.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Operasi Militer. Show all posts
Showing posts with label Operasi Militer. Show all posts

Friday, 24 December 2021

Operasi Barbarossa (Invasi Nazi atas wilayah Soviet)

 

 “Andai saja saya tahu jumlah persis kekuatan Tank Soviet di tahun 1941, maka saya tidak akan berani menyerang Soviet.”  - Adolf Hitler



Operasi Barbarossa adalah operasi militer Nazi Jerman yang dilakukan pada 22 Juni 1941 terhadap wilayah Uni Soviet. Tujuan utama invasi militer Nazi ini ialah menegaskan kembali ideologi Nazi Jerman dalam menyebarkan konsep ideologi ras Arya-nya yang sangat rasis dan ekstrem ke seantero Eropa. Dengan adanya invasi atas Uni Soviet, Nazi berharap dapat menduduki sepenuhnya Uni Soviet dan kemudian menggantikan populasinya dengan populasi warga Jerman. Hitler juga memiliki rencana terhadap Uni Soviet yang bernama Generalplan Ost- sebuah rencana yang bertujuan untuk memperbudak mereka (baik para tawanan perang atau warga sipil Uni Soviet), menjadikan mereka sebagai budak pekerja yang rencananya dipekerjakan demi kepentingan Nazi di lahan-lahan pertanian yang ada di berbagai wilayah Soviet. Istilah “Jermanisasi” (Germanization) adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan ambisi besar Hitler soal kejayaan ras Arya bukan hanya terhadap wilayah Uni Soviet, melainkan terhadap seluruh wilayah jajahannya di Eropa. Ambisi besar ini tentunya harus segera diwujudkan Hitler melalui operasi militer besar-besaran dengan jumlah tentara yang sangat besar dan berbagai perhitungan strategi perang yang matang.  

Sebelum invasi terjadi, Jerman dan Uni Soviet sebenarnya sudah lama saling curiga. Antara keduanya sudah tidak ada rasa saling percaya. Soviet sendiri melanggar pakta non-agresi yang disepakati dengan Jerman saat Soviet menginvasi Bukovina di tahun 1940. Setelah Jerman menjadi bagian dari Kekuatan Axis dengan Jepang dan italia, Jerman sebenarnya ingin memasukkan Soviet ke dalam aliansi Axis tersebut. Ketika selangkah lagi Jerman sudah benar-benar akan menjalin hubungan pertemanan dengan Soviet, Soviet membalas rencana tersebut dengan mengirimkan surat proposal yang mengatakan bahwa Soviet akan bergabung dengan aliansi Axis hanya ketika Jerman setuju untuk menjauh dari wilayah-wilayah jajahan Soviet dan tidak ikut campur dengan urusan luar negeri Soviet atas negara-negara jajahan yang memiliki pengaruh Soviet di Eropa. Jerman pun tidak membalas surat proposal tersebut- menandakan bahwa Jerman sudah memiliki rencana besarnya sendiri terhadap Uni Soviet. 

          Sebelum Hitler melancarkan invasi militer besar-besaran atas Uni Soviet, sebenarnya para petinggi militer Red Army (sebutan bagi Tentara Soviet saat itu), serta Stalin sendiri sebenarnya sudah mengetahui mengenai adanya rencana invasi tersebut. Namun Stalin sendiri masih berada di zona nyamannya dan bersikeras mengatakan bahwa jangan terlalu mudah percaya rumor yang berkembang, dengan sesumbar mengatakan bahwa Nazi akan butuh 4 tahun lagi sebagai persiapan untuk benar-benar mempersiapkan dan melancarkan Invasi tersebut. Apalagi Jerman dan Soviet sendiri telah menyepakati suatu perjanjian non-agresi dibelakang layar di tahun 1939 (Molotov-Ribbentrop Pact)- yang intinya adalah suatu kesepakatan bagi Jerman dan Soviet untuk menghargai dan membatasi manuver politik dan militer masing-masing agar tidak ada salah paham perihal wilayah jajahan tertentu. Stalin sangat berharap adanya pakta non-agresi itu akan menunda invasi militer Jerman setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun. Saat itu, Stalin sendiri sebenarnya masih sibuk dengan berbagai retorika dan manuver politiknya didalam pemerintahan. Stalin nampaknya sedang melakukan “bersih-bersih” dengan darah di tangannya sendiri. Suatu periode yang dikenal dengan istilah Great Purge (Pembersihan/Pemusnahan Besar).




Adolf Hitler- ditengah- sedang menganalisa peta wilayah Rusia bersama Jenderal Lapangan Marshal Von Brauchitsch, bersama Jenderal lainnya, pada 7 Agustus 1941.

 


    Ketika Nazi melakukan invasi atas Soviet pada 22 Juni 1941, pemusnahan bermotif politik itu masih terjadi. Stalin membantai para jenderal dan petinggi militer Soviet yang tidak loyal kepadanya. Total ada sekitar 30.000 tentara Red Army dibantai oleh Stalin; itu sudah termasuk Jenderal-Jenderal dan komandan korps-nya sendiri. Setelah pembantaian terjadi, Stalin mengisi pos-pos yang kosong di jajaran struktural tertinggi militer Soviet dengan jenderal-jenderal yang sayangnya tidak berpengalaman perihal taktik peperangan atau tidak pernah terjun langsung ke medan pertempuran. Ironisnya, Stalin mengabaikannya dan justru membentuk Komite Politik didalam jajaran militer yang bertujuan untuk memonitor loyalitas politik para jenderal didalam kemiliteran. Stalin ingin memastikan bahwa seluruh elemen yang ada dalam jajaran Red Army loyal terhadapnya, sekaligus mengawasi jika masih ada “tikus-tikus” lainnya yang harus dibantai. Karena kesibukan politiknya itulah, nantinya harus benar-benar dibayar mahal oleh Stalin di awal-awal pertempurannya melawan tentara Nazi yang membuat Red Army sangat kewalahan dan mengalami kekalahan di banyak front pertempuran.

Di mata Hitler, reputasi global Stalin yang telah dicap buruk oleh dunia sebagai pemimpin diktator yang brutal meneguhkan kembali ambisi besar Nazi atas rencana invasi mereka. Hitler paham bahwa setelah pembantaian yang terjadi di internal militer Soviet, kemampuan taktis militer Soviet jelas akan berkurang di medan perang nantinya. Apalagi adanya perombakan besar-besaran dan pembentukan Komite Politik didalamnya. Nazi bahkan meluncurkan banyak propaganda politik yang memperingatkan kembali kebrutalan pemimpin Soviet Stalin dan rencana mereka atas invasi terhadap wilayah Jerman. Untuk itulah, Nazi menegaskan kembali bahwa invasi Nazi atas Soviet menjadi satu-satunya solusi yang dapat menghentikan kebrutalan sang diktator tersebut, sekaligus sejalan dengan agenda besar Jermanisasi Nazi di Eropa serta ambisi pribadi Hitler dalam menguasai seluruh wilayah Soviet. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum rencana invasi tersebut dijalankan. Nampaknya tidak ada satu orangpun didunia yang dapat menghentikan ambisi besar Hitler tersebut.

Jerman mempersiapkan satu regimen independen, satu brigade motor terpisah serta 153 divisi untuk Operasi Barbarossa- didalamnya termasuk 104 Divisi infanteri, 19 Divisi panser, 15 Divisi infanteri motor yang dibagi ke dalam 3 grup Army, dan 9 Divisi independen terpisah untuk menguasai wilayah-wilayah yang telah diduduki, 4 Divisi tambahan di Finlandia, dan 2 Divisi cadangan dibawah naungan OKH (Komando Tertinggi Nazi). Di sisi lain, Uni Soviet merespon rencana tersebut dengan cara yang berbeda. Sebelum invasi, Banyak agen intelijen asing yang memberitahukan rencana Hitler tersebut kepada Stalin. Intelijen Inggris menginformasikan Stalin perihal rencana Jerman untuk menginvasi Soviet hanya seminggu setelah Hitler menyetujui rencana Operasi Barbarossa. Namun ketidakpercayaan Stalin kepada Inggris membuatnya masih saja meragukan laporan intelijen Inggris tersebut dengan mengatakan bahwa informasi intelijen tersebut dibuat oleh Inggris untuk mengelabuhi Stalin agar Uni Soviet nantinya berpihak kepada Inggris. Di bulan-bulan awal tahun 1941, agen intelijen Stalin serta intelijen Amerika Serikat juga melaporkan informasi yang sama perihal rencana invasi Nazi ke Soviet. Mata-mata Soviet Richard Sorge juga memberikan Stalin informasi terkait tanggal pasti invasi Barbarossa. Stalin pun kemudian mengakui adanya kemungkinan invasi tersebut, namun ia memilih saat itu untuk tidak memprovokasi Hitler lebih lanjut untuk menghindari kemungkinan terburuk terwujudnya invasi tersebut.

          Di awal-awal pecahnya perang, Soviet masih belum memahami skala perang sangat masif yang sedang dilakukan Jerman. Serangan militer Nazi melalui darat dan udara menghancurkan banyak fasilitas militer Soviet dalam waktu beberapa jam saja. Hal itu membuat efektivitas komunikasi dan rantai komando dari platon infanteri serta jajaran Komando Tertinggi Soviet di Moskow lumpuh. Moskow tidak hanya buta terhadap skala masif invasi Nazi tapi respon Stalin terhadap invasi awal itu sangat mengejutkan. Kendati pasukan Nazi sudah menerobos masuk perbatasan dan bergerak cepat menduduki wilayah-wilayah Soviet, Stalin masih saja berpikir bahwa mobilisasi Nazi tersebut dilakukan tanpa izin dan komando Hitler. Unit-unit pesawat Luftwaffe menyapu bersih konsentrasi Pasukan darat Soviet, unit-unit Luftwaffe lainnya menghancurkan markas militer dan komando Soviet. Meski demikian, instruksi Stalin terhadap pasukan unit Artileri yang berjaga di perbatasan membuat banyak pasukan geleng-geleng kepala. Stalin menyuruh unit-unit Artileri di perbatasan untuk tidak menembak karena takut akan membuat Hitler lebih marah lagi. Setelah dalam sekejap saja banyak wilayah Soviet diduduki Nazi, barulah Soviet sadar betapa masifnya skala serangan militer Nazi ini. Luftwaffe Nazi saat itu telah menghancurkan 1.489 pesawat-pesawat Soviet yang ada di darat, serta menghancurkan 3.000 lainnya dalam kurun waktu 3 hari saja.



Seorang prajuri Jerman berjalan ke arah jasad pasukan Soviet saat awal-awal Operasi Barbarossa dilancarkan di tahun 1941. Terlihat juga Light Tank BT-7 yang rusak dan terbakar. 



 Terlihat seorang prajurit Nazi sedang menaiki kendaraan lapis baja ringan Sd. Kfz-250 half-track. Sedangkan dibelakang terlihat beberapa tank-tank Jerman bersiap untuk melanjutkan serangan ke arah barat.

