.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Cerita ringan. Show all posts
Showing posts with label Cerita ringan. Show all posts

Friday, 22 January 2016

Pesawat Tempur (Introduction to 4.5/5th Generation)



Sejak penerbangan perdana The Flyer karya Wilbur Wright dan Orville Wright, pesawat terbang dalam waktu singkat telah menjelma menjadi wahana udara dengan fungsi beragam (meski belum seberagam sekarang), termasuk kegunaan yang dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Sementara istilah pesawat tempur (fighter aircraft/fighter jet) baru dikenal usai ajang konflik Perang Dunia Pertama di abad ke-20.

Dalam PD-I, Royal Flying Corps Inggris menyebut pesawat militer yang dilibatkan dalam perang tersebut sebagai scouts lantaran perannya yang didominasi untuk misi pengintaian di garis depan untuk kepentingan pasukan darat. AD AS (US Army) selangkah lebih maju dengan menyebutnya pursuit aircraft atau pursuit saja. Lantaran pursuit aircraft digunakan terutama untuk mengejar (pursuit) atau menyergap pesawat lawan.

Sebutan yang diperkenalkan sekitar pertengahan dekade 1910-an ini bertahan hingga lebih dari 20 tahun, yaitu hingga menjelang akhir dekade 1940-an. Sebagai penyegar ingatan, kala itu US Air Force (AU AS) belum terbentuk. Yang ada adalah komando penerbangan dibawah naungan US Army dengan nama USAAF (US Army Air Force).

Secara umum terminology fighter aircraft (pesawat tempur) diartikan sebagai pesawat militer yang didesain dan digunakan terutama untuk pertempuran udara melawan pesawat musuh. Meskipun kemudian (apalagi di era modern saat ini) pesawat tempur sudah lazim pula dipakai untuk menyerang target di darat, namun fungsi utamanya tetaplah untuk bertempur di udara (melawan pesawat musuh). Jadi hal itu jelas berbeda dengan jenis pesawat pembom yang sejak awal memang sudah didesain untuk menyerang sasaran darat (terutama dengan menjatuhkan bom).

Di era modern saat ini, istilah fighter masih ada saja yang terkaburkan untuk beberapa kasus. Pesawat tempur multi-peran (multirole) memang sah-sah saja jika disebut sebagai pesawat tempur. Tapi dalam beberapa kasus pesawat militer serang darat yang bukan pesawat pembom pun kerap dilabeli sebagai pesawat tempur. Sebut saja A-10 Thunderbolt II, SEPECAT Jaguar, MiG-27, Tornado GR.4 hingga pesawat serang siluman F-117A Nighthawk. Meski untuk pesawat yang disebut terakhir alasan pengelabuhan intelijen dan politislah yang lebih pegang peranan.


F117 - Sebuah pesawat tempur pembom berkonsep siluman (stealth).
Diproduksi oleh Lockheed dan diperkenalkan pada Oktober 1983.
F117 memakai teknologi berkonsep "Have Blue", eksistensi 
F117 awalnya dirahasiakan pemerintah hingga secara resmi 
diungkap ke publik pada 1988



Sebutan Nighthawk sebagai jet tempur siluman adalah kesengajaan Angkatan Udara Amerika Serikat yang memberikan kode desainasi keliru, yaitu prefiks F (fighter) yang sejatinya adalah kode bagi pesawat tempur, bukan prefiks A (attack) untuk pesawat serang. Tujuan dari kesengajaan tersebut adalah untuk mengecoh pihak luar kalau sampai ada kebocoran mengenai eksistensinya yang semula memang ditutup rapat-rapat. Meski eksistensi F-117A resmi dibuka ke publik tahun 1988, hingga pensiunnya Nighthawk pun kode desainasi nya (yakni fighter) tetap dipertahankan.
Lantas apa sebenarnya ciri sejati jet fighter? Kalau mau ditilik sampai ke akarnya, ada tiga aspek yang senantiasa ada mulai dari pesawat tempur generasi awal hingga generasi anyar saat ini. Ketiganya ialah kemampuan manuver, kecepatan tinggi, dan dimensi yang kecil.

Dua aspek yang disebut terakhir tadi bersifat relatif teradap pesawat jenis lain di era yang sama. Jadi jangan meledek penempur P-51 Mustang (era PD-II) yang kecepatan maksimumnya 700-an km/jam kala membandingkannya dengan jet tempur F16 Fighting Falcon yang mampu melesat hingga 2 kali lipat kecepatan suara alias sekitar 2.400 km/jam. Di zamannya, Mustang termasuk pesawat militer tercepat. Gampangnya, bandingkan dengan pesawat angkut C-47 Skytrain (DC-3 Dakota) yang sezamannya, yang kecepatan maksimumnya bertengger di sekitar angka 365km/jam.

Begitu pun perihal dimensi, relatif pula komparasinya. Di satu sisi F16 jelas-jelas lebih besar ketimbang P-51, namun terhadap sesama pesawat militer lain di era yang sama (terutama pesawat angkut), biarpun transport kelas medium semacam CN-295), F16 jelas berdimensi lebih kecil. Bagaimanapun perkembangan fungsi dan kecanggihannya, pesawat tempur diakui sebagai salah satu alutsista penting, kalau bukan disebut sebagai yang utama di matra udara. Pesawat tempur telah banyak berubah semenjak era baru tahun 1903 di era Kitty Hawk, kala pesawat terbang bermesin pertama di dunia diterbangkan Wright bersaudara.

Belum jauh dari seabad tonggak perjalanan tersebut, kini kian jelas bahwa era baru telah siap menanti. Pesawat terbang berkemampuan tempur tanpa awak (tanpa pilot) telah banyak dikembangkan dan bermunculan, dan bukannya tidak mungkin pesawat tempur tanpa pilot kelak akan menggantikan pesawat tempur konvensional. Pesawat tempur generasi ke 4,5 (4+) hingga generasi terbaru saat ini (generasi ke-5) kelihatannya ikut menemani kita menyongsong era baru pesawat tempur modern yang semakin mematikan.

Perbandingan pesawat tempur generasi terkini (generasi 5) dengan generasi awal sudah bagaikan langit dan bumi. Kecanggihan, letalitas, sampai harganya pun sudah sangat berbeda jauh. Faktor yang terakhir inilah yang membuat populasi pesawat tempur dunia kian menurun.Tak percaya? Simak jumlah pesawat tempur garis depan AS dari era Perang Dunia ke-2, di akhir era Perang Dingin, dan data terkini di tahun 2011 lalu. Kuantitasnya menunjukkan suatu tren yang kian menurun. Tidak bisa tidak, faktor harga memang pegang peranan yang dominan.
Seperti halnya alutsista lain, harga pesawat tempur hanya mencerminkan sebagian kecil biaya total yang harus dikeluarkan pihak operator selama usia pakai pesawat. Jika ditelaah secara menyeluruh, meliputi harga beli, biaya operasi, biaya pelatihan pilot dan kru darat, biaya pemeliharaan, dan biaya peningkatan kemampuan seiring perkembangan teknologi, Anda boleh saja geleng-geleng kepala memikirkan total biaya yang harus dikeluarkan.

Jangan lantas menuding bahwa pesawat tempur merupakan alutsista penyedot anggaran saja. Secara obyektif, besarnya total cost tersebut lebih banyak disebabkan karena sifat alutsista ini yang memang tergolong beresiko tinggi, bahkan diluar kondisi perang sekalipun.

