya, bandingkan dengan pesawat angkut C-47 Skytrain (DC-3 Dakota) yang sezamannya, yang kecepatan maksimumnya bertengger di sekitar angka 365km/jam.

Begitu pun perihal dimensi, relatif pula komparasinya. Di satu sisi F16 jelas-jelas lebih besar ketimbang P-51, namun terhadap sesama pesawat militer lain di era yang sama (terutama pesawat angkut), biarpun transport kelas medium semacam CN-295), F16 jelas berdimensi lebih kecil. Bagaimanapun perkembangan fungsi dan kecanggihannya, pesawat tempur diakui sebagai salah satu alutsista penting, kalau bukan disebut sebagai yang utama di matra udara. Pesawat tempur telah banyak berubah semenjak era baru tahun 1903 di era Kitty Hawk, kala pesawat terbang bermesin pertama di dunia diterbangkan Wright bersaudara.

Belum jauh dari seabad tonggak perjalanan tersebut, kini kian jelas bahwa era baru telah siap menanti. Pesawat terbang berkemampuan tempur tanpa awak (tanpa pilot) telah banyak dikembangkan dan bermunculan, dan bukannya tidak mungkin pesawat tempur tanpa pilot kelak akan menggantikan pesawat tempur konvensional. Pesawat tempur generasi ke 4,5 (4+) hingga generasi terbaru saat ini (generasi ke-5) kelihatannya ikut menemani kita menyongsong era baru pesawat tempur modern yang semakin mematikan.

Perbandingan pesawat tempur generasi terkini (generasi 5) dengan generasi awal sudah bagaikan langit dan bumi. Kecanggihan, letalitas, sampai harganya pun sudah sangat berbeda jauh. Faktor yang terakhir inilah yang membuat populasi pesawat tempur dunia kian menurun.Tak percaya? Simak jumlah pesawat tempur garis depan AS dari era Perang Dunia ke-2, di akhir era Perang Dingin, dan data terkini di tahun 2011 lalu. Kuantitasnya menunjukkan suatu tren yang kian menurun. Tidak bisa tidak, faktor harga memang pegang peranan yang dominan.
Seperti halnya alutsista lain, harga pesawat tempur hanya mencerminkan sebagian kecil biaya total yang harus dikeluarkan pihak operator selama usia pakai pesawat. Jika ditelaah secara menyeluruh, meliputi harga beli, biaya operasi, biaya pelatihan pilot dan kru darat, biaya pemeliharaan, dan biaya peningkatan kemampuan seiring perkembangan teknologi, Anda boleh saja geleng-geleng kepala memikirkan total biaya yang harus dikeluarkan.

Jangan lantas menuding bahwa pesawat tempur merupakan alutsista penyedot anggaran saja. Secara obyektif, besarnya total cost tersebut lebih banyak disebabkan karena sifat alutsista ini yang memang tergolong beresiko tinggi, bahkan diluar kondisi perang sekalipun.

Tanpa bermaksud merendahkan, katakanlah tank atau kapal perang, nyata sekali perbedaan resiko antara alutsista matra darat dan laut itu, jika dibandingkan dengan pesawat tempur. Dalam setiap kondisi mulai dari non-perang hingga operasi militer, resiko kehilangan pesawat tempur masih tinggi. Dalam latihan rutin (kondisi damai), sangat jarang ada berita tank yang meledak atau hancur saat latihan sehingga dinyatakan total lost (rusak parah sehingga tak dapat diperbaiki dan harus diganti baru). Begitu pula dengan kapal perang, bukan berarti tak pernah ada kecelakaan atau kerusakan saat latihan, namun kecelakaan dalam latihan yang berbuntut total lost masih tergolong kejadian langka.

Berbeda dengan pesawat tempur yang dalam latihan rutin saja bisa celaka dan jatuh. Kalau jatuh, ya otomatis sudah pasti total lost. Jangankan jatuh dalam keadaan terbang, pendaratan darurat pun, bagi pesawat tempur, bisa juga berujung pada total lost. Selain itu perkembangan spectrum kemampuan pesawat tempur lebih drastis ketimbang alutsista matra lainnya. Sekali lagi tanpa bermaksud merendahkan, ambil perbandingan dengan tank dan kapal perang lagi. Sejak PD-II, sampai saat ini, perkembangan kecanggihan tank dan kapal perang memang pesat dan mengagumkan. Tapi toh fungsi dan misi yang diemban kedua alutsista itu sejatinya tidak banyak perubahan seperti yang terjadi dalam teknologi dan cakupan misi pesawat tempur.

Berbeda dengan pesawat tempur. Perkembangan senjata (rudal dan bom berpresisi) untuk pesawat tempur membuat alutsista yang satu ini memiliki perkembangan spectrum kapabilitas yang fantastis ketimbang pendahulunya di era PD-II. Mulai dari fungsi utama sebagai penjagal pesawat musuh maupun sebagai penghancur sasaran darat hingga dalam PD II tak terbayangkan misalnya melumpuhkan situs radar lawan dari jarak jauh (misi SEAD) atau peperangan elektronik untuk mengacaukan deteksi dan komunikasi lawan.