 


        Sebenarnya pada saat invasi terjadi, kekuatan militer Soviet tidak begitu buruk. Memang ada perombakan besar-besaran di jajaran struktur internal militer Soviet, banyak kendaraan lapis baja dan Tank yang rusak dan terbengkalai, minimnya kemampuan komando para perwira Soviet, banyak tentara-tentara baru yang masih awam dan minim pengalaman terjun ke medan perang,  masalah hambatan transportasi Alutsista dan mobilisasi pasukan, korupsi di jajaran pemerintahan, dan lain-lain. Namun Sebenarnya Uni Soviet sudah memiliki tentara utama yang berjumlah sekitar 5 juta personel yang telah disiapkan. Dan tiap bulan jumlahnya meningkat sehingga Soviet memiliki sekitar 14 juta pasukan cadangan. Red Army memiliki 33.000 Artileri medan, jumlah yang jauh melebihi total artileri yang dimiliki Nazi. Soviet juga memiliki 23.000 Tank, yang mana hanya 14.700 Tank saja yang tersedia dan siap untuk ke medan laga. Sekitar 11.000 Tank Soviet ditempatkan disepanjang lokasi-lokasi di Distrik-distrik Barat yang langsung menghadap ke arah Jerman. Hitler, setelah melancarkan invasi dan mengetahui total jumlah Tank yang dimiliki Soviet saat itu- berkata; “Andai saja saya tahu jumlah persis kekuatan Tank Soviet di tahun 1941, maka saya tidak akan berani menyerang Soviet.”

          Untuk hantaman terakhir Nazi ke Leningrad, dilakukan oleh 4th Panzer Group dari Army Group Center. Pada 8 Agustus, Tank-tank Nazi bergerak menerobos pertahanan Soviet. Di Akhir bulan Agustus, Grup Panzer berhasil bergerak sejauh 48km ke arah Leningrad. Nazi menyerang Leningrad pada Agustus 1941. Pada saat serangan terjadi, para penduduk lokal Leningrad saat itu tengah membangun pertahanan kota untuk menghalau serangan, sementara 160.000 penduduk lokal lainnya langsung bergabung dengan Red Army dan bertempur melawan Nazi. Setelah Divisi Motor 20th Nazi berhasil menguasai Shlisselburg dan memotong akses jalan ke Leningrad, Hitler melakukan arahan komando untuk segera menghancurkan Leningrad, membunuh semua orang tanpa menyisakan satupun tawanan perang. Namun diluar kendali Hitler, serangan terakhir 10km ke Leningrad itu melambat dan pasukan Nazi juga mengalami banyak korban jiwa. Hitler yang tidak sabar memerintahkan pasukan untuk tidak menyerang Leningrad secara langsung karena resiko korban jiwa tambahan tetapi menyuruh pasukannya untuk membuat penduduk kotanya menyerah. Karena instruksi dadakan itu, Grup Panzer Jerman tidak melanjutkan invasinya tetapi dalam posisi tak bergerak sembari memikirkan solusi untuk membuat mereka menyerah, namun di sisi lain grup Panzer dan pasukan Nazi mendapatkan gempuran artileri yang intens dari pasukan Soviet di Leningrad. Secara spesifik, dalam serangan ofensif Nazi- Yelnya Offensive, Jerman mengalami kelahanan besar pertamanya sejak kali pertama invasi Barbarossa dilakukan. Kemenangan pertama Red Army atas Nazi ini secara signifikan meningkatkan moril para prajurit dilapangan. Serangan-serangan balik Soviet ini memaksa Hitler untuk lebih fokus kepada peperangan di front tengah. Jerman akhirnya bergerak dengan unit Panzer Army ke-3 dan ke-4 untuk segera menghancurkan pertahanan kota Leningrad dan segera bergerak ke Moskow.

          Singkatnya, setelah Nazi berhasil menguasai Leningrad dan fokus ke Moskow. Pertempuran menjadi sangat brutal. Pasukan Nazi dari berbagai unit akhirnya mengepung Pasukan Soviet di Moskow. Pertahanan Moskow pun runtuh. Pasukan Soviet di Moskow hanya berjumlah 90.000 prajurit dan 150 tank saja untuk mempertahankan kota dari segala arah. Tampaknya tinggal menunggu waktu saja sebelum Nazi benar-benar menduduki Moskow dan memenangkan pertempuran. Pada 13 Oktober ketika Panzer Group ke-3 Nazi berhasil bergerak sejauh 140km ke arah ibukota Moskow. Moskow dengan segera memberlakukan Darurat Militer. Ketika serangan terus berlanjut, cuaca pun menjadi sangat buruk dan berdampak pada penundaan manuver Nazi. Salju lebat pun turun dibarengi dengan hujan. Hal itu pun membuat pasukan Nazi dan tank-tank nya kesulitan bermanuver dan bergerak dengan lambat karena menghadapi hambatan tanah yang berair, berlumpur, dan dipenuhi salju yang tebal. Saat itu Nazi segera menunda Operasi terakhir untuk menduduki Moskow karena cuaca buruk tersebut. Saat mobilisasi Nazi berhenti sementara, pasukan Soviet dengan segera memanfaatkan waktu mereka untuk mengumpulkan kekuatan dan menyiapkan serangan untuk menyerang balik. Dalam kurun waktu sebulan sejak operasi Nazi ditunda, Soviet sekarang memiliki 8 unit pasukan darat yang berisi 30 Divisi pasukan Siberia. Pasukan ini dikirimkan untuk fokus ke Moskow, unit intelijen Soviet memastikan Stalin bahwa pasukan ini sengaja digerakkan ke Moskow setelah intelijen memastikan bahwa tidak akan ada ancaman lagi dari Jepang di front Timur Jauh. Pada November 1941, ada lebih dari 1.000 tank dan 1.000 pesawat yang datang bersama Pasukan Siberia untuk bersama-sama mempertahankan kota Moskow.

          Walaupun cuaca masih buruk dan Nazi saat itu sangat bersikeras untuk menduduki Moskow. Mobilisasi pasukan dan tank pun dilakukan di tengah cuaca buruk. Dalam kurun waktu 2 minggu pertempuran di tengah kondisi cuaca buruk, pasukan Nazi dari Panzer Group terlihat kewalahan akibat serangan balik Soviet. Terlebih mereka mengalami banyak hambatan cuaca dan kekurangan logistik amunisi dan bahan bakar untuk tank-tank mereka. Ketika Panzer Group hanya sejengkal lagi berhasil menguasai Moskow. Situasi pun berbalik. Pada 2 Desember 1941, blizzard (badai salju lebat) pun terjadi. Meskipun unit recon Nazi berhasil menguasai kota Khimki, hanya berjarak 8km dari Mokow dan mereka juga berhasil menguasai Jembatan Moskow-Volga, pasukan Wehrmarcht tetap saja tidak mampu melawan cuaca badai salju yang cukup ganas. Pasukan Wehrmarcht sejak awal tidak siap menghadapi cuaca buruk ini karena pakaian mereka tidak disiapkan untuk menghadapi ancaman cuaca dingin dan bersalju. Banyak tank-tank dan kendaraan lapis baja mereka pun terkubur salju. Banyak pasukan Wehrmarcht pun mati sia-sia ditengah ganasnya badai salju yang menerjang. Winter Warfare (Pertempuran di medan salju) terbukti menjadi momok menakutkan bagi Pasukan Nazi yang sebelumnya sudah terlalu percaya diri bakal merebut Moskow dalam sekejap.  Badai salju yang lebat juga membuat unit-unit Luftwaffe Nazi tidak dapat mengudara membuat Nazi harus menunda operasi serangan udara atas Moskow. Di saat yang sama, unit-unit Soviet baru berdatangan ke Moskow dalam membantu pertahanan Moskow dan jumlahnya diperkirakan berjumlah 500.000 pasukan. Pada 5 Desember, pasukan Soviet melancarkan serangan balik atas posisi-posisi pasukan Nazi yang saat itu sangat kewalahan menghadapi hambatan cuaca buruk. Pasukan Soviet saat itu menyiasati cuaca buruk itu dengan mengenakan winter clothing (pakaian hangat yang tahan cuaca dingin). Setelah Soviet menyerang balik Nazi bertubi-tubi, serangan balik dari gabungan pasukan darat dan Artileri itu berhasil memukul mundur Nazi sejauh 250km ke belakang. Wehrmacht tampaknya harus mengakui kekalahan mereka dalam peperangan Moskow. Mereka pun kehilangan sekitar 830.000 prajurit di medan perang. 



Pada akhir Oktober 1941, kombinasi dari hujan lebat, salju, kabut, dan lumpur membuat mobilisasi unit-unit Jerman tidak dapat dilakukan. Tampak jelas bahwa unit-unit militer Jerman saat itu kalah superior dari Alutsista militer Soviet dalam hal menghadapi tantangan cuaca dan medan yang buruk. Terlihat beberapa tentara memaksakan kendaraannya untuk berjalan ditengah salju yang lebat. 

            









Di awal tahun 1942, beberapa Pasukan Soviet bersiap untuk melakukan serangan balik. Pasukan Nazi mengalami banyak hambatan dalam peperangan diantaranya adalah cuaca buruk serta masalah pasokan logistik yang menghambat mobilisasi kendaraan-kendaraan lapis bajanya. Disaat Jerman sedang bersiap memproduksi pakaian untuk Winter Warfare, pasukan Soviet sudah siap dan merangsek maju ke lokasi-lokasi wilayah yang diduduki Nazi dan langsung memukul mundur mereka.



    Nazi dipaksa mengakui kekalahan di Moskow. Dengan kekalahan itu, mereka terpaksa harus merancang ulang taktik perang mereka. Serangan balik Soviet pada Desember 1941 merupakan kekalahan yang memakan korban jiwa besar dipihak Jerman. Tidak hanya korban jiwa, tetapi serangan balik itu membuat Jerman mundur ratusan km dari posisi Moskow. Wehrmacht, ketika Operasi Barbarossa dilancarkan, memiliki kekuatan 209 Divisi, dimana hanya 163 Divisi saja yang siap untuk bertempur. Namun pada 31 Maret 1942, kurang dari setahun, mereka hanya memiliki kekuatan 58 Divisi saja yang bisa dipakai bertempur, sisanya hancur luluh lantah oleh serangan balik Soviet. Stalin yang terpukau dengan keberhasilan ini tidak puas begitu saja. Ia lantas menyuruh pasukannya untuk tidak hanya mempertahankan Moskow saja, tapi juga memukul mundur Nazi di front-front lain di front pertempuran di Selatan dan Utara. Hitler yang mengetahui kegagalan ini menjadi sangat marah dan memecat perwira jerman Walther Von Brauchitsch. Walaupun Soviet juga mengalami korban jiwa yang besar dan kehilangan banyak wilayahnya, namun moril prajurit mereka kini sedang tinggi-tingginya dan mereka berhasil memukul mundur Nazi di banyak front pertempuran. Kendati Hitler kembali memerintahkan pasukannya untuk bertahan dan menyerang balik, Hitler pun sadar bahwa mobilisasi Nazi terkendala oleh hambatan cuaca dan kekurangan logistik. Meskipun begitu Hitler tetap bersikeras ingin mengalahkan Soviet. Pada bulan Februari 1943, Jerman kembali mengalami kekalahan dalam Pertempuran Stalingrad.