Tanpa bermaksud merendahkan, katakanlah tank atau kapal perang, nyata sekali perbedaan resiko antara alutsista matra darat dan laut itu, jika dibandingkan dengan pesawat tempur. Dalam setiap kondisi mulai dari non-perang hingga operasi militer, resiko kehilangan pesawat tempur masih tinggi. Dalam latihan rutin (kondisi damai), sangat jarang ada berita tank yang meledak atau hancur saat latihan sehingga dinyatakan total lost (rusak parah sehingga tak dapat diperbaiki dan harus diganti baru). Begitu pula dengan kapal perang, bukan berarti tak pernah ada kecelakaan atau kerusakan saat latihan, namun kecelakaan dalam latihan yang berbuntut total lost masih tergolong kejadian langka.

Berbeda dengan pesawat tempur yang dalam latihan rutin saja bisa celaka dan jatuh. Kalau jatuh, ya otomatis sudah pasti total lost. Jangankan jatuh dalam keadaan terbang, pendaratan darurat pun, bagi pesawat tempur, bisa juga berujung pada total lost. Selain itu perkembangan spectrum kemampuan pesawat tempur lebih drastis ketimbang alutsista matra lainnya. Sekali lagi tanpa bermaksud merendahkan, ambil perbandingan dengan tank dan kapal perang lagi. Sejak PD-II, sampai saat ini, perkembangan kecanggihan tank dan kapal perang memang pesat dan mengagumkan. Tapi toh fungsi dan misi yang diemban kedua alutsista itu sejatinya tidak banyak perubahan seperti yang terjadi dalam teknologi dan cakupan misi pesawat tempur.

Berbeda dengan pesawat tempur. Perkembangan senjata (rudal dan bom berpresisi) untuk pesawat tempur membuat alutsista yang satu ini memiliki perkembangan spectrum kapabilitas yang fantastis ketimbang pendahulunya di era PD-II. Mulai dari fungsi utama sebagai penjagal pesawat musuh maupun sebagai penghancur sasaran darat hingga dalam PD II tak terbayangkan misalnya melumpuhkan situs radar lawan dari jarak jauh (misi SEAD) atau peperangan elektronik untuk mengacaukan deteksi dan komunikasi lawan.

Hebatnya, kemampuan melakoni sekian banyak misi sekaligus dalam sekali terbang sudah bukan hal aneh lagi bagi pesawat tempur generasi ke 4,5 (4+) atau generasi ke-5. Jet tempur F-15E Strike Eagle andalan AS dan Rafale kebanggaan Perancis merupakan dua dari jet tempur era terkini yang diklaim mampu menjalani berbagai misi berbeda sekaligus dalam satu sorti penerbangan.

Tuesday, 23 July 2013

Pertempuran Atlantik (3) - Insiden Laconia




Kisah tentang insiden Laconia bermula pada suatu pagi tanggal 12 September 1942. U-156 tengah berpatroli di Atlantik Selatan, dekat Afrika Barat, tepatnya antara wilayah Liberia dengan pulau Ascension. U-156 yang dipimpin oleh Kapitanleutnant Werner Hartenstein adalah salah satu dari beberapa kapal selam U-Boat Tiper IXC Jerman yang beroperasi di sekitar pesisir pantai Barat Afrika.

Ketika tengah bergerak di permukaan menuju ke arah Selatan, sesuatu membuat Hertenstein naik ke atas menara anjungan U-boatnya. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada siluet sebuah Kapal Inggris berukuran besar di horizon yang tengah berlayar sendirian, sebelah Barat Daya dari posisinya. Lokasinya sekitar 500 mil dari pantai Barat Afrika, dan merupakan area yang secara rutin dilalui oleh patroli pesawat Sekutu yang berpangkalan di Freetown. Hartenstein segera mengubah arah U-boatnya untuk bergerak sejajar dengan kapal tersebut. Sambil tetap mengamati kepulan asap dari cerobongnya di kejauhan, Hartenstein menjaga jarak dengan kapal itu, sampai ia merasa cukup aman untuk mendekatinya, yaitu saat malam mulai menjelang.

Hartenstein segera mengidentifikasikan targetnya, yaitu sebuah kapal milik perusahaan British Cunard Star Liner berbobot 20.000 ton, bernama Laconia. Ketika pecah perang, kapal Laconia telah diubah menjadi kapal pengangkut tentara (troopship) dan dipersenjatai dengan meriam dek, bom dalam (depth charges), dan perangkat sonar ASDIC. Semua itu membuatnya telah sah sebagai target militer.

Segera setelah matahari mulai tenggelam di ufuk Barat, Hartenstein mendekati targetnya. U-156 sudah berada pada posisinya. Ketika kapal Sekutu itu telah berada tepat pada perangkat pembidiknya, Hartenstein langsung melepaskan 2 torpedo dari jarak sekitar 2 mil. Setelah melncur selama 3 menit, kedua torpedo itu pun menghantam targetnya dan hampir segera menghentikan laju Laconia yang perlahan mulai miring. Hartenstein membawa U-156 naik ke permukaan dan mendekati kapal yang tengah sekarat itu, siapa tahu ia dapat menangkap perwira militer senior Inggris yang mungkin ada didalam kapal tersebut. Ditengah lembayung senja yang mulai memudar di langit, para awak U-156 terperangah melihat sejumlah penumpang kapal Laconia yang berusaha melarikan diri, sebagian berada diatas sekoci yang telah penuh sesak, namun lebih banyak lagi yang terapung-apung di lautan. Terdengar suara jeritan panik dan tangisan ketakutan di antara para korban. Suasananya benar-benar sangat kacau. Bangkai kapal Laconia yang terbakar bagai obor raksasa di tengah laut, menerangi langit malam dan orang-orang yang tengah terapung-apung dipermukaan laut, timbul-tenggelam diantara mayat-mayat penumpang yang tewas. Sebagian diantara mereka adalah wanita dan anak-anak.

Ketika sedang menyaksikan pemandangan mengerikan itu, tiba-tiba awak U-156 mendengar suara teriakan orang minta tolong dalam bahasa Italia, “Aiuto, aiuto!” Bingung bercampur heran, awak U-Boat segera menolong beberapa korban yang terapung-apung di laut, dan segera mengetahui situasi yang sebenarnya tentang kapal Laconia. Kapal Inggris itu ternyata membawa 2.732 penumpang, yang terdiri dari 136 awak, 285 tentara Inggris, 80 warga sipil termasuk wanita dan anak-anak, 160 tentara Polandia, dan 1.800 orang adalah tentara Italia yang ditawan oleh Inggris. Itu bukanlah kapal tentara seperti yang dibayangkan oleh Hartenstein.

Menyadari telah melakukan kesalahan fatal, Hartenstein segera melancarkan operasi penyelamatan. Ratusan orang yang masih hidup ia angkat ke atas dek kapal selamnya, termasuk wanita dan anak-anak, yang banyak diantaranya berdesak-desakan masuk kedalam kapal selam, dan selebihnya, sekitar 200 orang, berada diatas 4 sekoci penyelamat. Hartenstein juga memanggil sejumlah U-Boat yang berada dekat dengan posisinya untuk membantunya menyelamatkan korban, dan menyiarkan pesan radio dalam bahasa Inggris untuk memberitahukan posisinya sekalian meminta bantuan dari kapal apa saja yang terdekat dengan lokasi kejadian. Dalam usaha itu, U-156 tetap berada dipermukaan selama lebih dari dua setengah hari untuk memberikan pertolongan kepada para penumpang yang masih hidup.