Hebatnya, kemampuan melakoni sekian banyak misi sekaligus dalam sekali terbang sudah bukan hal aneh lagi bagi pesawat tempur generasi ke 4,5 (4+) atau generasi ke-5. Jet tempur F-15E Strike Eagle andalan AS dan Rafale kebanggaan Perancis merupakan dua dari jet tempur era terkini yang diklaim mampu menjalani berbagai misi berbeda sekaligus dalam satu sorti penerbangan.

Thursday, 22 August 2013

Jet Tempur MiG-25



Inilah produk dari perseteruan dua kekuatan dunia Blok Barat dan Timur, kehadirannya membuat pihak NATO kebakaran jenggot dan pesawat ini mereka beri nama Foxbat.
Kinerja pesawat ini sudah banyak kita dengar, paling tidak kemampuan terbangnya yang dikabarkan mampu mencapai tiga kali kecepatan suara dan mampu terbang hingga radius 1.730 km. Selain itu pesawat ini dibuat lumayan banyak yakni 1.190 unit dan pesawat terakhir dibuat tahun 1984. Satu lagi yang membuat pesawat ini menjadi terkenal yaitu ketika seorang pilot Rusia, Viktor Balenko, membelot dengan mendaratkan pesawat ini di Bandara Hakodate di Jepang tahun 1976 dimana saat itu Perang Dingin sedang pada masa puncaknya.

Pada tahun 1971 MiG-25 juga ditempatkan Rusia di Mesir di mana yang ditugaskan adalah Detasemen 63. Ketika salah satu pesawat tersebut melakukan operasi pengintaian di atas Gurun Sinai, lalu diketahui oleh F-4 Israel dan ditembak dengan menggunakan rudal. Tapi dengan kecepatan melebihi 2,5 Mach penembakan itu tidak berhasil karena rudalnya kalah cepat.
Kejadian tersebut membuat pihak Barat kebakaran jenggot, setelah beberapa waktu berselang, hal ini ditanyakan kepada Viktor Balenko. Namun Balenko malah balik menanyakan apakah saat itu pilot Israel melihat asap keluar dari mesin pesawat? Dan ini dibenarkan oleh pihak Israel. Maka menurut Balenko pasti setelah mendarat mesin pesawat itu dipastikan harus diganti.




MENJAJAL SURIAH
            Angkatan Udara Israel pernah mencoba ketangguhan MiG-25 dengan cara menerbangkan dua jet F-4 sebagai decoy (umpan) ke atas ruang udara Lebanon. Benar saja, tak lama berselang AU Syria terpancing dengan menerbangkan dua jet MiG-25. Setelah mengetahui dirinya dikejar, kedua F-4 itu balik ke pangkalannya dan tugas selanjutnya diserahkan kepada dua pesawat F-15 Eagle yang sudah menanti kedatangan kedua pesawat tersebut.

Israel membuka serangan dengan menembakkan rudal AIM-7F Sparrow dari pesawat F-15. Salah satunya mengenai sasaran tapi yang lainnya luput dari penembakan. Beberapa bulan kemudian di misi yang sama kini giliran F-15A Israel yang ditembak jatuh lawan dengan menggunakan rudal R-40. Sedangkan wingman-nya dinyatakan lolos tapi ada juga yang mengatakan keduanya tertembak jatuh.

Selama konflik tersebut berlangsung, sebuah MiG-25 Suriah tertembak jatuh oleh rudal darat-ke-udara Hawk milik Israel. Memang sulit mendapatkan data yang pasti mengenai jumlah korban. Paling tidak Israel mengatakan bahwa pihaknya menembak jatuh pesawat tersebut pada 31 Agustus 1983. Sedangkan ketika berlangsungnya Perang Teluk pesawat ini menjadi bulan-bulanan pihak Pasukan Koalisi. Bahkan rudal AMRAAM untuk pertama kalinya memakan korban dengan menembak jatuh pesawat ini didaerah larangan terbang di Selatan Irak.

Sedangkan MiG-25 Irak hanya dapat membalas menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak Predator yang dipersenjatai oleh rudal AIM-92 Stinger yang mencoba menembak jatuh pesawat tersebut. Menjelang berakhirnya Perang ini beberapa pesawat ditemukan oleh Pasukan Koalisi terkubur dalam gurun pasir dalam kondisi lumayan baik. Mungkin ini harapan terakhir dari Irak agar pesawatnya tidak direbut atau dihancurkan.

Dikawasan Asia yang memiliki pesawat ini hanya India yang disana diberi nama Garuda. AU India menggunakan pesawat ini lebih banyak sebagai pengintai ketimbang sebagai pemburu. Ketika terjadi pertempuran dengan Pakistan pesawat ini aktif dalam Operasi Parakram, yaitu Operasi Pengintaian di ruang udara Pakistan. Salah satu MiG-25RB (versi pengintai) melakukan penerbangan diatas ruang udara Pakistan dengan kecepatan Mach 2 di ketinggian 74.000 kaki dan mengeluarkan sonic boom. Kejadian itu merupakan salah satu bentuk dari perang urat syaraf. Tapi Perdana Menteri Pakistan Gohar Ayub Khan menyakini kalau pihak India sekaligus melakukan pemotretan lokasi strategis di sekitar Islamabad. Tahun 2006 India mempensiunkan armada MiG-25nya karena kesulitan suku cadang.