       Di tahun 1943, industri Soviet membaik dan industri-industrinya mampu memproduksi Alutsista dalam jumlah besar dan dengan segera tank-tank baru itupun dikirim ke medan pertempuran. Serangan Jerman terakhir terjadi pada periode Juli-Agustus tahun 1943. Sekitar 1 juta pasukan Nazi bertempur melawan 2.5 juta pasukan Soviet. Soviet melancarkan Operasi Kutuzov, yakni operasi serangan balik yang melibatkan 6 juta pasukan yang membuat Jerman kelawahan dan mundur. Setelah Jerman mengalami banyak kekalahan serupa di tahun 1943 di banyak front, pada akhirnya Jerman memilih menyerah karena moril prajuritnya yang sangat rendah dan kemampuan Alutsistanya yang tidak mampu lagi dipakai akibat tidak tersedianya pasokan logistik. Pada Januari 1945 Soviet akhirnya bergerak ke Berlin dengan ambisi ingin menaklukkan ibukota Jerman tersebut dan mendudukinya. Perang berakhir dengan kalahnya Nazi pada Mei 1945 setelah Berlin akhirnya jatuh ke tangan Pasukan Red Army.

          Operasi Barbarossa merupakan invasi militer terbesar dalam sejarah- melibatkan banyak pasukan, tank, senjata, artileri, dan pesawat. Invasi itu membuka banyak pertempuran di front Timur. Membunuh lebih dari 26 juta penduduk Soviet, termasuk 8 juta korban jiwa dari pasukan Red Army. Pertempuran di Front Timur antara Nazi dan Red Army menghancurkan ekonomi keduabelah pihak. Nazi berhasil meluluhlantahkan 1.710 kota-kota Soviet dan 70.000 desa-desanya dihancurkan. Operasi Barbarossa dan kekalahan Jerman akhirnya mengubah peta politik di Eropa, akhirnya membagi dunia kedalam dua blok- Blok Timur dan Barat.


Saturday, 8 October 2016

Konflik India-Pakistan

          


  Gambaran peta konflik India-Pakistan di wilayah Kashmir serta presentasi kekuatan militer di perbatasan. Kashmir ditunjukkan dengan wilayah berwarna merah (dimana tensi sering memanas), serta wilayah berwarna merah muda dimana bagian utara ditempati pasukan Pakistan, serta bagian timur Kashmir yang diklaim oleh Cina. Konflik perbatasan dua negara India-Pakistan dan aksi inflitrasi sering dilakukan, terutama oleh militer pakistan serta pasukan sipil pemberontak anti-india yang disebut juga pasukan paramiliter sipil.




            India dan Pakistan adalah dua negara yang dari dulu hingga sekarang selalu terlibat konflik bersenjata, terutama di perbatasan. Sejak kesepakatan partisi British India tahun 1947 serta pembentukan negara India dan Pakistan, kedua negara di Asia Selatan ini hingga sekarang sudah terlibat dalam empat kali perang, termasuk satu perang tak resmi (undeclared war), berbagai aksi baku tembak yang terjadi random di perbatasan, serta penyusupan dan penyerangan markas-markas militer, baik yang dilakukan India, maupun Pakistan.



Juli 1997, Srinagar, Kashmir. Dalam foto terlihat para anggota pasukan khusus India "Victor Force" menunjukkan tujuh jasad para militan Pakistan yang berhasil mereka tumbangkan saat terjadi baku tembak di pegunungan Pir Panjal yang memisahkan wilayah India dan Pakistan. Tiga militan yang tewas berasal dari Pakistan, 3 lainnya Afghanistan, serta satu orang diketahui adalah penduduk lokal Kashmir. Aksi infiltrasi sering dilakukan Pakistan di wilayah Kashmir sebagai upaya melawan dominasi India.




Dalam foto terlihat tentara India menembakkan artileri medan kaliber 155mm untuk menghalau pergerakan besar-besaran dari para infiltran Pakistan.  Insiden ini adalah bagian dari Perang Kargil tahun 1999 dimana terjadi di garis LOC (Line of Control) India. Saat itu banyak dari tentara Pakistan melakukan penyusupan terhadap posisi-posisi militer India di Kashmir, dengan dibantu para militan lokal Kashmir. Walaupun Pakistan menyalahkan insiden kepada militan Kashmir, namun dokumen-dokumen para penyusup di lapangan membuktikan bahwa Pakistan sangat terlibat dalam infiltrasi serta merupakan dalang dibalik insiden tersebut.




Jika melihat ke belakang, isu Kashmir adalah salah satu penyebab utama mengapa kedua negara ini sering tak akur, sampai saat ini, secara langsung atau tidak langsung, isu Kashmir ini menjadi penyebab terjadinya banyak aksi konflik antara kedua negara. Kashmir merupakan wilayah kontroversial bagi kedua negara sejak 1947. Cina pada waktu itu pun tidak memiliki pengaruh kuat atas wilayah tersebut. Di wilayah Kashmir, India dan Pakistan tercatat pernah berkonflik tiga kali yakni pada Perang India-Pakistani 1947 dan 1965, termasuk Perang Kargil. India sendiri pada tahun 2010 lalu, mengklaim bahwa mereka memiliki 43% hak wilayah atas Jammu-Kashmir. Pakistan juga mengklaim bahwa mereka berhak atas 37% wilayah Kashmir, yang mereka sebut Azad Kashmir dan Gilgit-Baltistan.
            Menarik mencermati konflik India-Pakistan. Sebelum pecah konflik 1965, Pakistan terlebih dulu berbuat ulah dengan melancarkan Operasi Gibraltar, yakni suatu operasi militer senyap Pakistan yang dilancarkan untuk menyusup ke wilayah Jammu-Kashmir. Operasi bertujuan untuk membuat kekacauan dan melawan dominasi India terhadap wilayah tersebut. Pakistan berharap operasi berjalan lancar, tetapi operasi militer itu mengalami kegagalan. Saat itu, Agustus 1965, sekitar 26.000 hingga 33.000 Pasukan tentara Pakistan Azad-Kashmir, menyamar sebagai warga lokal Kashmir, kemudian menyusup ke Jammu-Kashmir dengan tujuan membuat pemberontakan terhadap India. Hal itu dilakukan seolah-olah agar tampak seperti warga lokal Kashmir lah yang memang menentang dominasi India, padahal ada aktor lain didalamnya. Namun akibat dari koordinasi yang buruk, belum sempat melancarkan aksi propagandanya, para penyusup yang berasal dari Pakistan itu pun dengan cepat diketahui. 
            Akibatnya, India marah bukan main dan dengan segera melancarkan perang skala-penuh di wilayah Pakistan Barat. Perang 17 hari itu menyebabkan ratusan nyawa melayang di kedua pihak dan menjadi perang terbesar antara India-Pakistan yang menggunakan kendaraan armor serta tank-tank besar yang terjadi sejak Perang Dunia II. Konflik kedua negara berhenti setelah keluarnya mandat PBB yang disusul oleh gencatan senjata yang diusulkan baik oleh Uni Soviet maupun Amerika Serikat. Perang singkat itu menjadi perang terbesar, setelah perang modern terbaru India-Pakistan di tahun 2001-2002.
Bagaimanapun juga, perang sengit di perbatasan India-Pakistan tahun 1965 membuat India mengetahui bahwa kekuatan militer Pakistan sangat rapuh. Standar kecakapan militer Pakistan jauh dari standar militer, petinggi-petinggi militer Pakistan kurang berpengalaman dan kurang terlatih, rantai komando kurang baik dan pembinaan prajurit kurang profesional, serta militer Pakistan kurang mumpuni dalam hal intelijen serta lemahnya prosedur pengumpulan informasi lawan. Itulah mengapa karena kurang koordinasi dan tidak paham taktik penyusupan yang benar, maka berakibat fatal dengan Pakistan yang mengalami kegagalan pertama dalam Operasi Gibraltar.
            Setelah perang berakhir kedua negara ngotot mengklaim kemenangan. Tapi dari operasi penyusupan Pakistan ke Kashmir hingga pertempuran awal di perbatasan Barat Pakistan, dengan mudah kita dapat menyimpulkan bahwa India lah pemenangnya yang disebabkan dua hal; operasi senyap yang gagal, yang mengindikasikan bahwa Pakistan kalah sebelum berperang. Yang kedua, kalah dalam perang 17 hari dimana India lebih unggul diatas Pakistan. Dunia kemudian dapat melihat bahwa Pakistan mengalami kekalahan telak baik kekalahan politik maupun kekalahan taktik militer. Dalam ranah internasional, Pakistan juga gagal atau tidak memiliki pengaruh kuat di berbagai lobi internasional, maupun tidak juga mendapat dukungan atau berusaha mencari dukungan dari banyak negara.





Ritual berdoa yang dilakukan tentara Pakistan yang mayoritas adalah muslim, detik-detik sebelum mereka melakukan infiltrasi terhadap wilayah Kashmir Selatan yang diduduki India. Biasanya mereka melakukan baku tembak terhadap tentara India, atau menghancurkan pos-pos dan markas militer India. 





Militer India juga berusaha meningkatkan kemampuan tempur prajuritnya dalam melawan infiltrasi tentara atau militan Pakistan untuk menjaga dominasi mereka terhadap wilayah Kashmir Selatan. Foto ini menunjukkan tentara AD India usai sesi latihan di base kamp Siachen pada 19 Juli 2011. Dimana sebagian besar pegunungan dan medan disana dingin dan bersalju. India meningkatkan kemampuan survival combat militer mereka di hawa ekstrem bersalju. Latihan diajarkan mulai dari mendaki medan terjal, memanjat tebing tinggi glacier es, latihan menembak, dan bertahan hidup dalam cuaca ekstrem.




            Jika membandingkan kekuatan India-Pakistan secara head-to-head, maka, menurut situs Global Military Power, India jelas unggul dengan menempati peringkat 4 militer terbaik di dunia, sedangkan Pakistan di peringkat 13 (data tahun 2016). Dalam segi kuantitas, India menang segalanya, memiliki personel militer aktif sebanyak 1.325.000 dibandingkan Pakistan yang hanya 620.000. India juga menang dalam kuantitas pesawat fighter (679), tank (6.464), Artileri medan jenis Towed Artillery (7.414), Artileri MLRS (292), kapal selam (14), dan Kapal Induk Aircraft Carrier (2). Sedangkan Pakistan memiliki pesawat fighter sebanyak 304 unit, tank 2.924 unit, Towed artileri 3.278, MLRS 134 unit, kapal selam 5, serta tidak memiliki Kapal Induk Aircraft Carrier.
Meskipun India begitu di atas angin, Pakistan sangat serius menggunakan senjata andalan mereka, yakni senjata nuklir apabila memang India bersikeras masuk ke wilayah Pakistan dan menguasai wilayah mereka. Pakistan menganggap bahwa India boleh saja kuat di darat, laut, dan udara, tetapi jika India sudah masuk dan menguasai lebih dari 50% wilayah Pakistan, maka Pakistan tidak akan segan untuk meluncurkan perangkat nuklir mereka dan meluluhlantahkan 1 milyar lebih penduduk India yang tentu akan memakan korban jiwa puluhan kali lipat dibandingkan korban jiwa di pihak Pakistan. Ibaratnya korban jiwa akibat nuklir Pakistan itu tentu akan meruntuhkan moral India sekaligus membuat India harus segera angkat kaki dari Pakistan. Apalagi di kota-kota India penduduknya terkonsentrasi, padat, dan merupakan kawasan kumuh perkotaan, yang tentu akan membawa dampak kehancuran yang signifikan. Itu adalah skenario terburuk yang telah dipikirkan matang-matang oleh Pakistan. jika India yang menang dalam taktik dan kuantitas, memaksa masuk dan menginvasi Pakistan, agar tidak kehilangan muka akibat, Pakistan harus memastikan bahwa India harus membayar mahal invasi tersebut. Caranya? Menghancurkan India melalui senjata nuklir. Negara Pakistan boleh saja kalah dalam invasi besar India, tetapi dalam pandangan Pakistan, India juga harus kalah, tetapi melalui senjata nuklir. Oleh sebab itu India kini menghadapi dilema dan lebih beroperasi melalui taktik infiltrasi dan sabotase senyap ke dalam wilayah Pakistan, dibandingkan memaksa memakai perang terbuka secara langsung yang tidak menutup kemungkinan akan pecahnya perang nuklir. Perang Kargil tahun 1999 adalah salah satu contoh perang India-Pakistan yang berdarah-darah yang sangat dekat ke arah perang nuklir.