Sementara di Pusat Komando Armada U-Boat Jerman (BdU), Doenitz terkejut mendengar laporan dan aksi yang sedang dilakukan oleh Hartenstein. Walau Doenitz memerintahkan untuk tidak terlalu banyak menyelamatkan para penumpang diluar kemampuan U-156, namun Doenitz tidak mengabaikan masalah itu. Ia mendukung penuh aksi yang dilakukan Hartenstein. Menurut keterangan Doenitz, sesudah perang, apabila ia memberi perintah yang bertentangan dengan hukum kemanusiaan, maka itu akan dapat menghancurkan moral anak buahnya.

Untuk mempercepat operasi penyelamatan, Doenitz memerintahkan 3 U-Boat lagi untuk segera membantu Hartenstein. Sambil mengibarkan bendera Palang Merah, U-506 (Erich Wurdeman) dan U-507 (Harro Schacht) tiba dua hari kemudian, siang hari tanggal 15 September. Mereka kemudian bergabung dengan kapal selam Italia, Cappelini. Ketiga kapal selam ini bersama U-156, membawa mereka yang selamat, sambil menarik sekoci dan menempatkan ratusan orang yang penuh berdiri di atas deknya. Mereka bergerak menuju ke pesisir pantai Afrika untuk bertemu dengan kapal Perang Perancis Vichy yang akan dikirim sebagai bagian dari operasi penyelamatan.

Keesokan paginya, tanggal 16 September, pukul 11.25, konsentrasi keempat U-Boat ini diketahui oleh pesawat pembom Amerika, B-24 Liberator, yang beroperasi di pulau Ascension. Para korban yang selamat melambaikan tangan dan ke 4 U-boat memberikan sinyal meminta pertolongan. Bendera palang merah pun dibentangkan diatas dek untuk diperlihatkan pada pilot B-24 tersebut. Pilot pesawat, Letnan James D.Harden, berputar balik dan mengontak radio ke pangkalannya untuk meminta intruksi lebih lanjut. Perwira jaga yang sedang bertugas hari itu, Kapten Robert C.Richardson, tiga kali mengulangi perintahnya untuk segera menyerang.

Satu jam kemudian, Harden berputar kembali ke lokasi dan para korban yang tadi kecewa merasa lega melihat kembali pesawat B-24. Mereka mengira Harden akan menge-drop bantuan yang sangat mereka butuhkan, yaitu makanan, obat-obatan dan juga air tawar. Namun apa yang terjadi? Harden malah memberi mereka serangan berupa kombinasi bom permukaan dan bom dalam. Satu bom bahkan jatuh tepat di tengah-tengah sekoci penyelamat, ratusan orang pun tewas selama serangkaian serangan bom tersebut. U-156 mengalami kerusakan kecil, namun Hartenstein tidak mau ambil resiko, ia segera menyelam bersama U-boatnya meninggalkan ratusan orang yang masih berada diatas punggung kapal selamnya, kembali tenggelam dan terapung-apung di lautan. Semua kapal selam menyalam dan melarikan diri, namun begitu U-506 dan U-507 kembali lagi ke area tersebut dan kembali menyelamatkan mereka yang tersisa. Untungnya, kapal perang milik Perancis Vichy datang dari Dakar keesokan harinya, dan menyelamatkan para korban yang masih tersisa. 

Jumlah korban jiwa akibat serangan bomber Amerika itu sangat besar. Total dari seluruh kapal Laconia, sebanyak 1.621 orang tewas dan 1.111 sisanya selamat, termasuk mereka yang diselamatkan di atas dek U-Boat Jerman yang penuh sesak. Insiden ini meninggalkan bayang-bayang trauma yang mendalam bagi Doenitz dan para awak armada kapal selam U-Boat Jerman.




Thursday, 24 January 2013

Sejarah Pesawat terbang


Otto Lillenthal - melakukan demo terbang pada pesawat layang buatan nya.
inilah yang kemudian menginspirasi Wright bersaudara.




Pada saat awal kelahiran pesawat terbang, Indonesia belumlah lahir dan masih merupakan jajahan Belanda yang bernama Hindia Belanda. Untuk menceritakan perkembangan dunia penerbangan “sipil” di Indonesia, mau tak mau kita harus melihat terlebih dulu tentang kisah perkembangan penerbangan di dataran Eropa, yang kemudian membawa pengaruhnya ke bumi Nusantara.


Sebelum kelahiran pesawat terbang, balon udaralah yang merupakan wahana udara yang paling populer. Balon yang berisikan hidrogen atau udara panas seperti yang dilakoni oleh kakak-beradik Joseph-Michel (1740-1810), dan Jacques-Etienne Montgolfier (1745-1799) di Perancis, sukses membawa manusia terbang ke angkasa. Percobaan dengan balon udara panas juga dilakukan di Belanda pada tahun 1804 dengan tokohnya Abraham Hopman (1770-1832). tapi balon udara bukanlah sebuah jawaban ideal untuk mewujudkan “mimpi” manusia untuk terbang ke angkasa (udara), karena sifatnya yang sulit dikendalikan dan sangat mudah terombang-ambing oleh angin.



Otto Lillenthal (1848-1896)




Menjelang berakhirnya abad-19, Otto Lillenthal (1848-1896), membuat pesawat berjenis layang (glider) dengan memanfaatkan gaya aerodinamika dan sayap seperti layaknya burung, ini juga belum sempurna karena pesawat layang harus diterbangkan dari tempat yang tinggi terlebih dahulu seperti di wilayah perbukitan.

Tapi dasar-dasar dari pemikiran Lillenthal lah yang menginspirasi dua bersaudara asal Amerika Serikat, Wilbur dan Orville untuk membuat sebuah model pesawat terbang. Pada 17 Desember 1903, Orville Wright berhasil menerbangkan pesawat buatannya, Flyer, di bukit berpasir Kill Devil, Kitty Hawk- Carolina Utara. Penerbangan tersebut hanya berlangsung selama 12 detik, tapi itu adalah detik-detik pertama yang membuka era fajar penerbangan.



 Wright bersaudara, saat menerbangkan pesawat Model "A" buatan mereka.





Perjalanannya memang tidaklah selalu mulus. Di negerinya sendiri, malah timbul ketidakpercayaan bahwa ada dua bersaudara yang “hanya tamatan SMA”, dengan biaya mereka sendiri, dan hanya bekerja sebagai tukang sepeda, mampu dan sukses membuat sebuah model pesawat terbang dan menerbangkannya. Sedangkan seorang Profesor. Samuel Langley membangun Great Aerodome, dengan melibatkan banyak peneliti serta dibiayai sangat besar oleh negara, justru gagal total dalam membuat dan merancang sebuah pesawat!







EUFORIA PENERBANGAN



 Wright Brothers,




Wright Brothers tidak berkecil hati menghadapi sikap pesimis di negerinya sendiri. Mereka memutuskan untuk menunjukkan demo terbang Model “A” di Eropa, tepatnya di Perancis pada tahun 1908. walaupun sudah lebih baik dari Flyer, Model “A” masih terlihat sederhana dan bersayap dua (biplane), sebuah ciri khas pesawat di era awal penerbangan. Sayapnya terbuat dari kerangka kayu yang ditutup kain yang sangat rapuh. Buat bergerak ke depan dan terbang saja, mengandalkan sebuah mesin berdaya dorong kecil. Kontrol kemudi mengandalkan kawat-kawat piano yang melintang satu sama lain, menyatu di dalam kemudi yang berada dibagian tengah sayap sebagai tempat pilot. Saking sederhananya model pesawat tersebut, seseorang bisa saja menjadi perancang, pembuat dan pilot pesawat sekaligus, seperti yang dilakukan Wright Brothers.