PEMECAH REKOR
Walau di Rusia MiG-25 tidak terlibat langsung dalam pertempuran. Pesawat ini diunggulkan dimana beberapa rekor sempat terpecahkan. Memecahkan rekor dunia membawa muatan seberat 1.000 kg dan 2.000 kg dengan kecepatan 2.319 km/jam pada 16 Maret 1965 oleh pilot Alexander Fedotov.

Pilot yang sama pada 5 Oktober 1967 menerbangkan pesawat ini hingga ketinggian 115.000 kaki. Ini merupakan jet pertama yang dapat terbang setinggi itu. Kembali pada 31 Agustus 1977 Fedotov memecahkan rekor dunia dengan menerbangkan pesawat di ketinggian 125.520 kaki di atas ruang udara Podmoskovnoye menggunakan MiG-25RB dengan mesin jenis R-15BF2.200, misi ini dilaksanakan bertepatan dengan pengembangan prototipe MiG-25M.


Pilot lainnya yang sempat memecahkan rekor adalah Boris A Orlov pada 4 Juni 1973 dengan terbang menanjak pada ketinggian 20.000 kaki dengan waktu 2 menit 49,8 detik. Sedangkan rekannya Pyotr M Ostepenko di hari yang sama terbang menanjak pada ketinggian 25.000 kaki dengan waktu 3 menit 12,6 detik dan 30.000 kaki dengan kecepatan 4 menit 3,86 detik.

Thursday, 24 January 2013

Sejarah Pesawat terbang


Otto Lillenthal - melakukan demo terbang pada pesawat layang buatan nya.
inilah yang kemudian menginspirasi Wright bersaudara.




Pada saat awal kelahiran pesawat terbang, Indonesia belumlah lahir dan masih merupakan jajahan Belanda yang bernama Hindia Belanda. Untuk menceritakan perkembangan dunia penerbangan “sipil” di Indonesia, mau tak mau kita harus melihat terlebih dulu tentang kisah perkembangan penerbangan di dataran Eropa, yang kemudian membawa pengaruhnya ke bumi Nusantara.


Sebelum kelahiran pesawat terbang, balon udaralah yang merupakan wahana udara yang paling populer. Balon yang berisikan hidrogen atau udara panas seperti yang dilakoni oleh kakak-beradik Joseph-Michel (1740-1810), dan Jacques-Etienne Montgolfier (1745-1799) di Perancis, sukses membawa manusia terbang ke angkasa. Percobaan dengan balon udara panas juga dilakukan di Belanda pada tahun 1804 dengan tokohnya Abraham Hopman (1770-1832). tapi balon udara bukanlah sebuah jawaban ideal untuk mewujudkan “mimpi” manusia untuk terbang ke angkasa (udara), karena sifatnya yang sulit dikendalikan dan sangat mudah terombang-ambing oleh angin.



Otto Lillenthal (1848-1896)




Menjelang berakhirnya abad-19, Otto Lillenthal (1848-1896), membuat pesawat berjenis layang (glider) dengan memanfaatkan gaya aerodinamika dan sayap seperti layaknya burung, ini juga belum sempurna karena pesawat layang harus diterbangkan dari tempat yang tinggi terlebih dahulu seperti di wilayah perbukitan.

Tapi dasar-dasar dari pemikiran Lillenthal lah yang menginspirasi dua bersaudara asal Amerika Serikat, Wilbur dan Orville untuk membuat sebuah model pesawat terbang. Pada 17 Desember 1903, Orville Wright berhasil menerbangkan pesawat buatannya, Flyer, di bukit berpasir Kill Devil, Kitty Hawk- Carolina Utara. Penerbangan tersebut hanya berlangsung selama 12 detik, tapi itu adalah detik-detik pertama yang membuka era fajar penerbangan.



 Wright bersaudara, saat menerbangkan pesawat Model "A" buatan mereka.





Perjalanannya memang tidaklah selalu mulus. Di negerinya sendiri, malah timbul ketidakpercayaan bahwa ada dua bersaudara yang “hanya tamatan SMA”, dengan biaya mereka sendiri, dan hanya bekerja sebagai tukang sepeda, mampu dan sukses membuat sebuah model pesawat terbang dan menerbangkannya. Sedangkan seorang Profesor. Samuel Langley membangun Great Aerodome, dengan melibatkan banyak peneliti serta dibiayai sangat besar oleh negara, justru gagal total dalam membuat dan merancang sebuah pesawat!