Tidak semua warga lokal Kashmir  mendukung India. Banyak dari mereka menolak pendudukan dan keberadaan  polisi/tentara India di Kashmir. Mereka yang menentang India, tidak terlibat dalam pemilu, atau mereka yang bersekutu dengan Pakistan, biasanya mendapatkan "Street Justice" (keadian jalanan/aksi main hakim) yang dilakukan oleh polisi India. Bahkan jika warga lokal Kashmir teridentifikasi sebagai mata-mata Pakistan, maka akan menjalani sanksi yang cukup berat.




Jika perang terjadi lagi di masa depan, bisa jadi perang yang terbatas (Limited War) atau operasi senyap (Covert Ops). Karena perang banyak menguras tenaga, anggaran, serta bahan bakar, dan amunisi. Jika perang berlangsung lama, India jelas lebih diunggulkan terutama jika perang terjadi di lautan karena India sewaktu-waktu dapat memblokade pelabuhan-pelabuhan laut Pakistan. Pakistan juga tidak memiliki pasokan energi yang cukup untuk meladeni perang berlarut dengan India dimana Pakistan mengimpor 83% kebutuhan bahan bakar konsumsi minyak. Perang sekecil apapun bagi Pakistan, sangat berdampak pada kehancuran ekonomi negara itu. Kemenangan sumber daya energi dan sumber daya manusia jelas membuat India menang. Kemenangan ketahanan ekonomi dan energi jelas merupakan suatu jenis cara kemenangan yang ampuh untuk mengakhiri perang tanpa kedua pihak menggunakan senjata nuklir.
India juga memiliki dua Kapal Induk. Diresmikan pada November 2013, INS Vikramaditya merupakan kapal induk modern terbaru milik AL India. Jika sewaktu-waktu terjadi perang lagi, Vikramaditya dapat memimpin suatu operasi maritim “pembersihan” terhadap kapal-kapal Angkatan Laut Pakistan. Bagi Pakistan, mimpi buruknya adalah jika Kapal Induk Vikramaditya kemudian diparkir di pelabuhan Karachi, yaitu pelabuhan besar Pakistan, yang membuat Pakistan tidak berdaya dalam pasokan atau transportasi lautnya.
Vikramaditya sejatinya merupakan Cruiser pesawat anti-kapal selam milik AL Soviet. Setelah Uni Soviet tidak mampu mengoperasikannya di tahun 1996 pasca Perang Dingin, pada tahun 2004 India kemudian membeli kapal tersebut. Setelah dibeli, para teknisi kapal Rusia melakukan upgrade terhadap kapal lalu membuatnya menjadi kapal induk Aircraft Carrier, lengkap dengan dek landasan bagi pesawat tempur. Upgrade itu sendiri termasuk menghapus semua elemen cruiser, termasuk dua senjata-dek caliber 100mm, 192 SA-N-9 misil permukaan-ke-udara, dan 12 unit SS-N-12 misil anti-kapal permukaan. Vikramaditya memiliki panjang 282 meter dan berbobot 44.000 ton. Vikramaditya juga dilengkapi kemampuan dominasi anti-perang udara, anti-permukaan, anti-kapal, dan anti-kapal selam. Kapal Induk dapat mengangkut 24 unit Mig-29K atau bisa juga diisi pesawat multi-role Tejas, serta dapat mengangkut 10 heli anti-kapal selam. India juga telah memesan 45 MiG-29Ks, dengan Skuadron pertama 303 Black Panthers Squadron, yang diresmikan pada Mei 2013 silam. Lain lagi dengan saudaranya, INS Chakra. Jika INS Vikramaditya dianggap sebagai simbol keunggulan taktik blokade laut AL India, Chakra merupakan “petarung laut sejati” India yang merupakan bagian dari 14 unit kapal selam serang milik India. Jika INS Vikramaditya adalah Kapal Induk, INS Chakra merupakan kapal selam besar bertenaga nuklir Akula kelas II. Dari 14 kapal selam yang dimiliki India, INS Chakra merupakan “Mothership of All Submarines”. INS Chakra dapat melakukan beragam operasi maritim. Chakra jelas merupakan mimpi buruk bagi AL Pakistan karena ia dapat juga melakukan aktivitas pengintaian atau operasi senyap, serta dapat digunakan untuk menempatkan ranjau laut di sekitar perairan Pakistan yang merupakan ancaman bagi kapal-kapal yang lalu-lalang di sekitar pelabuhan.
Terkait masalah operasi inflitrasi dan sabotase, Pakistan pernah melalukannya pada 7 September 1965 setelah insiden tertangkap basahnya sekitar 30.000 penyusup asal Pakistan di Kashmir. Saat itu, Pakistan langsung menerjunkan SSG (Special Services Group), sebuah pasukan elite Pakistan, diterjunkan sekaligus melalui parasut ke dalam wilayah musuh. Sebanyak 135 pasukan komando SSG diterunkan di tiga lokasi markas militer AU India yakni Halwara, Pathankot, dan Adampur. Meski Pakistan mengaku bahwa mereka menerjunkan pasukan elite terhebat mereka, tetap saja, penerjunan tanpa taktik lanjutan itu menjadi bencana bagi Pakistan. Dari sebanyak 135 pasukan yang disusupkan di wilayah musuh, hanya 22 prajurit komando yang berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Pakistan, 93 lainnya tertangkap musuh, termasuk komandan operasi Mayor Khalid Butt. Sedangkan 20 prajurit komando SSG lainnya tewas dalam baku tembak dengan tentara, maupun polisi India. Lagi-lagi, Pakistan tidak pernah mau belajar dari kesalahan Operasi Gibraltar dimana koordinasi dan taktik di lapangan tidak pernah berjalan sempurna. Faktor kegagalan misi pasukan komando Pakistan yakni kegagalan mereka dalam membaca dan menganalisa peta dengan baik, briefing yang sangat buruk, serta persiapan yang asal jadi. Padahal pasukan elite yang berkualifikasi komando sejatinya sudah dapat melahap habis musuh dengan taktik dan koordinasi yang baik, senyap dan mematikan, mampu membaca map dengan baik, dan dapat melakukan infiltrasi serta sabotase di dalam wilayah musuh. Entah apa yang ada di benak mereka, dimana Pakistan selalu mengalami kegagalan dalam setiap operasi militer mereka. Meski operasi penyusupan pasukan komando gagal total, Pakistan lagi-lagi mengklaim bahwa mereka lah yang menang. Sumber-sumber dari otoritas Pakistan mengatakan bahwa misi komando mereka telah menghancurkan beberapa rencana operasi militer India, dalam hal ini menghancurkan mobil-mobil militer India.



Pasukan SSG Pakistan adalah pasukan komando elite Pakistan berkekuatan 8 batalion (5.600 personel).  Dibentuk pada 23 Maret 1956 untuk mengisi kebutuhan pasukan khusus AD Pakistan.  Setiap batalion berkekuatan 700 personel yang dipecah menjadi 4 bagian. Setiap bagian dipecah lagi ke dalam platon-platon serta tim kecil lain yang berkekuatan 10 personel. Setiap batalion berada dibawah komando Letnan Kolonel.





Walaupun fakta di lapangan menunjukkan bahwa komando SSG Pakistan berhasil mengalihkan perhatian pasukan India dari Divisi Infanteri ke-14, saat tentara India Divisi ke-14 berhasil teralihkan, Pakistan melalui udara membombardir jalanan yang menghancurkan mobil-mobil transportasi, serta menghancurkan banyak mobil-mobil tentara India. Saat penyusupan pasukan komando Pakistan berlangsung, India mengumumkan kepada publik dengan segera bahwa pemerintah India akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang menangkap mata-mata Pakistan, maupun menangkap pasukan komando SSG. Sedangkan pada saat bersamaan, rumor beredar di Pakistan bahwa India juga sedang melakukan operasi senyap mereka dengan menerjunkan pasukan khusus mereka ke dalam wilayah Pakistan. Walaupun rumor ini kemudian tidak terbukti kebenarannya.
Pada Mei 2002, Kamp militer di Kaluchack, lokasi dekat Jammu, juga diserang. Penyusup bersenjata menyerang kamp dan membunuh 31 orang, 18 diantaranya merupakan sanak keluarga dari anggota militer India. Gedung Parlemen India Kaluchak juga diserang kelompok bersenjata. Setelah serangan, India memperkuat keamanan perbatasan terhadap segala aksi penyusupan dan penyerangan Pakistan. India menempatkan banyak tentara mereka di sepanjang perbatasan dan garis LOC. Jumlah tentara India yang ditempatkan di perbatasan India-Pakistan meningkat drastis setelah insiden penyerangan pada Desember 2001 di Gedung Parlemen, serta insiden tahun 2002 saat penyerangan Kaluchak.
Yang terbaru adalah aksi penyusupan di J-K (Jammu-Kashmir) pada 18 September 2016 kemarin dimana 18 tentara India tewas dan sebanyak 20 tentara lainnya terluka dalam penyerangan di Kamp militer India di Uri. Kamp militer tersebut merupakan markas sementara tentara India dan lokasi kamp berdekatan dengan garis batas “aman” Line of Control (LOC) antara India dan Pakistan. Line of Control itu dibuat dalam rangka mencegah adanya aksi penyusupan dan sabotase dari kedua belah pihak, serta untuk mencegah agresi militer lanjutan. Tidak ada kelompok dari pihak Pakistan yang mengklaim bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Namun militer India menduga bahwa serangan dilakukan oleh kelompok teroris Jaish-e-Mohammed Pakistan yang diketahui diketahui bahwa kelompok tersebut dibekingi oleh intelijen Pakistan ISI. Empat orang penyusup yang menyerang Kamp berhasil ditembak mati pasukan India. Empat orang itu juga membawa artikel dan persenjataan yang diketahui berasal dari Pakistan.















 Ilustrasi kartun  dari kartunis NEELABHTOONS yang menggambarkan  konflik India-Pakistan. Walaupun dalam foto ini tidak netral dan jelas terselip pesan  propaganda didalamnya.