Jangan pula dibayangkan demo terbang aerobatik pada zaman itu seperti demo terbang saat ini. Demo terbang Model “A” membosankan!! hanya terbang lurus, bahkan untuk belok pun susah dan harus ekstra hati-hati lantaran kerangka pesawat tidak bisa menopang manuver ekstrem. Salah sedikit saja pesawat bisa jatuh, anginnya juga tidak boleh kencang, bahkan idealnya malah tidak ada angin sama sekali, yang dibuktikan dengan menyalakan rokok, yang asapnya malah membumbung lurus ke atas, melakukan pendaratan juga harus ekstra hati-hati. Pesawat Wright Brothers hanya dilengkapi lunas peluncur tanpa dilengkapi roda buat lepas landas dan mendarat. Jika mendarat terlalu cepat, akan berakibat fatal, bisa-bisa pesawat jadi hancur berkeping-keping.

Namun terlepas dari itu, pesawat buatan Wright bersaudara adalah jawaban dari “impian” terbang manusia selama berabad-abad. Demo terbang mereka mendapatkan banyak kepercayaan dan sambutan hangat baik dari Eropa, bahkan sampai membuat euforia tersendiri bagi banyak orang, yang berusaha mengikuti jejak mereka, membuat pesawat terbang.

Louis Bleriot adalah seorang perancang dan penerbang asal Perancis. Hanya dalam waktu setahun dari Demo Wright, pesawat terbang rancangannya yang disebut Bleriot XI, terbang dari Perancis menuju Inggris. Menakjubkan!! mengingat jaraknya yang dinilai sangat jauh pada masa itu, dan bahkan Bleriot berani terbang di atas lautan!!

Bleriot XI sangatlah maju daripada pesawat Model “A”. bahkan dilihat dari mata sekarang, Bleriot XI dinilai cukup modern, bersayap tunggal (monoplane), memiliki perangkat roda pendarat, bahkan memiliki kokpit dan juga ekor pesawat. Selain itu, Bleriot juga memiliki pemikiran untuk membuka sekolah khusus pilot Bleriot pada tahun yang sama sebagai salah satu usahanya untuk menjual pesawat buatannya.



 model replika pesawat terbang Bleriot XI.
merupakan model yang cukup modern pada waktu itu.




Meskipun mahal, kurikulum sekolah pilot Bleriot sangatlah maju, diajar oleh instruktur yang berpengalaman, dan memiliki banyak pesawat latih. Tak mengherankan banyak orang yang berminat. Kemudian banyak orang di Eropa dan AS yang berbondong-bondong belajar di sana, berlomba-lomba untuk mendapatkan brevet terbang Aero Club de France yang prestisius sekaligus menjadi pilot penerbang nomor satu di negaranya, tak terkecuali pilot dari Belanda.

Pilot tiba-tiba menjadi profesi yang sangat menjanjikan. Meskipun mereka juga sangat dekat dengan maut, mereka-mereka ini yang kemudian dibayar mahal untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam pertunjukan “atraksi udara” pada pameran-pameran kedirgantaraan atau untuk menerbangkan pesawat-pesawat dari pabrik pembuat pesawat terbang yang tumbuh cukup pesat pada waktu itu.


sebuah poster "tantangan" Aero Club De France.
sebuah poster yang ditujukan bagi mereka yang ingin mengikuti
perlombaan "terbang" pada awal abad-19 dengan pesawat-pesawat buatan mereka sendiri.
 Poster ini bertanggal 16-17 Juni 1912, dan diselenggarakan oleh Klub penerbang Perancis.
ini merupakan tantangan tersendiri bagi mereka-mereka yang telah berhasil membuat model
pesawat terbangnya.






Disadur dari Majalah Angkasa “Edisi Koleksi”, SPI (Sejarah Penerbangan Indonesia)- Edisi Koleksi No.81 Tahun 2012

Friday, 31 August 2012

Penampilan Prajurit Indonesia di Timtim

“Fashion Show”



Gaya Prajurit Indonesia di Timor Timur





Operasi Seroja yang dimulai di akhir tahun 1975 kemudian berlanjut sampai operasi pemulihan keamanan hingga tahun 1999, ternyata membawa hal menarik untuk dicermati. Cerita-cerita seru dan unik seputar pertempuran, kisah kemenangan gemilang, maupun kisah gugurnya prajurit terbaik sudah sering menjadi bahan perbincangan. Namun di samping cerita-cerita tersebut, ada satu hal yang menarik untuk disimak, gaya penampilan para prajurit.

Saat itu seringkali dijumpai para prajurit Indonesia di lapangan dengan kombinasi penampilan unik dan tak lazim. Gaya berpakaian dengan berbagai model potongan rambut pun bervariasi. Lain dengan saat ini, dimana potongan rambut seorang tentara harus cepak, rapi, dan berseragam. Jika diumpamakan, potongan rambut mereka lebih mirip artis-artis Indonesia yang saat itu tengah naik daun.

Tampaknya tak terlalu berlebihan jika model potongan rambut mereka meniru para artis tahun 80an. Namun, tentara-tentara yang bertugas di Bumi Loro Sae itu tentu memiliki alasan tersendiri tentang gaya rambut dan penampilan berpakaian mereka. Penempatan di pos-pos yang jauh di pedalaman, membuat prajurit Indonesia melahirkan gaya tersendiri yang tak seperti biasanya. Bagaimana tidak? Posisi mereka yang amat jauh tentu sangat menyulitkan untuk dropping logistik, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menjaga penampilan mereka, seperti merapikan rambut seperti penampilan tentara pada umumnya. Sehingga dapat dikatakan gaya tersebut muncul dikarenakan keadaan. Namun lain ceritanya jika digunakan sebagai penyamaran.

Ketika operasi Seroja belum resmi diumumkan, berpakaian seadanya dengan rambut gondrong merupakan sebuah kewajiban dalam hal penyamaran. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak nampak sebagai Pasukan Resmi Tentara Nasional Indonesia. Jadi lebih terlihat sebagai para milisi atau penduduk setempat, yang kebanyakan berpenampilan gondrong seperti itu.




JENIS PENAMPILAN PRAJURIT TNI

Jika dikelompokkan, ada 3 tampilan khas pasukan Indonesia saat bertugas di Timtim. Ketiga mode itu antara lain:

Pertama : rapi dengan seragam lengkap.
Kedua : rambut gondrong dan berseragam lengkap.
Ketiga : rambut gondrong dengan pakaian kombinasi.


Pertama, rapi dengan berseragam lengkap. Biasanya, mereka adalah pasukan yang baru datang, atau kalau tidak, mereka akan kembali pulang ke markas. Prajurit yang baru saja diterjunkan, biasanya masih membawa perlengkapan yang lengkap serta berpotongan rapi. Demikian juga ketika mereka akan ditarik dari medan pertempuran. Mereka akan berusaha serapi mungkin, dengan potongan rapi, dan penampilan yang bersih.


Penampilan prajurit Indonesia yang bertugas di Timtim tahun 1975. Perhatikan gaya rambut gondrong prajurit di sisi paling kanan foto




Kedua, rambut gondrong dan berseragam lengkap. Setelah beberapa bulan penugasan di medan, rambut seorang prajurit akan tumbuh lebat, apalagi jika mereka berada di dalam hutan berbulan-bulan, dapat dipastikan rambut tumbuh dengan lebatnya, demikian juga kumis, jenggong, serta jambang mereka.