EUFORIA PENERBANGAN



 Wright Brothers,




Wright Brothers tidak berkecil hati menghadapi sikap pesimis di negerinya sendiri. Mereka memutuskan untuk menunjukkan demo terbang Model “A” di Eropa, tepatnya di Perancis pada tahun 1908. walaupun sudah lebih baik dari Flyer, Model “A” masih terlihat sederhana dan bersayap dua (biplane), sebuah ciri khas pesawat di era awal penerbangan. Sayapnya terbuat dari kerangka kayu yang ditutup kain yang sangat rapuh. Buat bergerak ke depan dan terbang saja, mengandalkan sebuah mesin berdaya dorong kecil. Kontrol kemudi mengandalkan kawat-kawat piano yang melintang satu sama lain, menyatu di dalam kemudi yang berada dibagian tengah sayap sebagai tempat pilot. Saking sederhananya model pesawat tersebut, seseorang bisa saja menjadi perancang, pembuat dan pilot pesawat sekaligus, seperti yang dilakukan Wright Brothers.

Jangan pula dibayangkan demo terbang aerobatik pada zaman itu seperti demo terbang saat ini. Demo terbang Model “A” membosankan!! hanya terbang lurus, bahkan untuk belok pun susah dan harus ekstra hati-hati lantaran kerangka pesawat tidak bisa menopang manuver ekstrem. Salah sedikit saja pesawat bisa jatuh, anginnya juga tidak boleh kencang, bahkan idealnya malah tidak ada angin sama sekali, yang dibuktikan dengan menyalakan rokok, yang asapnya malah membumbung lurus ke atas, melakukan pendaratan juga harus ekstra hati-hati. Pesawat Wright Brothers hanya dilengkapi lunas peluncur tanpa dilengkapi roda buat lepas landas dan mendarat. Jika mendarat terlalu cepat, akan berakibat fatal, bisa-bisa pesawat jadi hancur berkeping-keping.

Namun terlepas dari itu, pesawat buatan Wright bersaudara adalah jawaban dari “impian” terbang manusia selama berabad-abad. Demo terbang mereka mendapatkan banyak kepercayaan dan sambutan hangat baik dari Eropa, bahkan sampai membuat euforia tersendiri bagi banyak orang, yang berusaha mengikuti jejak mereka, membuat pesawat terbang.

Louis Bleriot adalah seorang perancang dan penerbang asal Perancis. Hanya dalam waktu setahun dari Demo Wright, pesawat terbang rancangannya yang disebut Bleriot XI, terbang dari Perancis menuju Inggris. Menakjubkan!! mengingat jaraknya yang dinilai sangat jauh pada masa itu, dan bahkan Bleriot berani terbang di atas lautan!!

Bleriot XI sangatlah maju daripada pesawat Model “A”. bahkan dilihat dari mata sekarang, Bleriot XI dinilai cukup modern, bersayap tunggal (monoplane), memiliki perangkat roda pendarat, bahkan memiliki kokpit dan juga ekor pesawat. Selain itu, Bleriot juga memiliki pemikiran untuk membuka sekolah khusus pilot Bleriot pada tahun yang sama sebagai salah satu usahanya untuk menjual pesawat buatannya.



 model replika pesawat terbang Bleriot XI.
merupakan model yang cukup modern pada waktu itu.




Meskipun mahal, kurikulum sekolah pilot Bleriot sangatlah maju, diajar oleh instruktur yang berpengalaman, dan memiliki banyak pesawat latih. Tak mengherankan banyak orang yang berminat. Kemudian banyak orang di Eropa dan AS yang berbondong-bondong belajar di sana, berlomba-lomba untuk mendapatkan brevet terbang Aero Club de France yang prestisius sekaligus menjadi pilot penerbang nomor satu di negaranya, tak terkecuali pilot dari Belanda.

Pilot tiba-tiba menjadi profesi yang sangat menjanjikan. Meskipun mereka juga sangat dekat dengan maut, mereka-mereka ini yang kemudian dibayar mahal untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam pertunjukan “atraksi udara” pada pameran-pameran kedirgantaraan atau untuk menerbangkan pesawat-pesawat dari pabrik pembuat pesawat terbang yang tumbuh cukup pesat pada waktu itu.


sebuah poster "tantangan" Aero Club De France.
sebuah poster yang ditujukan bagi mereka yang ingin mengikuti
perlombaan "terbang" pada awal abad-19 dengan pesawat-pesawat buatan mereka sendiri.
 Poster ini bertanggal 16-17 Juni 1912, dan diselenggarakan oleh Klub penerbang Perancis.
ini merupakan tantangan tersendiri bagi mereka-mereka yang telah berhasil membuat model
pesawat terbangnya.






Disadur dari Majalah Angkasa “Edisi Koleksi”, SPI (Sejarah Penerbangan Indonesia)- Edisi Koleksi No.81 Tahun 2012

Saturday, 17 November 2012

Armed Forces of the Russian Federation, (dan gambaran kekuatan pesawat tempur Rusia)


Angkatan Bersenjata Federasi Rusia (The Armed Forces of the Russian Federation), (bahasa Rusia: Вооружённые Си́лы Росси́йской Федера́ции), adalah kekuatan militer Rusia, yang dibentuk setelah pembubaran Uni Soviet. Pada tanggal 7 Mei 1992, Boris Yeltsin menandatangani Keputusan Presiden mengenai pembentukan Menteri Pertahanan Rusia dan menempatkan semua tentara Angkatan Bersenjata Soviet di wilayah RSFSR (Russian Soviet Federative Socialist Republic), yang berada dibawah kendali Rusia. Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia ialah Presiden Rusia itu sendiri. Meski AB Rusia baru dibentuk di tahun 1992, namun militer Rusia merasa kembali ke era Kievan Rus'.