Pakistan juga terkenal dengan banyaknya aksi serangan teror di sekolah-sekolah yang biasanya dilakukan teroris Taliban. Contohnya pada 16 Desember 2014, dimana 7 orang pelaku teror TTP (Tehrik-i-Taliban), kelompok teroris afiliasi Taliban, melakukan aksi teror di Army Public School, atau sekolah publik yang dikelola Angkatan Darat, di Kota Peshawar. Diantara para militan itu, ternyata kebanyakan berasal dari luar Pakistan, termasuk satu orang Chechnya, 3 orang Arab, serta 2 pelaku berasal dari Afghanistan. Mereka menggerebek sekolah dan membunuh 141 orang termasuk 132 anak sekolah yang berusia antara 8 hingga 18 tahun. Pasukan komando SSG kemudian berhasil melakukan operasi pembebasan yang berhasil membunuh semua teroris dan menyelamatkan 960 sandera.














Monday, 24 August 2015

PERANG KOREA - Invasi Korea Utara (Part 1)



            Pada 10 Maret 1950, badan intelijen AS yang baru, CIA (Central Intelligence Agency), menyampaikan prediksi bahwa Korea Utara akan menyerang Korea Selatan pada bulan Juni 1950. Jenderal Charles Willoughby, yang memiliki jejaring intelijen yang luas di semenanjung itu telah mengumpulkan 1.195 laporan antara bulan Juni 1949 dan Juni 1950, yang antara lain melaporkan bahwa para prajurit Cina Komunis berdarah Korea telah memasuki Korea Utara dalam jumlah besar setelah dikalahkannya Chiang Kai-shek serta pembentukan besar-besaran pasukan penggempur Merah yang jumlahnya melebihi pasukan Korea Selatan di dekat garis lintang 38 derajat. Kepala intelijen Jenderal MacArthur sependapat dengan laporan CIA, dan meramalkan bahwa perang akan pecah pada akhir musim semi atau awal musim panas tahun itu.

            Sayangnya, ujian besar pertama CIA- memperkirakan pecahnya perang di Semenanjung Korea- tidak berjalan dengan baik. Laporan-laporan tertulisnya yang sampai di meja Jenderal MacArthur, Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu di Jepang, serta Departemen Pertahanan maupun Departemen Luar Negeri, terserak dibawah timbunan kertas yang berisi berbagai informasi dan analisis yang saling bertentangan, membingungkan dan seringkali jelas-jelas tidak terpercaya. Itu masalah intelijen yang biasa, berkaitan dengan masalah membedakan “isyarat” dari “kegaduhan”. “kegaduhan” pada musim panas 1950, muncul dalam bentuk ancaman Komunis yang kelihatannya mengancam seluruh penjuru dunia: mengenai batas pendudukan di Eropa, di Trieste, dan di ladang-ladang minyak Timur Tengah, masalah gerilyawan Huk di Filipina, masalah perbatasan di Yunani dan Yugoslavia. Sekalipun Korea tercantum sebagai tempat dimana kemungkinan terjadi konfrontasi dengan pihak Komunis, tetapi isunya berada di bagian paling bawah dalam daftar panjang mengenai daerah yang kemungkinan menjadi medan pertempuran. Truman sendiri lalu mengeluhkan bahwa jawatan intelijen itu hanya mengidentifikasikan Korea sebagai salah satu dari beberapa tempat dimana perang kemungkinan akan pecah di tahun 1950, tidak memberikannya petunjuk seperti apakah dan kapan tepatnya peristiwa seperti itu akan terjadi.


MacArthur ditunjuk sebagai Panglima Tertinggi pasukan PBB ketika Perang Korea meletus. Meski demikian, MacArthur memiliki banyak ketidakcocokan terhadap sejumlah kebijakan resmi pemerintah Amerika sehingga pada April 1951, Presiden AS Truman menjatuhkan MacArthur dari jabatan tertinggi dan pada akhirnya skandal kejatuhannya menimbulkan banyak kontroversi baik dari media maupun dari publik Amerika.  




Penyerbuan yang tidak terelakkan di Korea Selatan itu sendiri merupakan hasil dari sebuah rencana jahat yang lebih besar. Sekalipun pada saat itu dinas intelijen Amerika tidak mengetahuinya, dalam kunjungannya ke Uni Soviet pada bulan Maret dan April 1949, Kim Il-Sung (pemimpin Korut saat itu) menyampaikan keprihatinannya karena usaha-usaha subversif untuk menyatukan Korea mengalami kemunduran akibat kebijakan tangan besi rezim Rhee terhadap anasir-anasir sayap Kiri di Korea Selatan. Dalam pertemuan dengan Stalin, Kim mendesak pelindungnya itu untuk mendukung suatu invasi Korea Utara ke Korea Selatan. Namun, Stalin tidak menyetujuinya karena tidak ingin mengambil tindakan yang dapat memprovokasi Amerika Serikat atau Korea Selatan untuk berperang.

            Sikap Stalin kemudian berubah pada September 1949 ketika kaum Komunis meraih kemenangan dalam Perang Saudara di Cina sehingga memperkuat blok Komunis di timur Asia serta keberhasilan ujicoba bom atom Uni Soviet, yang menghilangkan suatu ketimpangan besar dalam suatu perang dengan Amerika Serikat. Kartu Korea sendiri semakin kelihatan menarik bagi diktator Uni Soviet tersebut ketika di tahun itu juga Amerika menarik pasukan pendudukan terakhirnya dari Semenanjung tersebut dan bersikap dingin terhadap keinginan Filipina, Cina Nasionalis, dan Korea Selatan untuk membentuk “Pakta Pasifik” menurut contoh NATO. Akhirnya, pidato Acheson pada 12 Januari 1950 yang mengecualikan Korea Selatan dalam garis pertahanan keliling Amerika Serikat di Pasifik membuat Stalin dan rekan-rekan komunis Asianya menarik kesimpulan- yang salah- bahwa Amerika tidak akan berperang demi Korea Selatan.



Kim Il-Sung merupakan pemimpin tertinggi Korea Utara sejak terbentuknya negara itu pada tahun 1948 hingga kematiannya di tahun 1994. Didukung oleh dukungan moral Uni Soviet dan bantuan pasukan Cina, Kim memimpin negaranya memasuki gelanggang Perang Korea dalam usahanya menyatukan Semenanjung Korea dibawah rezim Komunis. 



Stalin sendiri memiliki tiga alasan untuk mendukung penyerbuan Korea Utara ke Korea Selatan. Pertama, direbutnya Korea Selatan akan memperkuat keamanan Soviet di Asia Timur. Secara khusus, dia ingin memperkuat posisi Soviet sebelum Jepang bangkit kembali menjadi sebuah kekuatan ekonomi dan militer. Kedua, diktator Soviet itu khawatir bahwa Rhee akan segera menyerang Korea Utara, dimana hal seperti itu akan menimbulkan keadaan yang tidak dapat dikontrol sehingga Soviet terpaksa harus turun tangan. Ketiga, Stalin yakin bahwa suatu peperangan akan membuat Cina Komunis semakin terikat kepada Uni Soviet. Suatu perang atas Korea akan menjegal kemungkinan Cina bersedia berbaikan dengan Amerika Serikat.

            Kim Il-Sung mengunjungi Uni Soviet lagi secara rahasia pada April 1950. Pada saat itu, Stalin akhirnya mengijinkan Korea Utara untuk segera menyerang Korea Selatan. Dia hanya meminta Kim agar dapat memastikan diraihnya kemenangan yang menentukan dan agar tidak terjadi perluasan medan pertempuran. Stalin juga menekankan bahwa Soviet tidak akan melakukan intervensi secara langsung karena menganggap negerinya belum siap berhadapan secara militer dengan pihak Barat. Sekalipun demikian, dia menjanjikan akan mengirimkan semua peralatan perang yang diperlukan Korea Utara.
            Kim lalu mengunjungi Mao di Peiping. Mao sepakat bahwa penyatuan Korea hanya dapat diraih dengan cara pertempuran. Dia pun ragu bahwa Amerika Serikat akan bersedia berperang demi Korea. Kim sendiri terlihat percaya diri dan memberitahu Mao bahwa pasukannya akan merebut seluruh daratan Korea hanya dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu, jauh sebelum intervensi Amerika dimungkinkan.
            Pihak Cina dan Soviet sendiri telah mengkoordinasikan usaha-usaha untuk membantu Korea Utara menyatukan daratan Korea melalui jalan kekerasan pada saat kunjungan Mao ke Moskow pada musim dingin 1949-1950. Untuk memastikan kemenangan Kim, Mao kemudian mengembalikan dua unit Korea dalam Tentara Pembebasan Rakyat Cina, Divisi ke-164 dan Divisi ke-166, yang merupakan pasukan divisi para veteran Perang Saudara di Cina, yang diserahkan kepada Kim. Selain itu, Mao juga menempatkan sejumlah besar pasukan Cina di perbatasan Cina-Korea Utara untuk berjaga-jaga apabila nantinya Amerika ternyata melakukan intervensi terhadap invasi Korea Utara. Stalin sendiri memberikan sumbangan berupa sejumlah besar peralatan militer yang jauh melebihi bantuan yang diberikan Amerika kepada Korea Selatan.
            Antara tanggal 15 hingga 24 Juni 1950, Komando Tertinggi Korea Utara telah mengumpulkan sekitar 90.000 prajurit yang disusun dalam 7 Divisi Infantri, 1 Brigade lapis baja, 1 Resimen infantri terpisah, 1 Resimen sepeda motor, dan 1 Brigade Polisi Perbatasan, yang didukung oleh 120 unit Tank T-34/85 yang berada di dekat Garis Lintang 38 derajat.
            Pada pukul 04:00 tanggal 25 Juni, pasukan Korea Utara melancarkan suatu serangan terkoordinasi terhadap Korea Selatan yang membentang dari pantai barat ke timur. Dibawah Komando taktis Kolonel Lee Hak Ku, para penembak meriam yang mengawaki baterai-baterai howitzer mengamati ledakan peluru-peluru meriamnya dan memperbaiki jarak jangkaunya. Kemudian, ketika Lee menurunkan tangannya yang mengacung dalam suatu gerakan perintah secara tiba-tiba, tank-tank T-34/85 buatan Soviet merayap menyeberangi Garis Lintang. Di atas mereka, pesawat-pesawat Yak dan Shturmovik terbang ke arah Seoul, yang jaraknya hanya beberapa menit penerbangan. Dengan tiupan terompet, infanteri Korea Utara bergerak menyeberangi perbatasan menuju sasaran awal mereka. Sekalipun cuaca buruk dan turun hujan deras, Jenderal Korea Utara Chai Ung Jun mengerahkan 90.000 prajurit memasuki Korea Selatan tanpa mengalami hambatan. Perahu-perahu dan sampan-sampan mendaratkan pasukan Korea Utara dibelakang garis pasukan musuh di selatan. Sebagaimana dikatakan MacArthur dikemudian hari, Korea Utara “menyerang seperti kobra”.