Ketiga, rambut gondrong dengan pakaian kombinasi. Jika tidak sempat bercukur atau memotong kumis, maka para prajurit benar-benar berpenampilan tidak rapi. Ditambah pakaian seragam yang tidak layak pakai, karena belum mendapat jatah seragam baru dari basis. Akibatnya, banyak dari mereka yang mengenakan baju seragam dengan bawahan celana sipil, ataupun sebaliknya. Jika benar-benar kehabisan seragam, mereka hanya mengenakan seragam sipil biasa. Kadang pula ditemui prajurit dengan pakaian olahraga atau dengan kaos dengan mengenakan celana loreng. Namun ada juga beberapa prajurit yang masih memiliki seragam bagus. Mereka sengaja menyimpan, atau memakai seragam loreng hanya dalam kesempatan tertentu. Misalnya ketika ada kunjungan dari petinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).





GONDRONG VS GONDRONG

 Para anggota milisi bersenjata Fretilin yang mengenakan seragam loreng TNI dengan
 bersenjata lengkap




Penampilan anggota TNI yang bervariasi, dengan rambut gondrong dan pakaian seadanya, terkadang membuat orang awam susah membedakannya dengan anggota Fretilin. Hal sebaliknya juga terjadi pada pihak Fretilin. Kisah tersebut seperti diungkapkan oleh Sersan Mayor Mursihadi, seorang pensiunan TNI dari Detasemen Kesehatan Wilayah (Denkesyah) Korem 074 Warasratama, Surakarta.

Seperti kebanyakan anggota TNI lainnya, Mursihadi juga berambut gondrong. Suatu hari dirinya mendapat tugas untuk mencari tambahan makanan. Ia kemudian masuk hutan sekadar mencari dedaunan atau berburu binatang, yang dapat diambil dagingnya. Saat asik mencari dan berburu, tiba-tiba muncul seseorang berpenampilan serupa, gondrong dan menenteng senjata.

Begitu lama Mursihadi mengamati orang tersebut. Setelah sekian lama ia amati, dirinya baru tersadar, bahwa ternyata orang tersebut bukanlah rekannya. Seseorang dengan tampilan sama persis tersebut merupakan anggota Fretilin, yang diduga sedang mencari bahan makanan juga. Dengan sigap, tak ingin ditembak duluan, Mursihadi kemudian berhasil menembak mati Si Fretilin gondrong dalam kontak tembak yang berlangsung singkat. 


 Tentara Pembebasan Timtim- Fretilin



Lain halnya jika anggota Fretilin yang berpenampilan gondrong yang menyamar sebagai prajurit TNI. Hal tersebut dapat berakibat fatal. Seperti kasus penghadangan truk yang berisi polisi yang mengamankan Pemilihan Umum 1997 di daerah Sektor Timur. Truk yang sedang melintasi perbukitan di Kecamatan Quelicai, tiba-tiba dihentikan seseorang yang berpakaian loreng TNI. Sopir yang terkejut langsung menginjak rem.

Mendadak orang yang disangka teman tersebut melemparkan granat, tepat di bagian bak truk yang berisi pasukan serta persediaan bensin. Akibatnya truk meledak hebat, kobaran api segera melahap truk seisinya. Selain truk terbakar dan hancur sangat parah, seluruh penumpangnya juga tewas terpanggang. Oleh karena itu dikemudian hari muncul anjuran, agar tiap anggota TNI harus selalu merapikan penampilan. Karena perbedaan yang terlalu tipis antara anggota Fretilin dan anggota TNI dapat berakibat fatal.







Sumber: Buku INFANTERI The Backbone of the Army. Priyono. MataPadi PressIndo – Cetakan Pertama Januari 2012

Wednesday, 13 June 2012

Organisasi Gehlen


Reinhard Gehlen (1902-1979)



Reinhard Gehlen, pimpinan intelijen Nazi khususnya untuk melawan Uni Soviet, benar-benar memanfaatkan Operasi Paperclip. Dengan cerdik ia memasuki celah pemikiran elite intelijen AS untuk memuat diri dan kelompoknya tetap eksis. Yang lebih penting lagi, ideologi Nazi tetap bisa dihidupkan walaupun terpinggirkan dalam pertarungan ideologi antara demokrasi (AS) melawan komunis (Uni Soviet).

Kategori “sangat berbahaya”, mungkin Gehlen masuk kedalam kategori ini. Namun faktanya Gehlen secara terhormat diterima oleh musuhnya. Pada 24 Agustus 1945, dengan menggunakan seragam militer jenderal AS, pria ini terlihat menuruni sebuah pesawat pengangkut milik AD AS di Bandara Nasional Washington. Ia kemudian bergegas ke sebuah van tanpa jendela yang langsung membawanya ke Fort Hunt di luar ibukota. Disana ia bermalam dan dilayani layaknya tamu agung. Pagi harinya, dengan setelan jas abu-abu gelap, ia telah ditunggu oleh petinggi-petinggi intelijen AS untuk merundingkan kesepakatan rahasia.

Bagaimana Gehlen bisa sampai diterima dengan sangat baik di AS? Sebagai intelijen, Gehlen sepenuhnya sadar bahwa perang kemungkinan besar akan dimenangkan oleh Pihak Sekutu. Maka ketika tanda-tanda kekalahan sudah mulai nampak, ia bergegas. Semua berkas-berkas penting ia simpan didalam tong kedap air dan kemudian disembunyikan di sebuah tempat bernama Misery Meadow di Pegunungan Alpen. Seragam Wehrmacht-nya bersama bordir elang dan swastika juga dikuburkan. Lalu dengan hanya menggunakan mantel, ia menyerahkan diri pada Korps Kontra Intelijen AD AS di Bavaria pada 22 Mei 1945. Secara sadar ia memilih menyerah kepada AS daripada kepada Uni Soviet.

Gehlen paham, dalam demokrasi AS, ia masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Namun jika berhadapan dengan Soviet, ia mungkin akan langsung dieksekusi. Pasukan Soviet yang kemudian menerobos markas besar Gehlen di Zossen hanya menemukan lemari file yang sudah kosong.

Gehlen menyerahkan diri kepada AS tidak tanpa siasat. Sebaai sesama anti-komunis, ia punya kelebihan daripada intelijen AS. Gehlen dan jaringannya memiliki informasi intelijen lengkap mengenai Soviet. AS yang paranoid pada saat era Perang Dingin nyatanya sangat membutuhkan data intelijen itu. Itulah sebabnya tokoh intelijen sekaliber Allen Dulles, pimpinan CIA sampai mengatakan, “Yang paling penting, ia (Gehlen) ada di pihak kita!”

CIA pun menghapus file-file kasus kejahatan perang yang pernah dilakukan Gehlen dan rekan-rekannya yang memiliki posisi penting dalam jaringan organisasi Nazi. Tidak itu saja, CIA juga mengucurkan dana 200 juta dolar untuk membiayai organisasi intelijen yang dibentuk bersama Gehlen. Organisasi intelijen yang bekerjasama langsung dengan CIA itu sering disebut sebagai “Organisasi Gehlen” atau juga disebut “Org” saja. Pada awalnya hanya berupa 350 agen mantan Nazi Jerman yang direkrut. Namun kemudian berkembang dengan cepat hingga mencapai 4.000 agen.

Jadi, alih-alih mendapatkan sanksi dan diadili di pengadilan Nuremberg, para tokoh Nazi ini pun justru mampu eksis dan hidup dalam kemakmuran.
Pada tahun 1955, Org dipindah ke Jerman Barat. Namun kerjasama dengan CIA justru semakin erat. Org disinyalir berada dibalik pelatihan rahasia para agen AS di Atsugi, Jepang. Para agen ini rencananya akan dikerahkan ke Soviet. Salah satu dari agen tersebut yang kemudian tertangkap adalah pilot pesawat pengintai U-2, Francis Gary Power, yang pesawatnya tertembak jatuh oleh Soviet.