Jumlah total Tentara AB Rusia, yang pernah disebutkan oleh Keputusan Presiden pada 1 Januari 2008, berjumlah 2.019.629 personel, termasuk 1.134.800 unit-unit militer yang dibentuk.

Di tahun 2010, IISS (International Institute for Strategic Studies), memperkirakan bahwa AB Rusia berjumlah sekitar 1.027.000 untuk Tentara Aktif, dan di wilayah-wilayah lain sebanyak 20.000.000 Tentara Cadangan (sebagian besar mereka adalah sukarelawan wajib militer). Menurut SIPRI, pengeluaran untuk Pertahanan Rusia per tahunnya adalah sekitar 52.7 miliar di tahun 2011. Beberapa pengamat militer dan juga pejabat militer tinggi Rusia sendiri telah berambisi untuk memodernisasi, dan berencana untuk merubah AB Rusia kedalam skala yang lebih luas. Termasuk meningkatkan anggaran Pertahanan AB mereka, meningkatkan jumlah sukarelawan wajib militer mereka, termasuk memodernisasi Alutsista dan persenjataan mereka. Dan hingga saat ini, militer Rusia termasuk ke dalam kekuatan militer terbesar yang ada didunia.



Dibawah ini adalah unit kecabangan AB Rusia:

Armed Forces of the Russian Federation

Banner of the Armed Forces of the Russian Federation
Founded 7 May 1992
Service branches Russian Air Force
Russian Ground Forces
Russian Navy
Strategic Missile Troops
Russian Aerospace Defence Forces
Russian Airborne Troops







Kali ini kita hanya akan membahas kekuatan utama AU Rusia dari segi pesawat tempur dan pesawat taktis/strategis Rusia: 
 

Russian Air Force

Военно-воздушные cилы России
Voyenno-vozdushnye sily Rossii
Russian Air Force

Active 1992 - present
Country  Russian Federation
Role Air superiority, reconnaissance, close air support
Size 160,000 personnel
Anniversaries 12 August
Engagements First Chechen War
1999 Invasion of Dagestan
Second Chechen War
2008 South Ossetia war
Insurgency in the North Caucasus


Russian Air Force, (bahasa Rusia: Военно-воздушные cилы России), merupakan unit kecabangan Angkatan Udara Rusia yang berdiri dibawah naungan AB Federasi Rusia. Sedangkan The Russian Navy (AL Rusia), memiliki nama kecabangan Angkatan Udaranya sendiri, yakni The Russian Naval Aviation, yang merupakan unit lama yang dibentuk sejak era Soviet, Aviatsiya Voyenno Morskogo Flota “Naval Aviation”

AU Rusia yang dibentuk merupakan bagian dari unit Soviet Air Forces, yang mana merupakan unit AU Soviet sewaktu Uni Soviet masih berkuasa. Pembentukan Menteri Pertahanan Federasi Rusia oleh Boris Yeltsin di tahun 1992, dapat disebut sebagai acuan untuk pembentukan formasi baru bagi unit Angkatan Udara Rusia. Sejak saat itu, AU mereka telah mengalami beberapa masalah-masalah internal seperti masalah anggaran perang mereka, dan masalah penurunan jumlah personel mereka. Sejak Vladimir Putin berkuasa sebagai Presiden Rusia, bisa dikatakan, Beliau telah banyak memberikan bantuan dana untuk anggaran militer bagi AB Rusia secara keseluruhan.




Berikut ini adalah beberapa gambaran kekuatan pesawat-pesawat tempur dan pesawat taktis AU Rusia:






BERIEV A-50



Masa Produksi   : N/A
Terbang perdana : 1978
Jenis                   : Airbone Early Warning and Control
Misi                    : Mendeteksi ancaman dini, mengontrol pesawat, dan sebagai pesawat komunikasi.







TUPELOV Tu-154
Masa Produksi    : 1968 - 2010
Terbang perdana : 1978
Jenis                   : Airliner
Misi                  : Mengangkut personel militer, sebagai pesawat sipil/komersial, melakukan                    penerbangan    domestik, dsb.