            Divisi-divisi Ibu Kota, ke-1 dan ke-2 Korea Selatan berusaha mempertahankan kawasan di sebelah utara Seoul, tetapi serangan mendadak Korea Utara dan gempuran tank musuh segera memukul mundur pasukan Korea Selatan ke Seoul sendiri. Pada 27 Juni, Rhee secara rahasia dievakuasi dari Seoul bersama para pejabat pemerintah lainnya. Pada 28 Juni, pukul 02:00 Tentara Korea Selatan meledakkan jembatan besar diatas Sungai Han dalam usaha mereka untuk membendung gerakan musuh. Jembatan tersebut diledakkan saat masih terdapat 4.000 pengungsi yang sedang berada di atasnya, sehingga ratusan penduduk sipil dan prajurit terbunuh. Penghancuran jembatan itu juga membuat banyak unit Korea Selatan terjebak di utara Sungai Han.
            Seoul jatuh ke tangan Korea Utara pada hari yang sama. Sejumlah anggota parlemen Korea Selatan yang tetap tinggal di kota tersebut lalu membelot ke pihak musuh. Banyak prajurit Korea Selatan- yang masih diragukan loyalitasnya kepada rezim Syngman Rhee- pada akhirnya banyak dari mereka memilih membelot dan bergabung dengan pihak Korea Utara. Pada akhir Juni, Korea Selatan hanya tinggal memiliki kurang dari 22.000 prajurit dari 95.000 prajurit yang dimilikinya pada saat pecahnya perang.
            Pada awalnya, berita mengenai pecahnya perang di Korea menimbulkan kebingungan di Washington. Pemerintahan Truman menganggap bahwa Korea Utara tidak bertindak sendiri dalam invasi mereka ke Korea Selatan melainkan atas perintah Moskow. Tetangga komunis Korea lainnya, Cina, dikesampingkan sebagai kekuatan utama dibelakang serangan itu karena Korea Utara dianggap Amerika Serikat sebagai boneka Uni Soviet. Disamping itu, Mao Tse-tung masih mengkonsolidasikan kekuatannya didalam negeri Cina sehingga saat itu dianggap masih lemah untuk terlibat dalam konflik peperangan internasional. Para pejabat Amerika tidak mengabaikan keterlibatan Cina dalam peristiwa serangan itu tetapi kebanyakan dari mereka menganggap Soviet lah yang bertanggungjawab atas invasi Korea Utara.

            Pemerintah Truman masih mengingat kejadian-kejadian pada tahun 1930-an ketika negara-negara Poros mulai melancarkan agresi tanpa adanya tindakan pencegahan dari negara-negara lainnya, yang kemudian melahirkan Perang Dunia II. Mereka khawatir bahwa apabila agresi Komunis tidak dihentikan di Korea Selatan, maka pihak Komunis akan melakukan agresi lebih lanjut dan akhirnya akan mengobarkan suatu konflik dunia baru. Truman dan para pembantunya juga yakin bahwa Amerika sedang diuji oleh pihak Komunis dan apabila negara itu tidak mengambil tindakan dan menghadapi tantangan tersebut maka seluruh kebijakan pembendungan Komunis yang dilakukan Amerika akan semakin kacau balau, dan Amerika akan dipastikan kehilangan sekutu-sekutunya di daratan Eropa serta bagian dunia lainnya, NATO pun bisa jadi akan terpecah-belah dan pihak Komunis akan melakukan agresi di tempat lainnya.




Di awal-awal meletusnya Perang Korea, pesawat berjenis P-51 Mustang merupakan pesawat andalan pasukan PBB. Namun dalam beberapa tahun peperangan, pesawat berjenis Mustang dan pesawat-pesawat di era Perang Dunia II perlahan-lahan diganti dengan jenis pesawat jet yang lebih baru dan lebih canggih. 





Keadaan politik dalam negeri AS juga menjadi pertimbangan Truman. Dia masih terbebani oleh tuduhan pihak Republik bahwa pemerintahannya tidak mampu menghadapi ancaman komunis dan bertanggung jawab atas hilangnya Cina. Dia juga diserang oleh Senator Joseph McCarthy, yang menuduh adanya agen-agen komunis dalam pemerintaan Truman. Untuk membungkam tuduhan itu, para pemimpin Demokrat benar-benar membutuhkan suatu manuver kemenangan dalam menghadapi ancaman Komunis. Dan satu-satunya cara adalah mengambil garis perlawanan sekeras mungkin melawan agresi Korea Utara.
            Truman bertindak cepat dan menentukan di Korea dengan menggunakan pengaruh eksekutifnya untuk memberikan suplai bantuan militer, diplomatik, dan bantuan ekonomi besar-besaran kepada Korea Selatan. Namun Truman melakukan semua itu tanpa izin maupun tanpa adanya konsultasi terlebih dulu dengan Kongres, memberikan suatu preseden yang kemudian menjadi begitu kontroversial selama Perang Vietnam. Pada minggu pertama setelah serangan Korea Utara, Truman bukan hanya mengutuk agresi Korea Utara tetapi juga menginstruksikan Jenderal Douglas MacArthur untuk mengirimkan suplai melalui jalur udara kepada pasukan Korea Selatan, memerintahkan dukungan laut dan udara bagi Korea Selatan, mengirimkan pasukan darat ke Korea, memerintahkan blokade laut terhadap Korea Utara, serta mengirimkan Armada ke-7 ke selatan Formosa untuk melindungi pulau itu dari kemungkinan serangan Cina- suatu tindakan yang untuk pertama kalinya dilakukan Amerika untuk membela Cina Nasionalis. Dia juga meningkatkan bantuan Amerika kepada pasukan Perancis yang memerangi para pemberontak komunis di Indocina dan menjanjikan bantuan lebih besar kepada Filipina yang juga sedang berjuang melawan pemberontak Hukbalahap yang berhaluan Komunis.

            Karena strategi dasar kebijakan luar negeri Amerika adalah usaha kolektif, maka Amerika meminta Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara guna mencari pengesahan terhadap tindakannya. Kepada dewan tersebut, delegasi Amerika menyatakan bahwa serangan komunis ke Korea Selatan merupakan sebuah serangan terhadap PBB sendiri karena badan dunia tersebut telah mengawasi pemilu yang menciptakan negara itu di tahun 1948. Karena Uni Soviet sedang memboikot PBB sebagai protes atas tidak diterimanya Cina Komunis dalam badan dunia itu, maka dua resolusi yang dikeluarkan PBB yang menguntungkan Amerika terhindari dari veto Uni Soviet yang melumpuhkan. Resolusi yang pertama, dikeluarkan pada 25 Juni, berisi kutukan terhadap invasi Korea Utara sedangkan resolusi kedua, dikeluarkan tanggal 7 Juli, merekomendasikan suatu komando terpadu dibawah pimpinan Amerika Serikat dan memberikan izin untuk menggunakan bendera PBB di Korea.

            Truman menindaklanjuti resolusi itu dengan menunjuk Jenderal MacArthur sebagai Panglima Komando PBB, namun jenderal tersebut hanya bertindak atas perintah dari Washington. Markas Besar Komando PBB dibawah pimpinan MacArthur berada di Tokyo, dimana dia secara teratur diharuskan membuat laporan Joint Chiefs of Staff (JCS), yang kemudian memberikannya kepada Menteri Luar Negeri AS melalui tembusan Menteri Pertahanan. Setelah memberitahukan laporan itu kepada Presiden Truman, Menteri Luar Negeri meneruskannya lepada Dewan Keamanan PBB. Meski komando pasukan PBB dilapangan diatur seakan-akan seluruh pasukannya adalah prajurit Amerika, ada dua hal yang memungkinkan munculnya konflik. Penyebabnya adalah dimasukannya Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan yang baru dibentuk ke dalam rantai komando yang tidak ada dalam Perang Dunia II. Apabila terjadi ketidakcocokan diantara kedua departemen tersebut, maka operasi militer dapat dikacaukan. MacArthur, yang terbiasa berhubungan langsung dengan JCS dalam Perang Dunia II, menemukan bahwa selain JCS, kini ia juga diharuskan bertanggungjawab kepada Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan. Selain itu, MacArthur juga tetap harus memperhatikan pandangan PBB.

            Dengan kecakapan militernya, Jenderal MacArthur sendiri merupakan jenderal pilihan yang tepat. Ia juga adalah salah satu jenderal Amerika yang populer dan dipuja. Jenderal lulusan West Point nomor satu pada tahun 1903 itu dalam Perang Dunia I pernah bertugas di Perancis, dimana dia memperoleh tiga belas medali penghargaan. Ia lalu menjadi kepala staf angkatan darat Amerika di tahun 1903, dan kemudian menjabat panglima tertinggi pasukan Filipina. Selama PD II, MacArthur ditugaskan kembali oleh Presiden F.D. Roosevelt untuk menjabat panglima tertinggi Sekutu di Pasifik Baratdaya dan berhasil menepati janjinya untuk kembali ke Filipina serta menerima penyerahan Jepang kepada Sekutu pada akhir perang. Sejak 1945 hingga saat memegang amanat komando PBB, MacArthur menjabat sebagai panglima pasukan pendudukan Amerika di Jepang, dimana dia berhasil menghapuskan militerisme dan fasisme di Jepang serta mendemokrasikan bekas musuh Amerika Serikat di Pasifik itu.




Foto ini adalah foto 385 tentara Amerika Divisi Angkatan Darat ke-7 yang selamat dan masih terjebak dalam serangkaian pertempuran gerilya pasukan Cina Komunis di pesisir Changjin pada akhir November 1950. Jumlah pasukan Divisi ke-7 ini pada awalnya berjumlah 2.500 prajurit.




Sekalipun demikian, MacArthur juga memiliki kekurangan. Jenderal tersebut dikenal sebagai orang yang angkuh dan selalu ingin dipublikasikan agar lebih populer dan terkenal. Dia juga memiliki kecenderungan untuk mengklaim keberhasilan yang seharusnya merupakan hak orang lain untuk dirinya sendiri sementara melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Kelemahan lainnya adalah meski sang Jenderal sangat baik untuk menyampaikan perintah-perintahnya, tetapi ia sangat buruk dalam menjalankan perintah yang ditujukan kepadanya.
            Pada awalnya, keputusan Presiden Truman untuk melakukan intervensi di Korea didukung segenap rakyat Amerika, termasuk kaum Republik yang sebelumnya mengecam kebijakannya di Timur Jauh. Akan tetapi ketika biaya perang membengkak dan jumlah korban jiwa dalam peperangan meningkat, muncul kritik-kritik pedas yang mencela presiden karena merampas hak Kongres untuk menyatakan perang dan karena melibatkan negara dalam konflik dimana tidak ada kepentingan nasional Amerika yang terancam.

            Sebenarnya, militer Amerika tidak siap untuk menghadapi peperangan di Korea. Demobilisasi yang dilakukan setelah berakhirnya era Perang Dunia II telah menurunkan kemampuan tempur konvensionalnya sedangkan program NSC-68 baru mulai berjalan. Para prajurit Amerika pertama yang dikirim ke Korea adalah para rekrutan yang masih muda, mentah, dan minim pengalaman, yang terbiasa dengan tugas-tugas administrasi pendudukan di Jepang, sehingga boleh dikatakan mereka bukanlah tandingan bagi pasukan Korea Utara yang terlatih dan terkoordinasi dengan baik. Sekalipun demikian, kekurangan tersebut diimbangi Amerika dengan semangat patriotisme yang masih tinggi dan kepemimpinan yang baik dari para bintara dan perwira yang berpengalaman.