Org juga terlibat dalam penggulingan PM Mossadeg di Iran untuk kemudian digantikan dibawah monarki Shah Iran. Dan sebagai puncaknya, Org dituduh bersekongkol dengan banyak pimpinan intelijen AS dalam operasi pembunuhan Presiden AS John. F Kennedy pada bulan November 1963.



Disadur dari: Majalah Angkasa Edisi Koleksi – The World’s Most Shocking Covert Operations; Delapan Operasi Terselubung Paling Menggegerkan / Edisi Koleksi no. 75 Tahun 2011

Monday, 28 May 2012

Eksekusi "Firing Squad"



 ilustrasi The Third of May karya Fransisco Goya


Eksekusi “Firing squad” secara umum dilakukan oleh sejumlah anggota militer aktif atau aparat penegak hukum yang berwenang. Dan biasanya, para penembak yang terdiri dari satu grup diintruksikan untuk menembak target secara serempak, selain itu juga untuk mencegah identifikasi dari siapa yang menembak ke target-target vital pada tubuh korban. Sasaran yang akan ditembak biasanya ditutup matanya dengan kain penutup, walau memang dalam beberapa kasus ada juga korban yang tidak memakai penutup mata sehingga dapat melihat jelas grup penembak. Ada beberapa aturan yang sering digunakan di dalam eksekusi ini, yaitu mereka harus dieksekusi ketika waktu subuh, atau ketika cahaya pagi mulai bersinar, atau ketika matahari mulai perlahan nampak. Ada istilah khusus untuk ini, yaitu istilah “shot at dawn” (tembakan di waktu fajar).

            Hukuman tembak di tempat biasanya merupakan hukuman yang cocok untuk para kombatan militer daripada untuk warga sipil yang melakukan tindakan kriminal, kasus ini banyak terjadi sewaktu berlangsungnya perhelatan akbar PD-I dan PD-II. Namun di era modern ini, hukuman tembak di tempat bukan hanya ditujukan untuk para kombatan militer yang tertangkap atau para penjahat perang, melainkan juga untuk para kriminal, para penyelundup narkoba, dan teroris, seperti kasus yang banyak terjadi di Indonesia. “Firing squad” juga merupakan metode hukuman mati yang tidak terlalu menyiksa korbannya, hukuman tembak di tempat secara tidak langsung juga bertujuan untuk melindungi organ-organ tubuh vital lainnya (selain jantung), yang mungkin berguna untuk donasi organ tubuh manusia.

 Tentara Austria sedang mengeksekusi para Tawanan perang Serbia dengan 
menggunakan metode tembak di tempat (Firing Squad)


Metode hukuman Firing Squad memang sangat jarang ditemui di Amerika Serikat, oleh karena itu sulit mengatakan standar dari prosedur pelaksaan hukuman mati ini. Namun yang jelas, dalam beberapa kasus, korban ditutup matanya dengan dua tangan terikat ke belakang, di dudukkan di kursi dengan lima orang penembak yang siap menembak korban. Satu dari lima orang penembak hanya menembakkan peluru hampa alias selongsong kosong, yang mana berarti bahwa setiap penembak berpikir bahwa hanya ada 20% kesempatan baginya untuk tidak menembak korbannya. Tentunya standar-standar pelaksanaan tembak di tempat berbeda di setiap negara.



Penggunaan oleh Negara


Indonesia
            Eksekusi “Firing squad” adalah eksekusi yang lazim dan merupakan metode hukuman mati yang masih digunakan di Indonesia. Contohnya Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu, semuanya dieksekusi pada 2006. Penyelundup narkoba asal Nigeria Samuel Iwachekwu Okoye dan Hansen Anthoni Nwaolisa juga dieksekusi pada 2008 di pulau Nusakambangan. Lima bulan kemudian, tiga orang tersangka pelaku Bom Bali 2002- Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron, semuanya dieksekusi di tempat yang sama di Nusakambangan.

Belanda

            Ketika Perang Dunia II berlangsung, 3000 tawanan perang Belanda dieksekusi oleh Jerman dengan menggunakan metode “Firing squad”. Korbannya terkadang dihukum di pengadilan militer yang berwenang, namun terkadang, korbannya adalah para sandera atau siapa saja yang sebelumnya tidak diadili di pengadilan militer dan langsung dieksekusi di depan khalayak umum. Metode tersebut untuk mengintimindasi masyarakat dan sebagai aksi balas dendam dalam melawan pergerakan musuh. Setelah serangan yang ditujukan kepada pemimpin militer tertinggi Jerman Rauter, sekitar 300 tawanan perang Belanda kemudian dieksekusi Jerman di depan publik sebagai ajang balas dendam.

Filipina

            Jose Rizal dieksekusi menggunakan metode “firing squad” pada pagi hari pada 30 Desember 1896, ditempat yang sekarang dikenal sebagai Luneta Park.
            Ketika administrasi Marcos, lalu lintas perdagangan narkoba yang marak-maraknya terjadi, mereka yang tertangkap akibat melakukan perdaganan obat-obatan terlarang kemudian dieksekusi dengan tembak di tempat, seperti yang terjadi pada Lim Seng. Eksekusi tembak di tempat kemudian digantikan oleh hukuman suntik mati (Lethal injection). Pada 24 Juni 2006, Presiden Gloria Macapagal Arroyo menghapuskan hukuman mati oleh Republic Act 9346. Dan para tahanan yang bejumlah ribuan, hanya dihukum dengan hukuman seumur hidup daripada hukuman tembak di tempat.

Israel

            Ketika pengepungan Jerusalem oleh Yordania disepanjang berlangsungnya Perang Arab-Israel 1948, Tentara Yordania membidik dan menembaki posisi tentara Israel yang dianggap sebagai mata-mata yang sedang beroperasi. Meir Tobianski, seorang pekerja Israel Electric Corporation, yang diduga mengetahui beberapa lokasi-lokasi pabrik pembuatan senjata Israel, kemudian secara bertahap pabrik-pabrik tersebut diluluhlantahkan oleh serangan tembakan-tembakan Artileri Yordania. Tobianski ditangkap di Carmel Market di Tel Aviv karena dugaan mata-mata. Hukuman sepuluh hari kemudian dibatalkan, dan dia kemudian diinterogasi sebelum memasuki ruang pengadilan. Tobianski ditemukan bersalah dan ia dieksekusi oleh enam orang penembak “firing squad”. Setelah dilakukan investigasi, Tobianski kemudian divonis bebas (padahal setelah dilakukan hukuman mati terhadapnya) dan jasadnya di bakar di Mount Herzl. Isser Be’eri, aparat yang memerintahkan mengeksekusi Tobianski dengan tembak di tempat, dinyatakan telah melakukan eksekusi pembunuhan yang tidak sah. Dia dinyatakan bersalah namun dimaafkan oleh Presiden Chaim Weizmann.