TUPELOV Tu-22M
Masa Produksi    : 1967 - 1997
Terbang perdana : 30 Agustus 1969
Jenis                   : Bomber
Misi                    : Pesawat pembom jarak jauh







SUKHOI Su-30
Masa Produksi : N/A
Terbang perdana : 31 Desember 1989
Jenis                   : Jet Fighter
Misi                 : Pesawat jet tempur, multirole (melakukan penyerangan basis pertahanan darat), (melakukan misi tempur udara)







SUKHOI Su-24
Masa Produksi   : 1967 - (...)
Terbang perdana : 17 Januari 1970
Jenis                   : Reconnaissance, Ground-Attack
Misi                    : Melakukan misi pengintaian, penyerangan darat







SUKHOI Su-34
Masa Produksi   : 2006 – hingga sekarang
Terbang perdana : 13 April 1990
Jenis                   : Strike Fighter
Misi                    : Pesawat jet tempur, multirole (pesawat pembom)







ANTONOV An-72
Masa Produksi    : 1977 – hingga sekarang
Terbang perdana : 22 Desember 1977
Jenis                    : Tactical Transport
Misi                     : Pesawat angkut taktis (pesawat angkut personel dan kendaraan tempur ringan)







ILYUSHIN I1-76
Masa Produksi    : N/A
Terbang perdana : 25 Maret 1971
Jenis                   : Strategic Transport
Misi                    : Pesawat angkut strategis (pesawat angkut kargo/barang, dan kendaraan tempur ringan)






MIKOYAN MiG-31
Masa Produksi    : N/A
Terbang perdana : 16 September 1975
Jenis                   : Interceptor Aircraft
Misi                    : Melakukan misi pencegatan pesawat, melakukan tempur udara








Yakovlev Pchela 1T


Masa Produksi   : N/A
Terbang perdana : N/A
Jenis                   : UAV (Unmanned Aerial Vehicle)
Misi                    : Pesawat mata-mata









Berikut hanyalah beberapa gambaran kecil mengenai kekuatan Angkatan Udara Rusia yang sangat besar. Beberapa tahun belakangan ini diam-diam menjadi kekuatan AU yang sangat menakutkan di dunia. Berbagai produksi pesawat pun dikembangkan, tidak hanya pesawat jet tempur, melainkan juga pesawat pendeteksi ancaman dini, pesawat pengontrol, pesawat angkut taktis/strategis, dan juga sederet pesawat-pesawat superior lainnya termasuk juga heli tempur dan pesawat pengintai UAV.

Jika dicermati, Rusia/AU Rusia, bukan merupakan kekuatan kedua terbesar setelah AS. Melainkan Rusia / Angkatan Udara Rusia memiliki kekuatan setara atau bahkan, dalam beberapa kasus, lebih baik dibandingkan dengan kekuatan superior yang dimiliki AU AS. 
 
Kembali lagi tergantung kepada anda? Anda berada di pihak mana??
Blok Timur kah (Rusia), ataukah Blok Barat (Amerika)?? 
 
Tentu kalian punya alasan tersendiri kemana anda akan berpihak! Yang pasti, kekuatan superior itu adalah kekuatan militer yang sangat mengerikan, jika benar-benar digunakan di medan perang. Contohnya apabila kedua belah pihak berseteru (AS vs Rusia), tentu ini tidak akan terbayangkan dan menjadi perang yang tidak berkesudahan! Kita tidak berharap begitu!! yang nantinya toh akan membangkitkan gelora Perang Dunia ke-4 secara global.

Yang pasti, Amerika Serikat pun saat ini tidak segan-segan mengeluarkan banyak anggaran militer mereka untuk pertahanan dan kekuatan militer mereka dalam menghadapi ancaman atau mengantisipasi ancaman militer Rusia dikemudian hari. Berbagai upaya pun terus dilakukan, walaupun dalam beberapa kasus seperti Perang Afghanistan yang dilakoni AS beberapa waktu lalu, harus memaksa para pejabat militer memangkas anggaran perang mereka dan memikirkan kembali kebijakan militer mereka secara bijak.

Di sisi lain, Rusia, dengan wilayah negaranya yang sangat luas, dan juga negara yang kuat secara militer, tidak mau kecolongan. AB Rusia mengembangkan kekuatan militer mereka merata di seluruh unit-unit kecabangan AB Rusia. Di AU misalnya, yang sudah dijelaskan tadi, pesawat-pesawat Rusia tidak kalah dibandingkan pesawat-pesawat AS, malahan dalam beberapa hal lebih baik. Begitu juga perbaikan dan modernisasi dalam kecabangan Angkatan Laut Rusia. Seakan tidak ingin ketinggalan selangkah, mereka telah banyak memproduksi kapal selam, kapal perang, destroyer, dan kapal-kapal lainnya dalam mengungguli Alutsista Amerika Serikat.


So, dapat dipastikan anda hanya akan geleng-geleng kepala melihat peta kekuatan militer kedua negara ini, terutama kekuatan militer Rusia!!









Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Armed_Forces_of_the_Russian_Federation
http://en.wikipedia.org/wiki/Russian_Air_Force



Tuesday, 13 November 2012

Beriev A-50 Rusia

 Beriev- A-50


Peran AWACS
Perusahaan Beriev
Terbang perdana 19 December 1978
Perkenalan 1984
Status memasuki masa operionalnya
Penggunaan Russian Air Force
Indian Air Force
Unit yg diproduksi sekitar 40 unit
Dikembangkan dari Ilyushin Il-76  



The Beriev A-50, atau pesawat Beriev A-50 (“Mainstay” untuk penamaan oleh NATO), adalah pesawat terbang buatan Rusia. Beriev A-50 berperan sebagai pesawat pengontrol dan pesawat peringatan dini yang diproduksi Rusia, atau disebut juga AWACS (Airbone Warning and control system), yang desainnya berdasarkan pada pesawat angkut Ilyushin I1-76. A-50 dibuat untuk menggantikan pesawat Tupolev Tu-126 “Moss”. Penerbangan perdana A-50 dilaksanakan di tahun 1978, dan memasuki gelanggang pada 1984, dengan produksi sekitar 40 unit di tahun 1992.