            Pada tanggal 29 Juni, empat hari setelah invasi Korea Utara ke Korea Selatan, MacArthur dan beberapa stafnya terbang ke Suwon, Korea Selatan, untuk menilai situasi yang dengan cepat menjadi keadaan yang mencemaskan. Ketika mereka berada di Suwon, empat pesawat Yak menyerang lapangan terbang namun segera dirontokkan oleh pesawat-pesawat Mustang yang mengawal rombongan MacArthur. Terkesan, sang Jenderal mengizinkan Angkatan Udara Timur Jauh Amerika Serikat untuk menyerang kawasan di utara Garis Lintang 38 derajat, dengan syarat mereka tidak melanggar batas wilayah udara Cina maupun Uni Soviet. Padahal sebenarnya MacArthur tidak memiliki izin dari Presiden maupun JCS untuk melancarkan serangan udara seperti itu. Bahkan sekalipun JCS mengijinkan serangan pada 30 Juni, itu bukanlah terakhir kalinya MacArthur membuat keputusan tanpa konsultasi terlebih dahulu kepada JCS maupun Presiden.
            Serangan pertama ke wilayah Korea Utara terjadi beberapa jam setelah MacArthur diberikan izin melakukan serangan, dimana sebuah wing pesawat pembom B-26 menggempur lapangan terbang militer utama Pyongyang. Dalam waktu beberapa hari saja, Angkatan Udara Korea Utara berhenti menjadi kekuatan yang efektif dan hanya mampu melancarkan serangan kecil-kecilan. Tanpa banyak usaha, Angkatan Udara Timur Jauh Amerika berhasil merajai udara. Sebaliknya, pasukan Korea Utara masih merajalela di daratan. Pada 4 Juli, setelah memperbaiki sebuah jembatan rel kereta api di atas Sungai Han, dua Divisi Infanteri Korea Utara bergerak terus kea rah selatan dengan dukungan tank-tank T-34. Untuk membendung gerakan mereka, MacArthur memerintahkan Letnan Jenderal Walton H. Walker, panglima Satuan Darat ke-8, untuk segera mengirimkan Divisi Infanteri ke-24 yang berpangkalan di Kyushu untuk bergerak ke Korea. Mayor Jenderal Willian F. Dean, panglima divisi itu, segera dikirimkan ke Korea lewat udara. Ikut bersamanya pasukan penghambat berkekuatan 540 prajurit yang disebut sebagai Gugus Tugas Smith sesuai nama komandan mereka, Letnan Kolonel Charles B. Smith. Sisa Divisi ke-24 kemudian akan dikirimkan lewat jalur laut.
            Dalam beberapa bulan, pasukan tempur darat Amerika di Korea kemudian berkembang dari sebuah resimen menjadi sebuah kekuatan lebih dari 210.000 prajurit. Sementara itu, sejak bulan Juli, 15 negara lainnya seperti Inggris, Australia, dan Turki mulai mengirimkan pasukan mereka juga. Akan tetapi walau mereka berada dibawah bendera PBB, konflik di Korea pada dasarnya adalah perang milik Amerika.

            Pada 5 Juli, pasukan Amerika terlibat pertempuran penting pertama di Korea, ketika Gugus Tugas Smith menyerang pasukan Korea Utara di Osan. Namun gugus tugas itu bukanlah tandingan musuh. Tidak memiliki senjata yang mampu menghancurkan tank-tank Korea Utara, gugus tugas itu kehilangan 180 prajurit yang tewas, terluka, atau tertawan. Tentara Korea Utara terus mendesak maju ke selatan, memukul mundur pasukan Amerika di Pyongtaek, Chonan, dan Chochiwon, serta memaksa pasukan Divisi ke-24 mengundurkan diri ke Taejeon.



Gugus Tugas Smith tiba di Stasiun Kereta Api Taejon dekat Osan, pada 5 Juli 1950. Kekuatan Gugus Tugas Smith berkekuatan setengah battalion dan kebanyakan dari mereka berusia remaja. Gugus Tugas ini nantinya dipersiapkan sendirian untuk bertempur melawan unit divisi Korea Utara serta melakukan pertempuran melawan unit tank Korea Utara. (Foto Departemen Pertahanan AS)




Resimen-resimen dari Divisi ke-24 yang kelelahan setelah dua minggu pertempuran untuk menghambat gerakan musuh itu mengambil posisi mempertahankan sebuah garis pertahanan yang membentang di sepanjang Sungai Kum hingga sebelah timur kota Taejeon. Selain terhambat akibat kurangnya komunikasi, perlengkapan, dan senjata berat untuk menandingi daya gempur pasukan Korea Utara, pasukan Amerika juga kalah dalam hal jumlah dan kurang terlatih. Dipukul mundur dari tepian sungai, pasukan Amerika terlibat pertempuran sengit di jalan-jalan kota Taejeon selama tiga hari.
            Kekalahan besar Divisi ke-24 dapat dirujuk pada fakta bahwa para prajuritnya kurang terlatih dan tidak siap tempur serta tidak memiliki perlengkapan yang memadai karena terlalu lama menghabiskan waktunya sebagai pasukan pendudukan Amerika di Jepang. Namun, sekalipun menderita kerugian besar, Divisi ke-24 berhasil menjalankan misinya untuk menghambat gerakan Korea Utara hingga tanggal 20 Juli. Pada saat itu, pasukan Amerika telah membangun Perimeter Pusan di sebelah baratdaya.

            Sebagaimana pasukan Komunis lainnya, tentara Korea Utara memiliki para komisaris politik dalam semua tingkatan unit. Kehadiran mereka mencerminkan kebijakan pemerintah Korea Utara sekaligus ideologi komunis. Pada masa itu, dan hingga kini, pemerintah Korea Utara dikenal brutal dan bebal. Perang yang mereka mulai pun berlangsung dengan brutal. Dalam gerakannya ke selatan, pasukan Korea Utara melakukan pembersihan terhadap para cendekiawan Korea Selatan dengan membunuh para pegawai negeri dan kaum intelektual karena secara politis dianggap berseberangan dengan rezim Kim Il-Sung. Menurut perkiraan PBB, 26.000 warga Korea Selatan dibunuh oleh pasukan darat penyerbu Korea Utara selama beberapa bulan pertama perang. Di Taejeon sendiri, lebih dari 7.000 warga sipil serta prajurit Korea Selatan dan Amerika diikat lalu ditembak mati.

            Ratusan prajurit Amerika dibunuh dengan cara tersebut selama perang. Salah satunya terjadi di Bukit 303. 41 prajurit Amerika, termasuk 26 orang penembak mortar dari kompi Amerika yang ditangkap tanpa perlawanan oleh Divisi ke-3 Korea Utara karena salah mengira mereka sebagai prajurit Korea Selatan, lalu ditawan. Tangan mereka diikat dibelakang punggung dengan kawat radio dan kawat lampu. 2 hari kemudian, pada tanggal 17 Agustus, ketika pasukan Amerika lainnya dikerahkan untuk merebut kembali tempat itu, pasukan Korea Utara membunuh para tawanan Amerika yang tidak berdaya itu dengan berondongan senapan mesin.
            Pasukan Korea Utara seringkali juga menyiksa dan mencincang tawanan perang. Dalam suatu peristiwa yang menyeramkan, Divisi ke-7 Korea Utara mengikat sejumlah prajurit dari Divisi Infanteri ke-25 yang mereka tawan, memotong kaki mereka sebelum membunuh para korban. Tawanan lainnya dikebiri atau dipotong lidahnya atau dijadikan sasaran latihan bayonet. Pada tanggal 20 Agustus, setelah laporan-laporan mengenai kekejaman pasukan Korea Utara ini diketahui, Jenderal MacArthur memperingatkan Kim Il-Sung bahwa dia harus bertanggung jawab atas pembantaian yang dilakukan anak buahnya.




Pertempuran musim dingin: beberapa pasukan senapan mesin Amerika bersiaga didekat sebuah desa Korea setelah menggempur posisi pasukan Cina. (Foto US Army). 






GAMBAR: Para tawanan Korea Utara yang berhasil ditangkap marinir Amerika. Pada 15 September 1950 Jenderal MacArthur melancarkan operasi pendaratan amfibi di Inchon, Korea Selatan, yang membuahkan kemenangan atas invasi taktis yang dilancarkan terhadap pasukan Korea Utara. hanya dalam waktu beberapa minggu saja, pasukan PBB dan Korea Selatan berhasil merebut kembali Seoul serta memotong garis suplai pasukan Korea Utara. 






Setelah merebut Taejeon, pasukan Korea Utara mulai bergerak menuju Perimeter Pusan, sebuah garis pertahanan PBB sepanjang 230 kilometer di sekeliling kawasan yang terdapat di ujung tenggara Semenanjung Korea, yang juga mencakup pelabuhan Pusan, dari semua arah dalam usaha untuk mengepungnya. Pusan sendiri merupakan pelabuhan penting karena bala bantuan PBB mengalir ke Korea melalui tempat ini. Namun, kaliber pasukan yang dikerahkan Korea Utara untuk menjalankan tugas ambisiusnya itu lebih rendah daripada pasukan yang mereka gunakan pada awal invasi. Berbagai aksi penghambatan yang dilakukan pasukan Amerika dan Korea Selatan untuk menghambat laju pasukan Korea Utara telah membuat Kim Il-Sung kehilangan 58.000 prajurit dan sejumlah besar tank. Untuk menggantikan kerugian ini, Korea Utara harus bergantung pada pasukan pengganti dan wajib militer yang kurang berpengalaman, dimana banyak diantaranya berasal dari para pria Korea Selatan yang dipaksa bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat. Setelah pertempuran di Perimeter Pusan, Korea Utara mengerahkan 13 divisi infanteri dan sebuah divisi lapis baja.
            Berhadapan dengan 72.000 prajurit Korea Utara di Perimeter Pusan adalah 92.000 prajurit PBB, yang terutama terdiri atas pasukan Korea Selatan, Amerika, dan Inggris. Dalam usahanya mengepung kawasan itu dari segala penjuru, dua divisi Korea Utara yang terdiri dari para veteran Perang Saudara Cina bergerak ke selatan dalam suatu manuver lebar guna mengapit lambung kiri pasukan PBB yang benar-benar tersebar. Menyerbu posisi-posisi PBB, kedua divisi berkali-kali memukul mundur pasukan Amerika dan Korea Selatan yang berusaha membendung serangan Korea Utara. Selama enam minggu,  pertempuran sengit berlangsung di sekitar kota-kota Taegu, Masan, dan P’ohang, serta Sungai Naktong. Pasukan Korea Utara terus merangsek maju sebelum akhirnya dihentikan oleh Divisi ke-25 Amerika yang berjarak kurang dari 48 km dari wilayah Pusan.

            Sekalipun melancarkan dua serangan besar-besaran lagi selama bulan Agustus dan September, pasukan Korea Utara gagal mendesak mundur pasukan PBB. Akibatnya, pelabuhan Pusan dapat terus menerima bala bantuan yang kini tiba setiap hari. Senjata-senjata bazooka dan tank-tank berat M26 Pershing Amerika yang dapat menghadapi tank T-34/85 mulai berdatangan. Jumlah pasukan PBB pun meningkat menjadi 180.000 prajurit.