Finlandia

            Ketika PD II, 500 tawanan perang dieksekusi, setengah dari mereka diduga merupakan mata-mata. Alasan hukuman mati untuk warga sipil Finlandia adalah mereka telah melakukan pengkhianatan tingkat tinggi kepada negara. Hampir semua kasus hukuman mati di berlakukan oleh Pengadilan militer. Biasanya sang penembak di ambil dari kesatuan polisi militer atau pada kasus mata-mata, dilakukan oleh polisi militer setempat. Seorang warga Finlandia, Toivo Koljonen, dieksekusi mati untuk kejahatan sipil yang ia lakukan (Pembunuhan enam orang). Kebanyakan eksekusi terjadi di tahun 1941 dan disepanjang berlangsungnya Soviet Summer Offensive pada tahun 1944.
            Metode hukuman mati secara luas digunakan ketika dan setelah Perang Sipil Finlandia, sekitar 9.700 warga sipil Finlandia dan lainnya yakni beberapa sukarelawan Rusia yang tertangkap ketika perang berlangsung, dieksekusi mati. Kebanyakan Eksekusi dilakukan dengan metode “firing squad” setelah hukuman diberikan oleh Pengadilan militer secara ilegal atau semi-ilegal. Dan hanya sekitar 250 orang yang dihukum mati oleh penggunaan otoritas legal yang berwenang.

 Seorang penyusup (mata-mata) Soviet, detik-detik menjelang eksekusi 
ketika berlangsungnya Continuation War

Prisoner of war (Tawanan perang)


Rumah khusus tawanan perang Astro-Hungaria di Rusia - 1915




Tawanan Perang (Prisoner of war) atau yang biasa disingkat POW atau juga disebut (EPW – Enemy Prisoner of war), merupakan seseorang yang, baik itu warga sipil ataupun militan/kombatan, yang menjalani hukuman kurungan atau ditawan pihak musuh disepanjang berlangsungnya perang atau konflik antara kedua belah pihak yang berseteru. Penggunaan istilah “POW” tercatat pernah digunakan di era 1660-an.
Negara-negara yang menawan “POW” (tawanan perang), baik itu warga sipil biasa maupun militan/kombatan, cenderung melanjutkan penawanan tersebut dalam jangka waktu lama untuk beberapa tujuan tertentu, baik itu untuk alasan legitimasi maupun alasan di luar kepentingan hukum. Ada banyak alasan dan tujuan mereka (tawanan perang) ditawan, seperti untuk mengisolasi mereka dari dunia luar, memisahkan mereka dari para kombatan yang sedang bertempur di lapangan, menukarkan mereka dengan tuntunan pembebasan sandera lain, untuk mendeklarasikan kemenangan perang, untuk memaksa mereka kerja paksa, untuk mengumpulkan informasi intelijen baik politik maupun militer, untuk memaksa mereka menjadi bagian dari pasukan kombatan pihak musuh, atau untuk menghukum mereka karena kejahatan perang atau dengan tuduhan-tuduhan lain yang sejenis.
            Berikut ini adalah beberapa kisah atau catatan historis mengenai POW (Tawanan Perang) yang kisahnya tercantum baik di PD-I maupun pada PD-II, bahkan di era Perang Dingin dan di era modern, POW masih dijadikan atau dimanfaatkan sebagai sebuah sarana untuk mengancam pihak musuh, atau untuk menukarkan tawanan dengan tawanan, dan banyak alasan-alasan lain yang dimiliki dari melakukan aksi penyekapan para POW.


World War II (Perang Dunia II)

Treatment of POWs by the Axis (Ancaman POW oleh blok-Axis)

 

 

 

 

 

 

Empire of Japan (Kekuasaan Imperium Jepang)

Pada waktu kekuasaan imperium Jepang, yang tidak pernah di setujui didalam Konvensi Jenewa ke-2 tahun 1929, Jepang juga tidak memperlakukan POW sesuai dengan aturan Persetujuan Internasional. POW dari Cina, Amerika, Australia, Inggris, Kanada, India, Belanda, Selandia Baru, dan Filipina, ditawan oleh Tentara Jepang dan kemudian dijadikan subjek percobaan seperti pembunuhan melalui penyiksaan, penganiayaan, diperlakukan secara biadab dan brutal, disuruh kerja paksa, mengalami eksperimen medis dan biologis, dan penyiksaan-penyiksaan lainnya seperti dibiarkan kelaparan dan sengaja dibiarkan sakit. Kasus POW yang sangat buruk adalah ketika mereka dipaksa kerja buruh untuk pembuatan konstruksi jalan kereta api di Burma-Thailand.


 Tawanan perang Australia yang tertangkap oleh Jepang, Sersan Leonard Siffleet, detik-detik ketika eksekusi pemenggalan kepala berlangsung dengan menggunakan pedang shingunto




Menurut Jepang, tingkat rata-rata kematian tawanan perang Barat adalah sebesar 27.1%, tujuh kali lebih banyak dari jumlah POW asal Jerman dan Italia. Kematian tawanan perang Cina juga jauh lebih banyak. Dan sementara itu, 37.583 POW asal Inggris dan 28.500 POW asal Belanda, dan 14.473 POW asal Amerika kemudian dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, jumlah POW asal Cina pun menyusut hanya 56 orang. Setelah berakhirnya perang, konon, masih tersisa pemimpin-pemimpin tertinggi militer Jepang, yang kemudian membunuh semua tawanan-tawanan perang yang masih tersisa.



Ancaman POW oleh Jerman

 

 

Jerman dan Itali secara umum memperlakukan para tawanan perang dari Persemakmuran Inggris, Perancis, Amerika dan Negara-negara sekutu Barat dengan persetujuan melalui Konvensi Jenewa (1929), yang telah disepakati oleh Negara-negara tersebut. Oleh karena itu, Para opsir Sekutu Barat biasanya tidak disuruh untuk bekerja dan tentara dengan pangkat terendah biasanya diberi keringanan untuk tidak bekerja. Keluhan utama yang datang dari para tawanan Barat di kamp-kamp POW militer Jerman adalah, khususnya disepanjang dua tahun terakhir perang, adalah masalah kekurangan makanan, walaupun makanan telah dibagi diantara para tentara Jerman dan Tawanan Perang, namun mereka masih tetap sengsara dikarenakan kondisi blokade wilayah sewaktu perang.
            Hanya beberapa saja dari tawanan perang blok-sekutu Barat yang merupakan Yahudi- atau yang merupakan Nazi yang dipercaya sebagai Yahudi- dibunuh pada waktu Holocaust berlangsung, atau dijadikan subjek bagi kebijakan anti-semitisme (paham yang menguntungkan orang Yahudi). Sebagai contoh, Mayor Yitzhak Ben-Aharon, seorang Yahudi berkebangsaan Palestina yang mendaftar sebagai AD Inggris, dan akhirnya tertangkap oleh Jerman di Yunani pada 1941, mengalami hukuman 4 tahun kurungan/isolasi dalam kondisi normal sebagaimana seharusnya POW diperlakukan. Namun ada juga banyak kasus dimana para tawanan perang yang tertangkap dikirim ke kamp-kamp konsentrasi Jerman dan diperlakukan secara tidak layak.



 Tawanan perang AS yang tertangkap di Jerman - 1917







 Sejumlah Tawanan asal Soviet yang di tangkap oleh Jerman diperlakukan secara biadab
dan dalam kondisi yang memprihatinkan- di Kamp konsentrasi Mauthausen Jerman





            Bagaimanapun juga, ada beberapa dari para personel sekutu yang ditangkap lalu dikirim ke kamp-kamp konsentrasi Jerman, untuk beberapa alasan, termasuk dugaan sebagai orang Yahudi. Sebagai contohnya kasus tawanan perang di Berga an der Elster- Arbeitskommando 625 (juga dikenal sebagai Stalag IX-B). Berga, merupakan detasemen khusus untuk memantau para POW asal Amerika yang tertangkap di Jerman. Dan 80 dari 350 para tawanan perang adalah orang Yahudi. Contoh lainnya adalah grup 168 Australia, Inggris, Kanada, Selandia Baru dan para pilot AS, yang mendekam di kamp konsentrasi Buchenwald Jerman selama dua bulan, dua dari para tawanan tersebut akhirnya tewas di Buchenwald. Ada dua kemungkinan dari tewasnya para pilot penerbang ini; yang pertama: Otoritas Jerman ingin membuat suatu contoh dari Terrorflieger (Terrorist Aviator) atau “Para penerbang teroris”, yaitu sebutan untuk para pilot yang dikategorikan sebagai mata-mata, karena mereka menyamar sebagai warga sipil ketika mereka tertangkap.