Misi nya adalah mengangkut 15 kru yang bertugas mengambil atau menerima data dari radar pengintai besar Liana dengan antena yang terpasang di pesawat, yang berdiameter 29 kaki 9 inci (9 meter).

A-50 dapat mengontrol atau mengatur hingga 10 pesawat tempur entah itu pesawat interceptor (pesawat pencegat), maupun pesawat tempur ground attack. A-50 mampu terbang selama 4 jam pada kecepatan 1000 kilometer dari landasannya dan memiliki berat maksimum 190 ton. Pesawat ini dapat diisi bahan bakar ulang oleh pesawat tankers I1-78.

Radar yang dimiliki pesawat, yakni “Vega-M”, didesain oleh MNIIP, Moskow, dan diproduksi oleh NPO Vega. Vega-M mampu melacak hingga 50 target sekaligus dalam radius jarak sejauh 230 km. Target-target besar, termasuk kapal permukaan (surface ships), dapat dilacak dan dideteksi pada jarak 400 km.

Setelah melakukan berbagai pengujian, Beriev kemudian di upgrade beberapa komponennya dan dikirim ke Angkatan Udara Rusia (The Russian Air Force), menjalankan peran AWACS nya.
Pesawat berjenis '47 Red'/RF-92957 telah ditangani langsung di fasilitas khusus Beriev di Tanganrog pada 31 Oktober 2011. Dan telah dirawat khusus oleh Pusat Penerbangan Operasi Pesawat terbang khusus pesawat pendeteksi dini, di Ivanono-Severnyi, yang mana merupakan satu-satunya basis yang mengoperasionalkan A-50. Unit 2457th (Unit yang mengurus dan mengoperasionalkan A-50), mengoperasikan total 16 pesawat A-50. Pesawat kedua, berjenis '33 Red' sedang melalui tahap upgrade dan akan dikirim pada tahun 2012. Ini hanyalah dua permintaan upgrade yang dipesan (tertanggal Januari 2012), namun Beriev juga akan menindaklanjuti permintaan upgrade di kemudian hari apabila ada pemesanan.


Pengerjaan A-50U dilakukan beberapa tahun lalu dan pengujiannya dilakukan pada 10 September 2008, menggunakan pesawat berjenis Russian Air Force A-50 '37 Red' sebagai bahan uji coba nya.
Komponen utama yang di modernisasi termasuk menempatkan peralatan analog yang lama, di ganti dengan yang baru, perlengkapan penerbangan digital yang disuplai oleh perusahaan JSC – Perusahaan Teknisi Radio Vega. Peningkatan atau upgrade yang diperlukan termasuk, memproses data secara cepat, meningkatkan proses melacak dan mendeteksi sinyal dan deteksi target. Sekedar tempat berbaring/istirahat untuk kru, toilet, dan juga ruang dapur pun disiapkan di dalam upgrade nya.

Bentuk upgrade ini merupakan konsep pembentukan pesawat produksi baru, berdasarkan pada airframe I1-476 (I1-76MD baru dengan menggunakan mesin PS-90A76). Konfigurasi yang sama juga diterapkan pada A-50U, namun dengan Radar Array Premier baru berjenis Vega.


Spesifikasi (A-50)

Orthographically projected diagram of the Beriev A-50.
General characteristics
  • Crew: 15
  • Length: 49.59m (152 ft 8 in)
  • Wingspan: 50.50 m (165 ft 6 in)
  • Height: 14.76 m (48 ft 5 in)
  • Wing area: 300 m² (3,228 ft²)
  • Empty weight: 75,000 kg (165,347 lb)
  • Max. takeoff weight: 170,000 kg (374,786 lb)
  • Powerplant: 4 × Aviadvigatel PS-90A turbofan, 157 kN (35,200 lbf) each






Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Beriev_A-50

Monday, 25 June 2012

Diplomatic Tools


strategic bomber




Perlombaan teknologi dan senjata di era Perang Dingin menelurkan begitu banyak alat utama sistem senjata dari yang taktis hingga strategis. Alutsista strategis dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai alat diplomasi. Pesan intinya hanya satu, “Kami punya ini, jadi jangan macam-macam!"

Penggunaan alutsista strategis sebagai diplomatic tools dimungkinkan berkat spesifikasinya yang sangat tinggi, yaitu hanya dimiliki oleh negara pembuatnya saja. Meski ada satu-dua alutsista yang dilepas ke sekutu terdekat, namun sebagian besar secara ekslusif masih tetap dimiliki negara pembuatnya. Tentu selain itu ada aspek yang lebih penting yaitu daya rusaknya yang dahsyat serta kemampuan nya yang mumpuni.