            Jenderal Walker lalu menggunakan daya gempur dan cadangannya yang lebih besar secara efektif untuk menghantam pasukan Korea Utara. Kekurangan perbekalan karena garis suplainya telah terbentang panjang dan menderita korban jiwa besar, akhirnya perlawanan pasukan Korea Utara ambruk. Diperkirakan selama pertempuran di Perimeter Pusan, mereka kehilangan antara 36.000 hingga 41.000 prajurit yang tewas atau tertawan. Dipihak PBB, Amerika kehilangan hampir 20.000 prajurit yang tewas atau terluka maupun hilang, sementara pasukan Korea Selatan kehilangan sekitar 40.000 prajurit.
            Sisa-sisa pasukan Korea Utara kemudian terpaksa mengundurkan diri secara tergesa-gesa dari Perimeter Pusan ketika mereka mendengar berita mengguncangkan yang terjadi di Inchon, jauh disebelah utara. Pertempuran di Pusan sendiri merupakan titik terjauh yang dapat dicapai oleh pasukan Korea Utara selama peperangan.




            Tank M26 Pershing Amerika bergerak menuju garis depan untuk mencegah usaha penyeberangan musuh di Sungai Naktong. Kedatangan Tank ini di perimeter Pusan mengakhiri dominasi tank-tank T-34/85 Korea Utara. 




MacArthur mengusulkan dilakukan pendaratan amfibi di Inchon, pelabuhan Seoul, 160km dibelakang garis pertahanan Korea Utara. Suatu pendaratan amfibi disana akan memberikan kesempatan untuk memotong garis komunikasi Korea Utara dan menjebak pasukannya yang berada diwilayah Selatan. Inchon merupakan titik pertempuran yang sangat berbahaya dan beresiko untuk diserang. Pertempuran dalam kota sendiri dipastikan akan sangat berdarah-darah; apalagi ketika para prajurit pertama-tama harus mendarat dahulu dari kapal-kapal pendarat yang berada langsung dibawah tembakan musuh yang mempertahankannya. Kegagalan operasi akan mengakibatkan kerusakan yang sulit diperbaiki bagi kredibilitas PBB di Korea serta merusak reputasi badan dunia itu dalam menangani setiap krisis yang terjadi.

            Pada awalnya, JCS bersikap skeptis terhadap rencana itu karena terlalu jauh ke wilayah utara dari garis pertahanan PBB dan terlalu dekat dengan Seoul sehingga pasukan Korea Utara pasti akan memberikan perlawanan sengit. Selain itu, pihak JCS juga mempertimbangkan gelombang tinggi di tempat itu yang akan menyulitkan pasukan PBB sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan korban yang besar.

            Namun jika pendaratan di Inchon berhasil, PBB pun akan mendapatkan nama yang harum. Selain itu hal tersebut juga akan memungkinkan perebutan kembali Seoul, yang terletak 29km di sebelah timur pelabuhan. Akhirnya pihak JCS pun memberikan lampu hijau bagi rencana pendaratan MacArthur. Kemungkinan serangan pasukan PBB di Inchon sendiri telah dipikirkan oleh kubu Komunis. Sekalipun kemenangan awal Korea Utara membuat Kim meramalkan bahwa ia dapat mengakhiri perang pada akhir Agustus, para pemimpin Cina bersikap lebih pesimis. Untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan Amerika, Perdana Menteri Chou En-Lai memohon bantuan Uni Soviet untuk memberikan dukungan udara bagi pasukan Cina. Sekitar 260.000 tentara Cina ditempatkan di sepanjang perbatasan Korea dibawah komando Gao Gang.
            Chou juga memerintahkan dilakukannya survei topografi di Korea dan memerintahkan Lei Yingfu, penasehat militer Cina di Korea, untuk menganalisis situasi militer di semenanjung itu. Lei menyimpulkan bahwa MacArthur kemungkinan besar akan berusaha melakukan suatu pendaratan di Inchon. Setelah membahas mengenai kemungkinan tersebut dengan Mao, Chou memberikan taklimat kepada para penasehat militer Soviet dan Korea Utara mengenai hasil survey Lei ini, serta memerintahkan kesiapan militer di sepanjang perbatasan dengan Korea untuk bersiap menghadapi aktivitas angkatan laut Amerika di Selat Korea.

            Divisi Marinir ke-1 dan Divisi Infanteri ke-7 Amerika akan melancarkan serangan sebagai bagian dari Korps X Amerika yang baru dibentuk. Letnan Jenderal Edward Almond, kepala staf MacArthur, ditunjuk untuk memimpin korps tersebut. Korps X tidak berada dibawah komando Satuan Darat ke-8, dimana kedua kesatuan bertanggung jawab kepada MacArthur di Tokyo. Korps X sendiri merupakan pasukan cadangan terakhir yang dimiliki MacArthur. Jika pertaruhannya gagal dan bencana menimpanya di Inchon, maka tidak ada lagi prajurit yang tersisa untuk merebut kembali Korea Selatan.
            Pasukan pendarat Amerika diperkuat oleh para prajurit dan marinir Korea Selatan. Operasi yang melibatkan 260 kapal yang mengangkut 70.000 prajurit ini sendiri sulit ditutup-tutupi pelaksanaannya sehingga para wartawan perang di Jepang menjulukinya sebagai Operasi Yang Sudah Diketahui Umum.





       Untuk berlindung dari serangan udara pesawat dan serangan artileri Amerika, pasukan Cina komunis dan Korea Utara membuat terowongan berlindung bawah tanah, menciptakan ruang-ruang didalamnya untuk meredam serangan mematikan senjata artileri berkaliber berat. Pasukan Cina juga mempersenjatai diri mereka dengan granat tangan “potato master”. (Eastphoto)









            Armada tersebut muncul di lepas pantai Inchon pada 14 September. MacArthur berada di atas kapal komando armada, Mount McKinley, untuk mengamati hasil dari pertaruhan besarnya. Suatu gempuran laut dan udara dilancarkan terhadap pulau benteng Wolmi-do dimulai pada pukul 05.45 pagi tanggal 15 September, diikuti oleh pendaratan prajurit marinir. Beberapa diantara prajurit yang mengambil bagian dari pendaratan tersebut merupakan para pejuang veteran Perang Pasifik dan memperkirakan mereka akan mendapat suatu perlawanan sengit sama seperti yang telah dihadapinya saat memerangi pasukan Jepang. Namun, ternyata mereka nyaris tidak menghadapi perlawanan dari beberapa prajurit lawan yang tersisa dan masih terguncang oleh gempuran sebelumnya. Kurang dari satu jam kemudian pulau itu dinyatakan aman dan tidak ada prajurit Amerika yang terbunuh dalam invasi. Itu suatu pertanda baik, dan diikuti pada siang harinya oleh keberhasilan yang bahkan lebih besar lagi.
            Setelah mendarat, pasukan Amerika jauh lebih beresiko terkena “tembakan sahabat” dari gempuran meriam angkatan laut daripada perlawanan ringan yang dilakukan musuh. Sekalipun demikian, pasukan marinir telah mengamankan kota itu pada saat tengah malam, dengan korban jiwa hanya 20 prajurit. 18.000 prajurit Amerika telah mendarat di Inchon sebelum malam berakhir. Dalam waktu empat hari berikutnya, jumlahnya meningkat hingga 50.000 tentara. Pada hari akhir penyerbuan itu pasukan marinir telah maju sejauh 16 kilometer ke timur di jalan menuju Seoul. MacArthur sendiri mendarat pada tanggal 17 September, menaiki mobil menuju garis depan untuk melihat sisa-sisa sebuah konvoi tank Korea Utara yang baru saja dihancurkan pasukan marinir.




Pasukan Korea Selatan (ROK- Republic of Korea) bergerak dalam suatu formasi menuju garis depan dalam pertempuran di Perimeter Pusan, pada Agustus 1950. (Foto dari US. Army) 




Pada 18 September, Stalin mengirimkan Jenderal H.M Zakharov ke Korea untuk meminta Kim Il-Sung agar menghentikan serangannya di Perimeter Pusan dan mengirimkan pasukannya untuk mempertahankan Seoul. Tidak mengetahui kekuatan pasukan Korea Utara, Chou En-Lai mengatakan apabila Korea Utara memiliki pasukan cadangan sedikitnya berjumlah 100.000 prajurit, mereka harus berusaha menghancurkan pasukan musuh di Inchon. Jika tidak, masih menurut Chou, maka mereka sebaiknya menarik pasukannya kembali ke utara.

            Sekalipun terkejut, pasukan Korea Utara belum dikalahkan. 20.000 prajurit Korea Utara memberikan perlawanan sengit di jalan-jalan Seoul pada minggu terakhir bulan September. Jenderal Almond menyatakan kota Seoul secara resmi “dibebaskan” pada 25 September, 3 bulan setelah dimulainya invasi Korea Utara. Kenyataannya, dibutuhkan waktu tiga hari pertempuran sengit lagi di pusat kota untuk membersihkan perlawanan musuh. Pasukan Korea Utara telah membangun penghalang-penghalang jalan di jalanan yang harus dibersihkan bulldozer sebelum tank-tank Amerika dapat bergerak maju, sementara para penembak gelap menembaki infanteri Amerika. Pasukan Amerika bergerak perlahan-lahan melewati kota itu, memperebutkan gedung demi gedung dan jalan demi jalan. Sebagian besar kota diratakan dengan tanah dan banyak penduduk sipil terbunuh.
            Sementara Korps X menerobos keluar dari Inchon, Satuan Darat ke-8 menyerbu dari Perimeter Pusan. Pada tanggal 26 September, kedua kesatuan bertemu di Osan, menjebak sejumlah besar prajurit musuh. 3 hari kemudian, pasukan Korea Selatan mencapai Garis Lintang 38 derajat. Pasukan Korea Utara menjadi kacau balau. Terkepung, pasukan Korea Utara di sebelah barat Osan dihancurkan. Para prajuritnya yang berada di sebelah timur Osan runtuh saat mencoba bergerak mundur ke utara. Banyak prajurit mundur ke Taebaek sebagai gerilyawan. Para perwira tinggi seringkali menyerah kepada pasukan Amerika dan Korea Selatan. Bahkan kepala staf Divisi ke-13 Korut menembak mati panglimanya, yang ingin melanjutkan serangan sia-sia, agar memampukan anak buahnya mengundurkan diri.
            Hanya sekitar 25.000 hingga 30.000 prajurit Korea Utara yang berhasil meloloskan diri dan menyeberangi Garis Lintang 38 derajat. Korea Utara telah kehilangan lebih dari 150.000 pasukan. Pihak PBB sendiri berhasil menangkap 125.000 tawanan Korea Utara. Kerugian PBB dalam serangan tersebut, termasuk di Inchon, mencapai 18.000 prajurit.


GAMBAR POSTER PROPAGANDA KOREA SELATAN: Berbunyi; “Tentara Cina. Waspada Jangan tertipu! Uni Soviet sekarang sedang mengontrol daratan Cina dan memaksa Cina memasuki Perang Korea. Tentara berani mati Cina sedang dikorbankan!!”