Treatment of POWs by the Soviet Union (Ancaman POW oleh Soviet)

 



 Tawanan perang asal Jerman yang ditawan Soviet di Stalingrad

 

 

POW asal Jerman, Rumania, Itali, Hungaria, Finns

Menurut beberapa sumber, Soviet menangkap sekitar 3.5 Juta POW dari blok Axis (termasuk Jepang) yang mana lebih dari satu juta POW kemudian tewas dalam masa penyekapan. Satu contoh yang tragis dari POW asal Jerman yang tertangkap Soviet setelah Pertempuran Stalingrad (Battle of Stalingrad), ketika itu Soviet menangkap 91.000 Tentara Jerman, banyak diantara mereka yang sakit dan  menderita kelaparan, yang akhirnya banyak yang tewas, dan hanya tersisa 5.000 orang saja yang berhasil bertahan hidup.
Tawanan Perang asal Jerman yang ditawan Soviet, kemudian dipekerjakan paksa sebagai buruh. Para tawanan Perang Jerman lainnya (yang dihukum atas kejahatan perang) kemudian dibebaskan oleh Soviet pada tahun 1955, hanya setelah Joseph Stalian meninggal dunia. Dan kurang lebih terdapat sekitar 54.000 POW asal Italia yang tewas di Rusia, dengan angka kematian sebesar 84.5%.

POW Jepang

            Ketika invansi Soviet di Manchuria pada 1945, Banyak tentara Jepang menjadi tawanan perang di Soviet, dan seperti kebanyakan tawanan perang lainnya, mereka dipekerjakan paksa sebagai buruh selama bertahun-tahun.

POW Polandia

            Sebagai akibat dari Invansi Soviet atas Polandia tahun 1939, ratusan ribu tentara Polandia dijadikan POW (tawanan perang) oleh Soviet. Ratusan dari mereka dieksekusi, dan lebih dari 20.000 Personel militer Polandia dan warga sipil kemudian dieksekusi dalam Pembunuhan massal Katyn. Diluar dari total 230.000 POW asal Polandia yang ditawan oleh Soviet, hanya 82.000 yang dapat bertahan hidup.



Treatment of POWs by the Allies (Ancaman POW oleh pihak Sekutu- AS)

 

 

            Pada tahun 1946, Inggris menahan lebih dari 400.000 tentara Jerman yang dijadikan tawanan perang, banyak dari mereka kemudian dipindahkan ke kamp-kamp di Amerika dan Kanada. Banyak dari mereka, setelah Jerman menyerah kepada sekutu, selama 3 tahun mereka dipekerjakan sebagai buruh, sebagai bentuk “pemulihan” atau “perbaikan pembangunan”. POW menganggap diri mereka sebagai “buruh yang diperbudak” dengan beberapa perlakuan yang layak. Debat publik pun kemudian mencuat di Inggris, dimana istilah “kerja paksa”, “budak yang dipekerjakan”, “budak” mulai meningkat dan diperbincangkan di media massa dan juga di House of Common.

POW asal Jepang

 

  Para tawanan perang Jepang yang ditawan Amerika

pasca pertempuran Okinawa (Battle of Okinawa)


 

            Walaupun ribuan tentara Jepang dijadikan tawanan, kebanyakan mereka bertempur sampai titik darah penghabisan atau hingga mereka bunuh diri. Dari 22.000 Tentara Jepang yang bertempur pada permulaan Battle of Iwo Jima, lebih dari 20.000 tentara tewas dan hanya 216 tentara yang dijadikan sebagai tawanan perang. POW asal Jepang dikirim ke kamp secara layak. Ada juga beberapa kasus, beberapa tentara Jepang dibunuh ketika mereka mencoba menyerang atau mereka melakukan percobaan pembunuhan. Beberapa tawanan Jepang di kamp tewas akibat ulah mereka sendiri, ketika mereka berusaha untuk menyerang penjaga kamp. POW Jepang disiksa dengan berbagai macam metode penyiksaan, seperti bentuk penyiksaan yang dilakukan Tentara Pembebasan Nasional Cina (NRA), termasuk mengalungkan kurungan kayu di leher mereka hingga mereka tewas. Pada beberapa kasus, beberapa kepala para tawanan dipenggal menggunakan pedang, kepala yang terjatuh kemudian di sepak dan dijadikan bola oleh Tentara Cina NRA.


Pasca-PD II

 

 Tentara AS dari Resimen Infanteri ke-21, yang dieksekusi

Korea Utara pada 9 Juli 1950

 


Korea Utara memiliki reputasi sebagai negara yang sering menyiksa dan menganiaya para tawanan perang secara biadab. Sekitar 16.500 Tentara Perancis yang bertempur di Dien Bien Phu di Indocina, lebih dari 3.000 tentaranya terbunuh dalam perang, sementara hampir 11.721 orang yang dijadikan POW, kemudian mati ditangan Viet Minh, ketika mereka melakukan “death march” (istilah untuk perjalanan jauh yang menyebabkan POW banyak yang mati kelelahan atau dehidrasi)  mereka bergerak ke kamp-kamp POW yang jaraknya cukup jauh.
Vietkong dan Tentara Vietnam Utara juga menangkap banyak tentara Amerika yang dijadikan tawanan perang ketika Perang Vietnam berlangsung, mereka menderita dari penyiksaan-penyiksaan dan kesengsaraan yang dihadapi disepanjang penawanan tersebut. Beberapa POW asal Amerika yang ditawan di penjara menyebut tempat tersebut sebagai Hanoi Hilton. Namun banyak juga para Komunis Vietnam yang dihukum oleh Tentara Vietnam Selatan, Amerika mengklaim bahwa mereka juga diperlakukan secara tidak layak
Menurut aturan kebijakan penentuan ancaman terhadap para Tawanan Perang, kekerasan terhadap POW juga masih terus terjadi hingga era modern saat ini. Banyak Kasus pembunuhan POWs yang dilaporkan saat ini, termasuk Pembunuhan massal 13 Oktober di Lebanon yang dilakukan Tentara Syria dan Pembunuhan massal pada bulan Juni 1990 di Sri Lanka
Ketika Perang Gulf pecah pada 1991, Para tawanan perang asal Amerika, Inggris, dan Kuwait (yang kebanyakan merupakan pasukan khusus dan juga pilot yang terjatuh akibat heli nya tertembak), disiksa oleh Polisi Rahasia Irak. Dokter Militer AS, Major Rhonda Cornum, seorang ahli pilot penerbangan yang berusia 37 tahun, ia pun ditangkap ketika Heli Blackhawk UH-60 nya tertembak jatuh, ia kemudian dijadikan pelampiasan hasrat atau mengalami kekerasan seksual ketika berada dalam masa tahanan.



 Kondisi memprihatinkan Tentara AS (Union Army)
yang dibebaskan dari penjara Andersonville pada bulan Mei, 1865







Pengeditan dan penyusunan tulisan struktur kalimat disesuaikan
Sumber-sumber bacaan disadur dari wikipedia Ing: http://en.wikipedia.org/wiki/Prisoner_of_war