Berakhirnya Perang Dingin bukan berarti berakhir pula karir alutsista strategis. Sebagian besar pun masih digunakan hingga kini. Bahkan beberapa sempat mencicipi gelanggang mereka walau perang yang dihadapai sudah bergeser, bukan lagi seteru semasa era Perang Dingin.

Salah satu alutsista strategis warisan Perang Dingin yang masih eksis adalah pesawat pembom atau strategic bomber. Terminologi itu sendiri muncul ketika PD-II berlangsung, yang didefinisikan sebagai pesawat berdaya jangkau jauh dan mengusung banyak muatan bom untuk menyerang sasaran yang bernilai strategis. Target/sasaran strategis adalah aset lawan yang mempengaruhi kemampuan dan kapasitas pihak lawan dalam pertempuran jangka panjang. Contohnya seperti pabrik bahan baku, pabrik pembuatan senjata dan alutsista, depo logistik, konsentrasi pasukan (skala besar), pangkalan dan markas induk, pusat komando, hingga kantor atau kediaman tempat para petinggi militer.

Meski PD-II menunjukkan vitalnya peran yang dimainkan pesawat pembom strategis, namun alutsista ini makin menemukan rohnya dalam era Perang Dingin. Kehadiran senjata-senjata nuklir tak lepas dari peran strategic bomber sebagai salah satu perangkat pembawa munisi maut tersebut. Kecepatan tinggi, jangkauan jauh, dan daya angkutnya yang besar serta kemampuan terbang (di ketinggian sangat tinggi maupun sangat rendah menyusuri permukaan bumi), merupakan parameter penting yang disyaratkan melekat pada setiap pembom strategis.

Perang Dingin juga menjadi saksi munculnya pola penyerangan strategis gaya baru, entah dengan munisi nuklir maupun konvensional. Kalau pada PD-II bom-bom dijatuhkan dengan mengharuskan pengusungnya masuk ke wilayah lawan, maka kehadiran peluru kendali mengubah paradigma penyerangan strategis. Rudal berhulu ledak nuklir pun ramai-ramai dikembangkan, dengan salah satu pengusungnya yakni pesawat pembom strategis.

Berbekal rudal nuklir, bomber cukup mendekati wilayah lawan (tanpa memasukinya) untuk meluncurkan rudal nuklir bawaannya. Atau pembom melakukan loitering, yakni patroli di area tertentu sambil menunggu perintah kapan dan kemana rudal nuklir akan dilesatkan. Tentu saja areanya dipilih dengan pertimbangan kedekatan dan kemudahan dalam mencapai target. Penyerangan model loiter-attack inilah yang menjadi salah satu standar penyerangan Soviet dalam penggelaran pembom strategisnya.

Pasca Uni Soviet bubar, Rusia selaku pewarisnya masih mengoperasikan tiga jenis pesawat pembom yang berbeda sifat dan karakteristik. Yaitu Tu-95 (Julukan NATO: Bear), Tu-22M3 (NATO: Backfire-C), dan Tu-160 (NATO: Blackjack). Bear jago dalam melakukan loitering meski berkecepatan tidak setinggi dua sejawatnya. Backfire berkecepatan tinggi meski tidak memiliki jangkauan terbang sejauh kedua rekannya. Sedangkan Blackjack selain memiliki jangkauan jauh juga berkecepatan tinggi.

Di lain pihak, Amerika juga masih tetap mengoperasikan tiga jenis pembom strategis mereka. Yakni B-52H Stratofortness, B-1B Lancer dan bomber siluman B-2A Spirit. Tapi perlu diingat bahwa salah satunya (B-1B) sudah ditarik dari penugasan serangan nuklir, sehingga latihan para awaknya kini hanya pada penerapan munisi konvensional.










Tu-160 Blackjack -(Rusia)








Tu-22M3 Backfire-C (Rusia)










 Tu-95 Bear (Rusia)





Yang menarik dari bomber-bomber strategis Rusia yang eksis sampai sekarang, kenyataannya bahwa sejak awal ketiganya didesain untuk memiliki kemampuan ganda, baik nuklir maupun konvensional. Beda dengan B-1B milik AS, yang harus menjalani serangkaian modifikasi untuk membawa bom-bom konvensional lantaran sejak awal hanya dirancang untuk kebutuhan membawa munisi nuklir. Satu hal ironis mengingat ujung-ujungnya bomber ini justru sekarang tidak lagi dipersiapkan untuk misi penyerangan nuklir.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, the existing Russian strategic bombers terus membawakan peran mereka sebagai alat diplomasi. Meski tertatih-tatih akibat deraan krisis ekonomi yang sempat menimpa negeri Beruang Merah tersebut, namun perlahan tapi pasti peningkatan kemampuan pada ketiganya telah dan sedang dilakukan. Diharapkan efektifitas trio bomber berinisial “B” (B Bomber) strategis itu terus tergaga untuk beberapa waktu kedepan, hingga alutsista baru sebagai pengganti pesawat bomber strategis diproduksi, hanya waktu yang dapat menjawabnya.



Anda juga disarankan membaca artikel tentang: Pesawat Bomber B2-Spirit



Disadur dari Majalah COMMANDO Volume VIII – Edisi No.2 Tahun 2012